Thursday, 22 February 2018

Kutu Loncat, Harapan, dan Naungan



Sebagai seorang yang pernah dijuluki kutu loncat, sudah wajar bagi saya untuk melompat dari suatu naungan ke naungan lain. Bukan hanya dalam pergaulan, komunitas, organisasi saja, bahkan dalam pekerjaan pun suka berpindah-pindah. Alasannya tentu sederhana: saya mencari tempat yang nyaman. Nyaman dalam hal ini tentunya berhubungan dengan kualitas lingkungan tersebut. Sepadankah antara apa yang saya berikan dan yang saya dapatkan dari lingkungan tersebut. Sepadankah dengan apa yang saya harapkan?

Dengan pengalaman yang suka melompat dari satu tempat ke tempat lain, sudah wajar bagi saya untuk langsung bisa membaca satu gerak-gerika manusia, membaca sifat dan ambisi mereka. Di mana setiap rata-rata orang yang dibutuhkan hanyalah “apresiasi” dan “pengakuan”. Mudahnya, mereka membutuhkan perhatian. Itu yang dulu juga sering saya tuntut dari tempat-tempat yang dulu saya tinggalkan. Bergitu merasa tak diapreasi atau tak diperhatikan, maka saya akan pergi mencari tempat baru untuk memulai sesuatu yang baru yang mana bisa membuat saya lebih fokus untuk membangun citra diri.

Namun, dari segala pengalaman lompat-melompat itu, saya tak mendapati diri saya yang tak berkembang. Justru saya seperti berhenti di tempat. Menjadi tukang tuntut yang hanya semata terperangkap pada ego sendiri. Begitu tak puas, maka saya pergi.

Tuesday, 2 January 2018

TENTANG PERGANTIAN TAHUN, RESOLUSI, DAN REALISASI

Menurut tanggalan yang menggantung di tembok, sekarang ini tahun sudah berganti, dari 2017 menjadi 2018. Hari ini pun sudah memasuki hari kedua.

Semenjak beberapa hari yang lalu, sudah banyak orang yang mulai menuliskan resolusi mereka—entah serius, atau hanya ikut-ikutan tradisi biar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa sebenarnya pergantian antara angka 2017 ke 2018 itu sungguh sangat amat tipis sekali. Bahkan ketika kita turut serta merayakan pesta pergantian tahun pun kita tak benar-benar tahu kapan tahun itu berubah. Malam tetaplah malam. Jam digital antara satu dengan yang lain juga berbeda-beda. Bahkan sesama Indonesia saja tahun baru bisa ada tiga. Kembang api meledak dan bertebaran makin riuh semenjak pukul sebelas sampai pukul satu dini hari. Dan kita tak benar-benar tahu kapan tahun sudah berganti kecuali hanya dari petunjuk waktu yang kita bercayai secara subjektif—tentu saja, bagaimana kita bisa mempercayai waktu di Jepang sementara kita menginjak pulau jawa?

Masalah yang hadir kemudian, adakah waktu yang teramat singkat ini benar-benar mengubah kita atau membantu kita lebih baik kecuali hanya tradisi monoton yang tercipta dari tahun ke tahun yang fungsinya hanya untuk seremonial semata?

Satu tahun itu panjang. Resolusi-resolusi yang kita tulis, jika tidak benar-benar kita tanam dan kita bawa setiap hari, maka bukan tidak mungkin nanti sore kita sudah lupa apa yang kita tuliskan sebagai bentuk seremonial tahun baru itu.

Jika memang ingin benar-benar berkembang, bukan resolusi seperti itu yang kita butuhkan. Kita bisa berubah setiap hari. Kita bisa memulainya dari detik ini tanpa perlu menulis resolusi setiap pergantian tahun yang mana kadang di akhir tahun kita kelimpungan menjawab tagihannya jika ada kawan kita yang tahu resolusi yang kita tulis secara membanggakan itu.

Jika memang kita benar-benar memiliki keinginan untuk berubah, apakah mesti kita harus menunggu pergantian tahun untuk merumuskan perubahan itu? bagaimana jika hidayah itu datang di pertengahan tahun atau di sepertiga tahun? Bagaimana jika ternyata dua bulan berikutnya kita sadar rumusan resolusi kita itu sungguh meleset sekali? Lantas bagaimana pertanggungjawaban kita pada resolusi yang kita tulis itu jika kemudian kita justru tak ada kesungguhan untuk benar-benar merealisasikannya.

Jika mau berubah, berubahlah! Jika mau bergerak, bergeraklah!
Tak perlu menunggu tahun depan untuk menciptakan resolusi baru yang mana tahun ini mungkin belum kesampaian dan bisa jadi perencanaannya sudah dilakukan sedari tahun kemarin.

Wednesday, 18 October 2017

MANAJEMEN EGO

Ada sebuah paradoks tentang harga diri.

Harga diri seolah sesuatu yang harus dilindungi dan diperjuangkan—untuk meraih kebahagiaan. Sedangkan di sisi lain, memperjuangkan dan melindungi harga diri itu juga bisa menjadi sumber ketidakbahagiaan—karena pada akhirnya kita akan terjebak pada ego belaka.

Ego adalah wujud pengakuan. Pengakuan pada eksistensi dan keakuan yang individual agar kita senantiasa merasa dihargai dan diperhitungkan sebagai individu yang mumpuni. Sekilas hal seperti itu terdengar wajar sebagai manusia. Namun bila kemudian tujuan dari pengukuhan ego sendiri adalah untuk kebahagiaan, apakah tepat?


Pernah saya mendiskusikan hal ini kepada seorang Guru. Berbenturan dengan paradoks pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan. Kala itu saya bertanya, “Guru, mengapa engkau membiarkan orang-orang mengambil kata-katamu sedemikian rupa dan mereka sebarkan tanpa sedikitpun menyebut namamu?”