Polemik Aturan Tenaga Kerja

Salah satu hal paling bodoh yang pernah diukir oleh pemerintah negeri ini dan tak bisa diobati sampai saat ini juga oleh para penerusnya adalah penetapan sistem outsourcing. Bagaimana tidak? Sistem ini membuat masyarakat seperti budak di negerinya sendiri. Sebagian besar lapisan masyarakat yang menggenatungkan hidupnya dengan menjadi buruh pabrik mendadak seperti budak di negerinya sendiri karena aturan bodoh yang dibuat oleh pemimpin mereka sendiri. Aturan ini justru menguntungkan para pembesar—yang malangnya, justru lebih banyak diisi oleh turunan orang asing. Sedangkan turunan murni? Lebih banyak jatuh menjadi buruh yang mana merasa tak memadai untuk membuka usahanya sendiri.

Tak ayal, hal inilah yang kemudian menyulut para tenaga kerja untuk turun ke jalan, bersuara, dan beraspirasi. Berjuang serta berharap suara mereka didengarkan. Namun apa yang terjadi? Aturan itu tetap berdiri tegak. Dan para budak di negeri sendiri ini tetap akan diperah tenaganya tanpa adanya penghormatan atas jasanya. Seolah para budak inilah yang hidup membutuhkan mereka para pembesar.

Lantas, apalagi yang bisa diharapkan dari para penerus ketika mereka besar dan mereka dihadapkan kepada kenyataan bahwa kelas menengah ke bawah hanya pantas menjadi buruh di negerinya sendiri? mereka masuk ke sebuah perusahaan, dikontrak hanya beberapa bulan, kemudian serta merta bisa dikeluarkan bila dianggap melanggar aturan. Pun ketika kontrak habis, perusahaan belum tentu bersedia untuk memperpanjang kontrak mereka.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com