Thursday, 22 September 2016

Suara Tokek


selama ini tak pernah ada tokek di rumah, itu seingatku. tapi pagi ini tiba-tiba terdengar nyanyian khas yang sudah pasti dihafal oleh semua orang di luar kepala: suara tokek.

pertanyaannya kemudian, "dari mana asalnya tokek itu?"
bagai mana dia bisa hijra kemari?
dibawa oleh anginkah?
atau sekadar telur malang yang tersasar?


kira-kira apa dia sanggup bertahan sendirian tanpa pasangan? syukur-syukur kalau dia boyong keluarganya sekalian, dia pasti tak kesepian.

tapi nasibnya malang, kalau ternyata tokek itu masih jomblo dan belum punya pasangan.
mau cari gebetan di mana dia?
sedang para cicak pun sudah sibuk berebut betina.
dia juga pasti tak mau dengan betina kerempeng tak berisi. bagaimana nanti kalau menghangatkannya, coba?


semoga si tokek sabar dengan kejombloannya. (*)

Thursday, 9 June 2016

Delik Frustrasi




Malam ini aku hendak menjerit, jika saja tak kuingat bahwa aku sedang berada di dalam kamarku yang sempit di mana lingkungan kami adalah kampung dengan rumah-rumah yang saling berhimpit. Bagaimana tidak, di usia yang semakin matang, aku masih saja jauh dari tujuan—sebut saja impianku. Sudah lewat kiranya 2 minggu aku menganggur. Memutuskan untuk fokus pada pencapaianku. Tapi ternyata, dengan waktuku yang luang, isi kepalaku ikut kopong. Ada saja jenis rasa malas yang mampir. Awalnya sekadar “say hello”, kemudian menjalar hingga mengakar ke seluruh tubuh. Mengikat raga pada ranjang.

Ini tidak baik.

Aku mengenal banyak lelaki yang lebih muda dariku. Mereka memiliki impian yang sama denganku, namun untungnya, mereka telah masuk ke dalam dunia itu. Sedang aku masih menerka-nerka bagaimana rasanya berada di dalam sana. Adakah manusia diciptakan untuk saling menyimpan iri kepada yang lain? Sementara untuk memperbaiki diri sendiri rasanya sungguh berat?

Tuesday, 12 April 2016

Kopi Pagi




Pagi ini aku ingat lagi tentang perkataan temanku yang terasa sangat kontras dengan harapannya sendiri yang dulu juga pernah diutarakan padaku. Dia bilang bahwa hidup tanpa memiliki musuh itu tidak seru. Sedang dulu dia pernah merengak-rengek padaku tentang betapa kasarnya sifat manusia serta kebencian-kebencian yang ada. Dia bertanya mengapa tiada kedamaian di dunia. Saat itu aku hanya diam saja.

Jika sekarang aku pikir lagi, aku malah bingung sendiri dengan sifat manusia. Temanku pernah mengeluh dia mengerang-erang tentang banyaknya cobaan di dunia, dia bertanya kapannya ketenangan dan kedamaian datang menyelimuti hatinya. Dia meraung-raung tentang bagaimana dunia ini bersikap tak adil dengannya. Kemarin dia bilang padaku, “Seperti inilah hidup. Hidup yang kosong itu bukan hidup! Masa’ hidup tanpa pengalaman? Kita di dunia cuma sekali saja.” Aku hanya diam saja saat mendengar ucapanya itu.

Aku akui, aku bukan seorang cendekiawan, tipe intelek dan selalu berusaha tahu tentang segala hal. Mungkin aku justru lebih ke sosok yang suka pasif dan mundur dari perdebatan sengit yang biasanya tak kunjung ada titik temu. Menurutku, percuma saja beradu argument jika nantinya kita harus memutar balik omongan kita demi mempertahankan harga diri agar kita tidak dianggap bodoh atau lemah. Yah, bisa juga tipe sepertiku disebut oleh mereka sebagai tipe orang bodoh yang tertindas. Tapi itu hanya perkiraanku saja.