Saturday, 15 April 2017

Tentang Iman

saya serius ketika bilang "agama kita boleh sama, tapi iman jangan disamakan."
ini bukan tentang kadar iman. jangan disalah pahami sebagai saya merasa lebih beriman dari anda.

namun ini adalah tentang apa yang saya imani dan apa yang anda imani.
tentang bagaimana kita beriman kepada apa yang kita imani.
mungkin saja kita memuja Tuhan yang sama, tapi cara kita berbeda.
mungkin kita berada dalam naungan agama yang sama, tapi cara kita berbeda.
bukan, ini bukan soal perbedaan atau penyesatan satu dengan lainnya. bukan soal tentang merasa benar atau tentang menyinggung yang lainnya. ini murni tentang cara kita beriman pada apa yang kita imani.

adakah kita benar-benar percaya pada Tuhan semesta alam, atau sekadar mengagumi bayang-Nya. adakah kita menerima sebagai manusia yang membutuhkan belas kasihnya dan pertolongannya, atau manusia yang merasa angkuh dengan mengatur bagaimana cara untuk mencapai-Nya.

Wednesday, 5 April 2017

Kembali Ke Surau


SUDAH barang empat bulan aku tak pernah bertandang ke surau kecil itu. Dulu, setiap azan berkumandang, aku selalu siap melangkahkan kaki menuju ke surau mungil itu. Sebuah surau yang dibangun di atas tanah wakaf oleh seorang hartawan di desa kami.

Awalnya, setelah sekian tahun tidak menginjak lantai surau itu, aku sangat segan ketika datang untuk salat berjamaah di sana. Waktu kecil, tentu saja aku aku sering bermain ke surau itu. Anak-anak muslim yang masa kecilnya tak akrab dengan surau, pastilah masa kecilnya begitu menyedihkan. Orang tua seperti apa yang tak mengakrabkan putra-putrinya pada rumah Tuhan itu.

Saat mulai beranjak remaja, anak-anak akan mulai enggan bertandang ke surau. Mereka mulai mengenal gengsi. Mereka mengenal cinta, berpacaran, lalu kencan. Mereka juga mengenal yang namanya nongkrong, tebar pesona, cuci mata. Di masa remaja, seorang anak akan mulai diperkenalkan dengan dunia yang menyulitkan. Mereka mengenal tempat-tempat yang promosinya jauh lebih layak dari surau. Ketika kau berada di surau, maka kamu akan menjadi remaja kuper yang kampungan. Namun, ketika kamu mendatangi kafe-kafe, mall, dan taman sepi atau pasar malam, maka kamu akan menjadi remaja gaul yang metroseksual. Memang tak semuanya begitu, tapi saat itu pasti ada.

Saturday, 1 April 2017

Sajak-Sajak "Sederhana"



ada jenazah lewat

bagaimana kau coba membaca puisi?
sedang tiap kata tak tercetak dalam bait
kau berdoa, agar esok bisa melihat
dengan sebelah mata
mengintip duka

    kembali mencoba sembahyang
    dengan seteguk air suci
    bersuci sendiri
    membawa luka yang meneteskan nanah
    terbakar
    abu berantakan

kau bayangkan ada jenazah lewat
membaca puisi sebagai doa
dilantunkannya seperti mantra
berada paling depan
berbaring tak nyaman
menundukkan kepala
seperti bayang-bayang dalam kaca
dirimu sendiri

kau berdoa, agar esok bisa melihat
dengan sebelah mata
mengintip duka

—2015


sederhana

sederhana,
ketika kamu mulai menistakan dan merendahkan
Tuhan yang orang lain sembah,
ketika itu imanmu sudah terbelah.
Esa sudah binasa.

—2016



luka

berdukalah kalian kepada yang mulia
kepada duka yang senantiasa mengepak asma

    kepada matahari yang berwarna hijau
    bias sinar temaram membumbung tanpa ajal
    ketika orang-orang bersorak

—2016



mencari benar

di pusat samsara
roda nestapa

duhai Agni,
terbakarlah.
hanguskan karma!

—2016


izin

Mu. kujadikan mu.
bukan tak sopan
hanya ingin lebih akrab.

mesra.

—2016