Tuesday, 12 April 2016

Kopi Pagi




Pagi ini aku ingat lagi tentang perkataan temanku yang terasa sangat kontras dengan harapannya sendiri yang dulu juga pernah diutarakan padaku. Dia bilang bahwa hidup tanpa memiliki musuh itu tidak seru. Sedang dulu dia pernah merengak-rengek padaku tentang betapa kasarnya sifat manusia serta kebencian-kebencian yang ada. Dia bertanya mengapa tiada kedamaian di dunia. Saat itu aku hanya diam saja.

Jika sekarang aku pikir lagi, aku malah bingung sendiri dengan sifat manusia. Temanku pernah mengeluh dia mengerang-erang tentang banyaknya cobaan di dunia, dia bertanya kapannya ketenangan dan kedamaian datang menyelimuti hatinya. Dia meraung-raung tentang bagaimana dunia ini bersikap tak adil dengannya. Kemarin dia bilang padaku, “Seperti inilah hidup. Hidup yang kosong itu bukan hidup! Masa’ hidup tanpa pengalaman? Kita di dunia cuma sekali saja.” Aku hanya diam saja saat mendengar ucapanya itu.

Aku akui, aku bukan seorang cendekiawan, tipe intelek dan selalu berusaha tahu tentang segala hal. Mungkin aku justru lebih ke sosok yang suka pasif dan mundur dari perdebatan sengit yang biasanya tak kunjung ada titik temu. Menurutku, percuma saja beradu argument jika nantinya kita harus memutar balik omongan kita demi mempertahankan harga diri agar kita tidak dianggap bodoh atau lemah. Yah, bisa juga tipe sepertiku disebut oleh mereka sebagai tipe orang bodoh yang tertindas. Tapi itu hanya perkiraanku saja.

Wednesday, 9 December 2015

Seperti Musim, Manusia Pun Senantiasa Berubah

Saya bertengkar dengan kekasih.
Ini bukan hal bagus.
Mengingat saya begitu mencintainya.



Itu adalah pagi terindah dalam hidup saya, setelah dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya tanpa membicarakan dulu dengan saya. Saya seperti dibuang saat itu. Bahkan rasa itu kerap menghantui di setiap detik kesadaran saya bahwa dia tak lagi menginjak tanah yang sama.

Saya tak memahami jalan pikirannya. Benar-benar tak bisa memahami. Dan keputusannya yang sering tanpa pikir panjang atau sekali pun merasa perlu membicarakan dengan saya membuat saya merasa sama sekali tak penting dalam arus kehidupannya. Mungkin baginya, saya bisa menjadi salah satu kisah perjalanan masa remajanya. Tapi saya begitu mencintainya.

Sunday, 22 November 2015

Ikatan Adat


Meski rembulan menggantung, tetap saja tak bisa menahan rintik lembut yang membasahi kota itu. Seorang gadis berlarian menembus gerimis disusul seorang pemuda dengan jarak tak sampai sejengkal. Mereka lebih memilih terdampar di restoran ayam goreng cepat saji daripada harus menunggu hujan reda di halte pinggir jalan.

Keduanya cekikikan setelah mendapatkan meja. Gadis itu memesan dua menu sekaligus. Si pemuda diam saja—percaya dengan keputusan si gadis. Mereka saling bertatap. Beradu pandang sampai salah satunya bermuka merah. Lalu tertawa sendiri. Jika si pemuda yang memerah, maka dia lantas memalingkan mukanya, salah tingkah, si gadis akan tertawa. Jika si gadis yang memerah duluan, maka si pemuda akan dicubit dengan gemasnya. Begitulah, si pemuda tak pernah untung.

Pesanan mereka datang, mereka memakannya dengan lahap. Ada rasa tak ingin segera habis, karena hujan di luar semakin ganas saja semenjak mereka berdua berada di restoran itu. Tapi makanan yang menjadi dingin tentu tak nikmat disantap, apalagi itu adalah ayam goreng. Renyahnya bisa hilang.