Wednesday, 9 December 2015

Seperti Musim, Manusia Pun Senantiasa Berubah

Saya bertengkar dengan kekasih.
Ini bukan hal bagus.
Mengingat saya begitu mencintainya.



Itu adalah pagi terindah dalam hidup saya, setelah dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya tanpa membicarakan dulu dengan saya. Saya seperti dibuang saat itu. Bahkan rasa itu kerap menghantui di setiap detik kesadaran saya bahwa dia tak lagi menginjak tanah yang sama.

Saya tak memahami jalan pikirannya. Benar-benar tak bisa memahami. Dan keputusannya yang sering tanpa pikir panjang atau sekali pun merasa perlu membicarakan dengan saya membuat saya merasa sama sekali tak penting dalam arus kehidupannya. Mungkin baginya, saya bisa menjadi salah satu kisah perjalanan masa remajanya. Tapi saya begitu mencintainya.

Sunday, 22 November 2015

Ikatan Adat


Meski rembulan menggantung, tetap saja tak bisa menahan rintik lembut yang membasahi kota itu. Seorang gadis berlarian menembus gerimis disusul seorang pemuda dengan jarak tak sampai sejengkal. Mereka lebih memilih terdampar di restoran ayam goreng cepat saji daripada harus menunggu hujan reda di halte pinggir jalan.

Keduanya cekikikan setelah mendapatkan meja. Gadis itu memesan dua menu sekaligus. Si pemuda diam saja—percaya dengan keputusan si gadis. Mereka saling bertatap. Beradu pandang sampai salah satunya bermuka merah. Lalu tertawa sendiri. Jika si pemuda yang memerah, maka dia lantas memalingkan mukanya, salah tingkah, si gadis akan tertawa. Jika si gadis yang memerah duluan, maka si pemuda akan dicubit dengan gemasnya. Begitulah, si pemuda tak pernah untung.

Pesanan mereka datang, mereka memakannya dengan lahap. Ada rasa tak ingin segera habis, karena hujan di luar semakin ganas saja semenjak mereka berdua berada di restoran itu. Tapi makanan yang menjadi dingin tentu tak nikmat disantap, apalagi itu adalah ayam goreng. Renyahnya bisa hilang.

Sunday, 14 June 2015

Biar Rindu Merajam

Biar rindu merajam.
Kali ini kubiarkan.

Aku tak kalah.
hanya mengalah.
demi memberi waktu yang tak sia-sia.

Satu-satunya cara memangkas rindu,
hanya dengan mencari kesibukan.
Lalu diam sendiri.
merenung sambil melahap waktu.

Maaf, Kekasih,
Bukan kuacuh,
hanya berusaha menahan pilu.
siapa yang berkuasa.
itu saja.

kelak, rindu akan menjadi teman.
benang dari rajutan waktu yang tak jemu.
jemu karena sering bertemu.

kuharap mereka paham.
karena karma sakit itu kejam.

Biar rindu merajam.
Kali ini kubiarkan.