Friday, 25 July 2014

Vergan!!!


Ria terkejut. Tiba-tiba Vergan datang membawa sekuntum bunga lalu mengungkapkan perasaan padanya tanpa basa-basi. Aku ditembak? Batin Ria. Vergan yang pendiam itu? Ria masih tak percaya.

Gimana?” kejar Vergan.

Gimana apanya?” tanya Ria pura-pura.

“Kok apanya? Mau aku ulangi? Aku tertarik sama kamu, banyak dari diri kamu yang bikin aku penasaran. Jadi aku putusin buat cinta sama kamu, makanya, aku pengen kita pacaran aja. Aku udah nunggu tiga bulan loh,” jelas Vergan.

Lagi? Batin Ria. Vergan kebangetan. Main tembak gitu aja! Gak ngerti perasaan orang! Gak romantis amat sih? Ria kesal, jantungnya berdegup kencang. Dia bingung mau menjawab apa. Vergan benar-benar blak-blakan, beda dengan cowok-cowok yang pernah nembak dia sebelum-sebelumnya, lembut dan penuh kata-kata romantis lagi puitis, lha ini? Ria masih tak percaya. Ini benar-benar seperti ditembak betulan! Pikirnya. Badan Ria gemetaran.

“Sudah sepuluh menit. Kamu lama ya mikirnya?” desak Vergan.

Udah deh! Protes aja!” jawab Ria kesal.

“Gak suka ya aku terus terang gini?” Vergan tersenyum kecil. “Ya sudah, aku batalin aja, deh. Anggap aku gak pernah bilang apa-apa,” putus Vergan tiba-tiba. What?! Ria terkejut. Vergan memasang wajah kecewa.

“Loh, kok gitu?” Ria bingung. “Jadi kamu cuma mainin perasaan aku aja gitu?” protes Ria.

“Kamu kayak gak suka gitu sih, masa’ iya aku tega bikin orang yang aku sayangi gemetaran gitu?” jawab Vergan. Ria bingung.

“Bukan gitu!” jawab Ria kesal. Kesal dengan tingkah bocah satu ini.

“Terus gimana?” tanya Vergan yang terdengar seperti desakan bagi Ria. Ria merasa terjebak perkataannya sendiri.

“Ih, kamu kok enggak romantis banget sih!!! Main tembak gitu aja!!! Gak puitis juga!!! Enggak banget deh!!!” kata Ria akhirnya.

“Oh, gitu, jadi cuma gara-gara aku gak romantis?” tanya Vergan sambil tertawa lepas. Ria makin kesal. Dia tak tahu dengan dirinya sendiri.

“Ih, dasar nyebelin!”

“Kamu tuh, ngegemesin.” Vergan berkata dengan tenang sambil memasang senyum kecil. Ria kelabakan. Mukanya merah padam. Malam ini Vergan tiba-tiba jadi sosok yang nyebelin bagi Ria. Vergan, cowok yang biasanya pendiam dan suka menyendiri. Asik sendiri dengan dunianya, hanya menjawab singkat dan lebih sering memberikan senyum waktu ditanya macam-macam. Tapi malam ini Vergan sukses menjadi cowok yang begitu nyebelin. “Vergan nyebelin!!!”
*

Dasar cowok seenaknya aja! Udah tau janjiannya jam 7 tepat, ini baru jam 6 udah main datang aja! Aku kan belum siap-siap! Kalau sudah gini siapa yang repot? Siapa yang menderita nunggu lama? Bukan salahku juga kan? Dasar nyebelin!

Ria ngedumel di depan kaca. Rambutnya disisir ke kanan, lalu ke kiri, dikepang, lalu diurai lagi. Dia bingung mau dandan seperti apa. Dasar! Si Vergan pake’ tampil rapi lagi! Ria kesal. Handphone Ria berbunyi. Pesan dari Vergan. Ria manyun sendiri di dalam kamarnya setelah membaca pesan dari Vergan itu; ‘Udah, gak usah dandan macem-macem, kamu itu uda cantik. Kalau macam-macam malah belepotan. Kan kamu gak pinter dandan.’

Ria dandan seadanya. Dia ingin memberi ‘pelajaran’ pada Vergan. Keluar kamar.

“Tuh, kan, kalau natural malah makin cantik.” Puji Vergan begitu melihat Ria keluar.

“Apa sih?” Ria kesal. ‘Pelajaran’ darinya gagal.

“Malam ini ke pameran budaya, yuk! Ada pameran lukisan, sastra sama drama. Kayaknya seru!” ajak Vergan tiba-tiba tanpa memperdulikan ‘pelajaran’ Ria yang gagal.

“Loh, katanya mau ke taman?” Ria protes.

“Itu minggu depan aja. Taman gak bakal tutup. Kalau pameran budaya gini kan jarang ada.”

“Tapi kan kita udah janji mau ke taman aja malam ini.” Wajah Ria mulai cemberut. Vergan bisa membaca itu wajah dari hasil kecewa yang sesungguhnya, bukan ekspresi manja yang biasanya ditunjukkan Ria.

“Sudah, ayo kita berangkat, nanti keburu malam,” ajak Vergan. “Kalau sempat, nanti kita mampir ke taman juga,” Vergan menambahkan. Ria sumringah.

Pameran Budaya. Ada banyak pernak-pernik khas daerah yang dipamerkan, beragam lukisan, lalu surat-surat warisan dari para empu terdahulu. Benda-benda yang dipajang dalam pameran itu dibagi-bagi menurut temanya lalu dipisah dalam tiap-tiap ruangan. Di dalam pameran itu ada sebuah panggung yang katanya akan ada pementasan drama di sana.

“Sehari akan tampil dua pementasan drama. Pementasan pertama sore, kedua malam. Rencananya akan ada sepuluh judul drama, jadi beda-beda, tapi kayaknya kita gak bisa lihat semua deh.” Jelas Vergan pada Ria.

“Loh, kenapa gak bisa lihat semua?” Ria penasaran.

“Kalau kamu ngerasa gak nyaman di sini, otomatis nanti aku bakal ngajakin kamu berduaan di taman aja,” jawab Vergan datar.

“Ih, maunya!” Ria mencubit lengan Vergan. Vergan cuek.

Mereka memasuki bagian ruang lukisan dan sastra. Vergan tampak serius memperhatikan lukisan yang terbuat dari pelepah pisang. Dia memperhatikan betul pembentukan dari komposisi lukisan itu. Ria bingung dengan apa yang dilihat Vergan. Ria penasaran dengan wajah Vergan yang berubah menjadi serius ketika berada di depan lukisan. Mereka berjalan melihat satu-satu lukisan yang terpajang di dinding dengan kokoh. Vergan selalu berhenti dan memandang agak lama pada lukisan-lukisan yang dinilai aneh oleh Ria. Ria mencoba lebih tertarik dengan apa yang dilihatnya menarik buat Vergan.

“Eh, ini bagus ya?” kata Ria pada Vergan tentang sebuah lukisan bergambar bunga. Vergan tersenyum.

“Iya, ini bikinnya pake’ kayu sama lumpur,” jelas Vergan.

“Hah, sama lumpur? Gimana bikinnya?” tanya Ria penasaran.

“Kamu enggak perlu tau gimana cara bikinnya. Yang perlu kamu tahu cuma hasil akhirnya, dan si empu cuma ingin kamu bisa nikmatin keindahan karya itu,” Vergan menjelaskan panjang lebar.

“Tapi aku kan pengen tau!” jawab Ria kesal. Vergan tersenyum melihat wajah Ria yang tiba-tiba manyun karena kesal.

“Lukisan ini seperti rasa. Dia tak perlu tau bagaimana bisa ada, tapi yang jelas rasa itu harus bisa tersampaikan dengan sempurna. Seperti aku – kamu, kamu tak perlu tahu bagaimana aku membangun cintaku ke kamu, tapi yang jelas, kamu bisa ngerasain cinta itu, bisa ngelihat dan bisa ngebuat kamu nyaman dengan cinta itu. Penghargaan tentang cinta itu sendiri udah lebih dari cukup bagi si empu. Dalam hal ini, itu aku,” jelas Vergan. Ria terhenyak.

“Ih, gombal!!!” sergah Ria sambil tersipu lalu pergi ke arah lain. Vergan tertawa lepas.

“Eh, sini! Ada sastra yang namanya Asmaradhana. Itu isinya tentang tembang cinta. Mau lihat gak?” tanya Vergan pada Ria. Ria mengangguk.

Gegarane wong akrami
Dudu bondho, dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan, kena pisan
Yen gampang, luwih gampang
Yen angel, angel kelangkung
Tan kena tinambak arta

“Nah, yang ini tentang pernikahan. Aku bisa nih nyanyiin nadanya,” jelas Vergan.

“Beneran? Coba?” tantang Ria.

Vergan menyanyikan tembang itu dengan serius. Ria tertawa terbahak-bahak melihat Vergan menyanyi tembang yang aneh. Ekspresi Vergan berlebihan. Vergan kelabakan.

“Katanya aku disuruh nyanyi, kok diketawain, sih?” Vergan protes.

“Kamu lucu sih nyanyinya. Suara kamu fals!” jawab Ria sambil tertawa.

“Ih, kamu bisa jahat juga ya?” keluh Vergan.

“Biarin, biar kamu tahu rasanya dikerjain itu kayak gimana,” jawab Ria sambil terus tertawa mengingat cara Vergan bernyanyi.

“Ngeledek ya, gini-gini aku ini backing vocal di band-ku loh!”

“Iya, iya, tapi kan bukan vokal utama, jadi tetep aja, fals!” Ria tertawa lagi. Vergan menyerah.

“Iya deh, iya, ya udah deh, pergi, yuk!” ajak Vergan tiba-tiba.

“Loh, kok pergi? Ngambek ya?” tanya Ria penasaran.

“Enggak kok, ya pengen lihat yang lain aja.”

“Alah, bilang aja ngambek! Idih, uda gede masih suka ngambek!”

“Udah, deh! Di sana ada yang bagus lagi. Ke sana aja, yuk!”

“Enggak mau, aku kan masih penarasan sama Asmaradhana ini,” rengek Ria.

“Ya, udah, penasaran apanya?”

“Ih, gak pake’ ketus gitu juga kali?”

“Kamunya sih!”

“Aku kenapa? Ih, Vergan ternyata manja!” Ria tertawa lepas melihat tingkah Vergan. Vergan berhasil dikerjai.

“Biarin! Ayo lihat drama aja deh!”

“Aku kan belum tau artinya, jahat ah, gak mau ngasih tau!” keluh Ria.

“Iya, nanti aku kasih tau, sambil jalan.”

Ria menurut. Dilihatinya banyak tembang-tembang sastra daerah yang dipamerkan di sana-sini. Bahkan bait-bait Asmaradhana juga ada banyak.

“Yang seperti itu tadi pernah diajarkan padaku waktu SMP,” jelas Vergan. “Banyak tembang yang aku tau nadanya.”

“Tapi fals.” Sahut Ria sambil cekikikan.

“Udah deh, jangan dibahas lagi!” protes Vergan.

Mereka sampai di depan panggung. Ada sebuah drama yang sedang dipentaskan. Cerita rakyat tentang gadis desa yang hidup menderita lalu bertemu dengan seorang pangeran.

“Kalau ini, namanya kumpulan kisah Pandu. Konon ada putri yang kabur dari kerajaan, lalu putri itu menyamar menjadi rakyat biasa. Konon katanya ada yang bilang, si putri selalu diganggu oleh seorang penyihir, jadi dia sering mendapatkan kutukan yang aneh-aneh. Dan Pandu adalah nama seorang pangeran, dia juga menyamar menjadi rakyat biasa demi bertemu lagi sama si putri itu. Ujung-ujung ceritanya pasti berakhir bahagia deh. Ibaratnya, kamu itu putrinya terus aku pangerannya,” jelas Vergan.

Plis deh! Gak ngegombal sekali aja bisa enggak?” celetuk Ria yang kecewa sudah mendengarkan penjelasan Vergan secara serius.

Drama sudah berjalan hampir setengah babak. Vergan memperhatikan Ria yang sedang serius dengan pementasan drama itu. Vergan tampak menimbang-nimbangkan sesuatu.

“Kita pulang, yuk?” ajak Vergan tiba-tiba.

“Loh, kok pulang?” Ria yang tampak kecewa dengan ajakan tiba-tiba dari Vergan.

“Sudah malam, hampir jam sembilan,nanti aku ceritain deh akhir ceritanya kayak gimana, aku sudah tahu, kok,” bujuk Vergan.

“Tapi kan lagi seru! Lagian kan beda diceritain sama lihat pementasan dramanya langsung.”

“Besok kita datang lagi saja. Kita datang sore buat lihat pementasan drama yang sore, gimana?” ajak Vergan. Ria masih membisu, wajahnya tersirat raut kecewa.

“Kan beda judul.”

“Iya, sih, tapi sudah malam. Gak enak juga kalau ngebawa putri secantik kamu sampai malam. Nanti dibilangnya aku gak becus dikasih amanat buat ngejaga jelmaan bidadari lagi?” rayu Vergan.

Ria sebal digombali terus sama cowok sok pendiam ini. Dan yang paling bikin dia sebal, dia selalu mati kata lalu akhirnya harus menuruti Vergan karena kalah ‘berperang’. Ria menunggu Vergan di depan gerbang gedung pameran. Vergan entah kemana setelah ijin buat ‘ke belakang’. Tega! Gak ngajak nemenin malah aku disuruh nunggu sendirian! Ngejaga putri apaan? Gerutu Ria dalam hati.

Melihat Vergan keluar dari dalam kerumunan, Ria langsung memasang wajah kesal yang menjadi-jadi. Sekali lagi Vergan harus merayu gadis itu.

Taman Kota. Ria langsung cemberut begitu tahu Vergan tak langsung mengajaknya pulang. Katanya sudah malam? Tanyanya dalam hati. Vergan yang cuek, tak memperhatikan Ria yang cemberut.

“Ayo, jangan lemes gitu, dong!” seru Vergan.

“Katanya sudah malam?” keluh Ria.

“Iya, memang, katanya tadi mau ke sini?”

“Tapi kan kata kamu bisa malam selanjutnya aja?” protes Ria.

“Malam selanjutnya kan ke pameran lagi?”

“Ih, bukan besok! Maksudnya malam selanjutnya!”

“Iya, besok kan malam selanjutnya?”

“Bukan!!! Malam selanjutnya kamu apelin aku!!!” seru Ria kesal.

“Oh, besok kan aku juga apel?”

“Ih, kamu itu ya?! Bodo ah! Aku gak mau tau!”

“Iya, iya, aku tahu kok, udah, kita jalan bentar aja dulu. Aku janji gak sampai jam 9 kamu sudah sampai rumah kok. Janji cowok nih!” Vergan meyakinkan.

“Cowok biasanya suka main-main sama janji!” gerutu Ria yang lalu mengikuti kata Vergan.

Taman kota, banyak pasangan muda-mudi di sana-sini, Vergan dan Ria termasuk salan satunya. Ria masih memasang wajah manyun dan berjalan di belakang Vergan. Vergan cuek dengan tingkah Ria. Dia berjalan tegas ke pusat taman kota.

“Nah, di sini,” Vergan tiba-tiba berhenti.

“Apanya?” tanya Ria penasaran.

“Enggak,” jawab Vergan sembari mengeluarkan benda dari dalam jaketnya. Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Itu apa?” Ria bertanya heran.

Wuuuus! Splash!!! Sebuah kembang api meletus dengan indahnya di langit yang juga sekaligus menjawab pertanyaan Ria. Ria kaget.

“Idih, ngapain coba mainan kembang api malam-malam gini?” protes Ria pada Vergan yang dinilai tingkahnya malam ini begitu ajaib!

“Loh, kalau mainan siang, ya gak kelihatan lah pecahan apinya,” jawab Vergan enteng. Splash!!! Sebuah kembang api pecah lagi.

“Tapi kan gak gitu juga, itu dilihatin orang tau!” Ria protes sambil memperhatikan sekelilingnya. Orang-orang memperhatikan mereka.

“Biarin. Biar pada tahu kalau kita pacaran,” jawab Vergan yang bersamaan dengan pecahan kembang api. Splash!!!

“Nih, cobain! Biar gak kusut terus itu muka!” seru Vergan yang lalu dituruti Ria.

Tongkat kembang api, seperti sihir. Sekejap saja wajah muram Ria berubah menjadi tawa lepas. Malam itu mereka akhiri dengan pesta kembang api. Pesta mereka sendiri. Sampai di langit sebelah, tempat pameran budaya berada, tampak juga kembang api yang dinyalakan. Langit malam itu menjadi ladang bagi kembang api yang sahut-menyahut mencipta cahaya mainan dalam kegelapan. Pasangan-pasangan di taman kota malam itu banyak yang tertuju pada Vergan dan Ria. Sepasang muda yang aneh dengan tingkahnya.

*

“Gimana, gak lebih dari jam 9 kan?” tanya Vergan. Mereka sudah kembali di rumah Ria.

“Iya,” jawab Ria dengan wajah tersipu. Dia berharap malam ini bisa lebih panjang dan waktu berjalan melambat agar tingkah ajaib Vergan bisa dia nikmati lagi.

“Sudah ya, aku pulang dulu, besok jangan lupa, kita ke pameran lagi.”

“Iya,” Ria masih bingung untuk berkata banyak.

“Eh, iya, ini, daripada nanti kelupaan,” Vergan mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Sekuntum mawar merah yang diikat dengan lipatan kertas, semacam surat.

“Ih, ini apa? Kamu itu ya? Itu jaket apa ransel sih? Kok bisa dibuat nyimpen barang-barang aneh? Tadi kembang api, sekarang kembang mawar?!” protes Ria yang lalu menerima bunga itu dari Vergan. Vergan hanya tersenyum kecil.

“Suratnya jangan dibaca sekarang ya, nanti setelah aku pulang. Kalau kamu sudah mau tidur,” pinta Vergan.

“Iya, kamu hati-hati pulangnya!”

“Oke, aku pulang dulu ya, jangan tidur malam-malam!” kata Vergan yang lalu tiba-tiba mencuri kecupan di kening Ria. “Bye! Cepet tidur!” Vergan melesat pergi. Ria membeku.

Vergaaaaan!!! Aku gak bisa tidur tau!!! Vergan nyebelin!!! -->A.F

No comments:

Post a Comment