Pengalaman Mencoba Menu Richeese Factory


Hari Kamis lalu saya berkesempatan untuk singgah di Richeese Factory setelah kehilangan satu kesempatan beberapa tahun sebelumnya. Karena kebetulan saya sedang di Surabaya, saya mengajak seorang teman saya untuk makan siang di Resto Richeese Factory.

Untuk informasi awal, saya belum pernah tahu apa saja yang ada di dalam Richeese Factory. Dalam bayangan saya, yang berasal dari kalimat ajakan Mbak Kos beberapa tahun lalu yang berisi, “ayo, Dek. Nanti kita di sana bisa coba makan dengan cheese fondue, salmon cheese sauce, dan lain-lain. Kan, seru?”, Richeese Factory menyajikan segala hal tentang saus keju, keju, dan sebagainya. Mungkin sejenis ayam saus keju, salmon saus keju, cheese fondue, dan pizza. Termasuk makanan ringan produksi Richeese yang bisa dikreasikan dengan topping keju dan sebagainya. Well, saya pikir masuk ke resto Richeese akan menjadi pengalaman pertama saya dalam mengkreasikan makanan. Saya bisa memesan makanan apapun yang saya mau dan ditambah saus keju atau apapun itu yang tersedia di sana.

Ketika menginjakkan kaki di halaman, saya merasa aneh pada dua orang pelanggan yang duduk di teras. Mereka sepertinya sedang menghabiskan nasi. Pikiran saya langsung liar, “ngapain mereka makan nasi? Ini kan riCHEESE Factory? Kenapa tidak ambil yang banyak kejunya?”


Begitu masuk, kepala saya pun masih belum bisa menerima kenyataan ketika mata saya menatap menu yang terpampang di bagian pengambilan makanan dan kasir. Di sana, ada banyak menu dengan ayam. Saya bahkan sampai harus melihat papan di atasnya untuk memastikan bahwa presto yang saya masuki adalah Richeese Factory.


Sebagai informasi kedua, saya sudah agak bosan dengan ayam. Entah kenapa saya belum pernah merasakan ada makanan ayam yang diberi bumbu mantap yang merasuk hingga ke dalam daging. Hampir semua masakan ayam yang saya makan hanya memiliki rasa enak di kulit kemudian menghilang ketika sudah sampai ke daging bagian dalam dan hanya menyisakan rasa ayam potong yang begitu-begitu saja.


Tentu saya dan teman saya tidak akan langsung walk-off begitu saja dari resto yang baru kami masuki. Kami hanya bisa menerima keadaan dengan memesan menu yang disediakan, yang tidak sesuai ekspektasi awal. Saya memilih Richeese fire chicken level 3 dan Pink Lava tanpa es. Teman saya memesan Richeese chicken dan Pink Lava dengan es. Ada pula BBQ Cheese Wedges sebagai tambahan. Melihat namanya, saya langsung teringat dengan sepatu wanita.

 

Ulasan pun dimulai.


Untuk informasi awal kenapa saya menuliskan Pink Lava dengan keterangan tanpa es dan dengan es adalah karena kedua minuman yang sebenarnya sama itu ternyata memiliki rasa yang berbeda karena adanya atau tidak adanya es. Selain itu, saya memang sedang menghindari minuman dengan es.


Dari pemilihan menu dan hasil uji rasa yang kami lakukan, ternyata kami memilih empat menu berbeda. Walaupun kami sama-sama membeli ayam dan minuman Pink, kedua jenis makanan dan minuman itu benar-benar memberikan rasa yang berbeda.


Pertama, saya akan memberikan pendapat saya tentang Richeese Fire Chicken level 3 yang ada di tangan saya. Ayam berselimut tepung ini disajikan dengan tambahan lapisan saus merah yang terlihat pedas, menantang dan menggugah selera. Walaupun pada saat pertama kali dicoba rasa pedasnya lumayan menendang, ketika lidah sudah cukup lama beradaptasi dengan pedas yang didapat dari merica itu, ternyata rasa pedasnya biasa saja. Namun, saya tidak berani menyarankan untuk yang tidak hobi makan pedas karena saya sendiri masih membutuhkan tissue untuk mengatasi rasa pedas itu. Namun baiknya, walaupun cukup pedas, ayam itu tidak membuat lidah dan mulut terbakar dan tidak mengganggu pencernaan. Hanya menyisakan rasa hangat yang nyaman di lambung ketika cuaca sedang mendung.


Berdasarkan komentar teman saya terhadap minuman yang disebut “Pink” oleh pegawai Richeese Factory itu, saya hanya setuju ketika dia mengatakan bahwa rasanya mirip dawet. Dawet adalah jajanan khas jawa dengan warna Pink jika ditambah dengan mutiara dan ada juga jenis dawet yang lain. Rasa minuman yang diletakkan dalam gelas plastik besar itu memang mengingatkan saya pada minuman tradisional itu hingga ada sedikit penyesalan karena tidak memilih teh sebelumnya.


Setelah itu, saya juga ingin mengulas saus keju dan BBQ Cheese Wedges. Saus keju yang menyertai Richeese Fire Chicken dan Richeese Chicken itu menyatu sempurna dengan kedua masakan ayam tersebut tanpa merusak rasa gurih dan krispinya. Tentunya hal ini sangat menyenangkan daripada menu ayam dengan saus cokelat yang pernah saya ulas sebelumnya. Walaupun saya memiliki lidah pribumi yang tidak terbiasa mengonsumsi keju, rasa saus ini masih sangat bisa diterima oleh lidah saya. Bahkan, untuk ukuran sajian yang begitu mini, saya rasa masih bisa menghabiskan dua sajian saus lagi.


Berikutnya Richeese Factory BBQ Cheese Wedges. Ini adalah makanan kentang lokal yang dipotong menjadi empat bagian memanjang lalu digoreng dan disiram dengan saus keju dan satu saus lagi (warnanya hitam dan saya tidak tahu itu saus apa). Dengan rasa saus keju yang lezat, tentu saya tidak perlu mengomentari hal itu lagi. Namun, yang luar biasa adalah perpaduan antara kentang, saus keju dan satu saus lagi itu masih memberikan rasa yang menyatu dan luar biasa enaknya. Baru kali ini saya mencoba makanan dengan cocolan dua sambal sekaligus yang menghasilkan rasa yang tetap dan malah bertambah dua kali lipat enaknya. Sebenarnya, kentang ini bisa dijadikan pengganti jika Anda tidak suka nasi. Namun, karena sudah paket saya harus mencoba keduanya.


Entah karena kekenyangan, cuaca mendung, atau memang rasa ayam yang semakin mengganggu lidah saya yang sedang tidak ingin makan ayam, saya tidak menghabiskan ayam dan Pink saya. Hal ini yang mengantarkan kita ke ulasan berikutnya. Saya pun memberikan ayam saya pada teman saya. Menurutnya, Richeese Fire Chicken memiliki rasa yang lebih enak daripada ayam miliknya. Berhubung ayamnya sudah habis dan saya juga sudah eneg makan ayam, saya tidak bisa menggambarkan secara rinci bagaimana perbedaan rasa keduanya. Yang bisa saya katakan adalah mungkin Richeese Chicken hanya memiliki rasa daging ayam biasa yang tanpa bumbu lalu diselimuti tepung krispi dengan sedikit bumbu yang memberikan rasa sedikit asin. Jadi, walaupun Anda bukan pecinta makanan pedas, saya sarankan Anda untuk membeli Richeese Fire Chicken saja. Jika Anda tidak tahan pedas, Anda bisa memilih level 1. Saya jamin rasa pedas itu tidak akan berpengaruh buruk untuk perut Anda. Ini bukan ayam setan dengan cabe yang pedasnya keterlaluan.


Setelah itu, berhubung saya adalah orang yang suka membesar-besarkan sesuatu, saya berkali-kali mengatakan bahwa saya merasa eneg dan ingin muntah. Mungkin itu juga karena saya makan kebanyakan. Bayangkan, saya makan nasi dan kentang goreng itu. Saya pun memberikan Pink Lava yang tersisa pada teman saya DAN menurutnya, rasa Pink Lava saya memang jauh lebih eneg dari Pink Lava miliknya. Akhirnya, saya pun tahu bahwa keberadaan es memang bisa membuat perbedaan. Jelas saya, mungkin rasa eneg dalam minuman itu jadi jauh lebih berkurang dengan tambahan es yang sudah mencair.


Akhirnya, walaupun harapan saya akan memakan makanan yang sarat akan keju hilang, saya masih bersyukur bisa mencoba menu Richeese Fire Chicken itu. Tentunya semua ulasan akan berbeda untuk setiap lidah. Saya tidak akan mengatakan bahwa ulasan ini bersifat mutlak adanya. Itu hanyalah pendapat saya sebagai pribumi. Dari mencoba menu Richeese Factory, saya jadi belajar sesuatu bahwa ada “perbedaan dalam persamaan dan ada persamaan dalam perbedaan”.



Gambar diambil dari Richeese Factory dan zmtcdn
0

Kegigihan Seorang Guru dalam Freedom Writers


Sebenarnya, sudah lama saya ingin mengulas film berjudul "Freedom Writers" ini. Namun, saya masih belum mengetahui bagaimana cara menyampaikannya dengan benar karena film ini adalah salah satu film favorit saya. Kenapa? Karena film ini menggambarkan perjuangan seorang guru yang mengubah perilaku siswanya dari bandel hingga menjadi rajin dan pintar. Dari film ini juga saya yakin bahwa jika seluruh guru di Indonesia memiliki watak seperti tokoh utama dalam film ini, saya yakin tidak akan ada pelajar yang melakukan kekerasan dan penyimpangan.

Film yang diproduksi oleh Paramount Pictures ini menceritakan tentang seorang sarjana hukum yang berpendapat bahwa melindungi anak-anak dari kekerasan di depan jaksa adalah terlambat. Menurutnya, pada saat itu anak-anak sudah mengalami kekerasan sehingga upaya hukum apapun, walaupun berhasil, tetap tidak bisa menghilangkan trauma yang sudah terlanjur mereka alami. Akhirnya, Erin Gruwell memutuskan untuk melindungi para remaja itu melalui pendidikan.


Film ini dimulai dengan latar belakang kekerasan yang dialami remaja dan sebagian besar penduduk karena konflik antarras, warna kulit, dan kebangsaan. Setiap orang bisa dihajar jika mereka secara sengaja atau tidak sengaja masuk ke wilayah yang bukan daerah kekuasaan rasnya. Bahkan, siapa pun akan dihajar ketika bertemu dengan seseorang atau kelompok yang bukan bagian dari kelompoknya dengan alasan harga diri karena telah dikalahkan dalam “perang” sebelumnya.


Dalam Minggu pertama, Erin sudah dikejutkan dengan kekacauan di kelasnya, kemudian kekacauan di sekolah yang melibatkan hampir seluruh siswanya. Selain itu, kenyataan bahwa ayahnya tidak bahagia dengan keputusan Erin untuk menjadi seorang guru. Ditambah dengan persentase kehadiran siswa yang terus menurun.


Kemudian, satu kejadian memunculkan satu konflik di dalam kelas hingga Erin mendapatkan pandangan tentang muridnya dan menemukan cara untuk menjinakkan murid-muridnya dengan mengetahui penyebab kenakalan mereka melalui tugas menulis diary. Dari tulisan itu, Erin mengetahui bahwa beban derita yang dialami oleh murid-muridnya terlalu berat untuk mereka emban sendirian dan tulisan-tulisan itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya "Freedom Writers". Dia pun memutuskan untuk memberikan pendidikan kepada siswanya tentang buah dari kenakalan mereka dan mengajarkan untuk ikut merasakan beban orang lain.


Keputusannya ini bukan tanpa risiko. Erin harus mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai buku-buku yang dibeli untuk muridnya karena administrasi sekolah tidak mengizinkannya meminjamkan buku-buku di perpustakaan untuk dipinjam oleh anak-anak baru dan “nakal” itu. Beberapa program belajar untuk siswa ikut dijalankan, seperti mengunjungi museum “Hollocaus” dan bertemu dengan saksi hidup korban pembantaian Yahudi. Semua program berjalan menggunakan uang Erin dari hasil kerja paruh waktunya. Semua program itu berbuah manis. Kenakalan siswa berkurang dan nilai mereka meningkat.


Ternyata, hal ini tidak membuat bagian administrasi dan guru senang, mereka malah khawatir pada rencana pembelajaran dan tidak percaya pada hasil belajar siswa Erin yang meningkat pesat dalam dua tahun. Namun, hal ini membawa kebaikan pada para remaja itu. Mereka jadi sadar bahwa tindakan mereka tidak akan membawa mereka ke mana-mana. Mereka pun yakin bahwa mereka bisa lulus SMU dengan nilai yang baik. Pandangan mereka akan Erin, yang merupakan seorang kulit putih, berubah dari keyakinan mereka sebelumnya.


Konflik masih belum berhenti di sana. Konflik-konflik lain masih mengikuti, seperti konflik yang menimpa salah satu muridnya sebagai saksi pembunuhan salah satu siswa lain yang melibatkan pacarnya, pindahnya seorang siswa dari “honored-class” ke kelasnya, penggalangan dana untuk mendatangkan penulis buku “The Diary of Anne Frank” yang cukup menyita perhatian media, dan yang paling besar yang akan membuat siapa pun mungkin berhenti melangkah adalah perceraian Erin dan Scott dengan alasan Erin yang terlalu sibuk mengurus murid-muridnya.


Menjabarkan seluruh konflik yang ada dalam film yang berdurasi sekitar dua jam ini tidak akan ada habisnya. Sosok luar biasa Erin terbukti dari langkahnya yang tak terhenti setelah konflik yang bertubi-tubi yang menimpanya. Seluruh keputusan dan tindakannya itu melahirkan cinta dalam hati siswanya hingga mereka memintanya untuk tetap mengajar di kelas selanjutnya di mana itu berada di luar beban mengajar Erin sebagai guru baru. Hal ini menciptakan konflik baru hingga memunculkan nama “The Freedom Writers Diary” untuk judul tugas akhir siswa.


Film ini bukan hanya menceritakan tentang betapa gigihnya sarjana hukum ini berusaha mengubah perilaku siswanya dari yang semula nakal menjadi jinak dan pintar, bahkan bisa dikatakan bahwa Erin berhasil menghentikan kekacauan yang terjadi pada tahun itu di Miami melalui pendekatan pendidikannya, melainkan juga film tentang bagaimana guru seharusnya memperlakukan murid. Seorang murid tidak bisa dibilang nakal karena kenakalannya sehingga tidak mendapatkan perhatian yang sama dengan murid lainnya. Walaupun tindakan yang dilakukan Erin tidak bisa dilakukan oleh semua guru, setidaknya tidak ada lagi guru yang mendiskriminasi siswa hanya karena kelakukannya setelah menonton film ini karena setiap ada alasan di balik setiap kenakalan.


Hal yang menarik dari film ini adalah bukan hanya karena film ini diangkat dari kisah nyata, melainkan juga karena tidak banyak guru yang bisa melakukan hal serupa walaupun kisah ini nyata. Penokohan dalam film ini juga dilakukan dengan sangat baik, menampilkan setiap karakter tokoh melalui diary yang ditulis mereka masing-masing. Di setiap adegan tanpa dialog, diputar musik yang sesuai sehingga tidak meninggalkan kesan “zonk”.


Mungkin kita tidak bisa menjadi seorang guru seperti tokoh utama film ini, tetapi setidaknya kita tahu bahwa kegiatan menulis diary dapat mengurangi beban yang kita tanggung dan membagikan tulisan itu untuk didengar orang banyak dapat membuat orang lain belajar memahami dan menghormati perasaan orang lain.



Gambar diambil dari Yelp
0

Coco: Antara Masa Lalu Keluarga dan Impian


Sebagai salah satu karya Pixar, mungkin film ini berbeda dari pola cerita lainnya. Film ini mengangkat sisi kekeluargaan dan tradisi masyarakat yang sangat kental.

Sisi kekeluargaan dan tradisi masyarakat Meksiko yang diangkat juga tidak seperti kebanyakan film-film pada umumnya. Masalah keluarga seperti perceraian dan masalah anak juga dikemas lebih rinci dengan latar belakang yang mungkin belum pernah diangkat di film-film lain dan juga mungkin menjadi satu-satunya alasan yang ada di dunia.


Tradisi masyarakat Meksiko yang biasa menghias rumah dengan bunga-bunga di sekitar foto keluarga yang sudah meninggal setiap tahun juga diangkat, berikut dengan dongeng tentang para roh yang memiliki hewan penunjuk jalan untuk kembali ke rumah mereka dan mengunjungi keluarga mereka yang masih hidup atau mungkin keturunan-keturunan mereka. Apa mungkin Pixar sudah melakukan wawancara menyeluruh pada masyarakat Meksiko? Entahlah. Karena nilai-nilai tradisional Meksiko amat sangat kental digambarkan dalam film ini.
Film ini diceritakan oleh seorang anak bernama Miguel yang memiliki kemampuan musik yang sangat baik untuk seorang anak di usianya dan bermimpi untuk menjadi musisi seperti musisi pujaannya, Ernesto de la Cruz. 


Namun, rupanya impiannya ini tidak direstui oleh seluruh keluarga karena sejarah mereka di masa lalu yang menyebabkan Coco, nenek buyut Miguel, merindukan sosok ayah. Ayah Coco meninggalkannya untuk mengejar cita-cita egoisnya sendiri dan melupakan seluruh keluarganya. Ibu Coco, Mama Imelda, akhirnya berupaya membesarkan Coco seorang diri dengan membuka usaha pembuatan sepatu. Usaha inilah yang turun-temurun dilakukan sebagai mata pencaharian keluarga ini hingga akhirnya dipaksakan pada Miguel yang saat itu harus bekerja menyemir sepatu. Mama Imelda juga melarang seluruh anggota keluarganya untuk bermain dan berdekatan dengan musik.

Film ini berlanjut ketika Miguel sudah tidak bisa menahan impiannya untuk bermain musik. Dia harus mencari gitar agar bisa tampil di festival musik. Untuk itu, dia memberanikan diri meminjam gitar Ernesto yang diletakkan di pemakamannya, setelah mengetahui bahwa Ernesto adalah ayah Coco, yang berarti dia adalah kakek buyutnya.


Karena satu kesalahan yang tidak diketahui Miguel, ia pun masuk dalam dunia roh dalam wujud manusia, sementara roh lain berwujud tengkorak. Pada malam itu, dia pun terperangkap di dunia roh ketika keluarganya yang sudah mati hendak berkunjung ke rumah mereka. Seluruh keluarga itu pun akhirnya pergi ke kantor pelayanan dan mengadukan masalah mereka.


Namun, bukannya terselesaikan, masalah mereka justru bertambah. Miguel tidak mau kembali ke dunia manusia dan berhenti bermain musik. Untuk itulah dia bersikeras menemui Ernesto yang diyakini dapat memberinya restu dan kembali ke dunia manusia sambil terus bermain musik hingga menjadi musisi.
Kaburnya Miguel dari keluarganya untuk bertemu Ernesto ini membuatnya bertemu dengan roh yang tidak bisa mengunjungi keluarganya bernama Hector. Alasan dia tidak bisa mengunjungi keluarga adalah karena tidak ada orang yang memajang fotonya sebagaimana keluarga-keluarga lain. Hal serupa sebenarnya juga sedang terjadi pada Mama Imelda karena Miguel tidak sengaja membawa fotonya yang sedang memangku Coco ke dunia roh.


Hector mengaku kenal baik dengan musisi terkenal dunia itu dan berjanji bisa membuat Miguel pulang ke keluarganya dengan syarat agar Miguel juga memajang foto Hector. Takdir kembali memaksa Miguel untuk tampil di panggung agar mendapat tiket bertemu dengan Ernesto. Dia pun mendapat bantuan Hector memperoleh gitar milik temannya yang sudah lenyap dari dunia roh karena terlupakan.


Kesempatan ini membuat Miguel benar-benar bisa bertemu dengan Ernesto. Sayangnya, kebenaran pun terungkap hingga niat Miguel untuk kembali ke dunia manusia tertunda. Foto Hector pun disimpan oleh Ernesto hingga kesempatan kedua orang itu pun semakin menipis.


Setelah melakukan pencarian yang panjang, penunjuk roh Mama Imelda serta Dante, anjing kesayangan Miguel, berhasil menemukan Miguel dan Hector di danau bawah tanah tempat mereka dibuang. Mereka pun melakukan upaya besar untuk bisa mendapatkan foto Hector kembali dan merestui anak itu dan kembali ke dunia manusia. Sayangnya, Miguel kembali tanpa membawa foto yang telah tenggelam itu.


Miguel pulang dan berusaha mengingatkan Coco pada sosok ayahnya yang ternyata adalah Hector. Ini dilakukan agar Hector tidak lenyap dari dunia roh. Karena sekali orang terakhir yang mengingat Hector itu melupakannya, Hector harus lenyap seperti temannya.


Setelah menyanyikan lagu “Remember Me” yang dikarang oleh Hector untuk Coco, Coco pun kembali ingat dan memberikan simpanan foto Hector yang dirobek dari foto keluarganya. Akhirnya, foto Hector pun terpampang bersama foto keluarga lain yang sudah meninggal di tahun berikutnya dan musik pun kembali terdengar di keluarga ini sejak beberapa puluh tahun yang hampir terlupakan.


Bagaimana Hector bisa menjadi ayah kandung Coco? Apa hubungan Hector dan Ernesto? Bagaimana kelanjutannya? Silahkan tonton film yang berhasil membuat banyak penonton menangis ini.


Menurut saya, dari seluruh film Pixar yang pernah saya tonton, seperti Toys Story dan Cars, film ini lebih detil daripada film lainnya baik dari segi cerita maupun grafis. Itu pun bisa terlihat jelas pada raut wajah Coco yang terlihat begitu alami hingga nyaris tampak nyata. Bahkan wajahnya hampir terlihat seperti orang suku Indian daripada orang Meksiko; ataukah sebenarnya orang Meksiko adalah suku Indian itu sendiri? Entahlah, saya kurang paham sejarah Amerika. Yang jelas, film ini membawakan kisah yang sama sekali berbeda dari kebanyakan film yang diproduksi oleh Pixar. Apalagi kesan budaya yang mungkin akan membuat kita tidak mengira bahwa film ini dibuat oleh Pixar.


Bagi Anda yang menyukai film animasi namun ingin melihat cerita yang segar dan tidak melulu soal fantasi yang dipaksakan, mungkin film ini bisa menjadi alternatif walaupun kadar fantasi masih terbilang cukup mendominasi film ini karena sebagian besar latar ada di dunia roh. Namun, grafik dan cerita baru yang diangkat dalam film ini sudah cukup memuaskan dahaga dan pencarian Anda pada film animasi dengan ide segar.



Gambar diambil dari Times of India
0

TENTANG PERGANTIAN TAHUN, RESOLUSI, DAN REALISASI

Menurut tanggalan yang menggantung di tembok, sekarang ini tahun sudah berganti, dari 2017 menjadi 2018. Hari ini pun sudah memasuki hari kedua.

Semenjak beberapa hari yang lalu, sudah banyak orang yang mulai menuliskan resolusi mereka—entah serius, atau hanya ikut-ikutan tradisi biar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa sebenarnya pergantian antara angka 2017 ke 2018 itu sungguh sangat amat tipis sekali. Bahkan ketika kita turut serta merayakan pesta pergantian tahun pun kita tak benar-benar tahu kapan tahun itu berubah. Malam tetaplah malam. Jam digital antara satu dengan yang lain juga berbeda-beda. Bahkan sesama Indonesia saja tahun baru bisa ada tiga. Kembang api meledak dan bertebaran makin riuh semenjak pukul sebelas sampai pukul satu dini hari. Dan kita tak benar-benar tahu kapan tahun sudah berganti kecuali hanya dari petunjuk waktu yang kita bercayai secara subjektif—tentu saja, bagaimana kita bisa mempercayai waktu di Jepang sementara kita menginjak pulau jawa?

Masalah yang hadir kemudian, adakah waktu yang teramat singkat ini benar-benar mengubah kita atau membantu kita lebih baik kecuali hanya tradisi monoton yang tercipta dari tahun ke tahun yang fungsinya hanya untuk seremonial semata?

Satu tahun itu panjang. Resolusi-resolusi yang kita tulis, jika tidak benar-benar kita tanam dan kita bawa setiap hari, maka bukan tidak mungkin nanti sore kita sudah lupa apa yang kita tuliskan sebagai bentuk seremonial tahun baru itu.

Jika memang ingin benar-benar berkembang, bukan resolusi seperti itu yang kita butuhkan. Kita bisa berubah setiap hari. Kita bisa memulainya dari detik ini tanpa perlu menulis resolusi setiap pergantian tahun yang mana kadang di akhir tahun kita kelimpungan menjawab tagihannya jika ada kawan kita yang tahu resolusi yang kita tulis secara membanggakan itu.

Jika memang kita benar-benar memiliki keinginan untuk berubah, apakah mesti kita harus menunggu pergantian tahun untuk merumuskan perubahan itu? bagaimana jika hidayah itu datang di pertengahan tahun atau di sepertiga tahun? Bagaimana jika ternyata dua bulan berikutnya kita sadar rumusan resolusi kita itu sungguh meleset sekali? Lantas bagaimana pertanggungjawaban kita pada resolusi yang kita tulis itu jika kemudian kita justru tak ada kesungguhan untuk benar-benar merealisasikannya.

Jika mau berubah, berubahlah! Jika mau bergerak, bergeraklah!
Tak perlu menunggu tahun depan untuk menciptakan resolusi baru yang mana tahun ini mungkin belum kesampaian dan bisa jadi perencanaannya sudah dilakukan sedari tahun kemarin.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com