Nilai-Nilai Indah The Boxtrolls Untuk Segala Usia

Hmm...

Bagaimana ya memulainya? Aku sendiri bingung.

The Boxtrolls adalah sebuah film animasi. Biasanya film animasi adalah untuk anak-anak yang berisi nilai-nilai positif karena seperti itulah film ini, penuh dengan nilai-nilai positif yang bisa dipelajari anak-anak. Tokoh protagonisnya pun anak-anak. Jadi, jelas ini adalah film anak-anak.

Namun, dalam film ini terdapat banyak sekali kelompok berkepentingan yang menjadikan film ini juga layak dinikmati oleh orang-orang dewasa. Ditambah lagi dengan setting awalnya yang dilakukan di tempat gelap dan penuh dengan praktik politik. Walaupun demikian, aku yakin anak-anak bisa mengambil nilai-nilai tersendiri untuk mereka. Jadi, sepertinya film ini adalah untuk semua usia dengan menyampaikan nilai-nilai universalnya.


Oke, jadi film animasi stop-motion ini berlatar belakang Eropa di era Victoria ketika masyarakatnya dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu topi putih yang merupakan para bangsawan yang sangat terobsesi dengan keju, topi merah yang diwakili oleh tokoh-tokoh antagonis, masyarakat umum dan makhluk yang dikenal oleh semua lapisan masyarakat sebagai boxtrolls atau para troll yang bersembunyi dalam kardus.

Setiap tahunnya, masyarakat memperingati Hari Mengenang Bayi Trubshaw. Itu adalah hari yang menurut Madam Frou Frou adalah hari ketika para Boxtroll menculik bayi dari penemu Herbert Trubshaw. Sejak saat itulah pembasmian atas Boxtroll dimulai. Pembasmian ini dilakukan oleh pemakai topi merah Archibald Penelope Snatcher yang juga menyamar sebagai Madam Frou Frou dan ketiga anteknya. Snatcher melakukan ini karena dia ingin sekali menikmati keju di ruang cicip yang biasa dilakukan malam hari oleh para bangsawan ketika mereka seharusnya memikirkan jalan keluar atas masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat.

Suatu malam, Snatcher berhasil menangkap beberapa boxtroll yang sedang melakukan pencurian barang-barang di sekitar rumah-rumah. Tempat jarahan mereka tidak jauh dari barang-barang rongsokan yang sudah dibuang orang. Roda gerobak reyot kadang juga menjadi barnag jarahan mereka. Seorang boxtroll yang adalah anak laki-laki berusaha menyelamatkan teman-temannya. Namun, dia diikuti oleh Winifred, anak perempuan Lord Portley-Rind. Bisakah anak laki-laki itu menyelamatkan teman-temannya?

Untuk menjawabnya, kawan-kawan perlu menonton sendiri film itu yang dijamin tidak akan membuat kawan-kawan kecewa. Lebih jauh tentang para boxtroll, aku akan menceritakannya sedikit pendapatku tentang mereka di bawah ini.

Boxtroll tinggal di bawah tanah dan kumuh yang mungkin mewakili masyarakat kelas rendah. Kenapa aku berpikir bahwa boxtrolls mewakili masyarakat kelas rendah? Itu karena era Victoria terkenal dengan kehidupannya yang glamor dan di film itu sendiri menampilkan bahwa kota itu sering menyelenggarakan pesta-pesta yang tidak perlu di mana hiburan sudah menjadi hal yang harus ada dan kecintaan para bangsawan yang tidak perlu pada keju. Para bangsawan yang seharusnya memikirkan jalan keluar masalah di kota malah menghabiskan waktu diskusi mereka dengan menikmati keju dan menambah kosakata mereka dengan penilaian akan keju.

Lalu, apa hubungannya dengan boxtroll yang mewakili masyarakat kelas bawah?

Dengan gaya hidup glamor, lingkungan bersih dan kebiasaan bersenang-senang, orang-orang tidak beruntung tersebut pasti sangat tidak diinginkan berada bersama di antara masyarakat glamor dan oleh karenanya mereka tersingkir. Orang-orang yang tidak beruntung tersebut harus bersembunyi agar tidak dipersekusi oleh masyarakat Victoria pada masa itu. Mereka harus bersembunyi di bawah tanah dan masyarakat glamor itu menyebut mereka boxtroll yang dalam film ini digambarkan sebagai makhluk yang berbeda dengan manusia.

Lalu, apakah film ini hendak menghina masyarakat kelas bawah itu?

Sebenarnya tidak. Perwujudan mengerikan dari para boxtroll itu adalah perwujudan dari persepsi masyarakat glamor yang mengatakan mereka kotor, mengerikan, menjijikkan dan sebagainya. Selain itu, film ini juga ingin mengatakan bahwa orang-orang itu seharusnya bisa hidup dengan mereka. Perasaan bahwa mereka lebih baik dari orang lainlah yang memisahkan mereka; dan para boxtroll sendiri sebenarnya adalah makhluk yang terampil. Mereka tidak seperti yang dipikirkan masyarakat. Mereka adalah ahli mekanik yang terbukti dengan lingkungan bawah tanah mereka yang dibangun dengan teknologi tinggi yang belum ada waktu itu.

Film ini membawakan banyak sekali nilai-nilai yang bisa dipetik. Salah satu nilai itu adalah yang dikatakan Eggs pada Snatcher bahwa:
Segala hal yang kita miliki tidak akan bisa mengubah jati diri kita, tetapi kita sendirilah yang membentuk jati diri kita.
Film yang manis ini dibumbui dengan sedikit petualangan dan humor yang akan menemani Sabtu malam teman-teman.

Gambar diambil dari Jacksonfreepress
0

Mengenal Teori Terorisme Predestination

Sabtu malam mungkin bisa menjadi malam yang romantis bagi kawan-kawan yang memiliki pasangan. Namun, kalau kawan-kawan belum memiliki pasangan atau pecinta film mind-blow, film ini bisa menemani Sabtu malam kawan semua.

Sebenarnya saya sudah lama menonton film ini, tetapi karena film ini terbilang cukup sulit, walaupun tidak sesulit itu, aku tidak langsung mengulasnya. Hingga sekarang pun, aku masih belum yakin dengan pengetahuanku akan film ini. Namun, aku memaksakan diri mengulasnya karena suatu teori yang kuyakini hendak dijelaskan dalam film ini. Selain itu, film ini bisa kubilang sangat bagus.

Apa sih bagusnya film ini?

Sebelum memutuskan untuk menonton film ini, aku ingin menjelaskan bahwa film ini akan sedikit membingungkan. Selain itu, kawan-kawan pada awalnya akan kesulitan memahami hal yang ingin dijelaskan dalam film ini yang menurutku sebenarnya lebih dari sekedar teori terorisme dan lebih banyak dari itu. Namun, aku pastikan kawan-kawan akan menikmati film ini.

Saranku sebelum kawan-kawan nonton, pastikan kalian tidak meninggalkan satu detik pun dari film ini. Ikuti saja alurnya walaupun mungkin bagian awalnya tidak terlalu "engaging."


Film ini diawali dengan John Doe (Ethan Hawke) yang sangat dekat dengan bom mengalami kecelakaan yang membuat mukanya hancur. Dia menjalani operasi plastik dan mendapatkan tugas akhir karena ternyata dia adalah seorang agen "pemberantas" terorisme. Ya, jadi pekerjaan John Doe ini adalah menangkap teroris sebelum teroris itu beraksi; dan untuk melakukannya seorang agen seringkali membutuhkan mesin penjelajah waktu.

Setelah menjalani operasi, wajahnya berubah sepenuhnya. Dia menjalani beberapa tahun terakhirnya menyesuaikan diri dengan wajah barunya dan pekerjaannya yang tidak lagi sepadat dulu sebagai agen. Kini dia bekerja sebagai barkeep untuk menutupi kedoknya sebagai seorang agen. Di sana, dia bertemu dengan seorang laki-laki (Sarah Snook) yang menceritakan seluruh kisah hidupnya. Bagaimana dia hidup di panti asuhan dan bagaimana dia jauh lebih unggul dibanding teman-teman seusianya.

Selama hampir satu jam film ini diputar, mungkin tidak akan ada yang mengejutkan bagi kawan-kawan pecinta mind-blow karena seperti nama jenisnya, film ini baru menunjukkan taringnya di pertengahan kedua dan nikmati gigitannya. Setelah semua hal itu, kawan-kawan akan mengerti siapa agen itu dan apa yang terjadi sebenarnya.

Di akhir film, John Doe bertemu dengan orang yang memberinya misi-misi, ketua organisasinya Robertson. Di sana, Robertson mengatakan bahwa jika dia sudah mencapai tujuan akhir semua misi itu, alatnya akan dinonaktifkan dan dia akan tinggal di tempat yang diinginkannya, tempat pemboman akan terjadi. Di sinilah, semuanya menjadi jelas.

Kalau kawan-kawan sudah pernah menonton "Predestination," maka kita akan lanjut ke sesi pembahasan.

Apa yang pertama kali paling mengena dari film ini? Yang jelas, takdir tidak bisa diubah walaupun kita memiliki alat penjelajah waktu dan berusaha mengubah sejarah. Kita yang datang di waktu yang kita ingin ubah hanya mungkin bisa sebagai penghias yang tidak berdampak cukup besar untuk menciptakan perubahan.

Selain semua itu, film yang berdurasi 1 jam 30 menit ini menjelaskan tentang bagaimana terorisme tercipta.

Kok bisa?

Seperti yang dijelaskan, John Doe adalah seorang agen. Tugasnya adalah menghentikan terorisme. Dia menggunakan mesin waktu untuk melacak pola terorisme dan menghentikannya di setiap negara di dunia dan di setiap waktu kejadiannya. Semua detil itu didapat dari tugas-tugas yang diberikan padanya.

Seperti semua hal yang akan terjadi pada pelanggaran waktu, seorang agen harus bertaruh pada ingatannya. Ya, ingatan adalah bayaran atas segala penjelajahan waktu. Semakin sering seseorang melakukan penjelajahan waktu, semakin banyak ingatan yang dia lupakan. Dia hanya bisa mengingat pencapiannya yang mengatakan bahwa ia telah menyelamatkan banyak orang melalui kliping koran yang dikumpulkannya. Selain itu, dia tidak mengingat apa pun kecuali organisasi dan atasan-atasannya.

Teroir terorisme yang aku maksud di atas adalah tentang semua ini. John Doe tidak sadar bahwa tindakannya menyelamatkan terorisme telah berubah menjadi tindak terorisme itu sendiri. Bahwa mengejar terorisme adalah seperti "seekor ular yang mengejar ekor dan ketika dia telah menggigitnya, barulah dia tahu bahwa itu adalah ekornya sendiri."

Dengan memberi artikel ini judul "predestination," ini seolah mengimplikasikan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan (predestined). Hal ini bisa saja sejalan dengan kenyataan yang diangkat di film bahwa yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Namun tentu saja takdir yang tidak bisa diubah adalah takdir yang sudah terjadi, bukan yang belum terjadi.

Akhirnya, aku hanya bisa mengucapkan "Selamat menikmati sajian yang penuh paradox ini."

Gambar diambil dari Muchepic-Review
0

The Long Walk Karya Stephen King dan Potret Buruh

Judul : The Long Walk (Jalan Kaki Sampai Mati)
Pengarang : Stephen King
Alih bahasa : Lulu Wijaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Pertama, 2018
Dimensi buku : 20 cm
Jumlah halaman : 432 halaman

Halo kawan-kawan semuanya. ^^

Sudah lama ya kita tidak ngobrol soal novel. Jadi, sekarang kita akan ngobrol soal novel lagi. Novel karya Stephen King ini dikabarkan sedang dalam pengerjaan untuk diangkat ke layar lebar tahun lalu. Penasaran kan seperti apa novel yang akan diangkat ke layar lebar ini?

Sebelum ngobrol soal novelnya, apakah ada di antara kawan-kawan yang belum kenal Stephen King. Kalau belum kenal orangnya, mungkin kawan-kawan kenal beberapa film yang diadaptasi dari karyanya, seperti "It," "The Mist" dan "The Shawsank Redemption." Film terakhir yang difilmkan tahun 1994 itu masih mendapatkan nilai tinggi di Rotten Tomato, IMDb dan Metacritic. Stephen King dikenal akan tulisan-tulisan horornya dan beberapa genre tulisan lain, seperti fantasi, thriller, dan sci-fi.

Sudah kenal, ya? Sekarang kita lanjut ke novelnya.



Jujur, aku ingin membeli novel ini karena membaca berita bahwa novel ini akan diangkat ke layar lebar. Ketika berjalan-jalan ke toko buku, kebetulan suami menemukan novel yang hanya tinggal 1 eksemplar itu.

Seperti judulnya, novel ini menceritakan tentang sebuah acara jalan jauh yang diikuti oleh 100 remaja terpilih. Untuk bisa mengikuti acara ini, para remaja laki-laki harus mendaftarkan diri lalu melewati seleksi pengecekan fisik dan esai tentang keinginan mengikuti acara. Dari ribuan yang ikut, dipilihlah 100 remaja lelaki untuk berjalan jauh dan salah satu dari mereka adalah Ray Garraty.

Acara ini dimulai setiap tanggal 1 Mei pukul 9 pagi. Mayor, yang memprakarsai acara ini, melepas 100 remaja tersebut untuk mulai berjalan, diiringi tentara-tentara yang akan memberikan peringatan dan tiket bagi yang melanggara aturan. Aturan-aturan yang dijalankan antara lain: tidak boleh berjalan di bawah batas kecepatan, berjongkok, keluar jalur dan sebagainya. Ketika sudah mendapatkan peringatan, peserta akan mendapatkan tiket dari para tentara yang mengekor.

Di jarak 12 km dari start, seorang peserta sudah mendapatkan tiket karena otot kakinya kaku dan tidak bisa digerakkan. Para tentara mengeluarkannya. Satu-satunya semangat peserta untuk terus berjalan adalah agar mereka tidak mau mendapatkan tiket. Menyerah dan mendapatkan tiket adalah hal terbodoh yang bisa diimpikan 100 peserta itu.

Hal yang paling diingat oleh Ray adalah sesering mungkin menghemat tenaga. Peserta tidak diperkenankan beristirahat sebelum sampai garis finish yang seolah tidak akan pernah berujung. Mereka terus berjalan di pagi dan malam hari, kalau perlu, berjalan sambil tidur.

Semakin lama jumlah peserta semakin sedikit. Ray hampir mendapatkan tiket ketika dia mengurut otot-otot kakinya yang kaku. Kondisi fisik dan psikis para peserta semakin menurun. Keduanya semakin memburuk ketika Scramm, peserta bertubuh gagah yang dijagokan banyak orang, terkena radang paru-paru akibat guyuran hujan malam sebelumnya. Dengan segala konflik batin yang dialami peserta, akankah Ray berhasil mencapai garis finish?

Selesai membaca buku ini, tidak heran jika film ini masih belum tayang hingga waktu tulisan ini dipos. Novel setebal 432 halaman ini penuh dengan konflik batin yang diutarakan Ray dan kawan-kawannya sepanjang perjalanan. Tentunya sulit mengeluarkan konflik batin dan menggambarkan kesengsaraan psikis yang dialami peserta dalam bentuk film.

Kesan pertama yang kudapat ketika baru selesai membaca beberapa bab novel ini adalah aku tidak ingin berhenti membacanya karena jika berhenti, aku bakal mendapatkan peringatan. Memang terdengar konyol, tapi seperti itulah pengaruh ngerinya peraturan acara yang digambarkan Stephen King dalam novel ini.

Lalu, apa hubungannya dengan potret buruh?

Acara ini secara kebetulan bertepatan dengan hari buruh internasional, 1 Mei. Acara yang menuntut peserta untuk terus-menerus berjalan dari pagi hingga pagi lagi membuatku teringat dengan shift pagi, siang, malam yang didapatkan buruh agar pabrik terus mengepul. Buruh dipaksa terus bekerja dengan gaji kecil sementara pemilik pabrik bersantai ria menikmati keuntungan besar. Jika ada kesalahan yang dilakukan buruh, mandor tak segan memberikan hukuman berat. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa pada tahun 1970-an (buku ini pertama kali terbit dalam versi Inggris pada tahun 1979), Amerika sedang mengalami krisis besar yang tentunya berdampak pada sektor industri.

Namun, melihat peraturan yang ditetapkan dalam acara membuat novel ini mengacu pada hal lain atau malah dua hal sekaligus. Entahlah. Menurutku novel ini sangat terbuka untuk beberapa interpretasi.

Bagiku Stephen King telah sukses menggambarkan suasana selama acara ini berlangsung. Dia bisa membuat acara ini sangat realistis dengan adanya orang-orang yang bersorak-sorai di tepi jalan memberikan dukungan pada para peserta dan cuaca yang berubah di setiap kota. Konflik-konflik yang ditampilkan juga tidak hanya soal lelahnya mengikuti acara ini, tetapi juga soal ingatan pada keluarga, kekasih dan orang-orang yang bertaruh atas kemenangan mereka. Percakapan para peserta selama acara juga dibuat senyata mungkin sehingga sama sekali tidak ada plot hole. Ray Garraty sendiri juga mengatakan bahwa dia hanya ingin membuktikan apakah peraturan dalam acara itu benar-benar nyata karena dia berpikir bahwa tidak mungkin ada manusia yang membikin peraturan seperti itu.

Mungkin beberapa dari kawan-kawan ingin bertanya seperti apa peraturan acara ini; seberapa jauh jarak yang mereka tempuh; apa yang terjadi jika peserta mendapatkan tiket; seberapa mengerikannya kesan pertama yang kualami dan sebagainya. 

Untuk menjawab itu semua, kawan-kawan bisa langsung membaca novelnya. Aku yakin buku itu sudah tersedia di beberapa perpustakaan atau kawan-kawan bisa membeli versi elektroniknya. 

Aku yakin kawan-kawan bisa menarik kesimpulan dan mendapatkan kesan lebih mendalam daripada yang kualami.

Selamat membaca.
0

Bohemian Rhapsody dan Vokalis Queen, Freddie Mercury

Aku tahu postingan ini sangat terlambat. Namun, aku selalu yakin pada pepatah yang mengatakan bahwa "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."

Kenapa aku baru mengulas film ini? Apakah aku baru nonton? Tidak. Aku sudah menonton film ini berkali-kali. Lalu, kenapa aku tidak langsung menulis postingan ini begitu selesai menontonnya? Jawabannya rumit.

Pertama kali aku menonton Bohemian Rhapsody, ada sesuatu yang menancap dalam benak dan hatiku. Ini bukan drama dan aku tidak melebih-lebihkan sehingga aku memutuskan untuk menunggu lebih lama dan menonton beberapa kali lagi hingga aku benar-benar siap untuk menuliskannya. Aku tidak ingin "sesuatu" yang menancap itu tidak tergambarkan dengan baik sebagaimana mestinya walaupun aku tidak yakin apa itu.

Kesan pertama yang kurasakan adalah bahwa ada sesuatu dari film itu yang melekat di hati. Entah apa. Kalau kawan-kawan menontonnya, mungkin bisa menjelaskan apa itu tepatnya.

Jujur, aku bukan pendukung LGBT dan bukan seorang LGBT; gigiku tidak tonggos; aku bukan penyanyi dan tidak terlalu familiar dengan musik walaupun aku agak peka dengan nada atau musik, setidaknya ketika aku menulis postingan ini. Satu-satunya yang mungkin membuatku terikat dengan film ini, seperti halnya film "Twilight" adalah kenyataan bahwa aku sangat ingin mengenal lebih dekat kehidupan seorang vokalis yang menjadi legenda karena bisa menyanyi dengan range dari rendah ke tinggi dan berpindah dari keduanya dengan sangat mudah. Aku ingin tahu bagaimana kehidupan seseorang yang memiliki talenta seperti itu. Siapa yang tidak penasaran?

Oke, kembali ke cerita.



Bohemian Rhapsody bercerita tentang asal mula terbentuknya band legendaris "Queen" hingga band itu berhenti karena penyakit sang vokalis. Judul film itu sendiri diambil dari salah satu judul lagu yang dipopulerkan oleh band tersebut sebanyak dua kali, yaitu ketika judul lagu itu baru selesai dibuat, yang kedua adalah ketika band itu mengikuti acara "Live Aid" dan mendapatkan sambutan baik dari para pendengar; dan menurut film, kehadiran Queen memberikan sumbangan besar untuk acara "Live Aid" yang keuntungannya diberikan untuk membantu orang-orang kelaparan di Afrika.

Kehidupan Farookh a.k.a Freddie Mercury dimulai ketika dia baru pindah ke London. Dia menawarkan lagu karangannya pada sebuah band yang akan menjadi bagian dari hidupnya setelahnya. Terlepas dari kekurangan yang ada pada giginya, Freddie diterima untuk mengganti vokalis band yang baru saja keluar dan kehidupannya sebagai vokalis dimulai. Di sana dia juga bertemu dengan Mary yang kita kenal sebagai temannya seumur hidup.

Film ini dikemas dalam bentuk biografi yang penuh dengan drama sebagaimana kehidupan yang secara alami adalah sebuah drama. Pasti kawan-kawan sudah sering mendengar sebuah potongan lirik yang mengatakan bahwa dunia adalah panggung sandiwara. Jika kawan tidak suka film drama, mungkin sebuah pengecualian harus diambil demi untuk melihat kehidupan sebuah band legend.

Sebagaimana sebagian besar film drama, film ini becerita tentang cinta, persahabatan, hubungan dengan keluarga dan masalah-masalah di dalamnya, termasuk masalah pribadi si tokoh yang ternyata adalah seorang gay. Ketika berbicara tentang gay, kita tidak bisa melepaskannya dari AIDS. Itu adalah salah satu kunci penting dari film ini.

Film ini mempertontonkan adegan hubungan laki-laki dan laki-laki yang cukup banyak walaupun itu hanya bersifat sebagai selingan dari cerita utama film ini, yaitu perjalanan band Queen mencapai puncak legendarisnya. Dari seluruh peristiwa itu, salah satu yang mungkin paling ingin diketahui para penggemar Queen adalah proses pembuatan judul lagu yang menjadi judul film ini yang ternyata sangat kompleks. Sebuah judul lagu yang masih sesuai bagi pendengar zaman ini walaupun usianya sudah lebih dari 30 tahun. Sebuah judul lagu yang mencakup nada rendah hingga nada tertinggi yang bisa dicapai laki-laki.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, konflik semakin mengental yang dimulai dari perasaan Freddie pada Mary, yang sudah menjadi pasangannya, berkurang dan kandas setelah Freddie mengatakan bahwa dia menyukai pria. Di sini, suasana terus menegang dan tidak mengenakkan. Setiap jalan yang dilalui Freddie adalah masalah; dan setiap masalah yang dilaluinya mengantarnya pada masalah yang semakin besar hingga dia memecat managernya secara sepihak yang memicu keributan dengan anggota band lainnya.

Puncaknya ada pada Freddie yang menjadi masalah bagi seluruh grup band karena sifatnya yang otoriter hingga dia memutuskan untuk keluar dari band. Di akhir film, Queen berhasil mengikuti acara terbesar saat itu yang dihadiri oleh banyak sekali musisi-musisi terkenal dan masih terkenal hingga saat ini setelah Freddie menyadari bahwa dia salah memilih orang kepercayaan. Ya, seorang legend juga pernah dikhianati dan tidak luput dari kesalahan.

Aku masih belum mengerti apa indahnya film ini. Aku menilai film ini indah walaupun keindahannya tidak sama dengan "Midnight in Paris." Mungkin karena film ini adalah sebuah perjalanan "from zero to hero." Sebuah ketenaran yang dihiasi dengan kerja keras, cinta, perjuangan, pertaruhan, pengkhianatan dan keberanian. Kadang berada di atas membuat banyak orang kesulitan untuk mengaku salah yang membutuhkan keberanian besar untuk melakukannya dan Rami Malek (pemeran Freddie Mercury) memainkannya dengan baik.

Ada banyak hal yang diceritakan dalam film ini. Tentang hubungan antara Freddie dan Mary; hubungan Freddie dan teman-teman bandnya; hubungan Freddie dengan teman-teman gay-nya dan hubungan antara Freddie dan ayahnya. Semua hal itu membawa masalah tersendiri dan memiliki penyelesaiannya sendiri yang membuat film ini menjadi luar biasa dan sangat layak ditonton.

Gambar diambil dari Creative Yatra
0

Menikmati Keindahan Film 'Midnight in Paris'

Dari semua tempat yang ada di dunia, kota atau negara mana yang ingin Anda kunjungi? Apakah Paris masuk dalam salah satu daftar kota yang ingin Anda kunjungi. Kita semua sudah terkena sihir oleh kota yang memiliki arsitektur yang elegan dan klasik. Hanya dengan mendengar kota Paris, kita sudah terbayang dengan bangunan gaya arsitektur kuno di zaman-zaman kerajaan saat itu.

Jika Anda ingin bertemu dengan seorang yang sangat terkenal, katakanlah, penulis atau pelukis, siapa yang paling ingin Anda temui? Ernest Hemingway? Pablo Picaso? T. S. Eliot? Hampir semua orang yang ingin Anda temui dari daftar penulis atau pelukis pernah menjelajah Paris, atau setidaknya menurut film yang berjudul "Midnight in Paris."


Jika Anda sudah pernah menonton film ini, menontonnya untuk ke sekian kalinya akan menjadi sebuah nostalgia yang indah. Jika Anda sudah lupa bagaimana atmosfer yang sudah Anda dapatkan ketika menonton film yang indah ini, izinkan saya untuk menerbangkan Anda kembali ke Paris, atau memberikan sedikit suasana Paris bagi Anda semua yang ingin pergi ke sana.

"Midnight in Paris" menceritakan tentang seorang seorang penulis naskah film yang sedang membanting setir sebagai penulis novel, Gil Pender, dan keluarga tunangannya, Inez, yang melakukan perjalanan bisnis ayah Inez ke Paris. Di sini, kita bisa melihat bahwa orangtua Inez adalah orang kaya dan Gil adalah seorang penulis naskah yang cukup baik. Namun, keputusannya untuk menjadi penulis novel kurang disetujui oleh Inez, terlebih ketika orangtua, anak dan calon menantu itu secara tidak sengaja bertemu dengan Paul dan Carol, teman sekolah Inez yang terkenal cerdas, ketika sedang makan siang di sebuah restoran.

Anda akan melihat bahwa Paul berkali-kali menunjukkan "kemampuannya" di setiap kesempatan yang ada, seolah dia telah membaca semua buku dan artikel yang pernah dibuat tentang sejarah Paris, anggur dan seni.

Hal terbaik yang Anda dapatkan dari perjalanan kedua pasangan yang diganggu oleh kedatangan Paul adalah ketika Gil tersesat ketika akan kembali ke Hotel Bristol. Ketika lonceng tengah malam berbunyi, dia tengah duduk di sebuah tangga di bawah lampu-lampu redup kota Paris. Saat itulah dia diangkut oleh sekelompok orang yang berada di dalam Peugeot. Orang-orang dengan segelas champagne di tangan itu membawa mereka ke sebuah pesta yang diadakan oleh Jean Cocteau. Dia disambut oleh Cole Porter yang menyanyikan lagu Let's Do It.

Kebingungannya pada suasana dan cara orang-orang di sana berpakaian menarik perhatian Zelda Fitzgerald yang membuatnya bertemu dengan Scott Fitzgerald. Kejadian menjadi begitu cepat ketika Gil semakin menunjukkan kebingungannya bahwa tidak mungkin dia terjebak di Paris pada tahun 1920-an.

Dari situlah, duo Fitzgerald mempertemukan Gil dengan orang-orang terkenal lainnya, seperti Ernest Hemingway, Pablo Picaso dan Adriana yang menjadi inspirasi Pablo di salah satu lukisannya. Hal itu juga membuka kesempatan bagi Gil menyerahkan novelnya untuk dievaluasi oleh Gertrude Stein. Perjalanannya kemudian mempertemukannya dengan T. S. Eliot, Salvador Dali, Djuna Barnes, Belmonte dan beberapa orang terkenal lainnya di suasana kota Paris yang redup dan romantis.
Tentu saja cerita itu tidak dipercaya oleh Inez. Walaupun demikian, hal itu membuatnya bisa "membetulkan" penjelasan sejarah tentang sebuah lukisan yang dibuat oleh Pablo Picaso yang kebetulan dilihatnya ketika Ernest Hemingway mengajaknya ke rumah Gertrude Stein. Saat itu, Pablo tengah meminta pendapat Gertrude tentang lukisan itu.

Walaupun film ini hanya berdurasi satu jam lebih tiga puluh menit, film ini bisa merangkum sebagian kisah dan mempertemukan semua orang terkenal yang pernah ada di zaman-zaman sebelumnya, terutama hal menarik yang terjadi antara Ernest dan Adriana.

"Midnight in Paris" memberikan kesan bahwa orang-orang di masa sekarang akan selalu rindu dengan masa sebelumnya. Seperti Gil yang menganggap bahwa tahun 1920-an adalah masa keemasan yang pernah ada dan seperti Adriana yang ingin hidup di tahun 1890-an, sementara orang-orang di tahun itu menganggap bahwa zaman keemasan sesungguhnya adalah zaman Renaiassance.

"Midnight in Paris" membuat juga membuat saya ingin mengunjungi Paris walaupun hanya sekali seumur hidup menikmati redup kota yang romantis di malam hari dan mengunjungi tempat-tempat dengan arsitektur zaman dahulu, seperti Gil yang ingin tinggal di Paris dan menikmati berjalan kaki mengelilingi Paris ketika hujan.

Yah, Paris bisa menjadi kota yang indah bagi kekasih yang saling mencintai dan bisa mengakhiri sebuah hubungan jika salah satu pihak tidak bisa menikmati Paris seperti yang terjadi dengan Gil dan Inez. Walaupun akhir film ini terdengar buruk, Anda tidak akan menganggapnya demikian ketika Anda telah selesai menonton film ini.

Dari film ini, Anda akan menyukai Paris di malam hari dengan lampu yang redup dan gerimis yang seolah tidak akan membuat Anda kedinginan.

Mungkin dengan selesainya film ini Anda juga akan mulai menyukai hujan dan lampu redup di malam hari.

Yang jelas, "Midnight in Paris" amat sangat membuat saya semakin ingin pergi ke Paris, dan juga berharap bisa bertemu dengan orang-orang terkenal itu. Selain itu, film inilah yang memberikan motivasi bagi saya untuk menulis tentang film ini sendiri.

Penilaian dan keputusan berada di tangan Anda. Saya di sini hanya bertugas untuk memberikan gambaran indah tentang film ini dan Paris. Saya tidak bisa memberikan penilaian lebih dari itu karena setiap detik film ini ditampilkan dengan sangat indah.

Gambar diambil dari Netflix
0

Sejarah Bangsa Indonesia Dalam 'Anak Semua Bangsa'


Judul buku: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Maret 2018 (Cetakan ke-19)
Tebal buku: 547 halaman.

Novel "Anak Semua Bangsa" karya penulis ternama Pramoedya Ananta Toer ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1980 oleh Hasta Mitra. Dengan latar pemerintahan Hindia Belanda, "Anak Semua Bangsa," yang merupakan novel kedua dari novel tetralogi "Bumi Manusia" ini tidak hanya bercerita tentang sejarah, tetapi juga cinta, sosial, dan politik.

Cerita "Anak Semua Bangsa" dimulai dengan perjalanan kematian Annelies, istri Minke yang merupakan tokoh utama dalam novel tetralogi ini, ke Belanda. Berita kematian itu sendiri dikirim oleh Kommer, orang yang dipercaya Nyai Ontosoroh untuk menjaga Annelies selama perjalanan dan sekaligus sahabat Minke dan Nyai, dan bukan Ir. Maurits Mellema yang mengaku sebagai wali sah Annelies.

Setelah berita tersebut diterima, kehidupan Minke dan seluruh keluarga itu menjadi kelabu. Namun, mereka dapat menghadapinya dengan tabah walaupun Nyai Ontosoroh sangat gusar sehingga ia memutuskan untuk berlibur ke rumah kerabatnya bersama Minke. Liburannya ke Sidoarjo membuat mata Minke terbuka terhadap ketidakadilan yang menimpa pribumi. Pemilik lahan yang kini dijadikan ladang tebu pabrik gula Tulangan mengalami pengurangan pembayaran sewa dan masa sewa yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Hal ini membuka hatinya untuk membantu orang-orang yang tertindas tersebut melalui tulisan. Namun, bantuannya itu malah menempatkannya dalam bahaya.

Ketika bahaya itu masih membayangi, orang-orang Tulangan sudah membuat ulah. Mereka memulai perjuangan mereka melawan Belanda sebelum waktunya hingga seorang kyai yang menginisiasi perjuangan itu ditanggap dan dihukum mati, sementara semua pendukungnya menjadi buronan.

Masalah dengan pabrik gula masih belum selesai ketika seorang mata-mata yang dijuluki "si gendut" terlihat masuk ke rumah Minem dan lari ke pekarangan belakang rumah Nyai Ontosoroh. Peristiwa itu disusul dengan surat kematian Robert, anak sulungnya, dan pengakuan Minem bahwa bayinya adalah anak dari Robert. Surat tersebut masih belum dingin ketika Nyai Ontosoroh, Minke, Minem dan Darsam serta si gendut yang ternyata bernama Jan Tantang dan pemilik tempat pelacuran Ah Tjong diseret ke pengadilan.

Keputusan pengadilan selanjutnya menempatkan Mama atau Nyai Ontosoroh dalam situasi rumit yang tidak bisa ditampiknya karena posisinya yang hanya pribumi, bukan keturunan Belanda. Di situlah arti persahabatan dan perjuangan melawan kesewenangan Ir. Maurits Mellema melalui pesta "penjagalan" yang telah disiapkan Nyai Ontosoroh terkhusus untuk calon perampas perusahaan besar di Wonokromo.

Begitulah cerita itu berakhir. Setiap buku diakhiri dengan takdir Nyai Ontosoroh dan Minke yang menggantung yang mengharuskan setiap membacanya untuk memburu buku berikutnya dan berikutnya lagi.

Dari kisah di atas, pembaca bisa mengetahui bahwa Nyai Ontosoroh dan Minke dapat menghadapi setiap masalah dengan tegar. Bahwa masalah besar bukanlah alasan bagi siapapun untuk menyerah.

Dari "Anak Semua Bangsa," pembaca bisa belajar untuk memperjuangkan hak walaupun hukum tidak memihak, mengusahakan kebenaran walaupun kebenaran jarang meninggalkan jejak, dan tetap menjaga martabat dan kehormatan diri walaupun sedang berhadapan dengan orang yang tidak mengindahkan harga diri orang lain.

Setiap peristiwa yang dialami Minke membuatnya semakin dewasa. Pertemanannya dengan orang Eropa membuatnya membuka mata bahwa orang Eropa tidak perlu disanjung setinggi itu walaupun bangsa mereka terus maju di berbagai aspek kehidupan. Kenyataan mengajarinya untuk berhenti mengidolakan sosok yang menurutnya sempurna. Ketidakadilan membuatnya berhenti menggunakan bahasa penjajah yang tidak dipahami pribumi. Kemudian, ia pun mulai menulis dengan lebih jujur tentang semua peristiwa dalam bahasa Melayu.

Sudah adil kau bila menulis untuk pembaca berbahasa Belanda, padahal kau sedikit pun tak pernah berhutang budi pada mereka? - Anak Semua Bangsa, 275.

Berbicara soal "Anak Semua Bangsa," semakin dibaca pembaca akan semakin diyakinkan bahwa Minke adalah Pramoedya sendiri. Hal ini diperkuat dengan latar belakang Minke yang kebetulan hampir sama dengan Pramoedya yang seorang penulis.

Pengalamannya yang bergabung dengan "Lekra" membuatnya tahu berhagai hal, termasuk peristiwa keadilan yang mengitari pabik gula Tulangan, Sidoarjo. Berdasarkan isi novel, Pram menemukan kenyataan bahwa biaya sewa yang diberikan pada pemilik tanah dikurangi oleh pihak Belanda dan mereka juga menyalahi kesepakatan dalam surat perjanjian sewa. Pengetahuan ini seperti yang pernah dikatakan Gol A Gong bahwa menulis fiksi adalah cara lain untuk memberitakan fakta.

Pram sangat piawai menceritakan setiap detil sejarah karena mungkin ia sendiri mengalami semua peristiwa itu dan bukan hanya berdasarkan imajinasi atau cerita dari orang lain saja. Jika Ernest Hemingway suka menulis cerita secara jujur, maka mungkin Pram bisa dikatakan sebagai Ernest Hemingway-nya Indonesia.

Beliau suka memasukkan fakta sejarah dalam tulisannya sehingga semua orang bisa tetap mempelajari sejarah Indonesia yang terus tenggelam seiring berlarinya zaman. Di tengah zaman yang sudah penuh dengan hoax, Pram berusaha membuat semua pembacanya mempertanyakan yang berakhir menjadi yakin akan kebenaran kisahnya. Dengan cara itulah Pram telah menceritakan kembali sejarah Indonesia yang terlupakan, terlepas dari latar belakangnya yang seorang Komunis.

Namun, jika Anda adalah tipe orang yang suka bervisualisasi dengan narasi atau deskripsi, mungkin "Anak Semua Bangsa" bukan novel untuk Anda. Seperti novel sebelumnya, "Bumi Manusia," novel ini bisa dikatakan penuh dengan dialog yang bertele-tele. Namun, dialog-dialog itu sendiri terkadang berisi pemikiran, movitasi dan nasihat yang tidak akan mungkin Anda tinggalkan, seperti pada dua kutipan di bawah ini:
Apa yang diharapkan oleh Pribumi daripadaku? Tak ada. Tapi yang diharapkan dari Tuan Minke yang begitu berbakat, banyak, terlalu banyak... Aku telah anjurkan padanya untuk mulai mengenal bangsanya dan kehidupannya, sumber yang tak kering-keringnya. - Anak Semua Bangsa, 267.
Nyai, kalau Tuan Minke tak mampu melihat keceriaan kehidupan, bagaimana ia nanti akan dapat menunjukkan pada bangsanya: di sanalah kebahagiaan? - Anak Semua Bangsa, 267.
0

Tentang Hujan: Prolog

Hampir satu minggu genapnya aku selalu memikirkan tentang hujan. Bukan karena apa, pasalnya tema pekan ini adalah tentang hujan. Jika memikirkan hujan, maka aku selalu ingat malam. Ingat tentang bagaimana tanah basah dengan aroma khas yang membawa kenangan. Seperti menjebak dan memerangkap ingatan agar senantiasa mendekap nuansa tersebut. Nuansa yang sudah lama lewat.

Namun bagaimana jika kemudian nuansa-nuansa itu tak habis dalam sekali duduk saja?

Mengenangnya.

Begitu.
0

Tentang Cinta yang Tak Mengenal Waktu dalam Letters to Juliet

Dari ulasan film berjudul "Letters to Juliet" ini mungkin kita akan belajar tentang cinta yang tak mengenal waktu dan bahwa cinta itu perlu diperjuangkan dan bahwa cinta itu...

Ya. Bersiaplah karena kali ini kita akan berbicara sekaligus belajar tentang cinta.

Namun, kita tidak akan belajar cinta tentang pengorbanannya saja, tetapi belajar bagaimana memilih cinta yang sungguh buat kebaikan berdua atau hanya menguntungkan satu pihak saja. Kita akan benar-benar belajar menentukan apakah cinta yang sedang kita jalani benar-benar yang terbaik ataukah selama ini kita hanya mempertahankannya tanpa ada pandangan ke depannya.

Jika Anda mulai ragu, maka "Letters to Juliet" adalah penawar bagi gejala kebingungan tersebut. Bagaimana kisahnya?


Film yang didistribusikan oleh Summit Entertainment ini dimulai dengan scene di mana Sophie Hall yang diperankan oleh Amanda Seyfried sedang menelepon orang-orang bernama Robert Beal. Dia adalah pemeriksa fakta yang sedang bertugas mencari saksi ciuman paling sensasional setelah Perang Dunia Kedua di Time Square, New York.

Sophie telah bertunangan dengan seorang chef bernama Victor yang diperankan oleh Gael Garcia Bernal. Sophia dan Victor sedang merencanakan liburan sebelum pernikahan ke Verona.

Namun, sebagai seorang chef yang akan membuka sebuah restoran di mana ia juga berarti seorang pebisnis, perjalanan yang dibayangkan sebagai pra-bulan madu itu pun sedikit berubah. Perjalanan dan daftar panjang Sophie mengunjungi beberapa tempat harus berubah dengan kesibukan Victor mengunjungi lelang anggur.

Hal itu sudah dimulai sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di Verona. Victor langsung mendapatkan telepon dari Signor Morini untuk mengunjungi kebun anggurnya dan mencicipi minuman anggur di sana. Ia juga mengunjungi tempat pembuatan keju yang semuanya tidak ada di jadwal. Setelah itu Victor juga hendak mengunjungi suatu tempat untuk melihat truffle.

Berantakan, bukan? Apa yang Anda lakukan jika menjadi Sophie ketika perjalanan romantis Anda berubah menjadi kesibukan yang hanya berpihak pada pasangan Anda sejak di hari pertama? Marah?

Namun, bukan itu yang dilakukan Sophie karena Sophie sudah sangat memahami Victor yang begitu tenggelam dalam dunia masak-memasaknya. Selain itu, alasan kenapa Sophie masih mempertahankan kisah cintanya dengan Victor yang dikenal luas oleh teman-teman Sophie sebagai orang yang sangat sibuk dengan hapenya itu adalah karena Victor selalu mendukung keinginannya menjadi seorang penulis. Victor beralasan bahwa Sophie harus melakukan hal yang sangat disenanginya.

Sejak awal menonton film ini, mungkin Anda akan langsung merasa bahwa Victor amat sangat menyebalkan karena penulis cerita dengan pandai dan tanpa berlebihan berhasil menunjukkan sosok Victor yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu mendukung win-win solution ketika Victor ingin melakukan suatu hal dan Sophie ingin melakukan hal lain yang berarti semakin memisahkan mereka berdua.

Namun, kehadiran Charlie Wyman yang diperankan oleh Christopher Egan akan langsung membuat Anda berasumsi peran apa yang dimainkannya dalam kisah cinta Sophie dan Victor.

Anda harus ingat bahwa cinta ini bukan kisah cinta mengerikan yang berakhir tragis dengan kebencian dan pengkhianatan. Film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sehat tidak harus dilanjutkan seberapa lama pun hubungan itu telah berlangsung.

Dalam Letters to Juliet mungkin Anda juga akan belajar tentang "witting tresno jalaran soko kulino" yang berarti cinta tumbuh dari kedekatan yang sering. Di sini, Sophie dan Charlie mempelajari arti cinta dari nenek Charlie yang bernama Claire Smith-Wyman yang diperankan oleh Vanessa Redgrave yang mencari cinta sejatinya Lorenzo Bartollini (Franco Nero) yang ia kenal saat ia masih berusia 15 tahun. Pencarian itu sendiri dimulai dari surat yang dikirim Sophie padanya.

Bagaimana awalnya Sophie bisa mengirim surat pada orang yang baru saja ditemuinya? Itu adalah detail yang harus Anda cari tahu sendiri.

Kisah pencarian Lorenzo itu pun dibuat tidak mudah, tetapi juga tidak sulit. Pencarian itu pun diawali dengan kisah unik ketika Charlie sangat tidak setuju jika pencarian tersebut harus dibersamai oleh Sophie, "Splendid. Fantastic," katanya dengan sarkastik.

Saya sangat senang dengan pencarian yang tidak hanya penuh dengan pencarian, tetapi juga percakapan saat mereka menginap di hotel dan berjalan-jalan sebelum mereka melanjutkan pencarian. Itu membuat semuanya menjadi alami dan tidak terlalu dipaksakan dan merupakan alur cerita yang berbeda tentang bertemu dan berpisahkan pasangan.

Ups, mungkin terlalu banyak spoiler di sini, tapi percayalah, itu hanya sebagian kecil yang bisa Anda nikmati dari semua ini. Lagipula, ada berapa Lorenzo Bartollini dan kisah apa yang disimpan oleh setiap Lorenzo Bartollini tersebut?

Bagaimana dengan konflik? Mereka menggunakan konflik kecil, tetapi cukup serius sehingga bisa diselesaikan dengan cepat tanpa ada luka yang berlarut-larut. Lagipula, ini adalah kisah cinta yang sederhana, jadi no drama needed.

Unsur kebetulan dalam cerita ini masih ada walau tidak merusak cerita. Itup un tidak dipaksakan dan bukan tidak perlu. Kebetulan ini malah menambah kealamian dan menjadi awal mula dari konflik yang membuat kedua tokoh kita bertengkar.

Seperti yang terjadi pada setiap pencarian, maka cinta pertama Claire itu pun ditemukan. Ia telah berubah dari seorang yang mencintai ladang menjadi pemilik ladang anggur terkenal di seluruh Eropa.

Bertemunya Claire dengan Lorenzo sendiri juga bukan karena mengikuti peta yang mereka bahwa, tetapi karena sebuah kebetulan alami ketika Claire ingin mampir ke tempat pembuatan anggur terkenal dalam perjalanan pulang mereka. That's it dan undangan pernikahan pun disebar.

Walaupun cerita setelah pernikahan Claire dan Lorenzo sudah bisa ditebak, tetapi keunikan dan keindahan kisah ini amat sangat menghibur mata, terutama dengan bangunan-bangunan indah Eropa. Selain itu, hal bahagia yang akan Anda saksikan bukan hanya tentang perayaan cinta saja. Lalu, apa yang dipelajari Sophie dan dikatakan pada Victor yang menjadi awal dari akhir film ini?

Yang bisa saya katakan adalah seluruh kisah dalam Letters to Juliet ini dirajut dengan cinta. Seluruh konflik, percakapan, kejadian, pertamuan, perjalanan dan sebagainya dirangkai seromantis mungkin dan dibuat tidak berat.

Ini adalah film romantis yang ringan dengan konflik dan plot twist yang lembut. Jika film ini adalah benda, mungkin ia adalah pohon di siang hari di mana Anda akan terlelap di bawahnya. Dan percayalah, walaupun terlihat demikian, kisah ini bukan tentang pengkhianatan.

Gambar diambil dari Cinematographe
0

Mengejar Sunrise ke Putuk Lesung Kaki Gunung Arjuna

Gunung Bromo sudah dikenal banyak orang sebagai tempat untuk menikmati matahari terbit yang eksotis. Sudah banyak orang, bahkan banyak keluarga yang melakukan liburan sekolah maupun akhir pekan ke Gunung Bromo. Namun, sebenarnya masih banyak gunung atau bukit lain yang bisa menjadi spot terbaik untuk menikmati sunrise.

Pernah mendengar Putuk Lesung? Putuk Lesung terletak di Purwodadi kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Putuk lesung sendiri merupakan sebuah bukit yang berada di kaki Gunung Arjuna. Hal ini dapat Anda lihat begitu Anda sampai di pos kedua, di mana jika Anda mengambil jalur ke kiri, maka Anda akan mengambil jalur ke Gunung Arjuna sedangkan untuk ke Putuk Lesung sendiri, Anda harus mengambil jalur ke kanan.

Tema travelling kali ini memang lebih dekat dengan istilah hiking karena Anda harus membawa peralatan yang lengkap untuk bisa menikmati sunrise. Walaupun hanya bukit, perjalanan ke puncak putuk lesung bisa dibilang cukup melelahkan. Putuk Lesung sangat sesuai bagi para hikers pemula atau bagi mereka yang ingin menjajal bagaimana rasanya naik gunung.

Kami (saya, suami dan teman-teman suami) mempersiapkan jauh-jauh hari atas ajakan seorang hiker (Bang Umar) yang memastikan keamanan mendaki kami. Selain mempersiapkan fisik, kami juga mempersiapkan peralatan untuk berkemah karena menurut Bang Umar, kami akan berangkat malam hari. Yang bener aja menginap di bukit dingin malam hari nggak bikin tenda, kan?

Beberapa hari sebelum berangkat, ternyata Bang Umar membawa teman yang juga hiker ikut untuk menemani saya yang perempuan. Barang yang akan disewa antara lain: tenda, sleeping bag, tas carrier dan perlengkapan memasak. Kami membawa 3 carrier yang diangkut bergantian. Kami juga membawa bahan-bahan masakan, sendok, kertas bungkus (sebagai pengganti piring) baju ganti, senter, tisu basah dan kering serta air yang dimasukkan ke dalam carrier. Jangan lupa membawa plastik sampah besar. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab dengan sampahnya yaa.

Jadilah kami bersembilan berangkat sore hari dan sampai pukul 7 malam lebih di rumah warga yang sering dipakai parkir. Di situ, kami makan malam di warung warga tersebut dan menitipkan sepeda motor kami. Sebenarnya, sepeda motor bisa dititipkan di pos perizinan yang masih berada di depan. Namun, karena medan cukup curam dengan bebatuan yang cukup besar, pilihan itu tidak disarankan oleh Bang Umar. Kasihan motornya katanya walaupun ada beberapa rombongan pendaki yang menitipkan sepeda mereka di sana.

Kami mulai pendakian pukul 8 malam lewat. Jalur pertama menuju pos perizinan amat menghancurkan semangat, terutama karena saya belum pernah mendaki gunung.

Awalnya, jalan masih lurus sekitar 30 m, lalu langsung menanjak dengan kemiringan sekitar 25-35 derajat. Saya tidak menghitung berapa jaraknya karena jalannya terus menanjak dan baru sebentar lurus langsung menanjak dengan kemiringan yang cukup curam. Namun, melihat teman-teman saya yang semangat maka saya pun tidak boleh menyerah.

Bahkan saking semangatnya, salah satu teman kami yang bernama Gilang Ijonk mengatakan, "ah, ini enteng." Dengan semangat itu, dia menjadi berada agak jauh di depan kami. Itu membuat semangat kami semakin terpacu. Namun, tiba-tiba dia kesleo. Dia mengatakan tidak sengaja menginjak batu besar yang sebelumnya berada di sisi yang lain.

Tip 1:
Jangan meremehkan gunung atau apapun. Setiap tempat memiliki penunggu. Jika penunggu tersinggung, maka mereka akan "usil."

Karena kejadian itu, Gilang berjalan di belakang dan terus melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pos perizinan, kami melepas semua jaket, kecuali Bang Umar dan beberapa teman lainnya yang cukup sering menanjak karena dari awal mereka tidak memakai jaket. Di malam yang dingin itu, keringat kami bercucuran deras.

Tip 2:
Jangan memakai jaket saat menanjak jika tidak ingin dehidrasi. Pakai jaket saat sudah sampai di tempat dan tenda telah didirikan.

Setelah melakukan perizinan, kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Dari pos 1 jaraknya tidak terlalu jauh dari pos perizinan, tetapi hanya melelahkan. Walaupun jalan yang kami lalui tidak securam sebelumnya (sekitar 15-25 derajat), tapi jalanan terus menanjak dan terjal. Bebatuan sebesar genggaman tangan hingga kepala manusia sering kami gunakan sebagai pijakan agar tidak terperosok. Di sepanjang jalan, kami juga sering beristirahat di batu besar.

Sekitar 30 menit, kami sampai di pos 1. Di pos 1 ada kamar mandi yang cukup luas dan sumber air. Ada juga gua yang ditutup kelambu. Pendaki dilarang masuk tanpa juru kuncinya.

Perjalanan menuju pos 2 dari pos 1 sekitar 2 kali lipat jauhnya dibanding dengan perjalanan menuju pos 1 dari pos perizinan. Namun, jika sudah sampai pos 2 maka lokasi perkemahan sudah sangat dekat.

Karena saya perempuan dan belum pernah mendaki, saya sering berhenti untuk beristirahat. Hal ini membuat Bang Umar memutuskan untuk mendahului karena menurut penjaga pos perizinan, Putuk Lesung penuh karena jalan menuju Gunung Arjuna ditutup. Dikhawatirkan jika terlambat sampai, tempat perkemahan sudah penuh sehingga tidak ada tempat yang tersisa untuk kami. Bang Umar pun berangkat membawa carrier berisi perlengkapan mendirikan tenda ditemani dengan Tomex. Dengan kondisinya yang terlihat masih fit dan penuh semangat, ia dipilih untuk menemani Bang Umar yang juga masih dalam keadaan fisik yang prima.

Akhirnya, kami didampingi oleh teman perempuan Bang Umar yang juga seorang pendaki. Walaupun demikian, kami masih bersama seorang porter (Satria) yang juga cukup sering naik gunung. Dia yang membawakan barang bawaan saya dan suami karena saya lelah, sedangkan suami kakinya terkilir waktu itu, walaupun dia sendiri sudah bawa carrier. Dia juga teman dari kecil suamiku, jadi tidak apa-apalah walaupun saya merasa sangat berdosa.

Tip 3:
Jangan berhenti terlalu lama agar tidak cepat lelah. Berhentilah hanya untuk mengambil napas sebentar. Ketika berhenti, jangan menekuk lutut yang sudah kelelahan. Ini yang selalu digaungkan oleh Indrat yang pernah mengalami kaku lutut hingga tidak bisa berdiri karena menekuk lutut yang terlalu lelah.

Sesampainya di pos 2, kami berhenti agak lama karena di pos 2 terdapat warung. Kami duduk dan minum teh hangat manis dan melanjutkan perjalanan.

Tip 4:
Mengonsumsi minuman manis cukup penting, terutama bagi pemula, untuk mendapatkan asupan tenaga secara langsung. Masih ingat kan, kalau makanan dan minuman manis akan cepat memberikan tenaga?

Perjalanan dari pos 2 ke lokasi tidak terlalu susah. Jalur sudah jarang mendaki, malah mulai turun dan datar. Namun, jalanan mulai menakutkan karena tepat di sebelah jalan yang biasa dilalui adalah jurang. Selain itu, jalannya mulai menyempit dan hanya bisa dilalui 1 orang.

Sesampainya di atas, 2 tenda sudah berdiri. Kami melepas lelah sambil melihat Bang Umar dan Tomex memasang tenda dibantu dengan teman-teman lain yang juga baru datang.

Saya langsung rebahan karena terlalu lelah. Padahal, jika sesuai rencana, saya dan suami harusnya makan malam lagi.

Tip 5:
Gantilah baju sebelum tidur. Karena baju yang basah terkena keringat bisa membuat tubuh semakin dingin.

Di sana udara mulai dingin. Jaket kami kenakan dan saya tidur dalam sleeping bag. Beberapa teman di luar bercengkerama sambil memasak mie dan memakan camilan yang kami bawa.

Kemudian, mentari pun terbit.


Dari kiri ke kanan (Saya, Gilang Ijonk, Tomex, Indrat, Suami, Satria)


Dari kiri ke kanan (Saya, Raja Tadubi, Tomex, Indrat, Satria, Suami)


Dan inilah laki-laki keren yang bernama Bang Umar. Dengan tubuhnya itu, dia mendaki dengan membawa carrier yang tidak digilir ke siapapun sambil merokok ketika saya mulai ngos-ngosan. Teman perempuan Bang Umar tidak ikut berfoto karena belum bangun. Ketika sudah bangun, kami sudah mulai masak untuk sarapan dan bergegas turun.
Sekedar info, Raja Tadubi adalah chef kami di sini. Dia bertanggung jawab pada produksi makanan untuk sarapan dibantu dengan beberapa teman lainnya, termasuk saya. Sementara lainnya membereskan isi tenda agar "penghancuran" tenda berjalan lancar dan cepat.

Tip 6:
Kalau bisa, jangan memakai pakaian hitam ketika mendaki di siang hari. Panas euy. Jangan lupa bawa kacamata hitam. Selain terlihat keren, kacamata bisa sangat melindungi mata dari terik matahari di siang hari.

Walaupun hanya numpang tidur di Putuk Lesung, pengalaman ini cukup unik bagi kami. Selain bisa hiking dan masak bersama, naik gunung adalah hal yang berbeda daripada hanya melakukan wisata kuliner atau ngopi. Sekali-kali, kumpul bersama dengan suasana baru itu memang dibutuhkan.

Satu lagi hal yang penting: jangan lupa bawa tali! Seremeh apapun, kadang tali itu dibutuhkan.
0

Istri yang Terlalu Sempurna Dalam Gone Girl

Siapa yang tidak menginginkan pasangan yang sempurna? Semua akan mendambakan pasangan yang sempurna yang katanya dapat membuat kehidupan berumah tangga bahagia. Namun, bukan itu yang dialami Nick Dunne (Ben Affleck) dalam film "Gone Girl."


Ini merupakan sebuah film yang akan membuat orang sangat menyukainya atau sangat membencinya. Hal ini karena sutradara David Fincher sukses mendapatkan perhatian penonton baik dari segi logika maupun perasaan. Alur cerita yang mampu mengaduk kedua hal dominan tersebut diangkat dari novel best seller tahun 2012 karangan Gillian Flynn.

"Gone Girl" dapat dikatakan sebagai film misteri atau drama ironis di mana seseorang yang mendambakan pernikahan indah malah mendapatkan sebaliknya karena pasangannya yang "sempurna."

Nick bertemu dengan istrinya Amy Eliot-Dunne (Rosamund Pike) di sebuah pesta. Hubungan mereka pun berlanjut dari sana ketika Nick mulai melakukan hal-hal romantis pada Amy. Namun, beberapa tahun kemudian, Amy menghilang. Hal ini diketahui tepat setelah tetangga Nick melihat keanehan di rumahnya dan segera menghubunginya. Nick yang baru masuk ke dalam rumah mendapati semua baik-baik saja hingga ia melihat meja di ruang tamunya terbalik. Ia segera menghubungi polisi dan investigasi pun dilakukan.

Ketika sampai di sini, apa yang mungkin Anda pikirkan? Penculikan? Pembunuhan? Ya, bisa dipastikan karena tim penyelidik menemukan ada banyak bekas darah di dapur dan tongkat pemukul yang ada di perapian. Jadi, bisa dipastikan Amy dibunuh.

Lalu, di mana mayat Amy dibuang dan siapa pelakunya?

Dari sini, Anda pasti sangat ingin tahu kelanjutannya karena film ini memang berisi plot twist, yang menurut saya sangat mengesalkan.

Sebelum dilanjutkan, Anda perlu tahu bahwa Amy adalah sosok anak gemilang. Di masa kecilnya, ia sudah berhasil menerbitkan banyak buku best seller yang menjadi inspirasi banyak anak di Amerika. Keluarganya adalah keluarga cukup kaya hingga mampu membeli hotline dengan 2 baris nomor di belakang berbunyi: AMY-TIPS dan sebuah website yang ditujukan untuk membantu dalam pencarian Amy. Tidak ada yang tidak mengenalnya, hingga si detektif sendiri pun tahu. Hingga dalam investigasinya, detektif Rhonda Boney (Kim Dickens) bertanya, "apa yang dilakukan seseorang dengan banyak gelar seperti itu?" Nick menjawab bahwa Amy sibuk di ruang kerja di rumahnya.

Untuk menambah rasa penasaran, Amy menyimpan sebuah diary di ruang kerjanya yang ditemukan oleh tim penyelidik. Buku diary itu ternyata berisi petunjuk bagi polisi yang memberatkan Nick. Dalam diary, Amy menegaskan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Ia menikmati hari-hari yang berlalu selama pernikahannya. Kemudian, beberapa waktu kemudian tertulis bahwa pernikahannya sangat berantakan. Dalam Diary tertulis bahwa Nick adalah seorang pemalas dan kasar. Nick sering memaksanya melakukan hubungan seks, melakukan KDRT dan menolak untuk memiliki anak. Di sana juga tertulis bahwa keuangan mereka pun berantakan. Nick tidak bisa mengontrol belanja dan terus membeli untuk kebahagiaannya, seperti laptop dan video game.

Apa yang terjadi pada akhirnya? Silahkan Anda tonton sendiri.

Jika Anda sudah pernah membaca novel karya Gillian Flynn itu, Anda pasti tidak akan kecewa jika menonton film ini lagi. Dalam novel, Anda akan melihat plot twist yang luar bisa. Namun, di sini Anda akan langsung diberi tahu penjahat yang sesungguhnya. Pada awalnya, Anda mungkin akan kecewa. Namun, David akan terus menarik Anda pada rasa gemas pada pelaku tersebut hingga mengetahui siapa pelakunya tidak lagi jadi persoalan. Jika Anda adalah penikmat baru, selamat datang dan selamat menikmati perasaan mual yang mengaduk-aduk di kepala, ulu hati dan mungkin juga perut. Ini bukan film thriller dan tidak ada visual yang mengganggu.

"Gone Girl" tidak seperti film detektif pada umumnya. Memang lebih dekat dengan kisah drama, tetapi sama sekali tidak klise. Menurut saya, ini drama gaya baru yang perlu dicontoh oleh pertelevisian Indonesia. Mengandung unsur kriminal, kecerdasan, dan tidak melulu soal cinta yang tidak direstui seperti Romeo and Julie. Well, ini sudah lewat tahun milenium, saatnya drama bangkit dan berkembang lebih baik.

Perihal filmografi dan sebagainya, film ini sudah sangat baik. Bisa saya katakan tidak ada yang cacat. Jika Anda kenal Rosamund Pike dari film "Pride and Prejudice" Anda mungkin tidak akan melihat karakter dominan kakak Lizzie itu. Semua pemain memerankan karakter dengan sangat baik. Anda akan dibikin sibuk dengan kejadian demi kejadian yang akan Anda saksikan dalam drama "pembunuhan" itu.

"Gone Girl" amat sangat saya sukai dan juga amat sangat saya benci. Anda mungkin akan tahu kenapa bisa demikian setelah menonton film ini sendiri. Sebelum menonton, mungkin Anda perlu menyiapkan boneka atau bantal untuk diremas-remas karena film ini memang seperti itu.

Selamat menonton.

Gambar diambil dari Slash Film
0

Ranu Bedali - Danau Indah yang Mengandung Misteri

Ranu Bedali adalah salah satu ranu yang ada di Lumajang. Danau ini juga merupakan salah satu danau dari segitiga danau di Lumajang, yaitu Ranu Klakah, Ranu Pakis dan Ranu Bedali. Berbeda dari kedua danau lainnya, Ranu Bedali terletak jauh di bawah dataran di sekitarnya.

Jika liburan hari Minggu nanti belum ada rencana atau tempat tujuan, mungkin Ranu Bedali kabupaten Lumajang Jawa Timur bisa dijadikan pilihan.


Waktu itu, saya dan suami berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu danau setelah 20 tahun lebih saya tinggal di Klakah. Saya sering berkeliaran ke Ranu Klakah dan Ranu Pakis, tetapi belum pernah sekali pun ke Ranu Bedali. Pengalaman kami ke danau itu ya baru beberapa hari lalu, tepatnya hari Minggu 30 September. Hal ini juga karena suami saya adalah orang Sidoarjo.

Kalau Anda bepergian dari arah Probolinggo, Anda tinggal mencari Indomaret Ranuyoso dan di dekat situ ada belokan ke kiri. Anda tinggal mengikuti jalan hingga sampai di danau itu.

Namun, karena saya tinggal di Klakah, maka saya hanya perlu lewat Ranu Klakah dan meneruskan perjalanan ke utara hingga sampai di Ranu Bedali.

Waktu itu, saya berangkat sekitar pukul 6 lebih. Sehingga saya sampai di lokasi sebelum penjaga loket datang. Ini membuat saya tidak ditarik tiket masuk. Tiket masuknya cukup murah, yaitu Rp5.000,- dan ongkos parkir sepeda motor sebesar Rp2.000,- saja.

Walaupun di hari Minggu, suasananya masih terbilang sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang saja ketika saya sudah naik lagi dari danau. Sementara ketika saya turun, masih belum ada yang datang. Bahkan, warung-warung dan pedagang kaki lima juga masih belum terlihat. Menurut pedagang kaki lima yang saya temui, Ranu Bedali menjadi sangat ramai ketika hari libur Idul Fitri dan Tahun Baru.

Tujuan kami waktu itu adalah mengunjungi air terjun yang, menurut tante saya, cukup indah. Ketika turun, kami melihat petunjuk untuk ke kiri atau ke kanan. Jika ke kanan, saya akan menuju ke kolam renang alami dan rumah kayu. Sedangkan untuk ke air terjun, saya harus turun melalui jalur kiri.

Jika Anda ingin ke air terjun, saya sarankan untuk memakai sepatu atau alas kaki yang sesuai untuk mendaki gunung. Hal ini karena medan ke bawah cukup licin dan ada beberapa jalan yang berbatu. Pembangunan yang kurang maksimal juga menjadi salah satu penyebabnya.

Sepanjang menuju lokasi, Anda akan merasa tengah berjalan di tengah hutan. Jika ingin melalui jalur yang cukup rindang, jalur kanan bisa dipilih walaupun perjalanan menuju ke air terjun menjadi cukup jauh.

Berikut ini adalah beberapa foto medan yang harus ditempuh.


Ini adalah jalur setelah melewati medan berbatu yang cukup curam. Namun, jalur berbatu itu cukup aman karena dibentuk berundak.


Ini adalah sebagian penampakan Ranu Bedali yang berarti lokasi air terjun sudah sangat dekat.

Setelah melalui medan yang cukup sulit, akhirnya kami pun sampai di lokasi air terjun. Air terjun tersebut ternyata mengalir langsung ke Ranu Bedali. Di Minggu pagi itu, tidak ada satu orang pun yang terlihat menuju air terjun. Hanya ada beberapa orang yang duduk memancing di tepian danau.

Air yang mengalir dari air terjun sangat jernih. Sehingga cukup aman dikonsumsi. Sedangkan penampakan air terjunnya sangatlah rindang karena penuh dengan pepohonan dan tanaman rambat yang rimbun. Sehingga tidak perlu mengkhawatirkan cuaca yang panas di siang hari walaupun cuaca yang panas masih akan menjadi masalah ketika sudah keluar dari lokasi air terjun.

Selain itu, bentuk air terjun itu sendiri sangatlah unik. Selain dipenuhi oleh bebatuan yang membantu menyaring air, bentuk aliran air terjun itu sendiri sangat unik, yaitu berundak-undak. Jika percikan air langsung dari tepi tebing terlalu kuat, Anda masih bisa menikmati air terjun dari undakan yang kesekian. Selain tidak terlalu basah, Anda bisa menikmati gagahnya tebing yang mengucurkan air jernih itu dengan lebih leluasa.

Di bawah ini adalah gambar saya berdiri di undakan terakhir, yang berarti undakan yang sangat dekat dengan air terjun.


Sayangnya di sekitar air terjun terdapat cukup banyak sampah seperti shampoo sachet, bungkus permen dan air minum. Tanpa adanya hal itu, air terjun ini pasti akan lebih indah lagi.

Setelah dari air terjun, kami kembali ke atas dan segera mencari warung di dalam area Ranu Bedali. Perjalanan kami kembali kami lakukan dengan susah payah. Karena selain jalan yang menanjak, sinar matahari sudah mulai memanas. Untungnya pada waktu kami sampai di atas, sudah ada beberapa warung yang buka. Warung yang berada di sisi kiri menjadi pilihan kami dan di situlah cerita tentang misteri di Ranu Bedali kami dapatkan.

Menurut pemilik warung itu, misteri tersebut datang dari sebuah pohon besar menuju air terjun yang dapat ditemui di jalur kanan. Karena kami mengambil jalur kiri, kami tidak menemukannya.

Seseorang yang memiliki indra keenam pernah bercerita pada pemilik warung tersebut bahwa ada seorang perempuan bernama Indrowati yang bertapa di bawah pohon besar itu. Karena memiliki kemampuan itu, orang tersebut pernah dipersilahkan untuk memasuki kerajaannya oleh sosok ular besar yang memakai mahkota.

Karena hal ini, setiap kali melewati pohon yang amat besar, siapapun tidak diperkenankan untuk meludah, membuang sampah atau melakukan hal kotor di sekitar pohon itu; dan mungkin untuk alasan inilah kaki saya kemudian secara misterius berdarah, bukan di telapak kaki melainkan di sisi kanan. Luka itu langsung menutup begitu saya mencelupkan kaki yang berdarah itu ke air. Luka itu hilang tanpa bekas, seolah kaki itu tidak pernah terluka.

Hal yang sama ternyata juga terjadi pada tante saya yang lebih dulu ke sana. Waktu itu tante dan ponakan saya tiba-tiba merasakan gatal yang luar biasa di punggung. Secara misterius rasa gatal itu hilang setelah tante dan ponakan saya meminum air dari air terjun langsung. Entah dari mana tante saja mendapatkan ide untuk meminum air itu. Namun, seperti saya, itu adalah tindakan spontan. Seperti alam bawah sadar kami mendapatkan wahyu atau dibisiki sesuatu.

Sudah selesai dengan hal misteriusnya, kita kembali ke warung tadi.

Harga makanan dan minuman yang dijual di warung tersebut terbilang sangat terjangkau. Tidak terlalu jauh dari harga Ind*maret dan Alf*mart. Jadi, bisa dibilang tidak perlu dirisaukan.

Makan siang bisa dibeli di warung-warung yang ada di lokasi dan bisa juga pergi langsung ke Ranu Klakah yang tidak terlalu jauh dari tempat untuk menikmati berbagai menu ikan yang sebagian besar berupa penyetan.

Itulah catatan yang bisa diungkapkan pada tulisan kali ini. Destinasi ini dijamin tidak akan mengecewakan. Apalagi jika Anda mengambil jalur kanan di mana Anda akan melewati kolam dengan air alami dan pohon kayu.

Happy travelling ^^
0

Dua Penulis dan Takdir Mereka Dalam The Words

"The Words" adalah film yang ditulis dan disutradarai oleh Brian Klugman dan Lee Sternthal. Film yang menurut saya menarik ini tergolong "under-rated" karena kritikus film menganggap penutup filmnya kurang menarik. Walaupun saya berpendapat sama, saya beranggapan bahwa film ini layak untuk mendapatkan apresiasi lebih atas pembawaannya dari awal hingga akhir.

Jika dilihat dari segi judul, film "The Words" memang tidak berarti apa-apa selain kata-kata. Anda mungkin akan berpikir, apa yang bisa diceritakan dari sebuah film dengan judul "kata-kata" itu. Apakah ini adalah sebuah film filosofis? Bukan.

Film ini menceritakan tentang rangkaian kata-kata yang dapat Anda resapi maknanya secara lebih mendalam begitu Anda berhasil meluangkan waktu menikmati film ini.



Kisahnya dimulai dengan seorang penulis bernama Clayton Hammond (Dennis Quaid) yang baru saja meluncurkan sebuah novel berjudul "The Words" menghadiri sebuah Public Reading. Di sana, ia berdiri di atas podium untuk membacakan beberapa bab dari novelnya.

Di bab pertama, ia menceritakan tokoh utamanya yang bernama Rory Jansen (Bradley Cooper). Tokoh utamanya adalah seorang penulis baru dan muda yang langsung terkenal karena novel pertamanya yang berjudul "Window Tear." Namanya begitu terkenal hingga seorang pria tua hampir selalu menghadiri sebuah acara penghargaan yang dihadiri Rory walaupun pak tua itu tidak ikut masuk. Namun, ia selalu ada di sana, menunggu di depan pintu. 

Bab itu selanjutnya menceritakan awal kisah Rory yang bisa langsung terkenal dengan novel pertamanya. Ia dan kekasihnya, Dora (Zoe Saldana), akan segera menikah. Namun, Rory masih belum memiliki penghasilan yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Tulisannya kerap kali ditolak penerbit dengan alasan bahwa tulisannya terlalu berat dan tidak memiliki tempat di hati konsumen. Ia mulai putus asa.

Dalam keputusasaannya itu, mereka tetap menjalani bulan madu di Paris dan singgah ke beberapa tempat, termasuk sebuah toko antik. Di sana, Dora membelikannya sebuah tas kantor. Dari situlah semua dimulai.

Begitu sampai di New York, tidak ada yang menyangka bahwa tas antik tersebut berisi sebuah manuskrip novel. Ia pun membaca tumpukan kertas itu halaman demi halaman.

Dengan segala keputusasaan bekerja di sebuah percetakan besar tanpa bisa menjadi seorang penulis, ia menyalin seluruh manuskrip itu sesuai dengan isinya. Ia tidak membetulkan ejaan maupun tata bahasa yang salah. Ia menulis sesuai dengan yang tertera di atas lembaran-lembaran kertas itu. Ia pun tidak peduli lagi bahwa itu bukanlah karyanya. Yang ia tahu hanyalah bahwa karya itu tidak bernama dan juga tidak bertuan. Beberapa lama setelah tulisan itu dikirim, ia mendapatkan panggilan bahwa naskahnya diterima dan ia bersedia menandatangani kontrak kerja sama.

Itu adalah kisah awal Rory menjadi seorang penulis terkenal dan kisah yang kemudian membuka pertemuannya dengan Pak Tua. Itu juga menjadi akhir dari bab pertama novel itu. Pembacaan bab kedua tidak akan saya ceritakan di sini karena itu adalah isi yang menjadi inti cerita The Words.

Clayton pun beristirahat dan seorang mahasiswi bernama Daniella (Olivia Wilde) ingin bertanya lebih jauh tentang novel itu. Setelah selesai membacakan bab kedua di atas podium, Clayton mengundan Daniella untuk mampir ke apartemennya. 

Daniella mendesak agar Clayton menceritakan apa yang terjadi dengan mereka berdua hingga akhir. Setelah keinginannya dipenuhi, Daniella tidak puas dengan akhir yang disajikan. Kemudian, Clayton mengatakan, "bagaimana kalau kisah itu benar-benar terjadi?"

Dari poin ini, saya sebagai penikmat semakin yakin bahwa tokoh Rory adalah sosok fiksi dari Clayton. Terlebih jika dihubungkan dengan permintaan Pak Tua bernama Ben Barnes (Jemery Irons) pada Rory yang disampaikan Clayton di bab kedua bukunya. Namun, kemungkinan sebaliknya juga pasti ada. Akhirnya, penilaian tentang dari mana Clayton mendapatkan inspirasi untuk membuat novel itu berada di tangan Anda sendiri.

Overall, "The Words" disajikan dengan sangat baik dari awal hingga akhir. Namun, saya tidak ingin menyangkal bahwa pendapat kritikus, yang mengatakan bahwa konklusi film ini buruk, ada benarnya juga. Walaupun demikian, saya masih ingin memberikan apresiasi atas yang sudah dilakukan oleh kedua penulis sekaligus sutradara itu pada awal hingga akhir film ini.

Selain itu, walaupun Anda pasti sudah bisa menebak dengan benar siapa sebenarnya Pak Tua itu, "The Words" menceritakan lebih daripada sekadar plagiarisme terbesar dan tersukses dalam sejarah manusia. Film ini menceritakan sebuah kisah cinta dan pengorbanan yang disesali dari seorang Ben. Jika Anda percaya pada teori bahwa Clayton adalah Rory, maka Anda juga mungkin akan berasumsi kisah cinta keduanya bisa saja sama dengan kisah cinta Ben.

Saya tidak ingin berkata terlalu banyak untuk film ini. Menurut saya, "The Words" layak untuk mendapatkan at least 8 out of 10. Satu-satunya kesalahan dan kekurangan yang bisa saya amati hanya ada pada konklusi film ini. Sedangkan seluruh tokoh, latar dan jalan cerita dibangun dengan sangat baik. Anda juga akan belajar beberapa hal tentang menjalani rumah tangga dari film ini.

Saya sangat merekomendasikan film ini jika Anda ingin menonton sebuah film bertema cinta yang tidak monoton. 

That's all for now.


Gambar diambil dari Panthertrack
0

Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom? [Review]

Ketika melihat film ini, saya langsung teringat dengan perdebatan kau Bumi Bulat dan Bumi datar. Bagaimana tidak, hal yang ditawarkan dalam film ini sama: Kembang api itu datar atau bulat?

Adalah Firework, Should We See It from the Side or the Bottom? sebuah drama yang pada tahun 2017 telah diadaptasi menjadi sebuah anime movie berjudul sama. Untuk versi awalnya sendiri, maka lebih dikenal dengan Fireworks 1993, karena film tersebut memang dirilis pada tahun segitu.
Judul dari film itu sendiri diambil dari konflik utama perdebatan para siswa yang penasaran dengan bentuk kembang api: bulat atau datar? Hal ini membuat saya tertawa karena tentu saja isu tentang bumi itu bulat atau datar bisa kembali menyeruak.

Karena ini film lama,  saya akan menyebarkan banyak spoiler di sini. Spoiler yang sekiranya tetap bisa membuat kalian menikmati jalan cerita Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?
3

AJIN: Demi-Human [Review]

Begitu selesai menonton film ini, saya langsung ingin segera mereviewnya dan mengatakan kepada orang-orang bahwa ini adalah film Jepang yang layak mereka tonton!

Film itu adalah AJIN: Demi Human (Bukan Demi Tuhan).

Menceritakan tentang seorang koas yang mengalami kecelakaan dan mendadak hidupnya berubah ketika dirinya diketahui sebagai AJIN. AJIN sendiri konon adalah evolusi dari manusia. Mereka tidak bisa mati. Dan bisa tumbuh walau bagian tubuh berserakan.
1

Soal Selera dan Pengembangan Karya

Kemarin saya membongkar lagi tulisan-tulisan lama. Tujuannya untuk diisikan ke akun wattpad saya karena saat itu saya hendak mencoba mengaktifkan akun tersebut.

Otomatis, sebelum memostingnya, saya membaca tulisan-tulisan tersebut untuk memastikan tulisan mana yang baiknya saya posting dan baiknya saya revisi untuk kemudian saya kirim ke media. Saya tertawa sendiri. betapa tulisan-tulisan itu membuat geli.

Bukan. Tentu saja bukan  karena tulisan itu jelek atau bagaimana.


Saya tertawa membaca tulisan saya sendiri karena memang selera saya saat ini sudah berubah dibandingkan selera saya yang dahulu. Bagaimanapun juga, saya pernah menanggap tulisan itu sangat bagus dan sesuai dengan apa yang saya mau. Jika kemudian—dalam selang waktu yang lama—saya menertawakan tulisan saya sendiri, itu hanya karena selera saya sudah berubah. Saya yang sekarang, lebih suka tulisan dengan bobot narasi lebih banyak dibandingkan dialog. Lebih suka tulisan dengan detail seperlunya dan lebih fokus pada jalan cerita. Saya lebih suka membaca cerita yang mengalir padat dibandingkan cerita yang sibuk dengan dialog dan detail tak perlu untuk melebarkan cerita.
3

Ant-Man And The Wasp [Review]

//jujur saja, saya tertidur ketika menonton film ini.



Kali ini saya akan mereview film (yang semoga saja tidak terlalu telat karena saya baru sempat memposting tulisan ini) Ant-Man and The Wasp.

Banyak yang berspekulasi bahwa fim ini akan ada kaitan erat dengan film Avenger: Infinity War. Dan juga akan menjawab beberapa pertanyaan yang masih mengambang dari film tersebut. Salah satunya adalah pertanyaan tentang para superhero yang tidak turut serta dalam even Avengers: Infinity War.

Seperti pendahulunya, Ant-Man akan menyuguhkan petualangan ajaib tentang superhero yang bisa mengubah ukuran tubuhnya.
0

Polemik Aturan Tenaga Kerja

Salah satu hal paling bodoh yang pernah diukir oleh pemerintah negeri ini dan tak bisa diobati sampai saat ini juga oleh para penerusnya adalah penetapan sistem outsourcing. Bagaimana tidak? Sistem ini membuat masyarakat seperti budak di negerinya sendiri. Sebagian besar lapisan masyarakat yang menggenatungkan hidupnya dengan menjadi buruh pabrik mendadak seperti budak di negerinya sendiri karena aturan bodoh yang dibuat oleh pemimpin mereka sendiri. Aturan ini justru menguntungkan para pembesar—yang malangnya, justru lebih banyak diisi oleh turunan orang asing. Sedangkan turunan murni? Lebih banyak jatuh menjadi buruh yang mana merasa tak memadai untuk membuka usahanya sendiri.

Tak ayal, hal inilah yang kemudian menyulut para tenaga kerja untuk turun ke jalan, bersuara, dan beraspirasi. Berjuang serta berharap suara mereka didengarkan. Namun apa yang terjadi? Aturan itu tetap berdiri tegak. Dan para budak di negeri sendiri ini tetap akan diperah tenaganya tanpa adanya penghormatan atas jasanya. Seolah para budak inilah yang hidup membutuhkan mereka para pembesar.

Lantas, apalagi yang bisa diharapkan dari para penerus ketika mereka besar dan mereka dihadapkan kepada kenyataan bahwa kelas menengah ke bawah hanya pantas menjadi buruh di negerinya sendiri? mereka masuk ke sebuah perusahaan, dikontrak hanya beberapa bulan, kemudian serta merta bisa dikeluarkan bila dianggap melanggar aturan. Pun ketika kontrak habis, perusahaan belum tentu bersedia untuk memperpanjang kontrak mereka.
0

OLEH-OLEH MEDAN LAGA


Blog ini berdebu, tetapi karena suatu hal, maka saya harus mengisinya...

Sembari menunggu formulir update hari ini selesai dicetak, maka saya memutuskan untuk menulis hal lain. Lagi pula, semalam, oleh-oleh begadang, saya sudah mengumpulkan kata hingga sembilanratusan banyaknya. Tentu itu sesuatu yang sangat menyenangkan, mengingat memiliki selisih yang teramat jauh dari juara akan membuat saya merasa tak nyaman. Gelisah, begitu saya menyebutnya.

Cukup lama saya menunggu—cukuplah untuk menambah kata rangkaian saya sampai lima ratus biji—akhirnya formulir laporan selesai juga dicetk. Jangan tanyakan bentuknya, biasa saja. Kotak dan tak bisa kau sentuh. Kau hanya bisa melihat deretan huruf dan angka di sana—sebagaimana formulir pada umumnya. Dan jika kau memperhatikan hal ini, maka kau benar-benar pelahap waktu yang luar biasa. Seharusnya kau bisa menggunakan waktumu untuk melakukan hal yang lebih berguna dibandingkan hanya untuk memperhatikan sesuatu yang menurutmu akan membuatmu mendapatkan sesuatu, tetapi ternyata tidak.

Singkat cerita, dalam formulir itu menyatakan bahwa fase terakhir atau disebut fase spesial ini harus diisi dengan pesan dan kesan selama mengikuti medan laga tersebut. Medan laga apakah itu? Itu adalah: Medan Laga Senior Writing Challenge.
0

Pizza Combi Sensasi Menyantap Pizza Molor


Pizza Combi menyediakan menu pizza yang sarat akan keju dan topping yang bervariasi, cocok untuk Anda yang ingin mencoba pizza yang berbeda daripada biasanya.

Kesempatan menyantap pizza di Pizza Combi sebenarnya datang beberapa minggu lalu, tapi baru kali ini saya mengulasnya. Saya mengunjungi Pizza Combi yang ada di Surabaya, tepatnya di Jalan Bratang Jaya no.51, Barata Jaya, Gubeng. Tempat makan itu cukup luas dengan plang bertuliskan "Pizza Combi" yang cukup besar. Hal itu memudahkan orang yang baru pertama kali pergi ke sana untuk menemukannya.

Pertama kali saya ke sana, saya mengamati bahwa Pizza Combi adalah tempat yang cocok untuk hampir semua kalangan. Di sana saya melihat pemuda-pemudi, keluarga dengan anak-anak yang masih kecil dan beberapa orang yang datang dengan teman-teman mereka. Jadi, bisa dikatakan bahwa tempat itu adalah tempat yang bisa dikunjungi untuk menikmati pizza sambil berbincang ringan. Singkatnya, Pizza Combi adalah tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk hangout bersama teman maupun keluarga.

Di sana, di sediakan dua tempat untuk makan. Satu tempat di dalam ruangan dengan paparan AC, beberapa jenis tempat duduk termasuk sofa, tempat duduk untuk dua orang dan tempat untuk dua dan tiga orang. Tempat makan juga disediakan di teras dengan atap yang kokoh sehingga Anda tidak perlu khawatir ketika hujan. Namun, di teras tidak disediakan sofa.

Saat itu, saya datang pada hari biasa pada malam hari sehingga banyak tempat duduk yang kosong. Di dalam, saya langsung melihat dapur yang hanya diberi sekat tembok dan kaca yang cukup rendah sehingga saya bisa melihat dengan leluasa apa saja yang dilakukan koki di dapur.

Saat itu saya dan teman saya memilih menu Hawaian Combi Pizza, roti tebal dengan diameter 30 cm seharga Rp55.000,-. Awalnya teman saya ragu untuk memilih menu itu karena ada nanas yang disebutkan di antara topping smoked beef, sosis, bawang bombai, jamur bottom dan tentunya keju Mozarella. Namun, karena rasa ingin tahu, kami tidak mengganti pilihan menu pizza kami.

Untuk minuman, Pizza Combi menyediakan dua jenis minuman, yaitu panas dan dingin. Tidak terlalu banyak pilihan yang disediakan untuk jenis minuman panas, yang antara lain hanya ada kopi, teh dan coklat panas. Bagi Anda yang ingin minuman sehat, Pizza Combi juga menyediakan beberapa menu yang bisa dipilih berupa smoothies. Saat itu kami memilih sensation combi, yaitu jus campuran nanas dan strawberry dan soda dengan tambahan gula cair, dan air mineral. Sebenarnya saya ingin memilih coklat panas. Namun, karena pencernaan saya sedang terganggu dan saya tidak suka minuman dingin, maka terpaksa harus memilih air mineral.

Waktu tunggu di tempat ini tidak terlalu lama, mungkin karena tidak terlalu banyak pesanan. Hanya sekitar 15 menit, pizza pun datang dengan fresh. Fresh karena memang pizza masih terasa hangat, tidak seperti pizza biasanya yang ketika datang sudah dalam keadaan dingin sehingga sensasi “molor” dari keju mozarella yang mereka tayangkan di iklan itu tidak ada.

Irisan pertama yang saya coba adalah irisan dengan banyak topping nanas. Setelah dicoba, rasa nanas dengan topping lainnya menyatu. Menurut saya, topping yang disajikan sudah cukup banyak. Ditambah dengan keju mozarella yang mendominasi pizza combi, rasanya jadi semakin “wow.” Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana enaknya menyantap salah satu kuliner Eropa ini di Pizza Combi. Menurut saya, pizza yang disajikan di sana lebih enak daripada pizza yang sering ditayangkan di iklan itu. 

Rasa roti Pizza Combi sama sekali tidak eneg. Bagi Anda yang tidak terlalu suka keju, dominasi keju mozarella pada pizza tidak akan mengganggu selera makan Anda. Selain itu, jika Anda ingin benar-benar ingin melihat bagaimana keju mozarella yang molor dengan mata kepala Anda sendiri, maka Anda harus datang dan mencoba menu dengan topping keju mozarella.



Untuk minuman, walaupun itu adalah pertama kalinya saya mencoba signature drink yang merupakan perpaduan jus dari beberapa buah, rasanya enak. Saya tidak mengira bahwa beberapa jus buah yang dicampur bisa mendapatkan hasil yang “blend.” Wow.

Setelah mencoba mencicipi salah satu makanan Itali di Pizza Combi itu, persepsi saya tentang rasa pizza yang selalu eneg hilang. Persepsi saya pun berubah menjadi: pizza yang terasa eneg adalah pizza yang gagal. Rasa eneg pada pizza tidak muncul karena lidah yang berbeda, tetapi karena si pencipta pizza yang tidak bisa membuat pizza yang tepat untuk konsumennya.

Well, that’s enough untuk menggambarkan bagaimana sajian pizza di Pizza Combi berbeda daripada pizza biasanya. Dan bahwa Pizza Combi layak untuk dicoba.

Pada kesempatan yang lain, kami mencoba 2 sajian Spaghetti dari 6 menu yang disediakan di Pizza Combi. Dari keenam itu, saya ingin mencoba semuanya. Namun, saya mengira bahwa Original Combi Spaghetti tidak akan jauh berbeda dengan spaghetti pada umumnya. Saya sebenarnya juga ingin mencoba Cheese Combi Spaghetti, tetapi saya membayangkan bahwa rasanya akan penuh dengan keju yang tidak biasa saya rasakan.

Pilihan saya juga hampir jatuh pada Blackpepper Combi Spaghetti, tapi saya pernah merasakan saus Blackpepper di resto yang menjual steak. Karena alasan itu, saya juga tidak memilihnya walaupun saya tidak yakin apakah rasanya seperti yang saya bayangkan. Untuk pilihan terakhir, yaitu Java Combi Spaghetti juga tidak saya pilih karena saya sudah membayangkan bahwa rasanya akan seperti mie dengan saus jawa yang manis, pedas dan gurih.

Akhirnya, saya memilih Spicy Combi Spaghetti dan teman saya memilih Curry Chicken Spaghetti. Spicy Combi Spaghetti memang benar-benar menggambarkan rasanya yang pedas. Untuk informasi, saya adalah pecinta makanan pedas dan menyantap spaghetti itu cukup membuat saya merasa sangat kepedasan walaupun saya masih mampu menanggulanginya. Sementara Curry Chicken Spaghetti, seperti yang saya bayangkan, memiliki rasa yang tidak jauh dengan mie yang diberi saus kari.

Untuk menu seharga Rp20.000,-, kedua menu itu sama sekali tidak mengecewakan.

Gambar diambil dari Pizza Combi
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com