OLEH-OLEH MEDAN LAGA


Blog ini berdebu, tetapi karena suatu hal, maka saya harus mengisinya...

Sembari menunggu formulir update hari ini selesai dicetak, maka saya memutuskan untuk menulis hal lain. Lagi pula, semalam, oleh-oleh begadang, saya sudah mengumpulkan kata hingga sembilanratusan banyaknya. Tentu itu sesuatu yang sangat menyenangkan, mengingat memiliki selisih yang teramat jauh dari juara akan membuat saya merasa tak nyaman. Gelisah, begitu saya menyebutnya.

Cukup lama saya menunggu—cukuplah untuk menambah kata rangkaian saya sampai lima ratus biji—akhirnya formulir laporan selesai juga dicetk. Jangan tanyakan bentuknya, biasa saja. Kotak dan tak bisa kau sentuh. Kau hanya bisa melihat deretan huruf dan angka di sana—sebagaimana formulir pada umumnya. Dan jika kau memperhatikan hal ini, maka kau benar-benar pelahap waktu yang luar biasa. Seharusnya kau bisa menggunakan waktumu untuk melakukan hal yang lebih berguna dibandingkan hanya untuk memperhatikan sesuatu yang menurutmu akan membuatmu mendapatkan sesuatu, tetapi ternyata tidak.

Singkat cerita, dalam formulir itu menyatakan bahwa fase terakhir atau disebut fase spesial ini harus diisi dengan pesan dan kesan selama mengikuti medan laga tersebut. Medan laga apakah itu? Itu adalah: Medan Laga Senior Writing Challenge.

Apa yang ada di dalam medan laga itu selain persaingan dan pertarungan sengit?

Seperti namanya, tentu saja kami para petarung dipaksa untuk menulis setiap hari. Jumlahnya sih, menurut saya cukup sedikit sekali yaa... hanya lima ratus kata. Sekali lagi: Hanya lima ratus kata!

Kemudian kami diminta untuk menuliskan satu tema khusus setiap pekan. Tak cukup dengan itu, kami juga harus membuktikan kualitas tulisan kami dengan mengirimkannya ke media. Dan tiga hari terakhir tantangannya adalah... Membuat ini. Iya. Ini. Ya, tulisan ini!

Paham, kan? Sudah? Benar paham? Baiklah. Jangan bertanya lagi.

Apa? Masih bingung? Begini, mudahnya, seperti yang sudah saya katakan, tiga hari terakhir ini kami disuruh melakukan hal khusus. Apakah itu? Hal itu adalah menuliskan tulisan yang sebentar lagi saya tulis di bawah ini, yang mana sudah saya sebutkan di bagian atas tadi. Periksalah kalau tak percaya, tetapi jika kamu malas memeriksa, maka saya akan memberitahumu segera. Kami diminta untuk menuliskan pesan dan kesan selama mengikuti laga berdarah-darah tersebut!

Jadi, begini kisahnya. Sejujurnya tantangan menulis buat saya itu teramat biasa sekali. Bagaimana tidak biasa, hampir setiap hari saya menulis. Menulis apa saja, mulai dari chat, status, curhat tak jelas, cerpen, puisi, esai, melanjutkan novel, prosa, dan apa saja—sepertinya itu saja jenisnya secara garis besar. Jadi, untuk melahirkan lima ratus kata dalam sehari itu perkara yang teramat sangat mudah, meskipun kemudian dikerucutkan bahwa yang hanya boleh dilaporkan adalah tulisan yang dapat digolongkan sebagai karya. Harapannya, setidaknya hasil tulisan itu tidak berakhir menjadi ongokan di sudut kamar saja, tetapi juga bisa disebar luaskan agar bisa menjadi bahan bacaan bagi makhluk lainnya—yang bisa membaca tentu saja.

Karena saya pada dasarnya adalah orang yang sombong dan cukup meremehkan sesuatu yang menurut saya kurang menantang, maka saya memutuskan untuk mencederai diri sendiri di awal perjuangan.

Ada enam kesempatan yang diberikan dalam kelas Senior Writing Challenge ini. jika lewat dari enam kesempatan itu, maka tumbanglah kita. Dan menurut saya, enam kesempatan itu cukuplah banyak untuk orang yang doyan melahap kata seperti saya. Saya bisa menulis sambil salto, atau sambil terpejam, bahkan bisa sambil ngopi. Saya bisa menulis sambil rapat, sambil menonton film. Sambil donlot, dan sambil-sambil yang lainnya.

Menulis itu gampang, segampang kita mengoceh dan hendak mengutarakan segala rasa yang ada di dalam benak kita. Problemanya kemudian, apakah ocehanmu itu cukup berharga untuk kamu sampaikan kepada orang lain? Apakah itu tidak sekadar menghabiskan waktunya dan membuatnya terlunta-lunta karena sebagian waktunya telah dimakan tulisanmu dengan beringas?

Jika kita mengambil contoh bahwa segala hal di dunia ini tak ada yang sia-sia, maka kita bisa menuliskan apa yang ada untuk kemudian kita lepas di luaran sambil berharap tulisan itu akan datang kepada pemiliknya atau kepada calon pembaca yang membutuhkannya. Setidaknya sama kapasitasnya dengan kualitas tulisan kita.

Dengan begini, tentu saja nasib tulisan kita dan pembacanya itu seperti burung yang tahu ke mana arah sangkarnya. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa kualitas masyarakat suatu bangsa itu bukan dinilai dari seberapa bagus kualitas tulisannya, tetapi kita bisa melihat dari jenis tulisan seperti apa yang paling laku dan paling banyak dibaca oleh masyarakatnya.

Jika kemudian tulisan-tulisan ringan dan tak berbobot yang laku, maka sampai di situlah tingkat kecerdasan masyarakatnya. Jika kemudian, berita pancingan atau berita provokatif dan ujaran saling benci lebih mendapatkan banyak minat dibandingkan berita tentang perolehan prestasi, maka bisa disimpulkan bahwa penduduk negeri tersebut sangatlah doyan mencaci tanpa perlu menghasilkan karya. Mudahnya, itu adalah contoh negeri yang terbelakang.

Di sini, jika kita ngotot untuk memberi mereka suguhan yang berkualitas, tentu saja kita seperti berusaha menggambar di udara. Perbuatan kita—meski tidak sepenuhnya—sia-sia, jika pun ingin menghasilkan, maka itu seperti berusaha menanam benih di tanah tandus. Bukan tidak mungkin, tetapi suli, penuh perjuangan dan kesabaran. Yang pastinya, akan menguras banyak waktu dan tenaga.

Sampai di titik ini, jika kita kemudian masih memikirkan perihal masalah penjualan terbaik, bisa dipastikan kita akan mentok dengan tulisan kita dan berupaya menjelma lain dengan cara menuruti selera pasar yang wujudnya entah. Sedangkan sesuatu pastilah akan menemukan jodohnya sendiri.

Kembali kepada tantangan, memang tujuan awal dari Writing Challenge adalah untuk membiasakan menulis. Namun, jika kemudian kita sudah terbiasa menulis (yang mana tantangan ini dilakukan dengan tingkatan kelas masing-masing), maka konsen kita selanjutnya adalah mengenai kualitas tulisan tersebut. Adakah tulisan kita hanyalah bentuk kacau balau (seperti ini?) atau kita menulisnya secara bijak dan terstruktur sebagaimana sebuah tesis yang ditulis oleh seseorang yang berpendidikan tinggi?

Di kelas awal Premiere Writing Challenge, kita hanya dihadapkan pada kewajiban untuk menulis belaka. Kemudian, di kelas selanjutnya, Junior Writing Challenge, selain hanya masalah rutinitas menulis, kita juga akan dihadapkan pada tantangan untuk menulis sesuai tema. Dan pada kelas kami, Senior Writing Challenge, tantangan akan ditambah dengan berusaha mengadu tulisan kita ke media.

Mudah? Tentu saja!

Yang sulit adalah konsisten untuk laporan. Sebagai orang yang terus menulis dan sudah biasa menulis, maka tidak heran jika kemudian kita terlalu terbiasa untuk menulis tanpa melaporkannya atau menilik sudah mendapatkan berapa kata tulisan kita hari ini.

Kadang masalah lain muncul ketika kita menulis di tempat yang berbeda-beda. Kadang kita menulis di laptop, kadang di ponsel, kadang di buku agenda—dan harus menghitungnya secara manual! Yaa Gustiii...!!! Kadang pun ketika kita menulis di tempat yang sama, laptop misalnya, kita pun menggunakan dua dokumen yang berbeda atau dua aplikasi yang bebeda untuk menulis. Tentu itu merupakan masalah sendiri untuk menghitung jumlah total tulisan kita.

Karena rasa malas menghitung inilah, kita lebih memilih untuk menundanya sampai sebelum tidur.

Petaka datang ketika mendadak kita lupa laporan. Dan hati seakan tersayat saat melihat waktu di jam dinding telah menunjukkan lewat lima belas menit dari batas waktu terakhir laporan. Sungguh rasa sakitnya tiada terkira. Apalagi jika kemudian kita yang masih sendiri ini dipameri oleh mereka yang sudah berpasangan dengan bilang, “Saya diingatkan suami. Di bangunkan tengah malam kala lelap.”

Sungguh nikmat yang luar biasa!

Namun, sebagai pejuang yang tangguh, kita tak boleh loyo hanya karena masalah seperti itu. kita harus tetap bangkit dan semangat untuk menuntaskannya meski nyawa sudah sekarat—maksudnya, jika kita sudah melanggar sampai batas maksimal dan hanay tersisa satu kesempatan saja—maka kita harus benar-benar serius untuk menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya!

Kita harus menunjukkan bahwasanya seorang jomblo juga memiliki ketangguhan yang perkasa dan tidak bisa diremehkan begitu saja. saya semakin bergairah jika kemudian lawan saya menjadi tangguh dan tak mau kalah ketika saya habis-habisan menggempurnya.

Apalagi jika kemudian pertantingan menjadi teramat sangat seru!

Bagi saya, sebuah tantangan bukan hanya melulu soal kebiasaan, tetapi juga masalah kualitas dan ketangguhan. Jangan sampai kita hanya ikut-ikutan sebuah tantangan, lalu hanya berusaha selamat sampai tujuan saja tanpa berambisi untuk menjadi yang terdepan!

Dan...

Karena perjuangan masih panjang, maka saya akan mengakhiri dulu kebersamaan kita di sini. Ada pena yang harus saya asah!

Ciyaaoo...!

Posting Komentar

0 Komentar