Thursday, 26 July 2018

Soal Selera dan Pengembangan Karya

Kemarin saya membongkar lagi tulisan-tulisan lama. Tujuannya untuk diisikan ke akun wattpad saya karena saat itu saya hendak mencoba mengaktifkan akun tersebut.

Otomatis, sebelum memostingnya, saya membaca tulisan-tulisan tersebut untuk memastikan tulisan mana yang baiknya saya posting dan baiknya saya revisi untuk kemudian saya kirim ke media. Saya tertawa sendiri. betapa tulisan-tulisan itu membuat geli.

Bukan. Tentu saja bukan  karena tulisan itu jelek atau bagaimana.


Saya tertawa membaca tulisan saya sendiri karena memang selera saya saat ini sudah berubah dibandingkan selera saya yang dahulu. Bagaimanapun juga, saya pernah menanggap tulisan itu sangat bagus dan sesuai dengan apa yang saya mau. Jika kemudian—dalam selang waktu yang lama—saya menertawakan tulisan saya sendiri, itu hanya karena selera saya sudah berubah. Saya yang sekarang, lebih suka tulisan dengan bobot narasi lebih banyak dibandingkan dialog. Lebih suka tulisan dengan detail seperlunya dan lebih fokus pada jalan cerita. Saya lebih suka membaca cerita yang mengalir padat dibandingkan cerita yang sibuk dengan dialog dan detail tak perlu untuk melebarkan cerita.

Kelak akan ada masanya, saya menyukai cerita atau tulisan semacam itu lagi, tetapi bukan sekarang.

Hal ini sama dengan proses yang lain, proses menggambar atau proses bermusik misalnya. Apa yang kita angap keren waktu itu, belum tentu kelak akan tetap seperti itu. Namun, bila selera kita tak berubah, maka kita akan tetap berkutat dengan hal-hal itu saja.

Dalam hal menggambar misalnya, saya bisa menertawakan gambar yang menurut saya dulu sangat bagus. Namun, tetap ada hasil gambar saya yang sampai saat ini saya puja dan saya rawat baik-baik agar tidak rusak. Selain gambar tersebut menyimpan kenangan, tetap saja ada keindahan yang buat saya tak bisa dgantikan dengan gaya gambar lain. Bahkan tak jarang saya menympan coret-coretan yang mungkin bagi orang lain itu hanya tumpukan sampah belaka.

Begitu pun dalam puisi.
Di masa sekolah, saya berkenalan dengan puisi gelap. Itu cukup membuat saya merasa sangat “nyastra” dibanding teman saya yang lain yang menurut saya cukup bego. Akhirnya, ketika menginjak bangku SMA, saya justru suka puisi pop yang manis. Puisi-puisi itu yang kemudian mengajari saya bagaimana menikmati masa remaja yang manis dan tidak terlalu suram.

Sampai kemudian, saya kembali menyukai puisi berat. Dan dengan selang waktu yang melesat, selera puisi saya berubah menjadi puisi narasi—di mana di dalam puisi itu ada cerita yang tegas dan jelas, lebih pantas disebut fiksi kilat dibandingkan puisi.

Namun, rotasi itu terjadi lagi, saya kembali jatuh cinta dengan puisi absurd yang cukup menggelitik otak untuk memaknakan maksudnya. Hingga kemudian, sekarang, saya kembali menyukai puisi pop yang manis dan ringan.

Begitulah, semuanya hanya masalah selera. Jika kemudian ada yang bilang karyamu kurang ini dan itu, tetapi kamu merasa memang itu yang kamu tuju, maka bukan kamu yang salah. Kamu hanya sedang menikmati selera itu. Namun, jika kamu kemudian merasa bahwa hasil yang kamu tuliskan tak sesuai dengan apa yang kamu mau, maka itu sudah jelas bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi dari kemampuanmu.

Memahami tujuan itu sangatlah penting. Dengan mengerti apa yang kamu tuju, apa yang kamu mau, kamu bisa menyiapkan amunisi, menyiapkan diri, atau mempersiapkan kemampuanmu untuk meraih apa yang kamu inginkan. Soal selera tak ada yang mutlak. Tak ada yang benar dan salah. Kamu tak perlu memikirkan jika kemudian kamu dikritik oleh orang yang berbeda tujuan denganmu. Namun, kamu masih boleh mendengarnya—jika kemudian ada nasihatnya yang bisa kamu pakai untuk meraih tujuanmu yang lain.

3 comments:

  1. Apakah kelak, ada masanya ketika Anda suka tulisan banyak dialog dan deskripsi lagi? Fesyen jadul sekarang ngehits lagi, lho..

    ReplyDelete
  2. Podo. Cerita-ceritaku sekarang lebih banyak narasi. Sampai khawatir kalau minim dialog bakal ngeboseni

    ReplyDelete