Seperti Musim, Manusia Pun Senantiasa Berubah

Saya bertengkar dengan kekasih.
Ini bukan hal bagus.
Mengingat saya begitu mencintainya.



Itu adalah pagi terindah dalam hidup saya, setelah dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya tanpa membicarakan dulu dengan saya. Saya seperti dibuang saat itu. Bahkan rasa itu kerap menghantui di setiap detik kesadaran saya bahwa dia tak lagi menginjak tanah yang sama.

Saya tak memahami jalan pikirannya. Benar-benar tak bisa memahami. Dan keputusannya yang sering tanpa pikir panjang atau sekali pun merasa perlu membicarakan dengan saya membuat saya merasa sama sekali tak penting dalam arus kehidupannya. Mungkin baginya, saya bisa menjadi salah satu kisah perjalanan masa remajanya. Tapi saya begitu mencintainya.
0

Ikatan Adat


Meski rembulan menggantung, tetap saja tak bisa menahan rintik lembut yang membasahi kota itu. Seorang gadis berlarian menembus gerimis disusul seorang pemuda dengan jarak tak sampai sejengkal. Mereka lebih memilih terdampar di restoran ayam goreng cepat saji daripada harus menunggu hujan reda di halte pinggir jalan.

Keduanya cekikikan setelah mendapatkan meja. Gadis itu memesan dua menu sekaligus. Si pemuda diam saja—percaya dengan keputusan si gadis. Mereka saling bertatap. Beradu pandang sampai salah satunya bermuka merah. Lalu tertawa sendiri. Jika si pemuda yang memerah, maka dia lantas memalingkan mukanya, salah tingkah, si gadis akan tertawa. Jika si gadis yang memerah duluan, maka si pemuda akan dicubit dengan gemasnya. Begitulah, si pemuda tak pernah untung.

Pesanan mereka datang, mereka memakannya dengan lahap. Ada rasa tak ingin segera habis, karena hujan di luar semakin ganas saja semenjak mereka berdua berada di restoran itu. Tapi makanan yang menjadi dingin tentu tak nikmat disantap, apalagi itu adalah ayam goreng. Renyahnya bisa hilang.
0

Biar Rindu Merajam

Biar rindu merajam.
Kali ini kubiarkan.

Aku tak kalah.
hanya mengalah.
demi memberi waktu yang tak sia-sia.

Satu-satunya cara memangkas rindu,
hanya dengan mencari kesibukan.
Lalu diam sendiri.
merenung sambil melahap waktu.

Maaf, Kekasih,
Bukan kuacuh,
hanya berusaha menahan pilu.
siapa yang berkuasa.
itu saja.

kelak, rindu akan menjadi teman.
benang dari rajutan waktu yang tak jemu.
jemu karena sering bertemu.

kuharap mereka paham.
karena karma sakit itu kejam.

Biar rindu merajam.
Kali ini kubiarkan.
0

Batasan Aman Pornografis Dalam Sastra


Kepada pengkarya yang dirundung bimbang ragu akan karyanya yang mengandung keintiman,

Judul topik ini lucu. Dan terkesan lapuk untuk dibicarakan. Adakah batasan dalam berkarya? Bagaimana kita bisa menilik batasan itu dan menjaga agar karya kita tidak dicap sembarangan hingga jauh dari tujuan awal kita.

Di lingkup kita ini, sangat banyak orang yang kritis dan latah terhadap suatu konten fiksi. Karya sastra dihakimi hanya dengan melihat kulitnya tanpa memikirkan maknanya. Sastra sekadar menjadi sastra busana. Kumpulan tulisan berbaju sastra. Tak ada kebebasan di dalamnya. Hal ini pertama kali meledak saat adanya perbincangan mengenai Fiksi Alat Kelamin atau yang jika disingkat akan berbunyi "FAK", seperti bunyi ungkapan kotor dalam bahasa asing.

Untuk mengujinya, maka saya membuat beberapa survey untuk melihat kesiapan pasar tentang sastra bermuatan dewasa ini. Banyak judul-judul dan karya-karya yang mumpuni bertengger pada rak-rak toko buku dengan label dewasa. Deskriptifnya tolong jangan dibandingkan dengan karya luar yang lebih bebas dalam pengolahan kata. Di tempat kita bertumbuh sekarang, bahkan menggunakan kata-kata tabu saja akan dikecam. Banyak kata yang terkesan mubazir di daftar KBBI, sehingga keberadaannya terancam dilupakan.
0

Mental Limit


Pernahkah kamu dikejar DEADLINE?
Pernahkah kamu dikejar TARGET?
Dan rasa-rasanya itu mustahil buat kamu penuhin?
Kamu merasa terbatas. Deadline dan target itu terlihat tak masuk akal.
Kamu merasa frustasi dan bingung mencari jalan keluar.
Kamu merasa tak akan sanggup menuntaskan pekerjaanmu.
Kamu merasa apapun yang akan kamu lakukan, pasti tak akan bisa membantumu memenuhi DEADLINE dan TARGET itu!

Pernahkah kamu merasa seperti itu?
Jika iya, SAMA—
0

REUNI - NOVELET


REUNI - NOVELET
STATUS: CLOSED
Adalah versi Novelet (Novel Pendek) dari cerpen REUNI yang bisa didapatkan
dengan cara menuliskan alamat e-mail di kolom komentar di bawah ini
atau langsung mengirimkan e-mail pada saya.
Saya akan memberikannya GRATIS dalam bentuk E-BOOK.

Sinopsis:
Frans tak bisa menikmati pesta reuni yang didatanginya. Masalah tentang kehancuran rumah tangganya terus menghantuinya. Di saat itu, teman semasa sekolahnya datang menghampirinya dan menyuruhnya untuk melupakan sejenak permasalahan rumah tangganya. Frans menanggapinya tawar. Dia sudah berada di ujung proses perceraian. Temannya itu pun menyarankannya untuk mencari lagi pengganti istrinya di acara reuni tersebut. Ada banyak teman wanitanya yang masih bujang. Frans juga berkesempatan mencari lagi cinta masa sekolahnya dulu. Dia pun mulai memikirkan saran temannya itu.

Email:
lingkaransegitiga@gmail.com

Rating:
DEWASA (21+)*

Muatan:
Mengandung deskripsi liar, vulgar, dan kata-kata kasar.

*Dengan meminta dikirimkan E-Book Novelet REUNI ini, maka saya menganggap bahwa Anda sudah cukup usia untuk membacanya. Serta mampu menilai dan memilah kejadian yang berada di dalam buku ini untuk kemudian tidak disalah gunakan atau disalah artikan.
14

Reuni



Frans meneguk minuman dari gelasnya. Alunan musik yang mengisi ruang pesta itu tak dapat menghiburnya. Wajahnya masam. Orang-orang saling sapa dan bertukar senyum di pesta itu. Sesekali mereka menegur Frans dan melemparkan senyumnya. Frans memasang senyum tawar.

Kebanyakan orang yang hadir di pesta itu adalah teman-teman masa sekolahnya. Sudah lima belas tahun semenjak masa sekolahnya itu berakhir. Banyak wajah-wajah baru yang tak dikenalnya di kelas. Wajah-wajah dari para pasangan hidup teman-temannya. Frans menenggak minumannya lagi.

"Ayolah, di saat seperti ini kau malah menyendiri?" tegur teman masa sekolahnya.

"Aku tak menyendiri. Aku hanya berusaha menikmati pesta ini."
0

Kuncup Bunga dan Kupu-Kupu



Gadis itu menunggu mekarnya kuncup bunga yang ada di hadapannya. Dia tahu kuncup itu tak akan mekar dekat-dekat ini. Tapi yang jelas saat ini dia ingin melihat bunga itu mekar.

Bibirnya tersenyum tipis. Matanya memandang kosong. Kuncup bunga itu bergoyang tertiup angin. Daunnya melambai-lambai seperti memanggil gadis itu agar menemaninya lebih lama. Gadis itu pasti menemaninya lebih lama. Dia menunggu.
0

Mencintaimu




Mencintaimu,
bukan dengan sekeping mawar
atau dengan sebongkah emas.

Bukan pula dengan kepedihan,
atau kebahagiaan.

itu sekadar bumbu.

Mencintaimu,
ibarat mentari yang bertugas menyinari bumi.
ibarat langit yang senantiasa menyelimuti bumi.
0

Romantis


Betapa aku sayang kamu. Kita mungkin memiliki kadar romantis yang berbeda. Atau bahkan pengertian kita tentang romantis itu sendiri berbeda.

Aku bertanya pada temanku, apa aku tak romantis. Menurutnya memang tidak. Dan itu sama seperti pendapatmu, bukan? Katanya, romantis itu mampu meluluhkan hati wanita dewasa. Bukan gadis kecil. Gadis kecil sepertimu. Hei, apakah kamu masih kecil? Kamu hanya menjadi gadis kecil bagiku saja, kan?

Senja mulai tampak ketika aku masih memikirkan arti romantis. Kubaca di KBBI—untuk meyakinkan definisi romantis menurutku sendiri—di sana tertulis; a bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan. Ya, mana mungkin makhluk pendiam sepertiku bisa menjadi seperti itu.
1

Mini Sketsa


Sketsa mungil hasil tahun kemarin... >_<
Iya... bikinnya di sketbuk yang keciiilll banget...
malah sebenernya itu bukan sketbuk... :v

.net Rider 2.0
Kamer Rider Ichigo
Spider-Man
Pohon

Yah... semoga tahun depan ngedoodlenya bisa di buku sketsa yang lebih gedean... 
Cheers... HAPPY NEW YEAR!
2

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com