Wednesday, 18 October 2017

MANAJEMEN EGO

Ada sebuah paradoks tentang harga diri.

Harga diri seolah sesuatu yang harus dilindungi dan diperjuangkan—untuk meraih kebahagiaan. Sedangkan di sisi lain, memperjuangkan dan melindungi harga diri itu juga bisa menjadi sumber ketidakbahagiaan—karena pada akhirnya kita akan terjebak pada ego belaka.

Ego adalah wujud pengakuan. Pengakuan pada eksistensi dan keakuan yang individual agar kita senantiasa merasa dihargai dan diperhitungkan sebagai individu yang mumpuni. Sekilas hal seperti itu terdengar wajar sebagai manusia. Namun bila kemudian tujuan dari pengukuhan ego sendiri adalah untuk kebahagiaan, apakah tepat?


Pernah saya mendiskusikan hal ini kepada seorang Guru. Berbenturan dengan paradoks pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan. Kala itu saya bertanya, “Guru, mengapa engkau membiarkan orang-orang mengambil kata-katamu sedemikian rupa dan mereka sebarkan tanpa sedikitpun menyebut namamu?”

Seraya tersenyum, Sang Guru menjawab, “Saya di sini adalah perantara. Kata-kata itu tak satu pun keluar dari saya. Pun semua tanyamu ini. Engkau, Saya, kita semua tak memiliki apapun yang kita pegang saat ini. Sama sekali tiada hak.”

Sehingga Guru tersebut merasa segala karyanya boleh disebarkan kepada siapa saja tanpa harus mengatasnamakan dirinya. Ada sejumput malau kala itu. Sebagai seseorang yang berhasrat menjadi seorang pengkarya, sudah wajarnya saya ingin melihat orang-orang mengenal nama saya dari karya yang saya buahkan. Namun bagaimana jika kemudian saya bertemu seseorang yang lebih tinggi ilmu dan pengetahuannya—daripada saya—kemudian merelakan karya itu tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu dinaungi oleh nama “Bapak” mereka. Rasanya seperti ditampar kanan-kiri dan diraupi kotoran kuda oleh ego saya sendiri. Sedangkan sampai saat ini dalam rangkai satu dua kata, saya sudah sangat berhasrat untuk membubuhkan nama di balik gubahan saya itu.

Lama saya merenungi bahwa Ego adalah perkara diakui sedangkan untuk meraih kebahagiaan utuh maka kita harus melepas segala aku yang ingin diakui itu. Mengalir dengan lembut selayaknya air yang menjemput muara. Hingga kemudian ketika sampai, kita bisa berkata, “Di sinilah Kami. Kami telah sampai. Kami telah menyatu.”

Sedangkan, apakah kita rela melepaskan ego itu sendiri?
Itu tergantung pilihan.

Dengan segala perenungan yang terdalam, pada akhirnya kepedihan, kemuraman, dan perasaan negatif lainnya bersumber pada Ego. Hasrat-hasrat keduniawian serta keruhanian yang dilahirkan oleh Ego akan menyendat perjalanan kita dan membuat katup kebahagiaan kita tersumbat. Segala usaha memperjuangkan dan mempertahankan harga diri kita justru melahirkan kepedihan mendalam. Semua hanya demi pengakuan pihak luar. Sedangkan hasrat dan tuntutan Ego tak pernah ada ujung—baik itu keduaniawian ataupun keruhanian.

Ada cara menarik dari sesi meditasi yang saya pelajari. Meskipun kami mengenal dualisme yang sejatinya hanyalah pemisahan dari kebersenyawaan kesejatian, dualisme ini ibarat pintu kesadaran. Orang mengenal benar dan salah. Baik dan buruk. Serta beragam pertentangan dualisme lainnya. Namun pada tingkatan tertentu, kita akan paham bahwa keduanya saling melengkapi dan tak bisa dipisah. Bahkan dari sudut pandang yang berlainan, kedua pandang itu bisa berputar—baik bisa jadi buruk, salah bisa jadi benar. begitulah sifat dualisme yang begitu paradoks beserta dengan anomalinya. Namun tentu saja, ini sangat rawan menjadi perdebatan karena Ego selalu punya cara penilaian sendiri untuk membenarkan pihaknya.

Kembali pada dasar pengendalian Ego, dalam meditasi, selain dengan cara menerima segala bentuk pikiran yang bergentayangan di dalam benak kita, ada pula cara untuk sedikit mengesampingkan Ego. Menaruhnya lebih dulu dan memahami bahwa kita sebenarnya kosong tanpa segala itu. Apakah kita tanpa Ego?

Bisakah kita membayangkan bahwa senandainya kita tidak menjadi kita dalam kehidupan kita kali ini?

Atau sejatinya “kita menjadi kita” karena keinginan “kita”?

Sedangkan “kita” bisa kembali dipecah menjadi “peran” masing-masing menjadi “aku”, “engkau”, “dia”, “mereka” dan bentuk pengakuan lainnya. Seperti pula “Au” yang juga dipisah sebagai pribadi yang berbeda—secara profesional, keluarga, pribadi mandiri, pasangan, dan lain sebagainya.


Bagaimana jika tak ada Ego?

No comments:

Post a Comment