Tuesday, 3 October 2017

ENGGAN SUNGKAN DAN HIJRAH


Perubahan adalah suatu yang paling niscaya dalam kehidupan. Begitu pun keinginan kita untuk berpindah dari yang buruk ke yang baik.

Namun, ada kalanya kita merasa enggan untuk bergerak dari posisi aman kita. Selalu saja ada tanya, “Apakah itu benar baik?” Bahkan tak jarang kita memikirkan ”Bagaimanakah reaksi orang sekitar kita?”

Keengganan timbul ketika kita tak mampu mengendalikan kenyamanan dari tempat aman kita dan ketakutan akan perubahan serta kondisi baru. Namun setelah kita mampu mengatasi keengganan ini, timbulah masalah baru yang merupakan lanjutan dari pertanyaan yang pertama: bagaimanakah reaksi orang terhadap kita?


Perubahan selalu menuntut sudut pandang baru. Maka tak jarang dari itu kita akan dihantui perasaan sungkan dan tak enak hati ketika kawan-kawan kita yang sudah terbiasa melihat “diri kita yang lama” tiba-tiba menertawakan atau bahkan mengolok perubahan kita yang mungkin saja terlihat drastis di mata mereka.

Bayangkan saja, kesehariannya, kita selalu bergaul dengan orang yang selalu meremehkan kebaikan dan kebiasaan ibadah orang lain, lalu tiba-tiba kita berubah menjadi sosok yang doyan ibadah dan rajin berbuat baik, penampilan pun lebih rapi dan sopan. Munculah suara-suara sumbang untuk meledek kebiasaan baru kita itu. Bahkan tak jarang, karena merasa sungkan dengan pandangan mereka, kita pun melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dan tetap bersikap biasa saja selama bersama mereka. Tentu saja itu tidak salah. Selain untuk menyeimbangkan pandangan mereka kepada kita agar tak terlihat terlalu ekstrem (karena merasa marah, malu, dan emosi negatif lainnya bisa membuat kita meninggalkan kebiasaan baru kita dan kembali kepada kebiasaan lama), hal itu juga bisa membantu kita terbiasa dengan perubahan kita, karena kadang kala sesuatu yang dilakukan secara mendadak dan ekstrem itu hanya bertahan sementara saja. Ibaratnya “hangat-hangat tahi ayam”.

Perubahan tentu saja merupakan hal yang berat. Apalagi kita meninggalkan kebiasaan buruk yang sudah mengakar agar kita kemudian bisa lebih baik lagi. Bahkan seorang murid spiritual pun sering kali harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk terlepas dari kebiasaan lama mereka dan mengakar pada perubahan baru yang lebih baik dan lebih tercerahkan.

Sedang kiat untuk mengusir rasa enggan serta sungkan agar kita bisa berhijrah sendiri:

1.  Pastikan kita berada dalam pergaulan yang tepat.

Memilih teman itu perlu. Terlebih bagi hati yang lemah dan tak mampu berpegang pada apa yang perjuangkannya. Pastikan teman kita tak mempengaruhi kita ke dalam hal buruk yang justru menjauhkan kita dari hal negatif. Begitu pula, jika kita berada dalam lingkungan “toxic” yang sangat menghambat perjalanan kita kepada sesuatu yang baik, maka tinggalkanlah kelompok itu. Jangan ragu untuk berpijak dalam lingkungan baru yang lebih terbuka. Jangan takut tak punya teman. Banyak perjalanan spiritual dilakukan sendirian.

Kita bisa kembali kepada kawan lama itu jika dirasa pegangan kita telah kuat dan mampu berpengaruh. Namun jika kita masih mudah terseret badai bahkan tak mampu melawan laju angin, maka bisa disarankan untuk menghindari lingkungan “toxic”.

Salah satu ciri yang paling mudah dilihat dari lingkungan “toxic” adalah: mereka mudah membicarakan keburukan orang lain. Dan mereka mudah meremehkan serta menertawakan kebaikan dan niat orang lain yang tak sejalan dengan mereka. Sering kali mereka menganggap munafik orang-orang yang berniat untuk berubah maupun berbuat baik.

2. Tutup telinga dari suara sumbang.

Sebuah niat membutuhkan tekad. Dan ketika tekad itu masih lemah, maka kita akan dengan mudahnya terpengaruh oleh suara-suara yang berusaha menyurutkan niat kita. Begitu juga saat kita dilanda rasa sungkan karena perubahan kita yang terlalu mencolok. Kita ditertawakan, kemudian merasa terasing. Karena tak mau dipandang aneh, kita memilih kembali kepara arus yang ramai dan mendengarkan suara sumbang yang seolah lebih mengerti kita dibandingkan diri kita sendiri.

Patut diingat bahwa apa yang terjadi pada kita bukanlah masalah ataupun urusan orang lain. Tak bisa dipastikan setiap orang yang menghalangi niat kita untuk berubah lebih baik itu akan selalu hadir membantu ketika kita dalam masalah dan kesulitan. Itu baru urusan dunia. Bagaimana jika nanti kita berada dalam kesukaran di akhirat, di mana setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri atas perbuatan dan tingkah laku serta amalannya di dunia.

Luruskan niat. Tutup telinga dari suara sumbang. Bahkan jika suara itu terdengar dari orang terdekat, dari saudara, dari orang tua. Lebih baik lagi jika kita mampu mengajak mereka untuk berubah.

3. Tabah, sabar, dan konsisten.

Hal yang paling sulit dilakukan selanjutnya adalah menjalankan perjalanan itu sendiri. Betapa kadang kita merasa kesepian di jalan yang kita tempuh. Betapa kemudian kita merasa terasing.

Perjalanan semacam itu harus ditembuh dengan kesabaran agar kita mampu menjaga konsistensi langkah kita. Tetap tabah meskipun banyak suara sumbang menampar kita serta kesendirian yang terasa begitu sunyi dibandingkan keramaian gemerlap di pulau seberang.

Betapapun kita telah memulai, jangan pernah ragu dan malu.

Terus saja melangkah dengan langkah tegak. Dengan niatan lurus untuk berubah lebih baik. Hindari keinginan untuk membalas atau meratapi perkataan buruk yang dilontarkan pada kita.

Sejatinya kita berhak dan bertangung jawab pada diri kita sendiri serta jalan yang kita pilih.

Thursday, 10 August 2017

MEMILIKI DAN DIMILIKI


*Catatan ini saya buat setelah terinpirasi oleh pengalaman dalam berorgnisasi. Membandingkan bagaimana sebuah organisasi sekolah dan organisasi umum bekerja. Dan lingkup makna “dimiliki dan memiliki” ini akan menjadi luas.

Dulu saat sekolah, mengikuti sebuah oraganisasi itu artinya kita harus disiplin dan patuh pada aturan organisasi. Mengutamakan cinta lebih dulu sebelum menuntut lainnya. Namun dewasanya, ketika kita terjun pada masyarakat dan bergabung dengan suatu oraganisai, mind set kita telah berubah.

Saya yakin kita selalu dididik untuk berpikir “apa yang bisa saya berikan pada organisasi?” Itu yang kemudian membuat kita terus berupaya untuk berprestasi ketika bergabung dalam suatu organisasi sekolah. Bisa dipastikan, seorang siswa yang mengikuti organisasi dengan siswa lepas, maka siswa yang mengikuti organisasi itu pasti memiliki prestasi lebih dibanding siswa lepas itu. dan prestai itu akan dipersembahkan kepada organisasinya dengan nama organisasinya.

Ketika masih berada di bangku sekolah, cinta adalah syarat utama kita bergabung dengan suatu organisasi. Mungkin memang karena pemikiran seorang siswa hanya seputar kehidupan sekolahnya tanpa memikirkan bagaimana menghidupi dirinya dan keluarganya kemudian. Karena cara pandang ini berubah ketika kita menjadi dewasa dan terjun dalam masyarakat.

Thursday, 27 April 2017

Mengapa Aku Menulis

sebenarnya apa yang aku cari dalam tulisan?
mengapa aku menulis?

itu yang sekarang ini masih aku cari.
sungguh. itu tak semudah hanya dengan menulis rangkai kata demi kata dan menyusunnya menjadi sebuah kalimat, lantas meramunya menjadi sebuah paragraf.
tak sesederhana itu.

ada ikatan batin yang lebih dari itu untuk membuat sebuah hubungan spiritual dengan tulisan kita sendiri.
setidaknya,
sebagian besar penulis pasti pernah memiliki keinginan yang sama,
"buku terbaik yang ingin aku miliki!"
setiap penulis, pasti ingin menuliskan buku seperti itu bagi dirinya sendiri.

malangnya, meski harus berkali-kali menulis, mungkin keinginan mereka itu tak akan pernah terwujud. pun bila penulisnya itu adalah penulis mumpuni yang menjadi idola mereka. pasti ada celah untuk merutuki dan menyempurnakannya menjadi buku ala "kita". dan begitulah, pena kita hadir untuk itu.

dengan sedemikian rumit kadar sederhana dari pertanyaan "mengapa aku menulis?"
maka hadir beragam proses dan beragam uji coba untuk merangkai kalimat untuk memuaskan nurani kita.

aku sendiri tak paham.
di detik ini,
setelah menulis ratusan judul, aku merasa tersesat.
sebenarnya, apa yang benar-benar aku inginkan dari menulis?

dulu kukira aku akan hidup lewat jalan ini.
namun sepertinya tidak.

alih-alih berusaha menjual karyaku, aku lebih suka membaginya secara gratis bila memang lebih mudah untuk menyebarkannya ke khalayak ramai. itu yang terjadi ketika karyaku masuk ke dalam suatu antologi. karena cetakannya yang terbatas, dan kukira tak bisa meraih banyak orang, maka lebih baik aku menyebarkannya kembali secara gratis, bila itu memungkinkan untuk menambah jumlah pembaca karyaku.

pesan.
apa itu yang dulu kukejar?
aku berharap bisa menyampaikan pesan dari isi kepalaku agar orang-orang mengerti dan lebih memahami.

memahami.
mendengar.

mendengar?
ataukah aku hanya ingin didengar?

tulisan-tulisan itu ibarat kata yang hendak kusampaikan, namun dengan medium terbatas karena aku merasa tak punya banyak waktu dan tenaga untuk menyampaikannya secara lisan kepada orang-orang. dan kurasa aku tak punya bakat atau daya tarik jika harus merekam suaraku daja untuk didengar oleh orang-orang.
toh, lebih baik mereka membaca tulisanku.

inilah yang terjadi:
aku terdiam di depan layar laptopku sembari memikirkan apa yang bisa kutulis dan apa yang bisa kusampaikan.

ah, banyak sekali. jika aku tak perlu memikirkan alur, bentuk, tatanan bahasa, ebi, judul, kerunutan naskah, kerapian bahasa, makna dan pemahaman pembaca,
maka kurasa aku bisa menulis banyak sekali.

BUANYAK SEKALIII...!!!

tapi itulah, kurasa aku harus memikirkan semuanya.
dan memikirkan semua itu seakan aku justru diikat dalam dogma sempit yang justru membatasi gerakku.

adakah berkarya dan menulis merupakan salah satu cara untuk membatasi manusia? atau justru itu adalah cara untuk membelenggu gerak pikir manusia?

rasanya ingin tertawa sendiri.

aku tak suka diatur, tapi aku begitu perhatian dengan aturan.
rasanya begitu tersiksa ketika terperangkap dalam aturan,
namun rasanya juga serba salah ketika mendobrak aturan itu sendiri.

aku akui, saat ini pikiranku mandek.
tulisan yang seharusnya langsung selesai sekali duduk untuk kuikutsertakan lomba itu harus mangkrak karena kepentok ide.

mudah saja, aku terlalu memikirkan aturan. aku terlalu memikirkan tema. aku terlalu memikirkan batas.

kau tahu karya ilmiah?
seperti itulah masalahku!
aku kepentok dengan "batasan permasalahan".
kamu bisa dengar suara para tukang kritik di luar sana?
mereka berteriak-teriak bahwa suatu cerita harus menceritakan satu hal.
mereka berteriak seakan cerita ini terlalu melebar ke mana-mana,
tanpa benar-benar berusaha memahami hakikat dan isi cerita itu.

mungkin saja ini bisa dibilang sebagai upaya membela diri sendiri atau upaya mencari benar.
mungkin saja ini wujud ego pengarang itu.

aku sendiri masih mencari
apa yang kucari dari menulis.

dulu,
jika bicara tentang dulu,
aku menulis karena ingin menyampaikan pemikiranku tentang dunia. pemikiran tentang segalanya.
aku berusaha mendikte lewat tulisanku.
namun, semakin ke sini,
aku merasa membutuhkan tulisanku sendiri untuk diriku pribadi.

jadi, kenapa aku menulis?