Song of the Sea: Film Keluarga yang Indah

“Kemarilah, oh, anak manusia, ke perairan dan hutan bersama para peri bergandengan tangan karena dunia ini penuh tangisan dari yang bisa kaupahami.” – Song of the Sea
Film ini dimulai dengan seorang anak laki-laki bernama Ben yang ditinggal ibunya yang sedang hamil tua. Perempuan itu menceburkan diri ke laut di tengah malam. Tidak lama setelah perempuan itu menceburkan diri, didapati seorang bayi perempuan di tepi pantai yang diduga adalah anak yang tengah dikandungnya. Bayi itu kemudian diberi nama Saoirse.

Ketika hari ulang tahun ke-6 Saoirse, dia mendapat kesempatan menjelajah kamar kakaknya dan menemukan sebuah peti yang dikunci. Gadis itu membuka peti itu dan memakai jubah putih yang tergeletak di dalamnya, lalu menceburkan diri ke dalam laut dan berubah menjadi anjing laut. Sejak saat itulah, Saoirse menjadi Selkie menggantikan ibunya yang sudah meninggal.

film animasi bagus


Menjadi seorang Selkie tidaklah mudah. Seorang Selkie harus selalu memakai jubah putihnya, jika tidak, rambutnya akan memutih dan usianya tidak lama lagi. Ia juga bertugas untuk mengantarkan roh-roh para peri yang sudah membatu akibat ulah Macha ke langit. Seperti cerita kakaknya, Macha adalah burung hantu yang merupakan ibu Mac Lir, raksasa membatu di dekat bukit di tengah lautan tempat tinggal Ben dan Saoirse. Dia telah menggunakan botolnya untuk menghentikan kesedihan yang menimpa anaknya hingga menjadi batu. Dia juga melakukan hal serupa pada semua peri sehingga keberadaan Selkie sangat dicari, seperti yang terjadi pada kedua anak itu ketika berada di kota. Mereka bertemu dengan para peri yang mengira Saoirse adalah Selkie. Namun, sebelum Selkie sempat meniup cangkang yang bisa membebaskan perasaan yang terkurung dalam botol, burung hantu pengawal Macha merusaknya dan menghisap sebagian perasaan ketiga peri itu hingga mereka menjadi setengah membatu.

Cerita ini berlanjut hingga Saoirse hampir kehilangan nyawanya karena jubah putihnya telah dibuang ayahnya. Petualangan Ben dan Cu, anjing peliharaan mereka, yang menyelamatkan adiknya dari Macha dan menyadarkan burung hantu setelah tahu bahwa adiknya adalah seorang Selkie berlanjut hingga lagu Selkie berhasil dinyanyikan dan roh-roh peri dan manusia yang membatu berhasil dibebaskan.

Walaupun film ini hanya diambil dari sebuah mitos, tetapi penyajiannya sangat luar biasa dengan visual yang bagus. Sebagaimana kebanyakan cerita mitos, film ini tergolong beraliran surealis. Namun, dengan gaya penceritaan sehari-hari yang mudah dan sedikit surealisme yang dibawakan dengan mudah, aliran cerita ini akan mudah dimengerti bahkan oleh seorang anak.

Seperti yang saya jelasnya, film dengan visual yang indah yang membantu penonton memahami isi cerita dengan baik sangat cocok dinikmati oleh semua kalangan usia. Walaupun pengambilan beberapa simbol binatang seperti anjing laut dan burung hantu masih tidak begitu mudah dimengerti, itu tidak akan menjadi masalah.

Ada pesan menarik dalam cerita ini. Macha, yang seorang ibu dari raksasa, menggambarkan orangtua. Jika dalam film ini Macha berusaha menyerap penderitaan Mac Lir yang menyiksa hatinya, maka dalam dunia kita itu sama seperti orangtua yang memenangkan anaknya yang sedang menangis dengan berbagai cara tanpa membiarkan anak itu diam dengan sendirinya. Raksasa yang menjadi batu sama halnya dengan anak yang tidak lagi bisa merasakan perbedaan bahagia dan sedih. Karena dia dipaksa untuk bahagia ketika dia sedang bersedih atau harus menghentikan perasaan itu ketika dia bisa menenangkan dirinya sendiri yang mengajari seorang anak untuk mengontrol emosi.


Dalam berbagai hal, film ini layak ditonton baik oleh kalangan kecil maupun dewasa. Lewat pesannya yang dalam dan disampaikan secara halus, siapa pun wajib menontonnya.


***

kredit gambar : Rossstewart.net

2 comments:

  1. sebenarnya saya berharap lebih saat pertama mengenal film ini. tapi cukup baguslah... dengan surealismenya, meski kadang sulit ditangkap visual karena konsep animasinya yang flat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. justru dengan animasinya yang flat itu, film ini jadi indah karena kita bisa menangkap ekspresi. Bukan kecanggihan teknologi yang ditampilkan, melainkan keindahan gambar. Lebih dari semua itu, animasi dan ceritanya sama2 indah, bukan karena surealismenya.

      Delete

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com