Thursday, 9 June 2016

Delik Frustrasi




Malam ini aku hendak menjerit, jika saja tak kuingat bahwa aku sedang berada di dalam kamarku yang sempit di mana lingkungan kami adalah kampung dengan rumah-rumah yang saling berhimpit. Bagaimana tidak, di usia yang semakin matang, aku masih saja jauh dari tujuan—sebut saja impianku. Sudah lewat kiranya 2 minggu aku menganggur. Memutuskan untuk fokus pada pencapaianku. Tapi ternyata, dengan waktuku yang luang, isi kepalaku ikut kopong. Ada saja jenis rasa malas yang mampir. Awalnya sekadar “say hello”, kemudian menjalar hingga mengakar ke seluruh tubuh. Mengikat raga pada ranjang.

Ini tidak baik.

Aku mengenal banyak lelaki yang lebih muda dariku. Mereka memiliki impian yang sama denganku, namun untungnya, mereka telah masuk ke dalam dunia itu. Sedang aku masih menerka-nerka bagaimana rasanya berada di dalam sana. Adakah manusia diciptakan untuk saling menyimpan iri kepada yang lain? Sementara untuk memperbaiki diri sendiri rasanya sungguh berat?

Tuesday, 12 April 2016

Kopi Pagi




Pagi ini aku ingat lagi tentang perkataan temanku yang terasa sangat kontras dengan harapannya sendiri yang dulu juga pernah diutarakan padaku. Dia bilang bahwa hidup tanpa memiliki musuh itu tidak seru. Sedang dulu dia pernah merengak-rengek padaku tentang betapa kasarnya sifat manusia serta kebencian-kebencian yang ada. Dia bertanya mengapa tiada kedamaian di dunia. Saat itu aku hanya diam saja.

Jika sekarang aku pikir lagi, aku malah bingung sendiri dengan sifat manusia. Temanku pernah mengeluh dia mengerang-erang tentang banyaknya cobaan di dunia, dia bertanya kapannya ketenangan dan kedamaian datang menyelimuti hatinya. Dia meraung-raung tentang bagaimana dunia ini bersikap tak adil dengannya. Kemarin dia bilang padaku, “Seperti inilah hidup. Hidup yang kosong itu bukan hidup! Masa’ hidup tanpa pengalaman? Kita di dunia cuma sekali saja.” Aku hanya diam saja saat mendengar ucapanya itu.

Aku akui, aku bukan seorang cendekiawan, tipe intelek dan selalu berusaha tahu tentang segala hal. Mungkin aku justru lebih ke sosok yang suka pasif dan mundur dari perdebatan sengit yang biasanya tak kunjung ada titik temu. Menurutku, percuma saja beradu argument jika nantinya kita harus memutar balik omongan kita demi mempertahankan harga diri agar kita tidak dianggap bodoh atau lemah. Yah, bisa juga tipe sepertiku disebut oleh mereka sebagai tipe orang bodoh yang tertindas. Tapi itu hanya perkiraanku saja.

Wednesday, 9 December 2015

Seperti Musim, Manusia Pun Senantiasa Berubah

Saya bertengkar dengan kekasih.
Ini bukan hal bagus.
Mengingat saya begitu mencintainya.



Itu adalah pagi terindah dalam hidup saya, setelah dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya tanpa membicarakan dulu dengan saya. Saya seperti dibuang saat itu. Bahkan rasa itu kerap menghantui di setiap detik kesadaran saya bahwa dia tak lagi menginjak tanah yang sama.

Saya tak memahami jalan pikirannya. Benar-benar tak bisa memahami. Dan keputusannya yang sering tanpa pikir panjang atau sekali pun merasa perlu membicarakan dengan saya membuat saya merasa sama sekali tak penting dalam arus kehidupannya. Mungkin baginya, saya bisa menjadi salah satu kisah perjalanan masa remajanya. Tapi saya begitu mencintainya.