Wednesday, 28 November 2018

Tentang Hujan: Prolog

Hampir satu minggu genapnya aku selalu memikirkan tentang hujan. Bukan karena apa, pasalnya tema pekan ini adalah tentang hujan. Jika memikirkan hujan, maka aku selalu ingat malam. Ingat tentang bagaimana tanah basah dengan aroma khas yang membawa kenangan. Seperti menjebak dan memerangkap ingatan agar senantiasa mendekap nuansa tersebut. Nuansa yang sudah lama lewat.

Namun bagaimana jika kemudian nuansa-nuansa itu tak habis dalam sekali duduk saja?

Mengenangnya.

Begitu.

Saturday, 28 July 2018

Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom? [Review]

Ketika melihat film ini, saya langsung teringat dengan perdebatan kau Bumi Bulat dan Bumi datar. Bagaimana tidak, hal yang ditawarkan dalam film ini sama: Kembang api itu datar atau bulat?

Adalah Firework, Should We See It from the Side or the Bottom? sebuah drama yang pada tahun 2017 telah diadaptasi menjadi sebuah anime movie berjudul sama. Untuk versi awalnya sendiri, maka lebih dikenal dengan Fireworks 1993, karena film tersebut memang dirilis pada tahun segitu.
Judul dari film itu sendiri diambil dari konflik utama perdebatan para siswa yang penasaran dengan bentuk kembang api: bulat atau datar? Hal ini membuat saya tertawa karena tentu saja isu tentang bumi itu bulat atau datar bisa kembali menyeruak.

Karena ini film lama,  saya akan menyebarkan banyak spoiler di sini. Spoiler yang sekiranya tetap bisa membuat kalian menikmati jalan cerita Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?

Friday, 27 July 2018

AJIN: Demi-Human [Review]

Begitu selesai menonton film ini, saya langsung ingin segera mereviewnya dan mengatakan kepada orang-orang bahwa ini adalah film Jepang yang layak mereka tonton!

Film itu adalah AJIN: Demi Human (Bukan Demi Tuhan).

Menceritakan tentang seorang koas yang mengalami kecelakaan dan mendadak hidupnya berubah ketika dirinya diketahui sebagai AJIN. AJIN sendiri konon adalah evolusi dari manusia. Mereka tidak bisa mati. Dan bisa tumbuh walau bagian tubuh berserakan.

Thursday, 26 July 2018

Soal Selera dan Pengembangan Karya

Kemarin saya membongkar lagi tulisan-tulisan lama. Tujuannya untuk diisikan ke akun wattpad saya karena saat itu saya hendak mencoba mengaktifkan akun tersebut.

Otomatis, sebelum memostingnya, saya membaca tulisan-tulisan tersebut untuk memastikan tulisan mana yang baiknya saya posting dan baiknya saya revisi untuk kemudian saya kirim ke media. Saya tertawa sendiri. betapa tulisan-tulisan itu membuat geli.

Bukan. Tentu saja bukan  karena tulisan itu jelek atau bagaimana.


Saya tertawa membaca tulisan saya sendiri karena memang selera saya saat ini sudah berubah dibandingkan selera saya yang dahulu. Bagaimanapun juga, saya pernah menanggap tulisan itu sangat bagus dan sesuai dengan apa yang saya mau. Jika kemudian—dalam selang waktu yang lama—saya menertawakan tulisan saya sendiri, itu hanya karena selera saya sudah berubah. Saya yang sekarang, lebih suka tulisan dengan bobot narasi lebih banyak dibandingkan dialog. Lebih suka tulisan dengan detail seperlunya dan lebih fokus pada jalan cerita. Saya lebih suka membaca cerita yang mengalir padat dibandingkan cerita yang sibuk dengan dialog dan detail tak perlu untuk melebarkan cerita.

Wednesday, 25 July 2018

Ant-Man And The Wasp [Review]

//jujur saja, saya tertidur ketika menonton film ini.



Kali ini saya akan mereview film (yang semoga saja tidak terlalu telat karena saya baru sempat memposting tulisan ini) Ant-Man and The Wasp.

Banyak yang berspekulasi bahwa fim ini akan ada kaitan erat dengan film Avenger: Infinity War. Dan juga akan menjawab beberapa pertanyaan yang masih mengambang dari film tersebut. Salah satunya adalah pertanyaan tentang para superhero yang tidak turut serta dalam even Avengers: Infinity War.

Seperti pendahulunya, Ant-Man akan menyuguhkan petualangan ajaib tentang superhero yang bisa mengubah ukuran tubuhnya.

Tuesday, 8 May 2018

Polemik Aturan Tenaga Kerja

Salah satu hal paling bodoh yang pernah diukir oleh pemerintah negeri ini dan tak bisa diobati sampai saat ini juga oleh para penerusnya adalah penetapan sistem outsourcing. Bagaimana tidak? Sistem ini membuat masyarakat seperti budak di negerinya sendiri. Sebagian besar lapisan masyarakat yang menggenatungkan hidupnya dengan menjadi buruh pabrik mendadak seperti budak di negerinya sendiri karena aturan bodoh yang dibuat oleh pemimpin mereka sendiri. Aturan ini justru menguntungkan para pembesar—yang malangnya, justru lebih banyak diisi oleh turunan orang asing. Sedangkan turunan murni? Lebih banyak jatuh menjadi buruh yang mana merasa tak memadai untuk membuka usahanya sendiri.

Tak ayal, hal inilah yang kemudian menyulut para tenaga kerja untuk turun ke jalan, bersuara, dan beraspirasi. Berjuang serta berharap suara mereka didengarkan. Namun apa yang terjadi? Aturan itu tetap berdiri tegak. Dan para budak di negeri sendiri ini tetap akan diperah tenaganya tanpa adanya penghormatan atas jasanya. Seolah para budak inilah yang hidup membutuhkan mereka para pembesar.

Lantas, apalagi yang bisa diharapkan dari para penerus ketika mereka besar dan mereka dihadapkan kepada kenyataan bahwa kelas menengah ke bawah hanya pantas menjadi buruh di negerinya sendiri? mereka masuk ke sebuah perusahaan, dikontrak hanya beberapa bulan, kemudian serta merta bisa dikeluarkan bila dianggap melanggar aturan. Pun ketika kontrak habis, perusahaan belum tentu bersedia untuk memperpanjang kontrak mereka.

Wednesday, 25 April 2018

OLEH-OLEH MEDAN LAGA


Blog ini berdebu, tetapi karena suatu hal, maka saya harus mengisinya...

Sembari menunggu formulir update hari ini selesai dicetak, maka saya memutuskan untuk menulis hal lain. Lagi pula, semalam, oleh-oleh begadang, saya sudah mengumpulkan kata hingga sembilanratusan banyaknya. Tentu itu sesuatu yang sangat menyenangkan, mengingat memiliki selisih yang teramat jauh dari juara akan membuat saya merasa tak nyaman. Gelisah, begitu saya menyebutnya.

Cukup lama saya menunggu—cukuplah untuk menambah kata rangkaian saya sampai lima ratus biji—akhirnya formulir laporan selesai juga dicetk. Jangan tanyakan bentuknya, biasa saja. Kotak dan tak bisa kau sentuh. Kau hanya bisa melihat deretan huruf dan angka di sana—sebagaimana formulir pada umumnya. Dan jika kau memperhatikan hal ini, maka kau benar-benar pelahap waktu yang luar biasa. Seharusnya kau bisa menggunakan waktumu untuk melakukan hal yang lebih berguna dibandingkan hanya untuk memperhatikan sesuatu yang menurutmu akan membuatmu mendapatkan sesuatu, tetapi ternyata tidak.

Singkat cerita, dalam formulir itu menyatakan bahwa fase terakhir atau disebut fase spesial ini harus diisi dengan pesan dan kesan selama mengikuti medan laga tersebut. Medan laga apakah itu? Itu adalah: Medan Laga Senior Writing Challenge.

Thursday, 22 February 2018

Kutu Loncat, Harapan, dan Naungan



Sebagai seorang yang pernah dijuluki kutu loncat, sudah wajar bagi saya untuk melompat dari suatu naungan ke naungan lain. Bukan hanya dalam pergaulan, komunitas, organisasi saja, bahkan dalam pekerjaan pun suka berpindah-pindah. Alasannya tentu sederhana: saya mencari tempat yang nyaman. Nyaman dalam hal ini tentunya berhubungan dengan kualitas lingkungan tersebut. Sepadankah antara apa yang saya berikan dan yang saya dapatkan dari lingkungan tersebut. Sepadankah dengan apa yang saya harapkan?

Dengan pengalaman yang suka melompat dari satu tempat ke tempat lain, sudah wajar bagi saya untuk langsung bisa membaca satu gerak-gerika manusia, membaca sifat dan ambisi mereka. Di mana setiap rata-rata orang yang dibutuhkan hanyalah “apresiasi” dan “pengakuan”. Mudahnya, mereka membutuhkan perhatian. Itu yang dulu juga sering saya tuntut dari tempat-tempat yang dulu saya tinggalkan. Bergitu merasa tak diapreasi atau tak diperhatikan, maka saya akan pergi mencari tempat baru untuk memulai sesuatu yang baru yang mana bisa membuat saya lebih fokus untuk membangun citra diri.

Namun, dari segala pengalaman lompat-melompat itu, saya tak mendapati diri saya yang tak berkembang. Justru saya seperti berhenti di tempat. Menjadi tukang tuntut yang hanya semata terperangkap pada ego sendiri. Begitu tak puas, maka saya pergi.

Tuesday, 2 January 2018

TENTANG PERGANTIAN TAHUN, RESOLUSI, DAN REALISASI

Menurut tanggalan yang menggantung di tembok, sekarang ini tahun sudah berganti, dari 2017 menjadi 2018. Hari ini pun sudah memasuki hari kedua.

Semenjak beberapa hari yang lalu, sudah banyak orang yang mulai menuliskan resolusi mereka—entah serius, atau hanya ikut-ikutan tradisi biar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa sebenarnya pergantian antara angka 2017 ke 2018 itu sungguh sangat amat tipis sekali. Bahkan ketika kita turut serta merayakan pesta pergantian tahun pun kita tak benar-benar tahu kapan tahun itu berubah. Malam tetaplah malam. Jam digital antara satu dengan yang lain juga berbeda-beda. Bahkan sesama Indonesia saja tahun baru bisa ada tiga. Kembang api meledak dan bertebaran makin riuh semenjak pukul sebelas sampai pukul satu dini hari. Dan kita tak benar-benar tahu kapan tahun sudah berganti kecuali hanya dari petunjuk waktu yang kita bercayai secara subjektif—tentu saja, bagaimana kita bisa mempercayai waktu di Jepang sementara kita menginjak pulau jawa?

Masalah yang hadir kemudian, adakah waktu yang teramat singkat ini benar-benar mengubah kita atau membantu kita lebih baik kecuali hanya tradisi monoton yang tercipta dari tahun ke tahun yang fungsinya hanya untuk seremonial semata?

Satu tahun itu panjang. Resolusi-resolusi yang kita tulis, jika tidak benar-benar kita tanam dan kita bawa setiap hari, maka bukan tidak mungkin nanti sore kita sudah lupa apa yang kita tuliskan sebagai bentuk seremonial tahun baru itu.

Jika memang ingin benar-benar berkembang, bukan resolusi seperti itu yang kita butuhkan. Kita bisa berubah setiap hari. Kita bisa memulainya dari detik ini tanpa perlu menulis resolusi setiap pergantian tahun yang mana kadang di akhir tahun kita kelimpungan menjawab tagihannya jika ada kawan kita yang tahu resolusi yang kita tulis secara membanggakan itu.

Jika memang kita benar-benar memiliki keinginan untuk berubah, apakah mesti kita harus menunggu pergantian tahun untuk merumuskan perubahan itu? bagaimana jika hidayah itu datang di pertengahan tahun atau di sepertiga tahun? Bagaimana jika ternyata dua bulan berikutnya kita sadar rumusan resolusi kita itu sungguh meleset sekali? Lantas bagaimana pertanggungjawaban kita pada resolusi yang kita tulis itu jika kemudian kita justru tak ada kesungguhan untuk benar-benar merealisasikannya.

Jika mau berubah, berubahlah! Jika mau bergerak, bergeraklah!
Tak perlu menunggu tahun depan untuk menciptakan resolusi baru yang mana tahun ini mungkin belum kesampaian dan bisa jadi perencanaannya sudah dilakukan sedari tahun kemarin.