Wednesday, 18 October 2017

MANAJEMEN EGO

Ada sebuah paradoks tentang harga diri.

Harga diri seolah sesuatu yang harus dilindungi dan diperjuangkan—untuk meraih kebahagiaan. Sedangkan di sisi lain, memperjuangkan dan melindungi harga diri itu juga bisa menjadi sumber ketidakbahagiaan—karena pada akhirnya kita akan terjebak pada ego belaka.

Ego adalah wujud pengakuan. Pengakuan pada eksistensi dan keakuan yang individual agar kita senantiasa merasa dihargai dan diperhitungkan sebagai individu yang mumpuni. Sekilas hal seperti itu terdengar wajar sebagai manusia. Namun bila kemudian tujuan dari pengukuhan ego sendiri adalah untuk kebahagiaan, apakah tepat?


Pernah saya mendiskusikan hal ini kepada seorang Guru. Berbenturan dengan paradoks pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan. Kala itu saya bertanya, “Guru, mengapa engkau membiarkan orang-orang mengambil kata-katamu sedemikian rupa dan mereka sebarkan tanpa sedikitpun menyebut namamu?”

Tuesday, 3 October 2017

ENGGAN SUNGKAN DAN HIJRAH


Perubahan adalah suatu yang paling niscaya dalam kehidupan. Begitu pun keinginan kita untuk berpindah dari yang buruk ke yang baik.

Namun, ada kalanya kita merasa enggan untuk bergerak dari posisi aman kita. Selalu saja ada tanya, “Apakah itu benar baik?” Bahkan tak jarang kita memikirkan ”Bagaimanakah reaksi orang sekitar kita?”

Keengganan timbul ketika kita tak mampu mengendalikan kenyamanan dari tempat aman kita dan ketakutan akan perubahan serta kondisi baru. Namun setelah kita mampu mengatasi keengganan ini, timbulah masalah baru yang merupakan lanjutan dari pertanyaan yang pertama: bagaimanakah reaksi orang terhadap kita?


Perubahan selalu menuntut sudut pandang baru. Maka tak jarang dari itu kita akan dihantui perasaan sungkan dan tak enak hati ketika kawan-kawan kita yang sudah terbiasa melihat “diri kita yang lama” tiba-tiba menertawakan atau bahkan mengolok perubahan kita yang mungkin saja terlihat drastis di mata mereka.

Thursday, 10 August 2017

MEMILIKI DAN DIMILIKI


*Catatan ini saya buat setelah terinpirasi oleh pengalaman dalam berorgnisasi. Membandingkan bagaimana sebuah organisasi sekolah dan organisasi umum bekerja. Dan lingkup makna “dimiliki dan memiliki” ini akan menjadi luas.

Dulu saat sekolah, mengikuti sebuah oraganisasi itu artinya kita harus disiplin dan patuh pada aturan organisasi. Mengutamakan cinta lebih dulu sebelum menuntut lainnya. Namun dewasanya, ketika kita terjun pada masyarakat dan bergabung dengan suatu oraganisai, mind set kita telah berubah.

Saya yakin kita selalu dididik untuk berpikir “apa yang bisa saya berikan pada organisasi?” Itu yang kemudian membuat kita terus berupaya untuk berprestasi ketika bergabung dalam suatu organisasi sekolah. Bisa dipastikan, seorang siswa yang mengikuti organisasi dengan siswa lepas, maka siswa yang mengikuti organisasi itu pasti memiliki prestasi lebih dibanding siswa lepas itu. dan prestai itu akan dipersembahkan kepada organisasinya dengan nama organisasinya.

Ketika masih berada di bangku sekolah, cinta adalah syarat utama kita bergabung dengan suatu organisasi. Mungkin memang karena pemikiran seorang siswa hanya seputar kehidupan sekolahnya tanpa memikirkan bagaimana menghidupi dirinya dan keluarganya kemudian. Karena cara pandang ini berubah ketika kita menjadi dewasa dan terjun dalam masyarakat.

Thursday, 27 April 2017

Mengapa Aku Menulis

sebenarnya apa yang aku cari dalam tulisan?
mengapa aku menulis?

itu yang sekarang ini masih aku cari.
sungguh. itu tak semudah hanya dengan menulis rangkai kata demi kata dan menyusunnya menjadi sebuah kalimat, lantas meramunya menjadi sebuah paragraf.
tak sesederhana itu.

ada ikatan batin yang lebih dari itu untuk membuat sebuah hubungan spiritual dengan tulisan kita sendiri.
setidaknya,
sebagian besar penulis pasti pernah memiliki keinginan yang sama,
"buku terbaik yang ingin aku miliki!"
setiap penulis, pasti ingin menuliskan buku seperti itu bagi dirinya sendiri.

malangnya, meski harus berkali-kali menulis, mungkin keinginan mereka itu tak akan pernah terwujud. pun bila penulisnya itu adalah penulis mumpuni yang menjadi idola mereka. pasti ada celah untuk merutuki dan menyempurnakannya menjadi buku ala "kita". dan begitulah, pena kita hadir untuk itu.

dengan sedemikian rumit kadar sederhana dari pertanyaan "mengapa aku menulis?"
maka hadir beragam proses dan beragam uji coba untuk merangkai kalimat untuk memuaskan nurani kita.

aku sendiri tak paham.
di detik ini,
setelah menulis ratusan judul, aku merasa tersesat.
sebenarnya, apa yang benar-benar aku inginkan dari menulis?

dulu kukira aku akan hidup lewat jalan ini.
namun sepertinya tidak.

alih-alih berusaha menjual karyaku, aku lebih suka membaginya secara gratis bila memang lebih mudah untuk menyebarkannya ke khalayak ramai. itu yang terjadi ketika karyaku masuk ke dalam suatu antologi. karena cetakannya yang terbatas, dan kukira tak bisa meraih banyak orang, maka lebih baik aku menyebarkannya kembali secara gratis, bila itu memungkinkan untuk menambah jumlah pembaca karyaku.

pesan.
apa itu yang dulu kukejar?
aku berharap bisa menyampaikan pesan dari isi kepalaku agar orang-orang mengerti dan lebih memahami.

memahami.
mendengar.

mendengar?
ataukah aku hanya ingin didengar?

tulisan-tulisan itu ibarat kata yang hendak kusampaikan, namun dengan medium terbatas karena aku merasa tak punya banyak waktu dan tenaga untuk menyampaikannya secara lisan kepada orang-orang. dan kurasa aku tak punya bakat atau daya tarik jika harus merekam suaraku daja untuk didengar oleh orang-orang.
toh, lebih baik mereka membaca tulisanku.

inilah yang terjadi:
aku terdiam di depan layar laptopku sembari memikirkan apa yang bisa kutulis dan apa yang bisa kusampaikan.

ah, banyak sekali. jika aku tak perlu memikirkan alur, bentuk, tatanan bahasa, ebi, judul, kerunutan naskah, kerapian bahasa, makna dan pemahaman pembaca,
maka kurasa aku bisa menulis banyak sekali.

BUANYAK SEKALIII...!!!

tapi itulah, kurasa aku harus memikirkan semuanya.
dan memikirkan semua itu seakan aku justru diikat dalam dogma sempit yang justru membatasi gerakku.

adakah berkarya dan menulis merupakan salah satu cara untuk membatasi manusia? atau justru itu adalah cara untuk membelenggu gerak pikir manusia?

rasanya ingin tertawa sendiri.

aku tak suka diatur, tapi aku begitu perhatian dengan aturan.
rasanya begitu tersiksa ketika terperangkap dalam aturan,
namun rasanya juga serba salah ketika mendobrak aturan itu sendiri.

aku akui, saat ini pikiranku mandek.
tulisan yang seharusnya langsung selesai sekali duduk untuk kuikutsertakan lomba itu harus mangkrak karena kepentok ide.

mudah saja, aku terlalu memikirkan aturan. aku terlalu memikirkan tema. aku terlalu memikirkan batas.

kau tahu karya ilmiah?
seperti itulah masalahku!
aku kepentok dengan "batasan permasalahan".
kamu bisa dengar suara para tukang kritik di luar sana?
mereka berteriak-teriak bahwa suatu cerita harus menceritakan satu hal.
mereka berteriak seakan cerita ini terlalu melebar ke mana-mana,
tanpa benar-benar berusaha memahami hakikat dan isi cerita itu.

mungkin saja ini bisa dibilang sebagai upaya membela diri sendiri atau upaya mencari benar.
mungkin saja ini wujud ego pengarang itu.

aku sendiri masih mencari
apa yang kucari dari menulis.

dulu,
jika bicara tentang dulu,
aku menulis karena ingin menyampaikan pemikiranku tentang dunia. pemikiran tentang segalanya.
aku berusaha mendikte lewat tulisanku.
namun, semakin ke sini,
aku merasa membutuhkan tulisanku sendiri untuk diriku pribadi.

jadi, kenapa aku menulis?

Saturday, 15 April 2017

Tentang Iman

saya serius ketika bilang "agama kita boleh sama, tapi iman jangan disamakan."
ini bukan tentang kadar iman. jangan disalah pahami sebagai saya merasa lebih beriman dari anda.

namun ini adalah tentang apa yang saya imani dan apa yang anda imani.
tentang bagaimana kita beriman kepada apa yang kita imani.
mungkin saja kita memuja Tuhan yang sama, tapi cara kita berbeda.
mungkin kita berada dalam naungan agama yang sama, tapi cara kita berbeda.
bukan, ini bukan soal perbedaan atau penyesatan satu dengan lainnya. bukan soal tentang merasa benar atau tentang menyinggung yang lainnya. ini murni tentang cara kita beriman pada apa yang kita imani.

adakah kita benar-benar percaya pada Tuhan semesta alam, atau sekadar mengagumi bayang-Nya. adakah kita menerima sebagai manusia yang membutuhkan belas kasihnya dan pertolongannya, atau manusia yang merasa angkuh dengan mengatur bagaimana cara untuk mencapai-Nya.

Wednesday, 5 April 2017

Kembali Ke Surau


SUDAH barang empat bulan aku tak pernah bertandang ke surau kecil itu. Dulu, setiap azan berkumandang, aku selalu siap melangkahkan kaki menuju ke surau mungil itu. Sebuah surau yang dibangun di atas tanah wakaf oleh seorang hartawan di desa kami.

Awalnya, setelah sekian tahun tidak menginjak lantai surau itu, aku sangat segan ketika datang untuk salat berjamaah di sana. Waktu kecil, tentu saja aku aku sering bermain ke surau itu. Anak-anak muslim yang masa kecilnya tak akrab dengan surau, pastilah masa kecilnya begitu menyedihkan. Orang tua seperti apa yang tak mengakrabkan putra-putrinya pada rumah Tuhan itu.

Saat mulai beranjak remaja, anak-anak akan mulai enggan bertandang ke surau. Mereka mulai mengenal gengsi. Mereka mengenal cinta, berpacaran, lalu kencan. Mereka juga mengenal yang namanya nongkrong, tebar pesona, cuci mata. Di masa remaja, seorang anak akan mulai diperkenalkan dengan dunia yang menyulitkan. Mereka mengenal tempat-tempat yang promosinya jauh lebih layak dari surau. Ketika kau berada di surau, maka kamu akan menjadi remaja kuper yang kampungan. Namun, ketika kamu mendatangi kafe-kafe, mall, dan taman sepi atau pasar malam, maka kamu akan menjadi remaja gaul yang metroseksual. Memang tak semuanya begitu, tapi saat itu pasti ada.

Saturday, 1 April 2017

Sajak-Sajak "Sederhana"



ada jenazah lewat

bagaimana kau coba membaca puisi?
sedang tiap kata tak tercetak dalam bait
kau berdoa, agar esok bisa melihat
dengan sebelah mata
mengintip duka

    kembali mencoba sembahyang
    dengan seteguk air suci
    bersuci sendiri
    membawa luka yang meneteskan nanah
    terbakar
    abu berantakan

kau bayangkan ada jenazah lewat
membaca puisi sebagai doa
dilantunkannya seperti mantra
berada paling depan
berbaring tak nyaman
menundukkan kepala
seperti bayang-bayang dalam kaca
dirimu sendiri

kau berdoa, agar esok bisa melihat
dengan sebelah mata
mengintip duka

—2015


sederhana

sederhana,
ketika kamu mulai menistakan dan merendahkan
Tuhan yang orang lain sembah,
ketika itu imanmu sudah terbelah.
Esa sudah binasa.

—2016



luka

berdukalah kalian kepada yang mulia
kepada duka yang senantiasa mengepak asma

    kepada matahari yang berwarna hijau
    bias sinar temaram membumbung tanpa ajal
    ketika orang-orang bersorak

—2016



mencari benar

di pusat samsara
roda nestapa

duhai Agni,
terbakarlah.
hanguskan karma!

—2016


izin

Mu. kujadikan mu.
bukan tak sopan
hanya ingin lebih akrab.

mesra.

—2016