Friday, 24 April 2015

Batasan Aman Pornografis Dalam Sastra


Kepada pengkarya yang dirundung bimbang ragu akan karyanya yang mengandung keintiman,

Judul topik ini lucu. Dan terkesan lapuk untuk dibicarakan. Adakah batasan dalam berkarya? Bagaimana kita bisa menilik batasan itu dan menjaga agar karya kita tidak dicap sembarangan hingga jauh dari tujuan awal kita.

Di lingkup kita ini, sangat banyak orang yang kritis dan latah terhadap suatu konten fiksi. Karya sastra dihakimi hanya dengan melihat kulitnya tanpa memikirkan maknanya. Sastra sekadar menjadi sastra busana. Kumpulan tulisan berbaju sastra. Tak ada kebebasan di dalamnya. Hal ini pertama kali meledak saat adanya perbincangan mengenai Fiksi Alat Kelamin atau yang jika disingkat akan berbunyi "FAK", seperti bunyi ungkapan kotor dalam bahasa asing.

Untuk mengujinya, maka saya membuat beberapa survey untuk melihat kesiapan pasar tentang sastra bermuatan dewasa ini. Banyak judul-judul dan karya-karya yang mumpuni bertengger pada rak-rak toko buku dengan label dewasa. Deskriptifnya tolong jangan dibandingkan dengan karya luar yang lebih bebas dalam pengolahan kata. Di tempat kita bertumbuh sekarang, bahkan menggunakan kata-kata tabu saja akan dikecam. Banyak kata yang terkesan mubazir di daftar KBBI, sehingga keberadaannya terancam dilupakan.

Sekarang kalimat-kalimat itu makin ganas saja sensornya—dalam lain media. Namun beruntunglah, kita masih bebas menggunakan kata-kata kasar dalam sastra.

Sebagai pengkarya, layaknya kita renungkan siapa konsumsi karya kita; dewasa, remaja, anak-anak atau semua kalangan. Kita bisa memasukkan unsur-unsur dewasa yang lebih matang jika target kita adalan konsumen dewasa. Kita bisa membatasi persoalan yang lebih ringan dalam konteks remaja. Karya kita juga berperan dalam pembentukan karakter mereka. Jangan sampai ada tuduhan, karena mengonsumsi karya kita, jadinya para remaja itu berperilaku buruk. Jika kita memilih anak-anak, maka pastikan kita memakai bahasa lugas yang tak berbelit. dan berilah konten yang mendidik dan mudah dicerna. Terlebih lagi pesan positifnya.

Saya tertarik menilik sastra dewasa, di mana ada kubu yang berusaha membantai kebebasan sastra itu menjadi suatu yang penuh aturan dan cenderung dibawa-bawa ke masalah agama dan moral. Sedangkan eksistensi sastranya sendiri dilupakan. Ekstrak maknanya diabaikan.

Memang saat ini pasar sastra telah berubah. Pada awal 2002 dulu sedang meledak karya-karya yang digawangi oleh penulis-penulis wanita dengan sastranya yang berani. Masa itu digawangi oleh SAMAN karya Ayu Utami yang memenangkan Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Masa itu, karya ini ibarat pelatuk yang menandai zaman baru reformasi yang konon mengagung-agungkan kebebasan berpendapat. Namun tetaplah, ada saja yang skeptis dengan wujudnya. Bahkan sampai digelari sebagai "Sastra Wangi".

Setelah saya tilik dan membandingkan muatan dari karya luar, saya menemukan jembatan yang berbeda dalam sastra lokal. Sebebas apapun kita mengakuinya, kita masih dibatasi oleh moral dalam pendeskripsian.

Dan lucunya, sastra itu sendiri tak dilihat dari kacamata sastra, namun dari pandangan moral dan agama. Ibarat kita menilai masakan dari rupanya saja, mengabaikan rasanya. Baru melihat bentuk, kita sudah bicara makanan itu busuk dan beracun. Bukankah itu penilaian dangkal dan sepintas?

Pornografis adalah, jika deskripsi dalam suatu karya berusaha dan bertujuan memancing gairah seksual pembacanya secara langsung, tanpa adanya hubungan erat dengan isi/makna sastra tersebut. Jika Deskripsi adegan panas itu ditulis dengan detil dan terperinci untuk tujuan tersebut, bisa dipastika itu adalah pornografi. Namun jika penulisannya bertujuan untuk melancarkan cerita dan makna dari karya itu, atau menyiratnya suatu hubungan kabur dengan karya itu sendiri, bisa dipastikan itu bukan pornografi.

Untuk langkah aman pembatasannya, jika kita terhadang oleh babak panas, bolehlah kita memangkas deskripsi kita seperlunya saja. Misal, jika kita ingin memberi kesan yang panas namun memilukan dalam suatu adegan pemerkosaan, bisalah kita pilih kata yang pas, namun tidak provokatif. Itu adalah tugas kita sebagai pengkarya.

Dampak negatifnya dari pembatasan ini, pengkarya jadi bimbang ragu dalam menyampaikan realitas dalam adegan yang terjadi. Apalah arti sastra tanpa mengikat realitas itu sendiri? Sedangkan pergolakan batin paling puncak ada ketika ledakan itu terjadi, bukan pasca-kejadian itu. Meski kemudian kejadian itu akan memiliki dampak berkepanjangan dalam perkembangan pribadi tokoh.

Namun dampak positifnya, insan pengkarya menjadi lebih kreatif dalam mengolah kata. Mereka menjadi lebih lihai dalam penyamaran adegan intim dengan metafora yang tak kalah indahnya atau tragisnya. Namun jangan bosan jika kemudian narasi metafora itu menjadi bengkak dan terkesan mendayu-dayu. Itu adalah risiko. Dan pengkarya dituntut untuk bisa mengatasi hal itu.

No comments:

Post a Comment