Monday, 30 March 2015

Kuncup Bunga dan Kupu-Kupu



Gadis itu menunggu mekarnya kuncup bunga yang ada di hadapannya. Dia tahu kuncup itu tak akan mekar dekat-dekat ini. Tapi yang jelas saat ini dia ingin melihat bunga itu mekar.

Bibirnya tersenyum tipis. Matanya memandang kosong. Kuncup bunga itu bergoyang tertiup angin. Daunnya melambai-lambai seperti memanggil gadis itu agar menemaninya lebih lama. Gadis itu pasti menemaninya lebih lama. Dia menunggu.

"Aku tak ingin mempermainkanmu. Tolong beri aku kesempatan untuk bertumbuh," ujar kekasihnya semalam.

"Kau hanya bermain aman!" keluh gadis itu.

"Aku tak ingin mengumbar harap! Kau tak bisa menyamakan aku dengan pria-pria lain yang memesonakanmu dengan perhatiannya! Aku tak seperti itu!"

"Kau hanya memikirkan dirimu saja!"

"Sudahlah!"

Pria itu pergi meninggalkannya.

Gadis itu termenung sendiri. Dia mengutuki sikap laki-laki itu. Dia tak habis pikir bisa jatuh cinta dengan pria seperti itu. Pria yang baginya tak bersikap seperti pria. Pria yang selalu membuatnya menunggu dan menunggu. Dan dia juga tak tahu kepastian seperti apa yang ditunggu.

Tunggu. Tunggu. Tunggu. Dia bosan dengan kata itu.

Kuncup bunga itu bergoyang ditiup angin. Daunnya melambai-lambai. Gadis itu masih setia di sana menanti bunga itu mekar.

"Sudah tinggal saja! Kamu melakukan hal sia-sia!" kata temannya.

"Tidak. Kuncup ini pasti mekar," kilahnya.

"Bisa-bisanya kamu berhayal seperti itu! Tak ada kembang seperti itu yang mekar dalam sekejap!"

"Maka aku harus menunggu."

Temannya itu lelah dan pergi meninggalkannya. "Carilah bunga lain yang sudah mekar!" pesannya pada gadis itu.

Seekor kupu-kupu terbang mengitari kuncup itu. Dia enggan bertengger. Kuncup itu terlalu muda baginya. Berputar-putar selayaknya serangga kebingungan. Kupu-kupu penuh corak itu lantas pergi.

Kuncup itu berdiam. Tak kunjung mekar. Dia bukan bunga istimewa. Bisa ditemukan di padang belantara. Ukurannya mungil. Bentuknya biasa. Harumnya begitu saja. Tapi gadis itu masih menunggunya.

Bunga itu harus mekar. Segera. Setidaknya harus ada kejelasan bahwa dia pasti mekar. Tapi bunga tetaplah bunga. Harus sabar menunggu mekar. Meski dedaunannya melambai-lambai kupu-kupu untuk mencumbunya, tetap saja dia tak kunjung mekar.

Gadis itu menyerah. mungkin kuncup itu tak mekar hari ini. Dia menuju ke kamar, lalu tidur. Sebenarnya dia tak ingin bermimpi karena berharap esok segera tiba. Dia ingin mendapat kepastian mekarnya kuncup itu.

Tapi dia tetap bermimpi.

Kupu-kupu raksasa mengejarnya. Dengan ukuran tiga kali manusia biasa, kupu-kupu itu mampu membuatnya takut. Bulu-bulunya terlihat lebat. Mulutnya berkecap ganas. Gadis itu berlarian mencari perlindungan.

Angin dari kepakan sayap kupu itu mampu merobohkan pohon-pohon dan bangunan di sekitarnya. Keindahan corak warna dan ukiran di sayapnya tak lagi membuat kagum. Bagai distorsi keindahan itu menghancurkan segala.

Gadis itu terus berlari. Dia terpelanting jatuh ketika kupu-kupu itu melesat di atasnya. Kakinya sepertinya lecet. Dia meringis perih.

Kupu-kupu itu hilang. Dan ada seorang pemuda membawa pedang.

"Kuncup itu tak pantas untuk kupu-kupu," ucap pemuda itu.

"Kuncup itu akan mekar!"

"Kuncup itu belum mekar. Kau tak bisa memaksanya mekar. Semua butuh waktu."

"Kuncup itu pasti mekar!" tegas gadis itu.

Kuncup itu tak pantas untuk kupu-kupu!" putus pemuda itu.

Gadis itu terbangun dari tidurnya. Dia langsung teringat kuncup bunga itu. Mungkin sudah mekar, pikirnya. Segera dia berlarian menghampiri kuncup bunga itu. Bisa saja cahaya pagi menyihir kuncup itu agar segera mekar.

Rasa penasaran gadis itu terjawab. Kuncup itu belum mekar. Dia lelah menunggu kepastian. Didekatinya kuncup itu lalu dicekiknya dengan geram. Kuncup itu bergoyang-goyang seirama cengkeraman gadis itu.

"Mekarlah! Bahkan mulut manusia bisa mekar ketika lehernya tercekik!"

Tapi kemudian gadis itu memekik. Tangannya merah bintik-bintik. Gatal.

Kuncup itu tak kunjung mekar. Bergoyang-goyang menggoda. Diperhatikannya tangkai kuncup itu. Ada ulat bulu menemperl di situ.

Kekasihnya belum memberi kabar.



No comments:

Post a Comment