Sunday, 26 February 2012

Tentang Impian

kawan, aku lelah bermimpi.
setiap hari aku selalu dihantui oleh impian yang sama,
setiap hari pula impian itu terus tumbuh.
setiap hari, impian-impian baru terus datang bertambah dan membimbangkan keyakinanku.

kawan, aku lelah bermimpi.
setiap hari impian-impian itu selalu bertanya akan kesungguhanku terhadapnya.
hanya sekadar impiankah?
aku sadar saat sedang terjaga, tapi terlebih merasa tertidur dalam kehampaan dan kemonotonan hidup.

kawan, aku lelah bermimpi.
aku yang masih muda tak mampu menilai sesuatu yang memang layak.
terobsesi oleh hasrat semata tanpa membandingkan dan menilai dengan mata hati yang terbuka.

kawan, aku lelah bermimpi.
tidakkah cukup untuk kita berkoar-koar tentang mimpi yang memang kenyataannya adalah sesuatu yang semu?
berkata itu impian kita tapi kita sibuk berkutat dalam lingkaran yang sama.
sedang yang lain terdiam dan menyelesaikan urusannya.

kita bermimpi tanpa henti.
berbangga dengan sesuatu yang semu.
merasa raja meskipun kita pemula.
tak tahu benar atau salah.
menolak ilmu yang ada.
pendapat adalah salah.
ego adalah mahkota.

kita terkurung pada penjara yang kita buat sendiri.
satu ekor ingin bebas, yang lain berteriak "BODOH!".

kawan, sudah layaknya sandiwara ini diakhiri.
aku lelah bermimpi.

kenyataan dan impian kita tak pernah berbanding lurus.
selalu berlawan selayaknya arus yang harus kita terjang.
tapi kita tak pernah mengusahakan apapun untuk menerjangnya.
ya, tak pernah mengusahakan apapun.
pikir dengan nuranimu, jangan termakan egomu.

kawan, aku lelah bermimpi.
tidakkah kau merasa demikian?

sudah waktunya kita benar-benar bangun di dunia fana yang ternilai nyata ini.

kapankah impian itu akan menjadi nyata, kawan?
jika jawaban yang kudengar adalah "suatu saat."
maka, semua orang pun bisa berpikir (berkata) demikian.
janganlah mengaku "berbeda" atau tak mau disamakan.
-->A.F

1 comment:

  1. lebih baik lelah dalam bermimpi. hanya karena mimpi-mimpi tersebut meracau dalam pikiran, untuk dijadikan kenyataan.

    masa muda, lebih baik belajar tentang prioritas. meski dimulai dari dunia khayal, belum tentu hanya untuk dunia khayal. maksudku mulailah belajar prioritas dengan bermain caesar 3 dan caesar 4 hehehe.

    ketika kecil, kita masih ingat bagaimana ibu, karena kebanyakan yang mengurus soal keuangan adalah ibu, dan saya menganggap bapak adalah keniscayaan dalam hal tersebut hehehehe, memberi uang saku kepada kita. kemudian ibu hanya bilang sisakan untuk ditabung.
    jika diolah kembali maknanya, ibu secara sederhana memberi "lesson" tentang prioritas.

    prioritas akan sangat berguna bila kita dapat menguasainya sehingga dapat menentukan mana yang penting, agak penting, dll.

    maaf kalau komentarnya di luar teks hehehe

    ReplyDelete