Friday, 12 April 2019

Rekreasi ke Yogyakarta, Mulai Goa Pindul Sampai Borobudur

Oke.

Jadi sekarang kita akan bicara soal travelling. Sebenarnya aku sudah travelling ke beberapa tempat, tetapi selalu lupa untuk ambil foto di tempat yang asyik dan menyenangkan. Mungkin karena saking menyenangkannya ya? Hehe.

Travelling kali ini berlokasi di Yogyakarta. Mungkin ada beberapa di antara kita yang mengira bahwa Yogyakarta hanya punya Malioboro dan Candi Borobudur. Namun, semua itu salah. Yogyakarta punya lebih daripada itu. Dia punya pantai dan goa yang perlu dikunjungi.

Rekreasi kali ini sudah terjadi beberapa bulan yang lalu; dan seperti yang kubilang sebelumnya, aku lupa ambil foto.

Rekreasi ini diprakarsai oleh RT sebelah. Karena masih ada beberapa kursi yang kosong karena ada yang batal ikut, maka kursi yang kosong itu ditawarkan pada kami berempat, kedua mertua, suami dan aku.

Jumat malam itu, bus datang sekitar pukul 7 dan kami semua melakukan pengecekan dan penempatan kursi sesuai yang tertera di bus serta memasukkan tas-tas di bagasi samping. Kami berangkat pukul 8 lebih seperempat lewat Gresik.

Sepanjang perjalanan, kami menikmati lagu-lagu nostalgia karena sebagian besar penumpang adalah para oldies. Walaupun demikian, aku juga suka lagu oldies karena sejak kecil sering mendengar beberapa lagu-lagu yang diputar di bus itu. Malam semakin larut. Sekitar pukul 12 kami sampai di rest area Ngawi. Kami turun dan melakukan kebutuhan kami masing-masing. Ada yang ke toilet dan ada juga yang membeli mie di warung. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan lagi.

Pantai Indrayanti

Kota-kota mulai gelap. Mataku juga mulai mengantuk. Aku tidur lagi sekitar pukul 2 dan kami sudah sampai di Pantai Indrayanti sekitar subuh. Waktu itu masih gelap, aku tidak turun sampai langit berubah sedikit biru, sementara suamiku dan orang-orang lainnya sudah turun.

Sebagai informasi, di dekat pemberhentian bus ini ada banyak sekali toilet yang pada waktu itu sebenarnya masih tutup. Jadi, akan sangat membantu kita yang ingin menjalankan kesibukannya; dan kamar mandinya lumayan bersih.

Tak lama, matahari pun terbit. Garis pantai masih jauh di tengah. Kami berjalan ke arah tengah pantai yang ternyata berdasar batu-batu karang. Di sana ada banyak lumut, timun laut, yuyu atau kepiting kecil dan sepertinya juga ada landak laut. Di sebelah kiri terdapat bukit karang besar. Untuk bisa ke sana, kita harus membayar 5 ribu.

Sekitar pukul 6 lewat sedikit, sarapan sudah siap. Warung yang tepat berada di belakang kami memanggil rombongan kami lewat speaker. Sarapan pun dimulai. Menu yang disediakan sangat sederhana dengan lauk yang sudah ditentukan dan tidak bisa nambah. Sedangkan kami bebas mengambil seberapa pun porsi nasi yang diinginkan. Namun, sebagian besar dari kami hanya mengambil sedikit karena waktunya masih terlalu pagi untuk sarapan.

Kami menikmati sarapan di bangku-bangku yang sudah disediakan. Bangku-bangku itu berada di antara tanaman-tanaman tinggi, seperti mangroove dan tanaman-tanaman lain sehingga memberikan kesan rindang dan nyaman untuk melakukan santap makan.

Goa Pindul

Perjalanan lalu dilanjutkan sekitar pukul 7. Karena tidak sadar dengan medan sekitar karena semalaman tidur, akhirnya aku tahu bahwa untuk sampai di pantai itu, kami harus melewati jalan sempit di kampung-kampung. Jalannya cukup ekstrim dan sangat berbahaya jika dilalui oleh bus. Walaupun perjalanan kami aman, tetapi jalur dari dan ke pantai sangat rentan menabrak rumah-rumah penduduk yang hampir tidak memiliki pagar dan sangat berdempetan dengan jalan.

Setelah melewati perkampungan itu, kami masuk ke hutan dan sampailah kami di kawasan Goa Pindul. Sesampainya di sana, kami langsung dipersilahkan duduk di pondok dan menunggu instruktur untuk memberikan kami arahan. Di pondok sebelah sudah ada rombongan yang sedang melakukan permainan kekompakan dengan instrukturnya.

Instruktur kami pun datang. Dia memberikan penjelasan tentang bagaimana Goa Pindul itu. Kami juga diberi arahan tentang apa saja yang harus kami lakukan ketika sedang berada di atas ban sambil melayang di atas air tanpa arus di Goa Pindul.

Selesai mendapatkan instruksi, kami mendapatkan pinjaman jaket pelampung. Kami juga bisa menyewa sepatu karet agar kaki kami terlindungi dari dinding goa yang agak tajam. Namun, sisa sepatu yang tersedia tidak cukup untuk aku dan suami sehingga kami berdua harus bertelanjang kaki.

Untuk sampai ke sana, kami harus menaiki mobil pickup dan turun di sekitar peternakan warga. Dari sana, kami harus jalan sekitar 300 meter dengan membawa ban masing-masing. Lalu, kami harus menuruni tangga untuk bisa sampai ke goa.

Sesuatu terjadi. Anak kecil yang awalnya biasa-biasa saja tiba-tiba langsung nangis. Nenek yang membawanya serta untuk ke goa pindul jadi panik. Kami semua bingung membujuk anak itu. Karena dia uring-uringan dan nangis keras. Lalu, satu petugas yang ada di sana langsung mengusap mukanya dengan air goa pindul. Anak itu sedikit tenang dan langsung naik ke pangkuan neneknya yang sudah ada di atas ban.

Kami semua naik dalam satu barisan panjang seperti ular. Di sisi lain ada anak-anak SMP yang juga sedang berekreasi ke goa pindul. Goa ini hanya cukup dilalui oleh dua baris ban-ban panjang. Selain itu, airnya tenang dan tak berarus. Sehingga harus ada petugas-petugas yang menarik dan mendorong ban-ban kami. Kalau tidak, ban-ban kami tidak akan bergerak.

Dari awal hingga hampir sampai akhir, goa itu sangat gelap. Beberapa orang ada yang menyalakan senter dari smartphone mereka dan mengarahkannya ke langit-langit. Di sana ada beberapa kelelawar yang sedang tidur. Dengan air yang tenang, kami seperti diayun-ayun dan suasananya yang sunyi membuat mata mengantuk. Sesekali aku memejamkan mata dan harus bangun karena harus melindungi kepala dari dinding goa yang menyempit.

Akhirnya kami sampai garis akhir. Walaupun hanya mengambang, entah kenapa aku merasa sangat senang setelah keluar dari goa itu. Mungkin karena mengambang di air dalam goa itu membuat otot-otot relaks dan mengurangi stress.

Setelah itu kami kembali ke pondok dengan angkutan yang sama. Setelah mengembalikan jaket pelampung, kami segera mengantre di kamar mandi untuk membersihkan badan dan ganti baju. Menu makan siang sudah terhidang di pondok kami berkumpul pertama kali. Kami menikmati makanan khas Gunung Kidul dengan teh hangat. Sebenarnya menunya bisa beragam, tergantung dari apa yang sedang musim di sana.

Malioboro

Seharian kami sudah bersenang-senang dan kelelahan. Saatnya kami beristirahat. Bus keluar dari kawasan Gunung Kidul menuju tempat peristirahatan. Kami beristirahat di hotel keluarga yang jaraknya hanya 50 meter dari Malioboro. Kami beristirahat sejenak dan langsung jalan-jalan ke Malioboro.

Malioboro malam itu sangat ramai dan mungkin selalu ramai apalagi hari itu adalah Sabtu malam. Kami mencari makan dan berjalan-jalan ke keraton untuk melihat barang-barang antik di sana. Untuk ke keraton, kawan-kawan hanya tinggal berjalan lurus dari jalan utama Malioboro ke arah selatan. Lalu, melewati alun-alun yang sedang digunakan untuk pasar malam. Biaya masuk ke keraton adalah Rp5.000,-. Kebetulan hari itu keraton sedang ada pertunjukan seni musik. Setelah puas berputar-putar melihat-lihat pajangan yang beragam, mulai dari alat transportasi hingga pakaian, kami menikmati seni musik hingga pukul 9 malam.

Candi Borobudur

Keesokan harinya adalah hari terakhir kami di Yogyakarta. Kami pergi ke situs ikonik Yogyakarta, yaitu Candi Borobudur. Candi Borobudur sudah dipugar sedemikian rupa sehingga tampak lebih rapi dan teratur. Pintu masuknya pun dibuat super ketat sehingga orang yang tidak bayar tidak bisa masuk.

Jarak dari pintu masuk ke Candi sendiri cukup jauh, sekitar 1 km. Namun, kami bisa ke sana dengan mengendarai transportasi yang sudah disediakan, seperti mobil listrik atau kereta dan harus membayar lagi.

Sebelum memutuskan untuk ke candi, disarankan untuk membawa payung dan/atau kacamata hitam apalagi ketika siang hari. Candi Borobudur bagian depan tidak memiliki begitu banyak pepohonan. Kalau sudah terlanjur, maka Anda bisa berputar ke samping, kanan karena pintu samping kiri ditutup. Namun, kalau mau nekat juga tidak apa-apa kok.

Itulah pengalamanku berekreasi ke Yogyakarta. Semoga pengalaman kawan-kawan juga semenyenangkan pengalamanku, ya.

No comments:

Post a Comment