Untuk Apa Kita Menulis



Ketika pertama kali kita belajar menulis, kita belajar menggoreskan beberapa garis lurus dan lengkung untuk membentuk huruf. Setelah itu, kita belajar menulis kata demi kata; kata itu kemudian menjadi frasa, kalimat, paragraf, hingga menjadi sebuah esai lalu menjadi sebuah karya dalam bentuk buku.

Setelah kita keluar dari dunia pendidikan, kadang ilmu itu masih kita praktikkan walaupun tidak ada tugas yang mengharuskan kita mengerjakannya; tidak ada lomba menulis yang menuntut deadline, dan sebagainya. Namun, tanpa sadar kita masih melakukan itu. Untuk apa? Tentunya itu bukan hanya karena kita sedang ingin menerapkan pelajaran yang ada di sekolah karena begitu banyak pengajaran yang ada bagi kita, tetapi kita lebih suka menulis daripada menghitung. Jika kita ingin menyuarakan sesuatu, tentunya kita bisa melakukannya dengan komunikasi verbal. Lantas, untuk apa kita menulis?

Secara tidak langsung, menulis kadang membuat kita berpikir terlalu dalam tentang apa yang ingin kita tuliskan. Kita ingin hal yang kita tuliskan itu berarti, bertema, atau minimal bertopik dan membahas sesuatu yang besar, bukan hal remeh yang tidak lagi menggambarkan usia kita. Membuat kerangka muluk-muluk untuk membahas suatu hal besar yang bahkan tidak ingin kita bahas, bahkan kita ingin lari darinya. Kita hanya menganggap bahwa tulisan adalah cerminan dari kualitas diri kita dan ingin membanggakan diri dengan tulisan yang semakin berkualitas. Namun, ada hal yang secara tidak sadar kita ketahui tentang menulis yang mungkin tidak kita sadari menjadi beberapa alasan mengapa kita menulis.

1.   Menulis untuk kebahagiaan diri sendiri
Bagi sebagian orang yang tidak memiliki cukup kesempatan untuk bertemu banyak orang karena kesibukan atau tidak menemukan seseorang yang cocok untuk diajak berbicara, kegiatan menulis adalah seperti curhat. Kita bisa mengeluarkan seluruh perasaan yang tidak mampu lagi kita tampung ke dalam sebuah tulisan. Kegiatan menulis persis seperti kegiatan bersih-bersih setiap minggu di mana kita bisa menemukan banyak tumpukan debu dan sampah yang bisa dibuang di tempat sampah.

Menulis seperti ini biasanya kita lakukan pada sebuah buku kecil yang kita sebut teman bisu, diary. Jika menceritakan segala perasaan pada orang lain akan membuat mereka terbebani atau mungkin akan mendapatkan kritikan yang akan menambah beban, maka diary adalah pendengar setia yang bisa menampung seluruh keluh-kesah tanpa merasa terbebani, apalagi sampai memberikan kritik.

Kelebihan lain dari menulis adalah kita bisa menyuarakan hal yang perlu didengar banyak orang tetapi kita tidak mampu melakukannya karena bukan sosok yang berpengaruh. Kadang kita perlu menulis keluhan atau opini melalui media tentang suatu hal besar yang terjadi dan membutuhkan perhatian pemerintah dan banyak orang, apalagi jika itu membutuhkan tindakan dan biaya besar. Tentu hal ini tidak bisa kita lakukan melalui komunikasi verbal dari orang ke orang, tetapi harus melalui media yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Dengan menulis di media, kita bisa menyampaikan saran, permintaan, keluhan atau pandangan umum mengenai suatu masalah yang mungkin menyangkut seluruh masyarakat di negara tersebut dan tidak bisa kita sampaikan secara langsung kepada pemerintah atau masyarakat; dan dari tulisan itu, masalah tersebut bisa ditanggapi dan diatasi dengan cepat tanpa perlu membuat surat yang berlapis-lapis. Dengan tulisan itu pula, pemerintah dan masyarakat bisa tergerak untuk melakukan perubahan.

Hal ini seperti yang pernah terjadi di Amerika pada tahun 1994 dan sudah difilmkan dengan judul “Freedom Writers” di mana terjadi kerusuhan karena perbedaan ras dan pendatang baru. Seorang guru yang menangani murid-murid yang bermasalah dengan hal itu berhasil mengatasi konflik dalam kelas dengan menyuruh mereka menulis diary sehingga dia mendapatkan bahwa permasalahan tersebut timbul karena tidak adanya saling pengertian. Guru itu pun mengajak murid-muridnya untuk berkunjung ke museum yang merekam kejadian serupa dan bertemu dengan orang-orang yang pernah mengalaminya. Di akhir cerita, guru dan murid-murid itu membuat sebuah yayasan kepenulisan yang menyuarakan kekerasan antarras dan berhasil meredakan konflik tersebut.

2.   Menulis untuk kebahagiaan orang lain
Ada kalanya kita sebagai manusia memiliki banyak hal untuk diceritakan, banyak impian untuk dicapai, serta banyak pemikiran untuk direalisasikan. Kita tidak memiliki kapasitas cukup untuk merealisasikan pemikiran tersebut karena kita belum menjadi sosok yang berpengaruh. Kita hanya memiliki kapasitas terbatas untuk menceritakan impian atau hal-hal menarik yang mungkin menginspirasi.

Dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan semua itu. Kita bisa menggunakan teknik sudut pandang orang pertama untuk menceritakan banyak hal dan menggapai mimpi-mimpi yang hanya berada dalam benak kita dan membuat tokoh kita yang mencapainya. Kita bisa merealisasikan pemikiran kita lewat tokoh yang menjadi sosok yang berpengaruh dan berkeinginan besar untuk membuat suatu perubahan dalam cerita. Kita bisa menuangkan semua itu dalam bentuk tulisan fiksi yang tanpa kita sadari sebenarnya merupakan doa untuk diri kita sendiri maupun semangat untuk membantu orang-orang lain yang mungkin mengalami hal serupa dan sedang berputus asa atau mungkin kita menulis untuk menghibur orang-orang yang tengah susah dengan guyonan-guyonan kita. Kita bisa melakukan perubahan melalui tulisan, seperti kata-kata Umar bin Khatab yang kira-kira berbunyi, “jika kamu bukanlah anak orang kaya atau pemerintah, maka jadilah penulis”.

Untuk menyebarkan pengetahuan dan pengertian pada semua orang, kita juga bisa melakukannya dengan menulis. Semakin banyak pengetahuan dan pengertian yang kita sebarkan, semakin banyak manfaat yang bisa kita dapatkan baik secara langsung, maupun tidak langsung melalui manfaat dan perubahan yang terjadi pada diri orang lain yang berpengaruh pada diri kita. Jika kita menuliskan tentang pentingnya hidup bersih, maka kita juga bisa melihat lingkungan di sekitar kita bersih karena tetangga kita membaca buku itu dan menerapkannya.


Betapa banyak orang-orang yang berhasil membuat perubahan melalui tulisan. Kita juga tahu bahwa ada beberapa perbaikan yang terjadi di dunia ini yang disebabkan oleh buku. Jika orang lain bisa mengubah hidup menjadi lebih baik seperti yang mereka mau, kenapa kita tidak memulainya?

****

Image Credit: Pixabay.com

2 comments:

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com