Menikmati Keindahan Film 'Midnight in Paris'

Dari semua tempat yang ada di dunia, kota atau negara mana yang ingin Anda kunjungi? Apakah Paris masuk dalam salah satu daftar kota yang ingin Anda kunjungi. Kita semua sudah terkena sihir oleh kota yang memiliki arsitektur yang elegan dan klasik. Hanya dengan mendengar kota Paris, kita sudah terbayang dengan bangunan gaya arsitektur kuno di zaman-zaman kerajaan saat itu.

Jika Anda ingin bertemu dengan seorang yang sangat terkenal, katakanlah, penulis atau pelukis, siapa yang paling ingin Anda temui? Ernest Hemingway? Pablo Picaso? T. S. Eliot? Hampir semua orang yang ingin Anda temui dari daftar penulis atau pelukis pernah menjelajah Paris, atau setidaknya menurut film yang berjudul "Midnight in Paris."


Jika Anda sudah pernah menonton film ini, menontonnya untuk ke sekian kalinya akan menjadi sebuah nostalgia yang indah. Jika Anda sudah lupa bagaimana atmosfer yang sudah Anda dapatkan ketika menonton film yang indah ini, izinkan saya untuk menerbangkan Anda kembali ke Paris, atau memberikan sedikit suasana Paris bagi Anda semua yang ingin pergi ke sana.

"Midnight in Paris" menceritakan tentang seorang seorang penulis naskah film yang sedang membanting setir sebagai penulis novel, Gil Pender, dan keluarga tunangannya, Inez, yang melakukan perjalanan bisnis ayah Inez ke Paris. Di sini, kita bisa melihat bahwa orangtua Inez adalah orang kaya dan Gil adalah seorang penulis naskah yang cukup baik. Namun, keputusannya untuk menjadi penulis novel kurang disetujui oleh Inez, terlebih ketika orangtua, anak dan calon menantu itu secara tidak sengaja bertemu dengan Paul dan Carol, teman sekolah Inez yang terkenal cerdas, ketika sedang makan siang di sebuah restoran.

Anda akan melihat bahwa Paul berkali-kali menunjukkan "kemampuannya" di setiap kesempatan yang ada, seolah dia telah membaca semua buku dan artikel yang pernah dibuat tentang sejarah Paris, anggur dan seni.

Hal terbaik yang Anda dapatkan dari perjalanan kedua pasangan yang diganggu oleh kedatangan Paul adalah ketika Gil tersesat ketika akan kembali ke Hotel Bristol. Ketika lonceng tengah malam berbunyi, dia tengah duduk di sebuah tangga di bawah lampu-lampu redup kota Paris. Saat itulah dia diangkut oleh sekelompok orang yang berada di dalam Peugeot. Orang-orang dengan segelas champagne di tangan itu membawa mereka ke sebuah pesta yang diadakan oleh Jean Cocteau. Dia disambut oleh Cole Porter yang menyanyikan lagu Let's Do It.

Kebingungannya pada suasana dan cara orang-orang di sana berpakaian menarik perhatian Zelda Fitzgerald yang membuatnya bertemu dengan Scott Fitzgerald. Kejadian menjadi begitu cepat ketika Gil semakin menunjukkan kebingungannya bahwa tidak mungkin dia terjebak di Paris pada tahun 1920-an.

Dari situlah, duo Fitzgerald mempertemukan Gil dengan orang-orang terkenal lainnya, seperti Ernest Hemingway, Pablo Picaso dan Adriana yang menjadi inspirasi Pablo di salah satu lukisannya. Hal itu juga membuka kesempatan bagi Gil menyerahkan novelnya untuk dievaluasi oleh Gertrude Stein. Perjalanannya kemudian mempertemukannya dengan T. S. Eliot, Salvador Dali, Djuna Barnes, Belmonte dan beberapa orang terkenal lainnya di suasana kota Paris yang redup dan romantis.
Tentu saja cerita itu tidak dipercaya oleh Inez. Walaupun demikian, hal itu membuatnya bisa "membetulkan" penjelasan sejarah tentang sebuah lukisan yang dibuat oleh Pablo Picaso yang kebetulan dilihatnya ketika Ernest Hemingway mengajaknya ke rumah Gertrude Stein. Saat itu, Pablo tengah meminta pendapat Gertrude tentang lukisan itu.

Walaupun film ini hanya berdurasi satu jam lebih tiga puluh menit, film ini bisa merangkum sebagian kisah dan mempertemukan semua orang terkenal yang pernah ada di zaman-zaman sebelumnya, terutama hal menarik yang terjadi antara Ernest dan Adriana.

"Midnight in Paris" memberikan kesan bahwa orang-orang di masa sekarang akan selalu rindu dengan masa sebelumnya. Seperti Gil yang menganggap bahwa tahun 1920-an adalah masa keemasan yang pernah ada dan seperti Adriana yang ingin hidup di tahun 1890-an, sementara orang-orang di tahun itu menganggap bahwa zaman keemasan sesungguhnya adalah zaman Renaiassance.

"Midnight in Paris" membuat juga membuat saya ingin mengunjungi Paris walaupun hanya sekali seumur hidup menikmati redup kota yang romantis di malam hari dan mengunjungi tempat-tempat dengan arsitektur zaman dahulu, seperti Gil yang ingin tinggal di Paris dan menikmati berjalan kaki mengelilingi Paris ketika hujan.

Yah, Paris bisa menjadi kota yang indah bagi kekasih yang saling mencintai dan bisa mengakhiri sebuah hubungan jika salah satu pihak tidak bisa menikmati Paris seperti yang terjadi dengan Gil dan Inez. Walaupun akhir film ini terdengar buruk, Anda tidak akan menganggapnya demikian ketika Anda telah selesai menonton film ini.

Dari film ini, Anda akan menyukai Paris di malam hari dengan lampu yang redup dan gerimis yang seolah tidak akan membuat Anda kedinginan.

Mungkin dengan selesainya film ini Anda juga akan mulai menyukai hujan dan lampu redup di malam hari.

Yang jelas, "Midnight in Paris" amat sangat membuat saya semakin ingin pergi ke Paris, dan juga berharap bisa bertemu dengan orang-orang terkenal itu. Selain itu, film inilah yang memberikan motivasi bagi saya untuk menulis tentang film ini sendiri.

Penilaian dan keputusan berada di tangan Anda. Saya di sini hanya bertugas untuk memberikan gambaran indah tentang film ini dan Paris. Saya tidak bisa memberikan penilaian lebih dari itu karena setiap detik film ini ditampilkan dengan sangat indah.

Gambar diambil dari Netflix
0

Sejarah Bangsa Indonesia Dalam 'Anak Semua Bangsa'


Judul buku: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Maret 2018 (Cetakan ke-19)
Tebal buku: 547 halaman.

Novel "Anak Semua Bangsa" karya penulis ternama Pramoedya Ananta Toer ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1980 oleh Hasta Mitra. Dengan latar pemerintahan Hindia Belanda, "Anak Semua Bangsa," yang merupakan novel kedua dari novel tetralogi "Bumi Manusia" ini tidak hanya bercerita tentang sejarah, tetapi juga cinta, sosial, dan politik.

Cerita "Anak Semua Bangsa" dimulai dengan perjalanan kematian Annelies, istri Minke yang merupakan tokoh utama dalam novel tetralogi ini, ke Belanda. Berita kematian itu sendiri dikirim oleh Kommer, orang yang dipercaya Nyai Ontosoroh untuk menjaga Annelies selama perjalanan dan sekaligus sahabat Minke dan Nyai, dan bukan Ir. Maurits Mellema yang mengaku sebagai wali sah Annelies.

Setelah berita tersebut diterima, kehidupan Minke dan seluruh keluarga itu menjadi kelabu. Namun, mereka dapat menghadapinya dengan tabah walaupun Nyai Ontosoroh sangat gusar sehingga ia memutuskan untuk berlibur ke rumah kerabatnya bersama Minke. Liburannya ke Sidoarjo membuat mata Minke terbuka terhadap ketidakadilan yang menimpa pribumi. Pemilik lahan yang kini dijadikan ladang tebu pabrik gula Tulangan mengalami pengurangan pembayaran sewa dan masa sewa yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Hal ini membuka hatinya untuk membantu orang-orang yang tertindas tersebut melalui tulisan. Namun, bantuannya itu malah menempatkannya dalam bahaya.

Ketika bahaya itu masih membayangi, orang-orang Tulangan sudah membuat ulah. Mereka memulai perjuangan mereka melawan Belanda sebelum waktunya hingga seorang kyai yang menginisiasi perjuangan itu ditanggap dan dihukum mati, sementara semua pendukungnya menjadi buronan.

Masalah dengan pabrik gula masih belum selesai ketika seorang mata-mata yang dijuluki "si gendut" terlihat masuk ke rumah Minem dan lari ke pekarangan belakang rumah Nyai Ontosoroh. Peristiwa itu disusul dengan surat kematian Robert, anak sulungnya, dan pengakuan Minem bahwa bayinya adalah anak dari Robert. Surat tersebut masih belum dingin ketika Nyai Ontosoroh, Minke, Minem dan Darsam serta si gendut yang ternyata bernama Jan Tantang dan pemilik tempat pelacuran Ah Tjong diseret ke pengadilan.

Keputusan pengadilan selanjutnya menempatkan Mama atau Nyai Ontosoroh dalam situasi rumit yang tidak bisa ditampiknya karena posisinya yang hanya pribumi, bukan keturunan Belanda. Di situlah arti persahabatan dan perjuangan melawan kesewenangan Ir. Maurits Mellema melalui pesta "penjagalan" yang telah disiapkan Nyai Ontosoroh terkhusus untuk calon perampas perusahaan besar di Wonokromo.

Begitulah cerita itu berakhir. Setiap buku diakhiri dengan takdir Nyai Ontosoroh dan Minke yang menggantung yang mengharuskan setiap membacanya untuk memburu buku berikutnya dan berikutnya lagi.

Dari kisah di atas, pembaca bisa mengetahui bahwa Nyai Ontosoroh dan Minke dapat menghadapi setiap masalah dengan tegar. Bahwa masalah besar bukanlah alasan bagi siapapun untuk menyerah.

Dari "Anak Semua Bangsa," pembaca bisa belajar untuk memperjuangkan hak walaupun hukum tidak memihak, mengusahakan kebenaran walaupun kebenaran jarang meninggalkan jejak, dan tetap menjaga martabat dan kehormatan diri walaupun sedang berhadapan dengan orang yang tidak mengindahkan harga diri orang lain.

Setiap peristiwa yang dialami Minke membuatnya semakin dewasa. Pertemanannya dengan orang Eropa membuatnya membuka mata bahwa orang Eropa tidak perlu disanjung setinggi itu walaupun bangsa mereka terus maju di berbagai aspek kehidupan. Kenyataan mengajarinya untuk berhenti mengidolakan sosok yang menurutnya sempurna. Ketidakadilan membuatnya berhenti menggunakan bahasa penjajah yang tidak dipahami pribumi. Kemudian, ia pun mulai menulis dengan lebih jujur tentang semua peristiwa dalam bahasa Melayu.

Sudah adil kau bila menulis untuk pembaca berbahasa Belanda, padahal kau sedikit pun tak pernah berhutang budi pada mereka? - Anak Semua Bangsa, 275.

Berbicara soal "Anak Semua Bangsa," semakin dibaca pembaca akan semakin diyakinkan bahwa Minke adalah Pramoedya sendiri. Hal ini diperkuat dengan latar belakang Minke yang kebetulan hampir sama dengan Pramoedya yang seorang penulis.

Pengalamannya yang bergabung dengan "Lekra" membuatnya tahu berhagai hal, termasuk peristiwa keadilan yang mengitari pabik gula Tulangan, Sidoarjo. Berdasarkan isi novel, Pram menemukan kenyataan bahwa biaya sewa yang diberikan pada pemilik tanah dikurangi oleh pihak Belanda dan mereka juga menyalahi kesepakatan dalam surat perjanjian sewa. Pengetahuan ini seperti yang pernah dikatakan Gol A Gong bahwa menulis fiksi adalah cara lain untuk memberitakan fakta.

Pram sangat piawai menceritakan setiap detil sejarah karena mungkin ia sendiri mengalami semua peristiwa itu dan bukan hanya berdasarkan imajinasi atau cerita dari orang lain saja. Jika Ernest Hemingway suka menulis cerita secara jujur, maka mungkin Pram bisa dikatakan sebagai Ernest Hemingway-nya Indonesia.

Beliau suka memasukkan fakta sejarah dalam tulisannya sehingga semua orang bisa tetap mempelajari sejarah Indonesia yang terus tenggelam seiring berlarinya zaman. Di tengah zaman yang sudah penuh dengan hoax, Pram berusaha membuat semua pembacanya mempertanyakan yang berakhir menjadi yakin akan kebenaran kisahnya. Dengan cara itulah Pram telah menceritakan kembali sejarah Indonesia yang terlupakan, terlepas dari latar belakangnya yang seorang Komunis.

Namun, jika Anda adalah tipe orang yang suka bervisualisasi dengan narasi atau deskripsi, mungkin "Anak Semua Bangsa" bukan novel untuk Anda. Seperti novel sebelumnya, "Bumi Manusia," novel ini bisa dikatakan penuh dengan dialog yang bertele-tele. Namun, dialog-dialog itu sendiri terkadang berisi pemikiran, movitasi dan nasihat yang tidak akan mungkin Anda tinggalkan, seperti pada dua kutipan di bawah ini:
Apa yang diharapkan oleh Pribumi daripadaku? Tak ada. Tapi yang diharapkan dari Tuan Minke yang begitu berbakat, banyak, terlalu banyak... Aku telah anjurkan padanya untuk mulai mengenal bangsanya dan kehidupannya, sumber yang tak kering-keringnya. - Anak Semua Bangsa, 267.
Nyai, kalau Tuan Minke tak mampu melihat keceriaan kehidupan, bagaimana ia nanti akan dapat menunjukkan pada bangsanya: di sanalah kebahagiaan? - Anak Semua Bangsa, 267.
0

Tentang Hujan: Prolog

Hampir satu minggu genapnya aku selalu memikirkan tentang hujan. Bukan karena apa, pasalnya tema pekan ini adalah tentang hujan. Jika memikirkan hujan, maka aku selalu ingat malam. Ingat tentang bagaimana tanah basah dengan aroma khas yang membawa kenangan. Seperti menjebak dan memerangkap ingatan agar senantiasa mendekap nuansa tersebut. Nuansa yang sudah lama lewat.

Namun bagaimana jika kemudian nuansa-nuansa itu tak habis dalam sekali duduk saja?

Mengenangnya.

Begitu.
0

Tentang Cinta yang Tak Mengenal Waktu dalam Letters to Juliet

Dari ulasan film berjudul "Letters to Juliet" ini mungkin kita akan belajar tentang cinta yang tak mengenal waktu dan bahwa cinta itu perlu diperjuangkan dan bahwa cinta itu...

Ya. Bersiaplah karena kali ini kita akan berbicara sekaligus belajar tentang cinta.

Namun, kita tidak akan belajar cinta tentang pengorbanannya saja, tetapi belajar bagaimana memilih cinta yang sungguh buat kebaikan berdua atau hanya menguntungkan satu pihak saja. Kita akan benar-benar belajar menentukan apakah cinta yang sedang kita jalani benar-benar yang terbaik ataukah selama ini kita hanya mempertahankannya tanpa ada pandangan ke depannya.

Jika Anda mulai ragu, maka "Letters to Juliet" adalah penawar bagi gejala kebingungan tersebut. Bagaimana kisahnya?


Film yang didistribusikan oleh Summit Entertainment ini dimulai dengan scene di mana Sophie Hall yang diperankan oleh Amanda Seyfried sedang menelepon orang-orang bernama Robert Beal. Dia adalah pemeriksa fakta yang sedang bertugas mencari saksi ciuman paling sensasional setelah Perang Dunia Kedua di Time Square, New York.

Sophie telah bertunangan dengan seorang chef bernama Victor yang diperankan oleh Gael Garcia Bernal. Sophia dan Victor sedang merencanakan liburan sebelum pernikahan ke Verona.

Namun, sebagai seorang chef yang akan membuka sebuah restoran di mana ia juga berarti seorang pebisnis, perjalanan yang dibayangkan sebagai pra-bulan madu itu pun sedikit berubah. Perjalanan dan daftar panjang Sophie mengunjungi beberapa tempat harus berubah dengan kesibukan Victor mengunjungi lelang anggur.

Hal itu sudah dimulai sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di Verona. Victor langsung mendapatkan telepon dari Signor Morini untuk mengunjungi kebun anggurnya dan mencicipi minuman anggur di sana. Ia juga mengunjungi tempat pembuatan keju yang semuanya tidak ada di jadwal. Setelah itu Victor juga hendak mengunjungi suatu tempat untuk melihat truffle.

Berantakan, bukan? Apa yang Anda lakukan jika menjadi Sophie ketika perjalanan romantis Anda berubah menjadi kesibukan yang hanya berpihak pada pasangan Anda sejak di hari pertama? Marah?

Namun, bukan itu yang dilakukan Sophie karena Sophie sudah sangat memahami Victor yang begitu tenggelam dalam dunia masak-memasaknya. Selain itu, alasan kenapa Sophie masih mempertahankan kisah cintanya dengan Victor yang dikenal luas oleh teman-teman Sophie sebagai orang yang sangat sibuk dengan hapenya itu adalah karena Victor selalu mendukung keinginannya menjadi seorang penulis. Victor beralasan bahwa Sophie harus melakukan hal yang sangat disenanginya.

Sejak awal menonton film ini, mungkin Anda akan langsung merasa bahwa Victor amat sangat menyebalkan karena penulis cerita dengan pandai dan tanpa berlebihan berhasil menunjukkan sosok Victor yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu mendukung win-win solution ketika Victor ingin melakukan suatu hal dan Sophie ingin melakukan hal lain yang berarti semakin memisahkan mereka berdua.

Namun, kehadiran Charlie Wyman yang diperankan oleh Christopher Egan akan langsung membuat Anda berasumsi peran apa yang dimainkannya dalam kisah cinta Sophie dan Victor.

Anda harus ingat bahwa cinta ini bukan kisah cinta mengerikan yang berakhir tragis dengan kebencian dan pengkhianatan. Film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sehat tidak harus dilanjutkan seberapa lama pun hubungan itu telah berlangsung.

Dalam Letters to Juliet mungkin Anda juga akan belajar tentang "witting tresno jalaran soko kulino" yang berarti cinta tumbuh dari kedekatan yang sering. Di sini, Sophie dan Charlie mempelajari arti cinta dari nenek Charlie yang bernama Claire Smith-Wyman yang diperankan oleh Vanessa Redgrave yang mencari cinta sejatinya Lorenzo Bartollini (Franco Nero) yang ia kenal saat ia masih berusia 15 tahun. Pencarian itu sendiri dimulai dari surat yang dikirim Sophie padanya.

Bagaimana awalnya Sophie bisa mengirim surat pada orang yang baru saja ditemuinya? Itu adalah detail yang harus Anda cari tahu sendiri.

Kisah pencarian Lorenzo itu pun dibuat tidak mudah, tetapi juga tidak sulit. Pencarian itu pun diawali dengan kisah unik ketika Charlie sangat tidak setuju jika pencarian tersebut harus dibersamai oleh Sophie, "Splendid. Fantastic," katanya dengan sarkastik.

Saya sangat senang dengan pencarian yang tidak hanya penuh dengan pencarian, tetapi juga percakapan saat mereka menginap di hotel dan berjalan-jalan sebelum mereka melanjutkan pencarian. Itu membuat semuanya menjadi alami dan tidak terlalu dipaksakan dan merupakan alur cerita yang berbeda tentang bertemu dan berpisahkan pasangan.

Ups, mungkin terlalu banyak spoiler di sini, tapi percayalah, itu hanya sebagian kecil yang bisa Anda nikmati dari semua ini. Lagipula, ada berapa Lorenzo Bartollini dan kisah apa yang disimpan oleh setiap Lorenzo Bartollini tersebut?

Bagaimana dengan konflik? Mereka menggunakan konflik kecil, tetapi cukup serius sehingga bisa diselesaikan dengan cepat tanpa ada luka yang berlarut-larut. Lagipula, ini adalah kisah cinta yang sederhana, jadi no drama needed.

Unsur kebetulan dalam cerita ini masih ada walau tidak merusak cerita. Itup un tidak dipaksakan dan bukan tidak perlu. Kebetulan ini malah menambah kealamian dan menjadi awal mula dari konflik yang membuat kedua tokoh kita bertengkar.

Seperti yang terjadi pada setiap pencarian, maka cinta pertama Claire itu pun ditemukan. Ia telah berubah dari seorang yang mencintai ladang menjadi pemilik ladang anggur terkenal di seluruh Eropa.

Bertemunya Claire dengan Lorenzo sendiri juga bukan karena mengikuti peta yang mereka bahwa, tetapi karena sebuah kebetulan alami ketika Claire ingin mampir ke tempat pembuatan anggur terkenal dalam perjalanan pulang mereka. That's it dan undangan pernikahan pun disebar.

Walaupun cerita setelah pernikahan Claire dan Lorenzo sudah bisa ditebak, tetapi keunikan dan keindahan kisah ini amat sangat menghibur mata, terutama dengan bangunan-bangunan indah Eropa. Selain itu, hal bahagia yang akan Anda saksikan bukan hanya tentang perayaan cinta saja. Lalu, apa yang dipelajari Sophie dan dikatakan pada Victor yang menjadi awal dari akhir film ini?

Yang bisa saya katakan adalah seluruh kisah dalam Letters to Juliet ini dirajut dengan cinta. Seluruh konflik, percakapan, kejadian, pertamuan, perjalanan dan sebagainya dirangkai seromantis mungkin dan dibuat tidak berat.

Ini adalah film romantis yang ringan dengan konflik dan plot twist yang lembut. Jika film ini adalah benda, mungkin ia adalah pohon di siang hari di mana Anda akan terlelap di bawahnya. Dan percayalah, walaupun terlihat demikian, kisah ini bukan tentang pengkhianatan.

Gambar diambil dari Cinematographe
0

Mengejar Sunrise ke Putuk Lesung Kaki Gunung Arjuna

Gunung Bromo sudah dikenal banyak orang sebagai tempat untuk menikmati matahari terbit yang eksotis. Sudah banyak orang, bahkan banyak keluarga yang melakukan liburan sekolah maupun akhir pekan ke Gunung Bromo. Namun, sebenarnya masih banyak gunung atau bukit lain yang bisa menjadi spot terbaik untuk menikmati sunrise.

Pernah mendengar Putuk Lesung? Putuk Lesung terletak di Purwodadi kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Putuk lesung sendiri merupakan sebuah bukit yang berada di kaki Gunung Arjuna. Hal ini dapat Anda lihat begitu Anda sampai di pos kedua, di mana jika Anda mengambil jalur ke kiri, maka Anda akan mengambil jalur ke Gunung Arjuna sedangkan untuk ke Putuk Lesung sendiri, Anda harus mengambil jalur ke kanan.

Tema travelling kali ini memang lebih dekat dengan istilah hiking karena Anda harus membawa peralatan yang lengkap untuk bisa menikmati sunrise. Walaupun hanya bukit, perjalanan ke puncak putuk lesung bisa dibilang cukup melelahkan. Putuk Lesung sangat sesuai bagi para hikers pemula atau bagi mereka yang ingin menjajal bagaimana rasanya naik gunung.

Kami (saya, suami dan teman-teman suami) mempersiapkan jauh-jauh hari atas ajakan seorang hiker (Bang Umar) yang memastikan keamanan mendaki kami. Selain mempersiapkan fisik, kami juga mempersiapkan peralatan untuk berkemah karena menurut Bang Umar, kami akan berangkat malam hari. Yang bener aja menginap di bukit dingin malam hari nggak bikin tenda, kan?

Beberapa hari sebelum berangkat, ternyata Bang Umar membawa teman yang juga hiker ikut untuk menemani saya yang perempuan. Barang yang akan disewa antara lain: tenda, sleeping bag, tas carrier dan perlengkapan memasak. Kami membawa 3 carrier yang diangkut bergantian. Kami juga membawa bahan-bahan masakan, sendok, kertas bungkus (sebagai pengganti piring) baju ganti, senter, tisu basah dan kering serta air yang dimasukkan ke dalam carrier. Jangan lupa membawa plastik sampah besar. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab dengan sampahnya yaa.

Jadilah kami bersembilan berangkat sore hari dan sampai pukul 7 malam lebih di rumah warga yang sering dipakai parkir. Di situ, kami makan malam di warung warga tersebut dan menitipkan sepeda motor kami. Sebenarnya, sepeda motor bisa dititipkan di pos perizinan yang masih berada di depan. Namun, karena medan cukup curam dengan bebatuan yang cukup besar, pilihan itu tidak disarankan oleh Bang Umar. Kasihan motornya katanya walaupun ada beberapa rombongan pendaki yang menitipkan sepeda mereka di sana.

Kami mulai pendakian pukul 8 malam lewat. Jalur pertama menuju pos perizinan amat menghancurkan semangat, terutama karena saya belum pernah mendaki gunung.

Awalnya, jalan masih lurus sekitar 30 m, lalu langsung menanjak dengan kemiringan sekitar 25-35 derajat. Saya tidak menghitung berapa jaraknya karena jalannya terus menanjak dan baru sebentar lurus langsung menanjak dengan kemiringan yang cukup curam. Namun, melihat teman-teman saya yang semangat maka saya pun tidak boleh menyerah.

Bahkan saking semangatnya, salah satu teman kami yang bernama Gilang Ijonk mengatakan, "ah, ini enteng." Dengan semangat itu, dia menjadi berada agak jauh di depan kami. Itu membuat semangat kami semakin terpacu. Namun, tiba-tiba dia kesleo. Dia mengatakan tidak sengaja menginjak batu besar yang sebelumnya berada di sisi yang lain.

Tip 1:
Jangan meremehkan gunung atau apapun. Setiap tempat memiliki penunggu. Jika penunggu tersinggung, maka mereka akan "usil."

Karena kejadian itu, Gilang berjalan di belakang dan terus melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pos perizinan, kami melepas semua jaket, kecuali Bang Umar dan beberapa teman lainnya yang cukup sering menanjak karena dari awal mereka tidak memakai jaket. Di malam yang dingin itu, keringat kami bercucuran deras.

Tip 2:
Jangan memakai jaket saat menanjak jika tidak ingin dehidrasi. Pakai jaket saat sudah sampai di tempat dan tenda telah didirikan.

Setelah melakukan perizinan, kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Dari pos 1 jaraknya tidak terlalu jauh dari pos perizinan, tetapi hanya melelahkan. Walaupun jalan yang kami lalui tidak securam sebelumnya (sekitar 15-25 derajat), tapi jalanan terus menanjak dan terjal. Bebatuan sebesar genggaman tangan hingga kepala manusia sering kami gunakan sebagai pijakan agar tidak terperosok. Di sepanjang jalan, kami juga sering beristirahat di batu besar.

Sekitar 30 menit, kami sampai di pos 1. Di pos 1 ada kamar mandi yang cukup luas dan sumber air. Ada juga gua yang ditutup kelambu. Pendaki dilarang masuk tanpa juru kuncinya.

Perjalanan menuju pos 2 dari pos 1 sekitar 2 kali lipat jauhnya dibanding dengan perjalanan menuju pos 1 dari pos perizinan. Namun, jika sudah sampai pos 2 maka lokasi perkemahan sudah sangat dekat.

Karena saya perempuan dan belum pernah mendaki, saya sering berhenti untuk beristirahat. Hal ini membuat Bang Umar memutuskan untuk mendahului karena menurut penjaga pos perizinan, Putuk Lesung penuh karena jalan menuju Gunung Arjuna ditutup. Dikhawatirkan jika terlambat sampai, tempat perkemahan sudah penuh sehingga tidak ada tempat yang tersisa untuk kami. Bang Umar pun berangkat membawa carrier berisi perlengkapan mendirikan tenda ditemani dengan Tomex. Dengan kondisinya yang terlihat masih fit dan penuh semangat, ia dipilih untuk menemani Bang Umar yang juga masih dalam keadaan fisik yang prima.

Akhirnya, kami didampingi oleh teman perempuan Bang Umar yang juga seorang pendaki. Walaupun demikian, kami masih bersama seorang porter (Satria) yang juga cukup sering naik gunung. Dia yang membawakan barang bawaan saya dan suami karena saya lelah, sedangkan suami kakinya terkilir waktu itu, walaupun dia sendiri sudah bawa carrier. Dia juga teman dari kecil suamiku, jadi tidak apa-apalah walaupun saya merasa sangat berdosa.

Tip 3:
Jangan berhenti terlalu lama agar tidak cepat lelah. Berhentilah hanya untuk mengambil napas sebentar. Ketika berhenti, jangan menekuk lutut yang sudah kelelahan. Ini yang selalu digaungkan oleh Indrat yang pernah mengalami kaku lutut hingga tidak bisa berdiri karena menekuk lutut yang terlalu lelah.

Sesampainya di pos 2, kami berhenti agak lama karena di pos 2 terdapat warung. Kami duduk dan minum teh hangat manis dan melanjutkan perjalanan.

Tip 4:
Mengonsumsi minuman manis cukup penting, terutama bagi pemula, untuk mendapatkan asupan tenaga secara langsung. Masih ingat kan, kalau makanan dan minuman manis akan cepat memberikan tenaga?

Perjalanan dari pos 2 ke lokasi tidak terlalu susah. Jalur sudah jarang mendaki, malah mulai turun dan datar. Namun, jalanan mulai menakutkan karena tepat di sebelah jalan yang biasa dilalui adalah jurang. Selain itu, jalannya mulai menyempit dan hanya bisa dilalui 1 orang.

Sesampainya di atas, 2 tenda sudah berdiri. Kami melepas lelah sambil melihat Bang Umar dan Tomex memasang tenda dibantu dengan teman-teman lain yang juga baru datang.

Saya langsung rebahan karena terlalu lelah. Padahal, jika sesuai rencana, saya dan suami harusnya makan malam lagi.

Tip 5:
Gantilah baju sebelum tidur. Karena baju yang basah terkena keringat bisa membuat tubuh semakin dingin.

Di sana udara mulai dingin. Jaket kami kenakan dan saya tidur dalam sleeping bag. Beberapa teman di luar bercengkerama sambil memasak mie dan memakan camilan yang kami bawa.

Kemudian, mentari pun terbit.


Dari kiri ke kanan (Saya, Gilang Ijonk, Tomex, Indrat, Suami, Satria)


Dari kiri ke kanan (Saya, Raja Tadubi, Tomex, Indrat, Satria, Suami)


Dan inilah laki-laki keren yang bernama Bang Umar. Dengan tubuhnya itu, dia mendaki dengan membawa carrier yang tidak digilir ke siapapun sambil merokok ketika saya mulai ngos-ngosan. Teman perempuan Bang Umar tidak ikut berfoto karena belum bangun. Ketika sudah bangun, kami sudah mulai masak untuk sarapan dan bergegas turun.
Sekedar info, Raja Tadubi adalah chef kami di sini. Dia bertanggung jawab pada produksi makanan untuk sarapan dibantu dengan beberapa teman lainnya, termasuk saya. Sementara lainnya membereskan isi tenda agar "penghancuran" tenda berjalan lancar dan cepat.

Tip 6:
Kalau bisa, jangan memakai pakaian hitam ketika mendaki di siang hari. Panas euy. Jangan lupa bawa kacamata hitam. Selain terlihat keren, kacamata bisa sangat melindungi mata dari terik matahari di siang hari.

Walaupun hanya numpang tidur di Putuk Lesung, pengalaman ini cukup unik bagi kami. Selain bisa hiking dan masak bersama, naik gunung adalah hal yang berbeda daripada hanya melakukan wisata kuliner atau ngopi. Sekali-kali, kumpul bersama dengan suasana baru itu memang dibutuhkan.

Satu lagi hal yang penting: jangan lupa bawa tali! Seremeh apapun, kadang tali itu dibutuhkan.
0

Istri yang Terlalu Sempurna Dalam Gone Girl

Siapa yang tidak menginginkan pasangan yang sempurna? Semua akan mendambakan pasangan yang sempurna yang katanya dapat membuat kehidupan berumah tangga bahagia. Namun, bukan itu yang dialami Nick Dunne (Ben Affleck) dalam film "Gone Girl."


Ini merupakan sebuah film yang akan membuat orang sangat menyukainya atau sangat membencinya. Hal ini karena sutradara David Fincher sukses mendapatkan perhatian penonton baik dari segi logika maupun perasaan. Alur cerita yang mampu mengaduk kedua hal dominan tersebut diangkat dari novel best seller tahun 2012 karangan Gillian Flynn.

"Gone Girl" dapat dikatakan sebagai film misteri atau drama ironis di mana seseorang yang mendambakan pernikahan indah malah mendapatkan sebaliknya karena pasangannya yang "sempurna."

Nick bertemu dengan istrinya Amy Eliot-Dunne (Rosamund Pike) di sebuah pesta. Hubungan mereka pun berlanjut dari sana ketika Nick mulai melakukan hal-hal romantis pada Amy. Namun, beberapa tahun kemudian, Amy menghilang. Hal ini diketahui tepat setelah tetangga Nick melihat keanehan di rumahnya dan segera menghubunginya. Nick yang baru masuk ke dalam rumah mendapati semua baik-baik saja hingga ia melihat meja di ruang tamunya terbalik. Ia segera menghubungi polisi dan investigasi pun dilakukan.

Ketika sampai di sini, apa yang mungkin Anda pikirkan? Penculikan? Pembunuhan? Ya, bisa dipastikan karena tim penyelidik menemukan ada banyak bekas darah di dapur dan tongkat pemukul yang ada di perapian. Jadi, bisa dipastikan Amy dibunuh.

Lalu, di mana mayat Amy dibuang dan siapa pelakunya?

Dari sini, Anda pasti sangat ingin tahu kelanjutannya karena film ini memang berisi plot twist, yang menurut saya sangat mengesalkan.

Sebelum dilanjutkan, Anda perlu tahu bahwa Amy adalah sosok anak gemilang. Di masa kecilnya, ia sudah berhasil menerbitkan banyak buku best seller yang menjadi inspirasi banyak anak di Amerika. Keluarganya adalah keluarga cukup kaya hingga mampu membeli hotline dengan 2 baris nomor di belakang berbunyi: AMY-TIPS dan sebuah website yang ditujukan untuk membantu dalam pencarian Amy. Tidak ada yang tidak mengenalnya, hingga si detektif sendiri pun tahu. Hingga dalam investigasinya, detektif Rhonda Boney (Kim Dickens) bertanya, "apa yang dilakukan seseorang dengan banyak gelar seperti itu?" Nick menjawab bahwa Amy sibuk di ruang kerja di rumahnya.

Untuk menambah rasa penasaran, Amy menyimpan sebuah diary di ruang kerjanya yang ditemukan oleh tim penyelidik. Buku diary itu ternyata berisi petunjuk bagi polisi yang memberatkan Nick. Dalam diary, Amy menegaskan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Ia menikmati hari-hari yang berlalu selama pernikahannya. Kemudian, beberapa waktu kemudian tertulis bahwa pernikahannya sangat berantakan. Dalam Diary tertulis bahwa Nick adalah seorang pemalas dan kasar. Nick sering memaksanya melakukan hubungan seks, melakukan KDRT dan menolak untuk memiliki anak. Di sana juga tertulis bahwa keuangan mereka pun berantakan. Nick tidak bisa mengontrol belanja dan terus membeli untuk kebahagiaannya, seperti laptop dan video game.

Apa yang terjadi pada akhirnya? Silahkan Anda tonton sendiri.

Jika Anda sudah pernah membaca novel karya Gillian Flynn itu, Anda pasti tidak akan kecewa jika menonton film ini lagi. Dalam novel, Anda akan melihat plot twist yang luar bisa. Namun, di sini Anda akan langsung diberi tahu penjahat yang sesungguhnya. Pada awalnya, Anda mungkin akan kecewa. Namun, David akan terus menarik Anda pada rasa gemas pada pelaku tersebut hingga mengetahui siapa pelakunya tidak lagi jadi persoalan. Jika Anda adalah penikmat baru, selamat datang dan selamat menikmati perasaan mual yang mengaduk-aduk di kepala, ulu hati dan mungkin juga perut. Ini bukan film thriller dan tidak ada visual yang mengganggu.

"Gone Girl" tidak seperti film detektif pada umumnya. Memang lebih dekat dengan kisah drama, tetapi sama sekali tidak klise. Menurut saya, ini drama gaya baru yang perlu dicontoh oleh pertelevisian Indonesia. Mengandung unsur kriminal, kecerdasan, dan tidak melulu soal cinta yang tidak direstui seperti Romeo and Julie. Well, ini sudah lewat tahun milenium, saatnya drama bangkit dan berkembang lebih baik.

Perihal filmografi dan sebagainya, film ini sudah sangat baik. Bisa saya katakan tidak ada yang cacat. Jika Anda kenal Rosamund Pike dari film "Pride and Prejudice" Anda mungkin tidak akan melihat karakter dominan kakak Lizzie itu. Semua pemain memerankan karakter dengan sangat baik. Anda akan dibikin sibuk dengan kejadian demi kejadian yang akan Anda saksikan dalam drama "pembunuhan" itu.

"Gone Girl" amat sangat saya sukai dan juga amat sangat saya benci. Anda mungkin akan tahu kenapa bisa demikian setelah menonton film ini sendiri. Sebelum menonton, mungkin Anda perlu menyiapkan boneka atau bantal untuk diremas-remas karena film ini memang seperti itu.

Selamat menonton.

Gambar diambil dari Slash Film
0

Ranu Bedali - Danau Indah yang Mengandung Misteri

Ranu Bedali adalah salah satu ranu yang ada di Lumajang. Danau ini juga merupakan salah satu danau dari segitiga danau di Lumajang, yaitu Ranu Klakah, Ranu Pakis dan Ranu Bedali. Berbeda dari kedua danau lainnya, Ranu Bedali terletak jauh di bawah dataran di sekitarnya.

Jika liburan hari Minggu nanti belum ada rencana atau tempat tujuan, mungkin Ranu Bedali kabupaten Lumajang Jawa Timur bisa dijadikan pilihan.


Waktu itu, saya dan suami berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu danau setelah 20 tahun lebih saya tinggal di Klakah. Saya sering berkeliaran ke Ranu Klakah dan Ranu Pakis, tetapi belum pernah sekali pun ke Ranu Bedali. Pengalaman kami ke danau itu ya baru beberapa hari lalu, tepatnya hari Minggu 30 September. Hal ini juga karena suami saya adalah orang Sidoarjo.

Kalau Anda bepergian dari arah Probolinggo, Anda tinggal mencari Indomaret Ranuyoso dan di dekat situ ada belokan ke kiri. Anda tinggal mengikuti jalan hingga sampai di danau itu.

Namun, karena saya tinggal di Klakah, maka saya hanya perlu lewat Ranu Klakah dan meneruskan perjalanan ke utara hingga sampai di Ranu Bedali.

Waktu itu, saya berangkat sekitar pukul 6 lebih. Sehingga saya sampai di lokasi sebelum penjaga loket datang. Ini membuat saya tidak ditarik tiket masuk. Tiket masuknya cukup murah, yaitu Rp5.000,- dan ongkos parkir sepeda motor sebesar Rp2.000,- saja.

Walaupun di hari Minggu, suasananya masih terbilang sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang saja ketika saya sudah naik lagi dari danau. Sementara ketika saya turun, masih belum ada yang datang. Bahkan, warung-warung dan pedagang kaki lima juga masih belum terlihat. Menurut pedagang kaki lima yang saya temui, Ranu Bedali menjadi sangat ramai ketika hari libur Idul Fitri dan Tahun Baru.

Tujuan kami waktu itu adalah mengunjungi air terjun yang, menurut tante saya, cukup indah. Ketika turun, kami melihat petunjuk untuk ke kiri atau ke kanan. Jika ke kanan, saya akan menuju ke kolam renang alami dan rumah kayu. Sedangkan untuk ke air terjun, saya harus turun melalui jalur kiri.

Jika Anda ingin ke air terjun, saya sarankan untuk memakai sepatu atau alas kaki yang sesuai untuk mendaki gunung. Hal ini karena medan ke bawah cukup licin dan ada beberapa jalan yang berbatu. Pembangunan yang kurang maksimal juga menjadi salah satu penyebabnya.

Sepanjang menuju lokasi, Anda akan merasa tengah berjalan di tengah hutan. Jika ingin melalui jalur yang cukup rindang, jalur kanan bisa dipilih walaupun perjalanan menuju ke air terjun menjadi cukup jauh.

Berikut ini adalah beberapa foto medan yang harus ditempuh.


Ini adalah jalur setelah melewati medan berbatu yang cukup curam. Namun, jalur berbatu itu cukup aman karena dibentuk berundak.


Ini adalah sebagian penampakan Ranu Bedali yang berarti lokasi air terjun sudah sangat dekat.

Setelah melalui medan yang cukup sulit, akhirnya kami pun sampai di lokasi air terjun. Air terjun tersebut ternyata mengalir langsung ke Ranu Bedali. Di Minggu pagi itu, tidak ada satu orang pun yang terlihat menuju air terjun. Hanya ada beberapa orang yang duduk memancing di tepian danau.

Air yang mengalir dari air terjun sangat jernih. Sehingga cukup aman dikonsumsi. Sedangkan penampakan air terjunnya sangatlah rindang karena penuh dengan pepohonan dan tanaman rambat yang rimbun. Sehingga tidak perlu mengkhawatirkan cuaca yang panas di siang hari walaupun cuaca yang panas masih akan menjadi masalah ketika sudah keluar dari lokasi air terjun.

Selain itu, bentuk air terjun itu sendiri sangatlah unik. Selain dipenuhi oleh bebatuan yang membantu menyaring air, bentuk aliran air terjun itu sendiri sangat unik, yaitu berundak-undak. Jika percikan air langsung dari tepi tebing terlalu kuat, Anda masih bisa menikmati air terjun dari undakan yang kesekian. Selain tidak terlalu basah, Anda bisa menikmati gagahnya tebing yang mengucurkan air jernih itu dengan lebih leluasa.

Di bawah ini adalah gambar saya berdiri di undakan terakhir, yang berarti undakan yang sangat dekat dengan air terjun.


Sayangnya di sekitar air terjun terdapat cukup banyak sampah seperti shampoo sachet, bungkus permen dan air minum. Tanpa adanya hal itu, air terjun ini pasti akan lebih indah lagi.

Setelah dari air terjun, kami kembali ke atas dan segera mencari warung di dalam area Ranu Bedali. Perjalanan kami kembali kami lakukan dengan susah payah. Karena selain jalan yang menanjak, sinar matahari sudah mulai memanas. Untungnya pada waktu kami sampai di atas, sudah ada beberapa warung yang buka. Warung yang berada di sisi kiri menjadi pilihan kami dan di situlah cerita tentang misteri di Ranu Bedali kami dapatkan.

Menurut pemilik warung itu, misteri tersebut datang dari sebuah pohon besar menuju air terjun yang dapat ditemui di jalur kanan. Karena kami mengambil jalur kiri, kami tidak menemukannya.

Seseorang yang memiliki indra keenam pernah bercerita pada pemilik warung tersebut bahwa ada seorang perempuan bernama Indrowati yang bertapa di bawah pohon besar itu. Karena memiliki kemampuan itu, orang tersebut pernah dipersilahkan untuk memasuki kerajaannya oleh sosok ular besar yang memakai mahkota.

Karena hal ini, setiap kali melewati pohon yang amat besar, siapapun tidak diperkenankan untuk meludah, membuang sampah atau melakukan hal kotor di sekitar pohon itu; dan mungkin untuk alasan inilah kaki saya kemudian secara misterius berdarah, bukan di telapak kaki melainkan di sisi kanan. Luka itu langsung menutup begitu saya mencelupkan kaki yang berdarah itu ke air. Luka itu hilang tanpa bekas, seolah kaki itu tidak pernah terluka.

Hal yang sama ternyata juga terjadi pada tante saya yang lebih dulu ke sana. Waktu itu tante dan ponakan saya tiba-tiba merasakan gatal yang luar biasa di punggung. Secara misterius rasa gatal itu hilang setelah tante dan ponakan saya meminum air dari air terjun langsung. Entah dari mana tante saja mendapatkan ide untuk meminum air itu. Namun, seperti saya, itu adalah tindakan spontan. Seperti alam bawah sadar kami mendapatkan wahyu atau dibisiki sesuatu.

Sudah selesai dengan hal misteriusnya, kita kembali ke warung tadi.

Harga makanan dan minuman yang dijual di warung tersebut terbilang sangat terjangkau. Tidak terlalu jauh dari harga Ind*maret dan Alf*mart. Jadi, bisa dibilang tidak perlu dirisaukan.

Makan siang bisa dibeli di warung-warung yang ada di lokasi dan bisa juga pergi langsung ke Ranu Klakah yang tidak terlalu jauh dari tempat untuk menikmati berbagai menu ikan yang sebagian besar berupa penyetan.

Itulah catatan yang bisa diungkapkan pada tulisan kali ini. Destinasi ini dijamin tidak akan mengecewakan. Apalagi jika Anda mengambil jalur kanan di mana Anda akan melewati kolam dengan air alami dan pohon kayu.

Happy travelling ^^
0

Dua Penulis dan Takdir Mereka Dalam The Words

"The Words" adalah film yang ditulis dan disutradarai oleh Brian Klugman dan Lee Sternthal. Film yang menurut saya menarik ini tergolong "under-rated" karena kritikus film menganggap penutup filmnya kurang menarik. Walaupun saya berpendapat sama, saya beranggapan bahwa film ini layak untuk mendapatkan apresiasi lebih atas pembawaannya dari awal hingga akhir.

Jika dilihat dari segi judul, film "The Words" memang tidak berarti apa-apa selain kata-kata. Anda mungkin akan berpikir, apa yang bisa diceritakan dari sebuah film dengan judul "kata-kata" itu. Apakah ini adalah sebuah film filosofis? Bukan.

Film ini menceritakan tentang rangkaian kata-kata yang dapat Anda resapi maknanya secara lebih mendalam begitu Anda berhasil meluangkan waktu menikmati film ini.



Kisahnya dimulai dengan seorang penulis bernama Clayton Hammond (Dennis Quaid) yang baru saja meluncurkan sebuah novel berjudul "The Words" menghadiri sebuah Public Reading. Di sana, ia berdiri di atas podium untuk membacakan beberapa bab dari novelnya.

Di bab pertama, ia menceritakan tokoh utamanya yang bernama Rory Jansen (Bradley Cooper). Tokoh utamanya adalah seorang penulis baru dan muda yang langsung terkenal karena novel pertamanya yang berjudul "Window Tear." Namanya begitu terkenal hingga seorang pria tua hampir selalu menghadiri sebuah acara penghargaan yang dihadiri Rory walaupun pak tua itu tidak ikut masuk. Namun, ia selalu ada di sana, menunggu di depan pintu. 

Bab itu selanjutnya menceritakan awal kisah Rory yang bisa langsung terkenal dengan novel pertamanya. Ia dan kekasihnya, Dora (Zoe Saldana), akan segera menikah. Namun, Rory masih belum memiliki penghasilan yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Tulisannya kerap kali ditolak penerbit dengan alasan bahwa tulisannya terlalu berat dan tidak memiliki tempat di hati konsumen. Ia mulai putus asa.

Dalam keputusasaannya itu, mereka tetap menjalani bulan madu di Paris dan singgah ke beberapa tempat, termasuk sebuah toko antik. Di sana, Dora membelikannya sebuah tas kantor. Dari situlah semua dimulai.

Begitu sampai di New York, tidak ada yang menyangka bahwa tas antik tersebut berisi sebuah manuskrip novel. Ia pun membaca tumpukan kertas itu halaman demi halaman.

Dengan segala keputusasaan bekerja di sebuah percetakan besar tanpa bisa menjadi seorang penulis, ia menyalin seluruh manuskrip itu sesuai dengan isinya. Ia tidak membetulkan ejaan maupun tata bahasa yang salah. Ia menulis sesuai dengan yang tertera di atas lembaran-lembaran kertas itu. Ia pun tidak peduli lagi bahwa itu bukanlah karyanya. Yang ia tahu hanyalah bahwa karya itu tidak bernama dan juga tidak bertuan. Beberapa lama setelah tulisan itu dikirim, ia mendapatkan panggilan bahwa naskahnya diterima dan ia bersedia menandatangani kontrak kerja sama.

Itu adalah kisah awal Rory menjadi seorang penulis terkenal dan kisah yang kemudian membuka pertemuannya dengan Pak Tua. Itu juga menjadi akhir dari bab pertama novel itu. Pembacaan bab kedua tidak akan saya ceritakan di sini karena itu adalah isi yang menjadi inti cerita The Words.

Clayton pun beristirahat dan seorang mahasiswi bernama Daniella (Olivia Wilde) ingin bertanya lebih jauh tentang novel itu. Setelah selesai membacakan bab kedua di atas podium, Clayton mengundan Daniella untuk mampir ke apartemennya. 

Daniella mendesak agar Clayton menceritakan apa yang terjadi dengan mereka berdua hingga akhir. Setelah keinginannya dipenuhi, Daniella tidak puas dengan akhir yang disajikan. Kemudian, Clayton mengatakan, "bagaimana kalau kisah itu benar-benar terjadi?"

Dari poin ini, saya sebagai penikmat semakin yakin bahwa tokoh Rory adalah sosok fiksi dari Clayton. Terlebih jika dihubungkan dengan permintaan Pak Tua bernama Ben Barnes (Jemery Irons) pada Rory yang disampaikan Clayton di bab kedua bukunya. Namun, kemungkinan sebaliknya juga pasti ada. Akhirnya, penilaian tentang dari mana Clayton mendapatkan inspirasi untuk membuat novel itu berada di tangan Anda sendiri.

Overall, "The Words" disajikan dengan sangat baik dari awal hingga akhir. Namun, saya tidak ingin menyangkal bahwa pendapat kritikus, yang mengatakan bahwa konklusi film ini buruk, ada benarnya juga. Walaupun demikian, saya masih ingin memberikan apresiasi atas yang sudah dilakukan oleh kedua penulis sekaligus sutradara itu pada awal hingga akhir film ini.

Selain itu, walaupun Anda pasti sudah bisa menebak dengan benar siapa sebenarnya Pak Tua itu, "The Words" menceritakan lebih daripada sekadar plagiarisme terbesar dan tersukses dalam sejarah manusia. Film ini menceritakan sebuah kisah cinta dan pengorbanan yang disesali dari seorang Ben. Jika Anda percaya pada teori bahwa Clayton adalah Rory, maka Anda juga mungkin akan berasumsi kisah cinta keduanya bisa saja sama dengan kisah cinta Ben.

Saya tidak ingin berkata terlalu banyak untuk film ini. Menurut saya, "The Words" layak untuk mendapatkan at least 8 out of 10. Satu-satunya kesalahan dan kekurangan yang bisa saya amati hanya ada pada konklusi film ini. Sedangkan seluruh tokoh, latar dan jalan cerita dibangun dengan sangat baik. Anda juga akan belajar beberapa hal tentang menjalani rumah tangga dari film ini.

Saya sangat merekomendasikan film ini jika Anda ingin menonton sebuah film bertema cinta yang tidak monoton. 

That's all for now.


Gambar diambil dari Panthertrack
0

Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom? [Review]

Ketika melihat film ini, saya langsung teringat dengan perdebatan kau Bumi Bulat dan Bumi datar. Bagaimana tidak, hal yang ditawarkan dalam film ini sama: Kembang api itu datar atau bulat?

Adalah Firework, Should We See It from the Side or the Bottom? sebuah drama yang pada tahun 2017 telah diadaptasi menjadi sebuah anime movie berjudul sama. Untuk versi awalnya sendiri, maka lebih dikenal dengan Fireworks 1993, karena film tersebut memang dirilis pada tahun segitu.
Judul dari film itu sendiri diambil dari konflik utama perdebatan para siswa yang penasaran dengan bentuk kembang api: bulat atau datar? Hal ini membuat saya tertawa karena tentu saja isu tentang bumi itu bulat atau datar bisa kembali menyeruak.

Karena ini film lama,  saya akan menyebarkan banyak spoiler di sini. Spoiler yang sekiranya tetap bisa membuat kalian menikmati jalan cerita Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?
3

AJIN: Demi-Human [Review]

Begitu selesai menonton film ini, saya langsung ingin segera mereviewnya dan mengatakan kepada orang-orang bahwa ini adalah film Jepang yang layak mereka tonton!

Film itu adalah AJIN: Demi Human (Bukan Demi Tuhan).

Menceritakan tentang seorang koas yang mengalami kecelakaan dan mendadak hidupnya berubah ketika dirinya diketahui sebagai AJIN. AJIN sendiri konon adalah evolusi dari manusia. Mereka tidak bisa mati. Dan bisa tumbuh walau bagian tubuh berserakan.
1

Soal Selera dan Pengembangan Karya

Kemarin saya membongkar lagi tulisan-tulisan lama. Tujuannya untuk diisikan ke akun wattpad saya karena saat itu saya hendak mencoba mengaktifkan akun tersebut.

Otomatis, sebelum memostingnya, saya membaca tulisan-tulisan tersebut untuk memastikan tulisan mana yang baiknya saya posting dan baiknya saya revisi untuk kemudian saya kirim ke media. Saya tertawa sendiri. betapa tulisan-tulisan itu membuat geli.

Bukan. Tentu saja bukan  karena tulisan itu jelek atau bagaimana.


Saya tertawa membaca tulisan saya sendiri karena memang selera saya saat ini sudah berubah dibandingkan selera saya yang dahulu. Bagaimanapun juga, saya pernah menanggap tulisan itu sangat bagus dan sesuai dengan apa yang saya mau. Jika kemudian—dalam selang waktu yang lama—saya menertawakan tulisan saya sendiri, itu hanya karena selera saya sudah berubah. Saya yang sekarang, lebih suka tulisan dengan bobot narasi lebih banyak dibandingkan dialog. Lebih suka tulisan dengan detail seperlunya dan lebih fokus pada jalan cerita. Saya lebih suka membaca cerita yang mengalir padat dibandingkan cerita yang sibuk dengan dialog dan detail tak perlu untuk melebarkan cerita.
3

Ant-Man And The Wasp [Review]

//jujur saja, saya tertidur ketika menonton film ini.



Kali ini saya akan mereview film (yang semoga saja tidak terlalu telat karena saya baru sempat memposting tulisan ini) Ant-Man and The Wasp.

Banyak yang berspekulasi bahwa fim ini akan ada kaitan erat dengan film Avenger: Infinity War. Dan juga akan menjawab beberapa pertanyaan yang masih mengambang dari film tersebut. Salah satunya adalah pertanyaan tentang para superhero yang tidak turut serta dalam even Avengers: Infinity War.

Seperti pendahulunya, Ant-Man akan menyuguhkan petualangan ajaib tentang superhero yang bisa mengubah ukuran tubuhnya.
0

Polemik Aturan Tenaga Kerja

Salah satu hal paling bodoh yang pernah diukir oleh pemerintah negeri ini dan tak bisa diobati sampai saat ini juga oleh para penerusnya adalah penetapan sistem outsourcing. Bagaimana tidak? Sistem ini membuat masyarakat seperti budak di negerinya sendiri. Sebagian besar lapisan masyarakat yang menggenatungkan hidupnya dengan menjadi buruh pabrik mendadak seperti budak di negerinya sendiri karena aturan bodoh yang dibuat oleh pemimpin mereka sendiri. Aturan ini justru menguntungkan para pembesar—yang malangnya, justru lebih banyak diisi oleh turunan orang asing. Sedangkan turunan murni? Lebih banyak jatuh menjadi buruh yang mana merasa tak memadai untuk membuka usahanya sendiri.

Tak ayal, hal inilah yang kemudian menyulut para tenaga kerja untuk turun ke jalan, bersuara, dan beraspirasi. Berjuang serta berharap suara mereka didengarkan. Namun apa yang terjadi? Aturan itu tetap berdiri tegak. Dan para budak di negeri sendiri ini tetap akan diperah tenaganya tanpa adanya penghormatan atas jasanya. Seolah para budak inilah yang hidup membutuhkan mereka para pembesar.

Lantas, apalagi yang bisa diharapkan dari para penerus ketika mereka besar dan mereka dihadapkan kepada kenyataan bahwa kelas menengah ke bawah hanya pantas menjadi buruh di negerinya sendiri? mereka masuk ke sebuah perusahaan, dikontrak hanya beberapa bulan, kemudian serta merta bisa dikeluarkan bila dianggap melanggar aturan. Pun ketika kontrak habis, perusahaan belum tentu bersedia untuk memperpanjang kontrak mereka.
0

OLEH-OLEH MEDAN LAGA


Blog ini berdebu, tetapi karena suatu hal, maka saya harus mengisinya...

Sembari menunggu formulir update hari ini selesai dicetak, maka saya memutuskan untuk menulis hal lain. Lagi pula, semalam, oleh-oleh begadang, saya sudah mengumpulkan kata hingga sembilanratusan banyaknya. Tentu itu sesuatu yang sangat menyenangkan, mengingat memiliki selisih yang teramat jauh dari juara akan membuat saya merasa tak nyaman. Gelisah, begitu saya menyebutnya.

Cukup lama saya menunggu—cukuplah untuk menambah kata rangkaian saya sampai lima ratus biji—akhirnya formulir laporan selesai juga dicetk. Jangan tanyakan bentuknya, biasa saja. Kotak dan tak bisa kau sentuh. Kau hanya bisa melihat deretan huruf dan angka di sana—sebagaimana formulir pada umumnya. Dan jika kau memperhatikan hal ini, maka kau benar-benar pelahap waktu yang luar biasa. Seharusnya kau bisa menggunakan waktumu untuk melakukan hal yang lebih berguna dibandingkan hanya untuk memperhatikan sesuatu yang menurutmu akan membuatmu mendapatkan sesuatu, tetapi ternyata tidak.

Singkat cerita, dalam formulir itu menyatakan bahwa fase terakhir atau disebut fase spesial ini harus diisi dengan pesan dan kesan selama mengikuti medan laga tersebut. Medan laga apakah itu? Itu adalah: Medan Laga Senior Writing Challenge.
0

Pizza Combi Sensasi Menyantap Pizza Molor


Pizza Combi menyediakan menu pizza yang sarat akan keju dan topping yang bervariasi, cocok untuk Anda yang ingin mencoba pizza yang berbeda daripada biasanya.

Kesempatan menyantap pizza di Pizza Combi sebenarnya datang beberapa minggu lalu, tapi baru kali ini saya mengulasnya. Saya mengunjungi Pizza Combi yang ada di Surabaya, tepatnya di Jalan Bratang Jaya no.51, Barata Jaya, Gubeng. Tempat makan itu cukup luas dengan plang bertuliskan "Pizza Combi" yang cukup besar. Hal itu memudahkan orang yang baru pertama kali pergi ke sana untuk menemukannya.

Pertama kali saya ke sana, saya mengamati bahwa Pizza Combi adalah tempat yang cocok untuk hampir semua kalangan. Di sana saya melihat pemuda-pemudi, keluarga dengan anak-anak yang masih kecil dan beberapa orang yang datang dengan teman-teman mereka. Jadi, bisa dikatakan bahwa tempat itu adalah tempat yang bisa dikunjungi untuk menikmati pizza sambil berbincang ringan. Singkatnya, Pizza Combi adalah tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk hangout bersama teman maupun keluarga.

Di sana, di sediakan dua tempat untuk makan. Satu tempat di dalam ruangan dengan paparan AC, beberapa jenis tempat duduk termasuk sofa, tempat duduk untuk dua orang dan tempat untuk dua dan tiga orang. Tempat makan juga disediakan di teras dengan atap yang kokoh sehingga Anda tidak perlu khawatir ketika hujan. Namun, di teras tidak disediakan sofa.

Saat itu, saya datang pada hari biasa pada malam hari sehingga banyak tempat duduk yang kosong. Di dalam, saya langsung melihat dapur yang hanya diberi sekat tembok dan kaca yang cukup rendah sehingga saya bisa melihat dengan leluasa apa saja yang dilakukan koki di dapur.

Saat itu saya dan teman saya memilih menu Hawaian Combi Pizza, roti tebal dengan diameter 30 cm seharga Rp55.000,-. Awalnya teman saya ragu untuk memilih menu itu karena ada nanas yang disebutkan di antara topping smoked beef, sosis, bawang bombai, jamur bottom dan tentunya keju Mozarella. Namun, karena rasa ingin tahu, kami tidak mengganti pilihan menu pizza kami.

Untuk minuman, Pizza Combi menyediakan dua jenis minuman, yaitu panas dan dingin. Tidak terlalu banyak pilihan yang disediakan untuk jenis minuman panas, yang antara lain hanya ada kopi, teh dan coklat panas. Bagi Anda yang ingin minuman sehat, Pizza Combi juga menyediakan beberapa menu yang bisa dipilih berupa smoothies. Saat itu kami memilih sensation combi, yaitu jus campuran nanas dan strawberry dan soda dengan tambahan gula cair, dan air mineral. Sebenarnya saya ingin memilih coklat panas. Namun, karena pencernaan saya sedang terganggu dan saya tidak suka minuman dingin, maka terpaksa harus memilih air mineral.

Waktu tunggu di tempat ini tidak terlalu lama, mungkin karena tidak terlalu banyak pesanan. Hanya sekitar 15 menit, pizza pun datang dengan fresh. Fresh karena memang pizza masih terasa hangat, tidak seperti pizza biasanya yang ketika datang sudah dalam keadaan dingin sehingga sensasi “molor” dari keju mozarella yang mereka tayangkan di iklan itu tidak ada.

Irisan pertama yang saya coba adalah irisan dengan banyak topping nanas. Setelah dicoba, rasa nanas dengan topping lainnya menyatu. Menurut saya, topping yang disajikan sudah cukup banyak. Ditambah dengan keju mozarella yang mendominasi pizza combi, rasanya jadi semakin “wow.” Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana enaknya menyantap salah satu kuliner Eropa ini di Pizza Combi. Menurut saya, pizza yang disajikan di sana lebih enak daripada pizza yang sering ditayangkan di iklan itu. 

Rasa roti Pizza Combi sama sekali tidak eneg. Bagi Anda yang tidak terlalu suka keju, dominasi keju mozarella pada pizza tidak akan mengganggu selera makan Anda. Selain itu, jika Anda ingin benar-benar ingin melihat bagaimana keju mozarella yang molor dengan mata kepala Anda sendiri, maka Anda harus datang dan mencoba menu dengan topping keju mozarella.



Untuk minuman, walaupun itu adalah pertama kalinya saya mencoba signature drink yang merupakan perpaduan jus dari beberapa buah, rasanya enak. Saya tidak mengira bahwa beberapa jus buah yang dicampur bisa mendapatkan hasil yang “blend.” Wow.

Setelah mencoba mencicipi salah satu makanan Itali di Pizza Combi itu, persepsi saya tentang rasa pizza yang selalu eneg hilang. Persepsi saya pun berubah menjadi: pizza yang terasa eneg adalah pizza yang gagal. Rasa eneg pada pizza tidak muncul karena lidah yang berbeda, tetapi karena si pencipta pizza yang tidak bisa membuat pizza yang tepat untuk konsumennya.

Well, that’s enough untuk menggambarkan bagaimana sajian pizza di Pizza Combi berbeda daripada pizza biasanya. Dan bahwa Pizza Combi layak untuk dicoba.

Pada kesempatan yang lain, kami mencoba 2 sajian Spaghetti dari 6 menu yang disediakan di Pizza Combi. Dari keenam itu, saya ingin mencoba semuanya. Namun, saya mengira bahwa Original Combi Spaghetti tidak akan jauh berbeda dengan spaghetti pada umumnya. Saya sebenarnya juga ingin mencoba Cheese Combi Spaghetti, tetapi saya membayangkan bahwa rasanya akan penuh dengan keju yang tidak biasa saya rasakan.

Pilihan saya juga hampir jatuh pada Blackpepper Combi Spaghetti, tapi saya pernah merasakan saus Blackpepper di resto yang menjual steak. Karena alasan itu, saya juga tidak memilihnya walaupun saya tidak yakin apakah rasanya seperti yang saya bayangkan. Untuk pilihan terakhir, yaitu Java Combi Spaghetti juga tidak saya pilih karena saya sudah membayangkan bahwa rasanya akan seperti mie dengan saus jawa yang manis, pedas dan gurih.

Akhirnya, saya memilih Spicy Combi Spaghetti dan teman saya memilih Curry Chicken Spaghetti. Spicy Combi Spaghetti memang benar-benar menggambarkan rasanya yang pedas. Untuk informasi, saya adalah pecinta makanan pedas dan menyantap spaghetti itu cukup membuat saya merasa sangat kepedasan walaupun saya masih mampu menanggulanginya. Sementara Curry Chicken Spaghetti, seperti yang saya bayangkan, memiliki rasa yang tidak jauh dengan mie yang diberi saus kari.

Untuk menu seharga Rp20.000,-, kedua menu itu sama sekali tidak mengecewakan.

Gambar diambil dari Pizza Combi
0

Mendekap Ketegangan Menonton A Quiet Place


Jika biasanya saya hanya menggunakan kata "sh*t" untuk mengumpat, maka kali ini saya akan menambahakan kata "Holy" di depannya untuk mewakili perasaan saya setelah menonton A Quiet Place.

Film yang mulai tayang di seluruh bioskop di Indonesia pada tanggal 6 April ini disutradarai oleh John Krasinksi. John juga berperan sebagai Lee bersama istrinya Emily Blunt serta 3 selebriti cilik lainnya. Film bergenre thriller ini telah mendapatkan banyak respon positif dari beberapa selebriti Amerika yang sudah menonton film ini. Bahkan, master cerita thriller Stephen King pun mengakui A Quiet Place sebagai “extraordinary.” Itu pujian yang sangat besar dari seorang master di bidangnya.

Seperti judulnya, film ini berlatar belakang sebuah tempat yang sangat sepi. Bahkan, bisa dikatakan hampir tidak ada suara. Hal ini tidak hanya terjadi di tempat itu saja, tetapi juga seluruh dunia. Kenapa? Bukan karena hantu, melainkan alien.

Well, hal itu memang terdengar klise dan membosankan. Alien dan zombi hampir selalu menjadi antagonis di setiap film sci-fi thriller Hollywood. Namun, semua film tentang alien yang pernah dikeluarkan Hollywood tidak sama dengan A Quiet Place – kecuali perwujudan aliennya yang hampir terlihat sama dengan beberapa film sebelumnya. 

Jika sebagian besar film menceritakan tentang tokoh utama yang berhasil menumpas atau mengusir alien, maka A Quiet Place membiarkan ceritanya mengambang tanpa diketahui apakah semua alien yang diceritakan mati atau kembali ke tempat asalnya. Perbedaannya masih belum berhenti di situ. Film-film tentang alien pada umumnya menampilkan pasukan yang berusaha menumpas alien dengan senjata dan alat tempur yang tangguh dan mengeluarkan banyak suara berisik, dan orang-orang yang berteriak dan lari ketakutan. Jika hal itu sudah ada dalam bayangan Anda, maka Anda harus kecewa karena, seperti yang saya sebutkan di awal, film ini hampir tanpa suara.

Lalu, bagaimana plot berjalan dan bagaimana penonton tahu apa yang sebenarnya terjadi? Itulah yang membuat John langsung mendapatkan tawaran proyek baru setelah menyutradarai film ini.

A Quiet Place bercerita tentang sebuah keluarga yang bertahan hidup dari alien yang menyerang sumber suara. Keluarga yang terdiri dari lima orang anggota itu adalah salah satu dari beberapa keluarga lain yang masih bertahan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka harus melakukan segala aktivitas dalam keheningan, termasuk berhati-hati ketika berjalan agar tidak menginjak ranting pohon atau apapun yang menimbulkan suara. Segala sesuatu harus dilakukan tanpa menimbulkan suara karena jika ada suara yang cukup keras, walau sebentar, alien buta yang memiliki sensitivitas yang tinggi pada suara itu akan segera datang dan dengan cepat menghabisi sumber suara.

Untuk menciptakan atmosfer yang menegangkan, film yang berdurasi 95 menit ini tidak berfokus pada kengerian wajah alien dengan lendir-lendir yang menggelikan, tetapi lebih kepada ketegangan ketika aktor harus selalu menahan diri dari membuat suara sekecil apapun. Untuk informasi, A Quiet Place sudah berhasil menyita perhatian penonton sejak pertama kali dimulai dengan menciptakan suasana yang amat sangat hening dengan keganjilan yang menimbulkan tanda tanya: apa yang terjadi?

Pertanyaan itu segera terjawab ketika (SPOILER) anggota termuda keluarga itu dihabisi oleh alien setelah dia menyalakan mainan pesawatnya. Sejak saat itu, ketegangan sudah semakin nyata dan tingkatnya tidak akan kembali ke angka nol hingga film selesai. Keluarga itu masih harus menghadapi masalah-masalah lain, termasuk anak sulung yang tidak bisa mendengar dan Evelyn (Emily) yang harus melahirkan tanpa memancing serangan alien. Lalu, apa saja yang dilakukan keluarga itu untuk bertahan hidup dan bagaimana A Quiet Place berakhir? 

Film yang hanya berlatar waktu 3 hari ini sangat saya rekomendasikan bagi penggemar film thriller yang ingin menikmati tayangan yang berbeda daripada film-film alien yang pernah tayang sebelumnya. Pastikan Anda menonton A Quiet Place di bioskop untuk mendapatkan seluruh sensasi yang Anda harapkan.


Gambar diambil dari Sindo
0

Makanan Jepang di Hayaku Resto, Surabaya


Tulisan ini masih berkaitan dengan makanan. Namun, ulasan saya kali ini akan berbeda dari sebelumnya yang mencoba makanan dari brand yang sudah terkenal. Kali ini, saya mencoba menu di resto Jepang bernama Hayaku. Dan sepertinya, pemiliknya adalah penduduk lokal.

Hayaku Resto terletak di deretan ruko No. II C di daerah Sukolilo, tepatnya di Jl. Merr Kalijudan, Medokan Semampir. Resto yang menjual yakiniku ini berukuran cukup kecil sehingga mudah untuk terlewat jika Anda berkendara cukup kencang. Selain itu, tempat makan ini hanya terdiri dari empat meja panjang untuk masing-masing sekitar 4-6 orang. Dengan rancangan ruangan yang cukup homey, saya lumayan betah menyantap makanan di sana.

Ada dua kompor di tiap meja. Satu kompor untuk membakar daging sedangkan kompor yang lain digunakan untuk merebus sayuran, crab stick, fish ball, daging ayam dan daging sapi. Sebenarnya masih ada beberapa nama lagi yang masih berteman dekat dengan fish ball dan crab stick, tetapi saya tidak menghapalnya.

Dalam kesempatan itu, saya dan seorang teman saya memesan satu menu Steamboat Spesial seharga Rp70.000,- Menu itu terdiri dari sayuran yang antara lain adalah sawi putih dan sawi tulang. Selain itu, ada juga bihun, daging ayam dan daging sapi. Setelah itu, kami diberi sepanci kecil kuah yang harus didihkan terlebih dahulu. Setelah mendidih kami memasukkan seluruh bahan-bahan tadi sampai bahan-bahan mencapai tingkat kematangan yang diinginkan.

Untuk kuah, Hayaku Resto memiliki racikan bumbu yang gurih dan pas. Cocok untuk saya yang menyukai kuah yang sederhana dengan rasa yang lumayan. Sebagai tambahan, karena dalam foto bahan-bahan yang disediakan untuk menu itu terlihat sedikit, saya menambah sayuran dan crab stick. Setelah semua bahan dicampurkan, kami berdua tidak sanggup menghabiskan satu menu itu, apalagi setelah adanya tambahan tadi. Namun, kami tidak menyerah. Kami menghabiskan seluruh menu serta tambahannya perlahan.

Selain kuah yang rasanya gurih dan pas di lidah saya, rasa sayuran dan bihunnya juga menyatu dengan rasa kuah itu. Untuk daging dan sosisnya, rasanya tidak jauh berbeda dengan tempura dan semacamnya. Untuk yang tidak suka sosis atau pun fish ball dan semacamnya, rasa dari Japanese cake ini mungkin membuat Anda sedikit eneg bila terlalu banyak mengonsumsinya. Namun, sebenarnya tidak terlalu mengganggu untuk suapan pertama. Rasa eneg hanya akan amat terasa ketika Anda sudah terlalu kenyang makan di Hayaku Resto ini.

Selain menu yang harus direbus dengan kuah gurih tadi, ada pula menu yang khusus dibakar, yaitu menu daging ayam. Menu ini, sebagaimana menu yang harus direbus tadi, ada dua macam. Perbedaan dari keduanya ada pada harga saja yang menentukan jumlah potongan daging ayam yang disajikan. Hal yang sama juga berlaku untuk menu sayuran.

Resto yang masih terbilang baru ini menyajikan sedikit menu untuk minuman. Saya tidak menyebutkan menu untuk minuman di sini karena hampir semuanya adalah minuman yang biasa tersedia di tempat makan.

Itu saja dulu untuk hari ini. ^^

Gambar diambil dari nhaz
0

Carl’s Jr. Single Awareness


Ini adalah pertama kalinya saya ke Surabaya untuk merasakan burger dari Carl. Dan sejujurnya, saya juga baru kali ini mendengar nama resto yang khusus menyediakan menu burger ini – walaupun ada beberapa menu lainnya juga, tetapi hanya sebagian kecil dari sebagian besar menu burger yang ada. Hal ini juga yang membuat saya teringat dengan Krusty Crab XD.

Kesempatan saya mencicipi burger buatan Carl’s ini ternyata bertepatan dengan satu periode promo yang dikampanyekan oleh Carl’s. Yap! Promo ini masih terkait dengan bulan Februari yang identik dengan Hari Valentine – Single Awareness. Promo ini diberikan bagi Anda yang masih jomblo dengan menunjukkan status pernikahan di KTP Anda. Jadi, di sini jelas bahwa definisi “jomblo” menurut Carl’s adalah “belum menikah”, bukan “belum punya pacar”, ya. Promo ini terbatas waktu. Jadi, sepertinya sudah berakhir sekarang. T.T




Karena itu adalah pertama kalinya saya mendengar nama “Carl’s,” otomatis ini juga pertama kalinya saya menginjakkan kaki di resto “Carl’s” yang agak berbeda dari perkiraan saya. Kalau biasanya kita masuk pintu langsung disambut pemandangan orang makan dan kasir, maka di sini saya melihat eskalator yang mengantar kami – ya, saya makan dengan teman saya seperti biasanya – menuju lantai dua. Nah, di situlah kami melihat kasir dan banyak sekali tempat duduk dengan beberapa suasana.

Di bagian kasir, ada banyak pilihan menu yang bisa dipilih. Namun, karena kami datang untuk Single Awareness, maka kami memutuskan untuk memesan menu promo itu – Classic Burger. Dari harga asli Rp40.000,- kami hanya perlu membayar Rp30.000,-.

Kami memilih tempat duduk di teras luar dengan pemandangan keramaian Surabaya pukul 3 sore. Walaupun Surabaya terkenal dengan kepadatannya, polusi udara di sana tidak menjangkau kami yang berada di lantai atas dan berjarak lumayan jauh dari jalan raya.

Tidak sampai 15 menit, burger pun datang. Burger itu berdiameter sekitar 15 cm. Ukuran yang lumayan  besar bagi saya dibandingkan dengan BigMac yang ukurannya hanya separuh ukuran Carl’s Classic Burger dengan harga yang sama.  Namun, kata teman saya ukurannya masih lebih kecil daripada burger buatan resto lain. Walaupun teman saya berpendapat demikian, saya masih merasa burger ini lebih baik karena rasanya juga jauh lebih enak daripada BigMac.

Burger itu terdiri dari roti, bawang bombay, selada, patty dan keju. Roti yang berbentuk bulat dengan belahan di tengah itu terasa sedikit manis, tetapi tidak sampai eneg. Patty-nya gurih, tetapi tidak terlalu gurih sampai terasa seperti kebanyakan micin dan garam. Intinya, rasanya pas. Kalau saya penggemar burger, mungkin saya akan datang lagi dan lagi ke Carl’s Jr. Sayang, saya tidak terlalu menggemari burger.

Dari beberapa kali mencoba burger, burger buatan Carl’s Jr. bisa dikatakan yang terbaik dari yang sebelum-sebelumnya. Kenapa? Karena burger pertama yang saya makan rasanya eneg karena roti yang terlalu manis sehingga rasanya tidak menyatu dengan keju dan daging yang gurih. Burger kedua rasanya terlalu asin karena kebanyakan micin dan garam sehingga hampir merusak indera pengecap saya dan merusak pendapat saya akan semua sajian menu di restoran cepat saji itu.

Untuk minumannya, kami sama-sama puas. Rasanya hampir sama dengan milkshake walaupun namanya adalah Ice Cream Shakes. Saya memilih Chocolate Ice Cream Shakes dan teman saya memilih Vanilla Ice Cream Shakes. Milkshake itu dimasukkan ke dalam wadah plastik ukurang sedang dan disemprot Ice Cream, tentunya yang belum beku. Setelah sebelumnya sempat ragu, akhirnya pendapat kami mengenai minuman di resto seperti itu membaik setelah peristiwa pink dawet di ulasan sebelumnya.

Overall, berada di Carl’s Jr. seperti berada di rumah sendiri dan menyantap makanan buatan Spongebob yang dimasak dengan penuh cinta XD.

Gambar diambil dari 3.bp dan Instagram
0

Kutu Loncat, Harapan, dan Naungan



Sebagai seorang yang pernah dijuluki kutu loncat, sudah wajar bagi saya untuk melompat dari suatu naungan ke naungan lain. Bukan hanya dalam pergaulan, komunitas, organisasi saja, bahkan dalam pekerjaan pun suka berpindah-pindah. Alasannya tentu sederhana: saya mencari tempat yang nyaman. Nyaman dalam hal ini tentunya berhubungan dengan kualitas lingkungan tersebut. Sepadankah antara apa yang saya berikan dan yang saya dapatkan dari lingkungan tersebut. Sepadankah dengan apa yang saya harapkan?

Dengan pengalaman yang suka melompat dari satu tempat ke tempat lain, sudah wajar bagi saya untuk langsung bisa membaca satu gerak-gerika manusia, membaca sifat dan ambisi mereka. Di mana setiap rata-rata orang yang dibutuhkan hanyalah “apresiasi” dan “pengakuan”. Mudahnya, mereka membutuhkan perhatian. Itu yang dulu juga sering saya tuntut dari tempat-tempat yang dulu saya tinggalkan. Bergitu merasa tak diapreasi atau tak diperhatikan, maka saya akan pergi mencari tempat baru untuk memulai sesuatu yang baru yang mana bisa membuat saya lebih fokus untuk membangun citra diri.

Namun, dari segala pengalaman lompat-melompat itu, saya tak mendapati diri saya yang tak berkembang. Justru saya seperti berhenti di tempat. Menjadi tukang tuntut yang hanya semata terperangkap pada ego sendiri. Begitu tak puas, maka saya pergi.
0

Pengalaman Mencoba Menu Richeese Factory


Hari Kamis lalu saya berkesempatan untuk singgah di Richeese Factory setelah kehilangan satu kesempatan beberapa tahun sebelumnya. Karena kebetulan saya sedang di Surabaya, saya mengajak seorang teman saya untuk makan siang di Resto Richeese Factory.

Untuk informasi awal, saya belum pernah tahu apa saja yang ada di dalam Richeese Factory. Dalam bayangan saya, yang berasal dari kalimat ajakan Mbak Kos beberapa tahun lalu yang berisi, “ayo, Dek. Nanti kita di sana bisa coba makan dengan cheese fondue, salmon cheese sauce, dan lain-lain. Kan, seru?”, Richeese Factory menyajikan segala hal tentang saus keju, keju, dan sebagainya. Mungkin sejenis ayam saus keju, salmon saus keju, cheese fondue, dan pizza. Termasuk makanan ringan produksi Richeese yang bisa dikreasikan dengan topping keju dan sebagainya. Well, saya pikir masuk ke resto Richeese akan menjadi pengalaman pertama saya dalam mengkreasikan makanan. Saya bisa memesan makanan apapun yang saya mau dan ditambah saus keju atau apapun itu yang tersedia di sana.

Ketika menginjakkan kaki di halaman, saya merasa aneh pada dua orang pelanggan yang duduk di teras. Mereka sepertinya sedang menghabiskan nasi. Pikiran saya langsung liar, “ngapain mereka makan nasi? Ini kan riCHEESE Factory? Kenapa tidak ambil yang banyak kejunya?”


Begitu masuk, kepala saya pun masih belum bisa menerima kenyataan ketika mata saya menatap menu yang terpampang di bagian pengambilan makanan dan kasir. Di sana, ada banyak menu dengan ayam. Saya bahkan sampai harus melihat papan di atasnya untuk memastikan bahwa presto yang saya masuki adalah Richeese Factory.


Sebagai informasi kedua, saya sudah agak bosan dengan ayam. Entah kenapa saya belum pernah merasakan ada makanan ayam yang diberi bumbu mantap yang merasuk hingga ke dalam daging. Hampir semua masakan ayam yang saya makan hanya memiliki rasa enak di kulit kemudian menghilang ketika sudah sampai ke daging bagian dalam dan hanya menyisakan rasa ayam potong yang begitu-begitu saja.


Tentu saya dan teman saya tidak akan langsung walk-off begitu saja dari resto yang baru kami masuki. Kami hanya bisa menerima keadaan dengan memesan menu yang disediakan, yang tidak sesuai ekspektasi awal. Saya memilih Richeese fire chicken level 3 dan Pink Lava tanpa es. Teman saya memesan Richeese chicken dan Pink Lava dengan es. Ada pula BBQ Cheese Wedges sebagai tambahan. Melihat namanya, saya langsung teringat dengan sepatu wanita.

 

Ulasan pun dimulai.


Untuk informasi awal kenapa saya menuliskan Pink Lava dengan keterangan tanpa es dan dengan es adalah karena kedua minuman yang sebenarnya sama itu ternyata memiliki rasa yang berbeda karena adanya atau tidak adanya es. Selain itu, saya memang sedang menghindari minuman dengan es.


Dari pemilihan menu dan hasil uji rasa yang kami lakukan, ternyata kami memilih empat menu berbeda. Walaupun kami sama-sama membeli ayam dan minuman Pink, kedua jenis makanan dan minuman itu benar-benar memberikan rasa yang berbeda.


Pertama, saya akan memberikan pendapat saya tentang Richeese Fire Chicken level 3 yang ada di tangan saya. Ayam berselimut tepung ini disajikan dengan tambahan lapisan saus merah yang terlihat pedas, menantang dan menggugah selera. Walaupun pada saat pertama kali dicoba rasa pedasnya lumayan menendang, ketika lidah sudah cukup lama beradaptasi dengan pedas yang didapat dari merica itu, ternyata rasa pedasnya biasa saja. Namun, saya tidak berani menyarankan untuk yang tidak hobi makan pedas karena saya sendiri masih membutuhkan tissue untuk mengatasi rasa pedas itu. Namun baiknya, walaupun cukup pedas, ayam itu tidak membuat lidah dan mulut terbakar dan tidak mengganggu pencernaan. Hanya menyisakan rasa hangat yang nyaman di lambung ketika cuaca sedang mendung.


Berdasarkan komentar teman saya terhadap minuman yang disebut “Pink” oleh pegawai Richeese Factory itu, saya hanya setuju ketika dia mengatakan bahwa rasanya mirip dawet. Dawet adalah jajanan khas jawa dengan warna Pink jika ditambah dengan mutiara dan ada juga jenis dawet yang lain. Rasa minuman yang diletakkan dalam gelas plastik besar itu memang mengingatkan saya pada minuman tradisional itu hingga ada sedikit penyesalan karena tidak memilih teh sebelumnya.


Setelah itu, saya juga ingin mengulas saus keju dan BBQ Cheese Wedges. Saus keju yang menyertai Richeese Fire Chicken dan Richeese Chicken itu menyatu sempurna dengan kedua masakan ayam tersebut tanpa merusak rasa gurih dan krispinya. Tentunya hal ini sangat menyenangkan daripada menu ayam dengan saus cokelat yang pernah saya ulas sebelumnya. Walaupun saya memiliki lidah pribumi yang tidak terbiasa mengonsumsi keju, rasa saus ini masih sangat bisa diterima oleh lidah saya. Bahkan, untuk ukuran sajian yang begitu mini, saya rasa masih bisa menghabiskan dua sajian saus lagi.


Berikutnya Richeese Factory BBQ Cheese Wedges. Ini adalah makanan kentang lokal yang dipotong menjadi empat bagian memanjang lalu digoreng dan disiram dengan saus keju dan satu saus lagi (warnanya hitam dan saya tidak tahu itu saus apa). Dengan rasa saus keju yang lezat, tentu saya tidak perlu mengomentari hal itu lagi. Namun, yang luar biasa adalah perpaduan antara kentang, saus keju dan satu saus lagi itu masih memberikan rasa yang menyatu dan luar biasa enaknya. Baru kali ini saya mencoba makanan dengan cocolan dua sambal sekaligus yang menghasilkan rasa yang tetap dan malah bertambah dua kali lipat enaknya. Sebenarnya, kentang ini bisa dijadikan pengganti jika Anda tidak suka nasi. Namun, karena sudah paket saya harus mencoba keduanya.


Entah karena kekenyangan, cuaca mendung, atau memang rasa ayam yang semakin mengganggu lidah saya yang sedang tidak ingin makan ayam, saya tidak menghabiskan ayam dan Pink saya. Hal ini yang mengantarkan kita ke ulasan berikutnya. Saya pun memberikan ayam saya pada teman saya. Menurutnya, Richeese Fire Chicken memiliki rasa yang lebih enak daripada ayam miliknya. Berhubung ayamnya sudah habis dan saya juga sudah eneg makan ayam, saya tidak bisa menggambarkan secara rinci bagaimana perbedaan rasa keduanya. Yang bisa saya katakan adalah mungkin Richeese Chicken hanya memiliki rasa daging ayam biasa yang tanpa bumbu lalu diselimuti tepung krispi dengan sedikit bumbu yang memberikan rasa sedikit asin. Jadi, walaupun Anda bukan pecinta makanan pedas, saya sarankan Anda untuk membeli Richeese Fire Chicken saja. Jika Anda tidak tahan pedas, Anda bisa memilih level 1. Saya jamin rasa pedas itu tidak akan berpengaruh buruk untuk perut Anda. Ini bukan ayam setan dengan cabe yang pedasnya keterlaluan.


Setelah itu, berhubung saya adalah orang yang suka membesar-besarkan sesuatu, saya berkali-kali mengatakan bahwa saya merasa eneg dan ingin muntah. Mungkin itu juga karena saya makan kebanyakan. Bayangkan, saya makan nasi dan kentang goreng itu. Saya pun memberikan Pink Lava yang tersisa pada teman saya DAN menurutnya, rasa Pink Lava saya memang jauh lebih eneg dari Pink Lava miliknya. Akhirnya, saya pun tahu bahwa keberadaan es memang bisa membuat perbedaan. Jelas saya, mungkin rasa eneg dalam minuman itu jadi jauh lebih berkurang dengan tambahan es yang sudah mencair.


Akhirnya, walaupun harapan saya akan memakan makanan yang sarat akan keju hilang, saya masih bersyukur bisa mencoba menu Richeese Fire Chicken itu. Tentunya semua ulasan akan berbeda untuk setiap lidah. Saya tidak akan mengatakan bahwa ulasan ini bersifat mutlak adanya. Itu hanyalah pendapat saya sebagai pribumi. Dari mencoba menu Richeese Factory, saya jadi belajar sesuatu bahwa ada “perbedaan dalam persamaan dan ada persamaan dalam perbedaan”.



Gambar diambil dari Richeese Factory dan zmtcdn
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com