Megurine Luka (Daily Sketch)



Megurine Luka... ^_^v
0

Head Building Lesson

0

Jelangkung Re-built


JELANGKUNG

Jaman dulu, jelangkung adalah boneka permainan untuk memanggil roh, biasa terbuat dari bambu. Si anak menyanyikan kidung, lalu arwah pun terpanggil dan merasuk ke dalam boneka.
Arwah tersebut dapat menjawab berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh para pemain.

***

Di jaman yang penuh dengan kriminal dan penipuan. Sangat sulit untuk mendapatkan saksi-saksi jujur yang mau menceritakan tentang kronologi kejadian yang sesungguhnya. terutama dalam kasus kematian. entah pembunuhan, kecelakaan, atau sejenisnya. Seorang dokter otopsi mayat yang bertugas menyelidiki sebab kematian para korban, mendapat ide untuk mengundang arwah sang korban itu sendir untuk dimintai keterangan. Kecanggihan teknologi mampu membuat mayat tersebut susah diperiksa penyebabnya. Memalsukan bukti pada jaman ini sangatlah mudah. Kebenaran dan keadilan pun sulit ditegakkan.

Oleh karena itu, dokter tersebut yang juga memiliki sedikit pengetahuan supranatural, membuat tubuh buatan untuk memanggil arwah sang korban, agar korban tersebut menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dokter tersebut memakai permainan jelangkung sebagai jalan keluarnya. Permainan yang pernah diceritakan oleh kakeknya dulu.

Karena media jelangkung yang hanya dari bambu membuat arwah kesulitan bergerak dan menceritakan kebenaran, maka dokter tersebut membuat media baru yang cocok untuk wadah arwah tersebut untuk sementara. Dengan nyanyian-nyanyian sederhana yang sudah dikenal dalam permainan ini. Si dokter merekam nyanyian itu dalam media baru ini. Dan juga mengunci arwah sampai keterangan yang diperlukan sudah cukup terkumpul.

Namun, seperti permainan jelangkung pada umumnya...

Boneka ini masih mungkin untuk disalahgunakan... --> A.F
0

Old Sketchbook

Kumpulan sketsa lama masa SMA...














Dalam setiap goresan selalu tersimpan kisah... --> A.F
0

Pencil Lesson #1



Diana...
Media:
~Plain paper A5
~Pencil mechanic 2B



Dia gebetan temanku...^^
saat sedang kosong ide, tiba-tiba mood buat nyelesein janji yang lalu...
Simple Sketch...^^
Media:
~Drawing Paper A5
~pencil mechanic 2B
~Pencil 2B
~Pencil 5B



Hime...
Teman maya...
Media:
~Plain paper A5
~Pencil mechanic 2B
~Pencil Color (Faber Castell Classic)



Hime finishing with color..
but, I think it's fail... >_<

"Jangan pernah menghentikan langkahmu, karena kau tak pernah tau apa yang akan ada di depanmu..." -->A.F
0

Teman Kecil

masih teringat, antara semu dan bayang fakta,
kita bermain bersama,
kepolosan menyimpan tanda,

baru saja aku teringat,
akan sosokmu yang sudah lama kukenal,
dulu kita dekat,
tapi waktu membuat kita berpisah tanpa meninggalkan sesal,

ya, kita tak perlu menyesal.

dulu kita bermain bersama,
berkejaran tanpa rasa lelah,
berharap esok masih ada masa,
agar kita masih dapat berjumpa,

di ayunan kecil itu kita selalu bercanda,
ayunan itu mengukir kisah yang tak tertulis kata,
bahkan kita tak pernah mengabadikan nama,
dan yang jelas, ingatan kita yang menyimpan kisah,

dan aku tak tahu bagaimana kisahmu,
apakah kita bersatu dalam kisah yang semu,
kisah yang kualami sendiri sebagai pelipur masa mudaku,
ah, justru itu obat rindu,

sosokmu, mungkin tak kukenal,
kita pernah dekat,
tapi itu dulu,
dan waktu terus memakan kenyataan,

saat kita bersimpang jalan,
kau dan aku tak akan saling menyapa,
bukan salah kita,
bukan salahmu,
bukan salahku,
tapi ini memang keadaan kita,

semoga kisahku dan namaku selalu terukir di hatimu,

(040911) -->A.F
0

Media

Rasanya ada yang kurang bila aku tidak mengerjakan hobiku hari ini, sekadar membuang waktu? Bukan, hobiku telah menjadi bagian dari keseharianku. Meskipun orang tuaku sering menganggap aku melakukan pekerjaan yang sia-sia dan mereka sering mengomeli aku dengan kata-kata tak jelas. Aku tetap mencintai hobiku. Sering aku dibuat gusar ketika gagal memanoramakan imajinasiku. Jika sudah seperti itu , moodku pasti turun drastis dan membuat orang disekitarku merasa tak nyaman. Beda ketika apa yang kubayangkan dapat kurealisasikan. Senantiasa aku pasang senyuman bak bulan sabit yang terhiasi bintang itu.

Kali ini, seperti biasa kuambil selembar kertas A4, kulipat jadi dua. Aku mulai putar imajinasi. Apa yang hendak kugambar? Tampaknya kejadian tadi siang sepulang sekolah menggangguku malam ini. Teman gadisku mangabaikanku. Entah apa salahku. Ataukah kemarin malam kukirim pesan singkat romantis padanya. Isi pesan itu, ”dalam malam kudamba kesetiaan sayapmu padaku agar berkepak dan menerbangkanmu kemari”. Tak habis pikir, apakah pesan seperti itu dapat menjauhkan hubunganku dengan Renita, nama temanku itu.

Aku tak mau dihinggapi rasa kangen ini. Sebagai pelampias, langsung kugambarkan wajahnya pada kertas A4 yang sudah kulipat jadi dua ini. Pensil mekanik 2B kupakai sebagai penggores sketsa wajahnya yang mungil setiap gores pensil ini membuat aku makin rindu dia. Secepatnya aku tebali sketsaku dengan pensil 5B yang sudah tersedia. Kini gambar wajahnya tampak nyata. Dia tersenyum, bibirnya tipis, matanya indah menyorot cahaya, rambutnya hitam kelam, disisirnya kesamping kiri. Tinggal kuberi rona pada mukanya dan warna tipis pada bibirnya.

Pensil warnaku sudah siap kugunakan. Jika teman-temanku tahu bahwa aku menggambar dan mewarnaimya dengan barang murahan ini, mereka pasti tertawa atau malah tak percaya. Pensil warna ini kubeli dengan harga dua ribu perak. Maklum, saku pelajar.

Ketika sedang asyik meronai Renita, ibuku keluar dan menegurku seprti biasa.

“Nggambar terus-nggambar terus nggak ada pekerjaan lain apa? Baca buku kek!” aku diam, dongkol, panas dadaku.

“Emang nggambar bisa buat cari uang?”

“Bisa!!” sahutku tegas karena tak kuat menahan panas di dada.

“Nggambar sekadar hobi, nggak mungkin orang hidup cuma bergantung pada nggambar.”

“Nasib jalan Tuhan, usaha kemampuan manusia, siapa tahu kalau tak dicoba?” Aku makin geram.

“Ya sudah, dikasih tahu kok ngeyel!”

Ibuku keluar rumah. Dadaku panas. Seandainya aku dapat membuktikan bahwa gambar itu cerminan manusia yang dapat membawanya sendiri menuju kecermelangan. Toh, banyak pelukis kaya. Meskipun kemampuanku berbeda jauh dengan mereka tapi kemampuan otak kami sama. Kami ciptaan tuhan.

Aku kesulitan menyelesaikan paras Renita ini. Padahal tinggal sedikit. Kejadian barusan membuat moodku drop. Lantas aku masuk ke dalam. Kuambil segelas air putih. Kutenggak, sebagai peredam api di dada. Aku kmbali ke meja depan tempat aku manggambar wajah Renita. Meski sudah drop, aku tetap melanjutkan gambar ini. Aku ingin memberikan gambar ini padanya. Semoga dia tahu maksudku. Renita.

Dengan puas, akhirnya kuselesaikan gambarku. Kini tinggal menghiasinya dengan kata singkat seperti biasa, karena itu sudah merupakan ciri khasku. Kutulis pada bagian bawah sebelah kanan gambar, “Keabadian bintang tergantug pada usia yang memandang”. Entah, dia tahu maksudnya atau tidak, yang pasti itu sudah cukup mewakiliku.

Gambar sudah siap. Sekarang bagaimana caraku menyampaikan gambar ini padanya? Kulihat jam dinding sudah pukul 20.45 WIB. Cukup malam untuk seseorang bertamu, apa lagi cowok ke rumah cewek. Tak pantas dilihat orang. Aku bigung. Kalau kuserahkan besok saat bertemu di sekolah, pasti suasananya berbeda. Kalau aku nekad, sarana untuk ke rumahnya pun tak ada. Motorku dipakai ayahku bekerja dan pulang pukul sebelas malam. Seandainya aku punya sayap untuk terbanh ke sana. Aku bingung. Aku tak mau manyerahkan gambar ini besok. Jikalaupun harus besok setidaknya aku ada usaha hari ini.

Aku keluar rumah, berlari menuju rumah temanku yang berjarak seratus meter dari rumahku. “Siapa tahu dia ada sepeda?” pikirku.

“Andi… An… Andi…!!!” panggilku ketika sampai di depan rumahnya sambil ngos-ngosan. Neneknya keluar.

“Andinya nggak ada nak! Belum pulang dari sore tadi!”

“Ya sudah, terima kasih nek!”

“Ya…”

Asem gimana nih? Tampaknya malam terlalu menyelimutiku . kulihat jam-jam dinding milik orang-orang yang dipajang di ruang depan sudah pukul 21.15 WIB. “Ganas” pikirku. Bagaimana selanjutnya? Otakku ruwet.kuraba-raba saku belakang celanaku. Aku bawa dompet. Aku langsung berlari menuju jalan raya. Tak peduli semalam apa nanti aku bertamu di rumah Renita. Aku sudah nekad.

Sesampai di jalan raya ternyata mobil angkutan umum tak kunjung tiba. Aku menanti seraya tak sabar. Dari jauh kuliatkilap-kilap lampu mobil Bison mendekat. Bison itu menghampiriku.

“Selatan mas?” tanya kenek mobil itu padaku. Mobil itu sudah penuh, tak ada tempat untuk aku duduk.

“Sudah penuh gitu, mas!”

“Enggak apa-apa, bisa diatur, mas!”

Dari pada lebih malam lagi, aku terpaksa naik bison merah itu. Kenek itu mengatur duduknya sedemikian rupa sehingga aku dapat duduk ditempat duduk kayunya. Panas sekali di dalam bison itu, sesak terlalu banyak orang. Aroma udaranya pun tak karuan.Bau keringat, parfum wanita, solar, makanan, asap rokok bercampur satu.Kepalaku pusing. Rona renita makin kudekap, aku tak mau paras manis ini tertinggal ketika aku melamun.

Duar! terdengar suara letusan. Mobil Bison yang ku tumpangi oleng pada bagian belakang kanan.

“Ban nya meletus, pri!” kata sopir bison pada keneknya.

“Turunin semua orang!”

Semua orang turun, termasuk aku. Jarak rumah Renita masih setengah kilo ditambah masuk gangnya. Lumayan dekat. Aku melihat sekeliling. Orang-orang yang tadi diturunkan tampak gusar menunggu mobil lain yang lewat.

“Nunggu operan nih, mas?” tanyaku pada kenek mobil.

“Iyalah mas, entah kok tumben sepi”.

“Kalau gak ikut, bayar gak, mas?”

“Nggak mas! duluan aja kalau mas mau!”

“ya sudah mas, makasih tumpangan nya!”

Aku bertolak dari tempat itu. Segera menuju rumah Renita. Tampaknya para penumpang yang senasib denganku tak sadar akan kepergianku. Mereka disibukan oleh masalahnya masing-masing. Tekad yang membulat di dadaku membuat aku kehilangan rasa lelah. Senyum Renita yang kugenggam senantiasa membakar semangatku. Aku ingin bertemu dia. Setengah kilo bukan hambatan lagi bagiku, itu sama dengan jarak rataan antara rumahku sampai sekolahku. Ratusan meter telah kutempuh. Langit yang tadinya cerah berhias ribuan bintang, kini mulai terserang mendung. Rembulan pun mulai malu-malu menampakan wajahnya. Melihat cuaca yang tiba-tiba berubah membuat perasaanku kalut. Entah perasaanku saja atau memang benar, kurasa ratusan meter yang kutempuh, tiada artinya. Jarak rumah Renita makin jauh. Nafasku mulai tersengal-sengal. Malam makin pekat.Mendung mulai menggangguku. Aku tak akan menyerah, Renita! Aku harus bertemu, kuingin mendengar suaramu setelah kau abaikan aku tadi siang.

* * *

Aku duduk melepas lelah didepan rumah Renita. Rumahnya tampak sepi, lampu depan sudah padam. Bahkan suasana perumahan tempat dia tinggal sunyi senyap. Datangku terlalu malam tampaknya. Entah sudah pukul berapa, aku tak membawa jam tangan atau han phone sebagai penunjuk waktu. Orang tuaku pasti mencariku. Aku jadi teringat ketika dulu waktu masih kelas dua SMP, aku pernah minggat dari rumah lantaran nggak tahan oleh ocehan orang tuaku yang selalu menyalahkanku. Aku pergi kerumah bibiku untuk mencari ketenangan. Akhirnya aku ditemukan oleh orang tuaku. Aku langsung diantar pulang oleh pamanku. Sesampai dirumah, rumahku ramai sekali dipenuhi tetangga sebelah.

Sekarang bagaimana? Tak mungkin aku berteriak memanggil Renita hanya untuk memberinya gambar ini. Dia dan keluarganya pasti berpikir bahwa aku tak punya etika. Tapi jika tak tersampaikan, percuma aku datang kemari.

Aku menunggu pagi di depan rumah Renita. Duduk dengan kaki terjulur, sesekali ku lihat rumahnya, bila saja dia tarjaga. Aku menoleh kekanan. Kulihat hansip ronda mulai berkeliling. Dia menuju kemari. Dari jauh perangai nya sangar, cukup membuat maling ketakutan.

“Sedang apa,nak?” dia menanyaiku dengan pasang muka seramnya. Aku merinding.
“Eng..enggak ngapa-ngapain pak !”

“Terus ngapain disini?”

“Cuma melepas lelah, pak! Capai habis lari-lari tadi.”

“Malam-malam lari-lari? Bohong! Kau mau nyuri, ya?”

“Nggak, pak!”

“Lalu kenapa kamu dari tadi lihatin rumah ini kalo nggak mau nyuri? jangan-jangan kamu maling tanaman yang lagi diburu penduduk?”

“Maling tanaman? Bukan,pak!”

“Ah, jangan bohong! Sudah banyak penduduk sini yang kehilangan tanamannya mulai dari; bongsai, lidah buaya, anggrek, sampek enceng gondok yang ada di kolamkupun ikut di embat! Sudah banyak saksi yang melihat maling itu, kata mereka dia masih muda. Lha, kamu?”

“Sumpah bukan bukan saya , pak! Saya tadi kemari untuk bertamu.”

“Lha, orang yang bertamu malam-malam itu namanya maling!”

“Sumpah pak! bukan!”

“Sudah jangan ngeyel! Ikut saya ke pos!”

“Enggak mau pak! Saya nggak salah! Saya ini pacar putrinya yang punya rumah ini.”

“Renita?”

“Iya pak!”

“Setahuku Renita belum punya pacar.”

“Bapak tahu?”
“Aku ini bapaknya Renita, yang punya rumah ini!”

Matilah aku. Selama ini saat kerumah Renita aku belum pernah bertemu bapaknya, dia selalu bekerja. Kalau ibu dan kakaknya serta adiknya sih, aku masih tau.

“Sekarang kamu tidak bisa lari. Kita lihat kamu jujur apa enggak. Aku bangunin Renita dulu.” Hansip berwajah seram itu masuk ke rumah Renita. Benar dia bapaknya? Beda sekali dengan putrinya yang lembut. Aku benar-benar merinding sekarang, harusnya aku masih bias lari, pergi dari sini. Tapi kakiku berat, gemetar. Seandainya tadi aku tidak mengaku-aku bahwa aku pacarnya Renita, tak sekalut ini aku. Senyum Renita yang kugenggam tampak kabur olehku.media yang kuandalkan untuk bertemu dan menciptakan suasana romantis dengan Renita sudah tidak bercahaya. Gambarku mati.

“Ada apa sih, yah? Ngantuk nih!”

“Sini bentar ayah mau Tanya!”

Suara Renita sudah terdengar. Seharusnya aku senang bertemu dia, apalagi mendengar suara manjanya. Bukankah itu memang tujuanku dari awal? Tapi sekarang suasananya berbeda. Aku sudah ngibuli bapaknya dengan bilang bahwa aku pacarnya. Apa kata Renita nanti?

“Nit, kamu kenal dia?”

“Rendiz?” Renita menatapku dengan muka terheran . kubalas dia dngan pandangan melankolis.

“Ada apa, Ndiz?”

“Dia pacarmu, Nit?”

“Bukan! Kami Cuma teman satu sekolah kok! Beda kelas!”

Deg! Bokap Renita melirik ke arahku. Aku makin bingung.

“Dia bilang ke ayah kalau dia pacarmu!”

“Nggak kok, kamu bilang gitu Ndiz?”

Aku kelabakan menjawab pertanyaan Renita. Mereka berduamemandang tajam ke arahku.

“ Iya tadi…” Aku jujur.

“Kamu kok gitu, Ndiz?”

“Kamu ketahuan bohong, nak!”

“Maaf! Tadi itu saya Cuma..”

“Aku nggak peduli, kamu tuh emang nyebelin”

“Bukan gitu Nit, tapi…”

“Udah dasar penipu!”

“Nit… Nita, duh!” Dia ngambek.

“Apa alasanmu nak? Kamu mungkin bukan pencuri tanaman yang sedang dicari warga, tapi kamu sudah membuat putriku marah.”

“Bukan maksud saya om, tapi kenapa dia begitu marah pada saya? Saya merasa perjuangan saya utuk sampai kemari, sia-sia.”

“Memangnya apa tujuanu dating ke rumah orang tengah malam begini?”

“Cuma ingin nyerahin ini, om pada Renita.” Kusodorkan hasil gambaranku pada bapaknya Renita.

“Lihat! Lumayan juga bakatmu. Tapi apa maksudmu ini? Di sini ada tulisan, apa maksudnya? Kamu mau merayu putriku dengan gambar ini?”

“Enggak kok, om!”

“Masa’?”

“Benar!” Aku menoleh ke pintu rumah Renita. Ternyata dia masih berdiri di sana, memperhatikan kami. Keringatku mengucur deras.

“Aku pernah muda, nak! Pernah seusiamu!” Aku diam, mati kata. Renita tampak jengkel padaku. Dia membiarkan aku diinterogasi oleh bokapnya yang seram ini.

“Ingat zaman kalau mau ngerayu orang! Sekarang bukan zamannya lagi pakai media yang seperti ini! Kamu tadi kemari naik apa?”

“Naik Bison, terus Bisonya bannya meletus, jadi saya lari saja kemari.”

“Lari? Pakai kaki?”

“Iya, om. Sudah biasa!”

“Iya kamu biasa. Terus putriku?”

“Renita kenapa, om?”

“Duh, enggak-enggak! Pokoknya kedatangan kamu kemari sudah bikin masalah!”

“Kok bisa? Saya kan enggak sengaja, om! Lagian om duluan yang nuduh saya maling!”

“Ngeyel kumu? Kamu itu sudah bikin masalah! Pokoknya kamu itu salah!”

Nasib buruk aku bertemu dengan ayahnya Renita, sudah tukang ngeyel, matre pula. Renita tampak tersenyum simpul, entah apa sebabnya. Aku pasrah menghadapi orang ini.otakku kosong. Melihat Renita tersenyum perasaan ku makin kacau. Ayah Renita masih diam, dia menunggu perkataan dariku. Di sela keheningan ini, Renita berjalan menghampiri kami.

“Lihat gambarnya dong, yah!” Pinta Renita pada ayahnya. Sekarang gambar itu sudah di tangan Renita. Dia mengamati gambarku dengan mata yang berbinar, persis apa yang kugambar. Paras wajah renita tidak menunjukkan kalau dia baru bangun tidur dan masih mengantuk. Dia tetap tampak manis.

“Kamu kenapa pakai bohong segala ke ayahku?”

“Enggak, soalnya tadi aku bingung harus bilang apa. Tadi aku tuduh maling tanaman sama ayahmu.” Renita tersenyum geli.

“Kenapa enggak jujur saja bilang kalau kamu itu teman aku?”

“Duh, gimana ya? Keceplosan sih!” Jawabku mengelak. Renita sudah stabil lagi. Dia mulai ramah padaku. Padahal beberapa menit yang lalu dia ngambek tak karuan. Dasar cewek!

“Jadi kamu tadi bohong dong sama ayahku?”

“Pinginnya sih enggak!” Aku bingung harus jawab apa lagi, sedangkan ayah Renita masih ada bersama kami. Renita bicara terang-terangan sekali.

“Nit, sudah bisa ayah tinggalkan?”

“Iya, yah!”

“Ya sudah, hati-hati! Jangan tidur terlalu malam!”

“Iya, yah!”

“Jaga putriku, nak! Awas kalau kamu apa-apain, apalagi bikin dia nangis! Ingat, kalau kamu ke sini lagi, om mau bicara sama kamu!”

“I… iya, om!” Jawabku terbata.

“Ya sudah! Ayah ronda dulu!”

Ayah Renita pegi meninggalkan kami berdua. Renita menatapku. Dia tersenyum padaku dengan makna tak jelas. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

“Jangan dipikirin! Ayahku memang begitu, suka bercanda.”

Yang seperti itu dibilang bercanda? Bagaimana kalau sungguhan? Aku bertanya sendiri dalam hati.

“Kamu lucu ya?”

“Eh… apa? Enggak! Lucu gimana?” Aku benar-benar bingung dibuatnya.

“Ngomong-ngomong, kamu kenapa kenapa kemari malam-malam gini? Terus gambar ini buat apa?”

“Gambar itu buat kamu. Aku bela-belain ke sini malam-malam Cuma mau ngasih gambar ini ke kamu.”

“Memangnya ada momen apa?”

“Enggak! Cuma tadi sepulang sekolah aku berpapasan dengan kamu. Eh, kamunya ngabaiin aku. Aku kepikiran, terus kemari. Deh.”

“Emang tadi kita papas an, ya? Kamu kok enggak sapa aku, sih? Jahat!”

“Bukan gitu! Aku kirain kamu marah setelah nerima sms dariku semalam.”

“Enggak, kok! Kenapa juga marah? Kata-kata kamu tuh puitis banget, tau?”

“Masa sih? Enggak juga kok!”

“Dibilangin juga!”

Mendung yang menyelimuti malam mulai ber guguran. Hujan mulai turun.

“Hujan, Ndiz! Masuk dulu gih!”
Aku dan Renita masuk ke rumah Renita. Hujan tampak makin deras.

“Duh, gimana aku pulang nanti?”

“Enggak usah kawatir! Nginap aja di sini! Nanti aku hubungi keluargamu.”

“Bukan gitu! Masa aku tambah ngerepotin aja? Sudah datang tengah malam, nginap lagi!”

“Enggak apa-apa, ada kamar tamu kok! Eh, kita besok masuk sekolah seperti biasa!”

“Iyakan? Memang!”

“Tapi kita jam segini belum tidur, bisa bangun pagi enggak, ya?”

“Duh, iya nih! Aku jadi ganggu kamu. Mending aku pulang saja, ya?”

“Apaan sih? Enggak boleh! Kamu sudah ganggu aku, sekarang mau pulang seenaknya!”

“Tapi kan, sudah malam!”

“Kamu tuh, dari tadi datang memang sudah malam, kok! Terserah kamu, kalau kamu memang mau pulang, pulang saja! Besok, lupain kalau kita pernah temenan!”

“Kamu kok jadi marah, sih?”

“Biarin!”

“Maaf deh kalau aku keterlaluan! Aku kemari bukan untuk tambah masalah sama kamu. Percuma dong aku bela-belain kemari kalau hasilnya nihil! Senyum dong!”

“Ih… kamu tuh, genit banget!”

Malam makin larut. Hujan masih berlangsung. Aku berduaan saja dengan Renita di ruang tamunya. Setidaknya aku dapat sedikit tenang karena hasil karyaku sudah sampai di tangan Renita. Media yang kuciptakan untuk membuat suasana romantis dengan Renita, tidak sia-sia. -->A.F
2

Emo Project

Emo Project.
Beberapa kumpulan sketsa yang mereka bilang emosi.



Pernahkah hatimu terpikat?
Pernahkah seseorang menguasai hatimu?
Pernahkah kau tak mampu melupakan seseorang?
Pernahkah kau merasakan lubang di hatimu?
Pernahkah kau merasakan duri-duri yang merajam hatimu?



Pernahkah kau merasakan kesepian?
Pernahkah kau ditinggalkan?
Pernahkah kau dikhianati?



Pernahkah kau terperdaya?
Pernahkah kau tergila-gila?
Pernahkah kau tulus?



Pernahkah kau tak berdaya?
Pernahkah kau tersakiti?
Pernahkah kau terrajam?
Pernahkah kau terluka?
Pernahkah kau hancur?



Pernahkah kau terjatuh?
Pernahkah kau berkorban?
Pernahkah kau gagal?
Pernahkah kau terpuruk?

Itu hanya sebagian kisah. -->A.F
0

Too Shy To Say Love



Pernakah engkau merasa kelu saat berhadapan dengan seseorang yang menurutmu spesial?
Sebuah kejujuran murni yang terasa menyesakkan namun hangat untuk dirasa?
Pernahkah engkau ingin untuk sedikit saja ada berdampingan dengan seseorang itu?
Pernahkah engkau merasa malu untuk mengungkapkan sebuah ketulusan?

Semua itu adalah sebuah kisah. -->A.F
0

.net Rider W.A.R

.net Rider W.A.R op 2



desain .net Rider W.A.R op 4


desain .net Rider W.A.R op 5


.net Rider W.A.R concept.

Doujin dari Kamen Rider.
Konsep cerita klik di sini.

God Bless You all... -->A.F
0

Study Pohon

Menggambar pohon sebagai objek ataupun latar belakang memiliki keunikan tersendiri. Setelah beberapa kali menggambar pohon dengan bermodalkan bayangan, saya mencoba melakukan observasi karena gambar yang saya hasilkan kurang memuaskan (yah, mungkin seharusnya saya lakukan dari awal (=___=)a).

Berikut ini adalah pendalaman gambar pohon menurut pandangan saya pribadi, bila ada perbedaan pandangan anggap saja jalan yang kita tempuh sedikit berbeda, namun bila ada penyempurnaan, anda bisa menambahkannya. :)

Pohon terdiri atas; Batang, Akar, Daun.

Itu yang umumnya tampak dan tergambar jelas. saya biasa memulai menggambar pohon dari batang lalu memecah ke ranting, setelah itu menuju ke akar, baru saya melengkapinya dengan dedaunan.

Bagi anda yang masih kesulitan untuk menggambar akar, atau bagian penutup pohon, pada hasil pengamatan saya, akar pohon berakhir dan berawal dari ketiadaan. Maksudnya, bentuk akar yang terpendam ke tanah sangatlah bebas (luwes). anggap anda menggambar ranting, lalu potong ranting itu di tengah-tengah percabangan. Itulah bentuk akhiran akar.


Akar adalah tumpuan pohon. Besar dan bentuk akhiran akar tergantung jenis pohon yang kita gambar. Pohon berdaun lebat belum tentu berbatang besar. Umumnya ukukan akar lebih besar dari batang dan ranting.

Menggambar daun pada pohon memiliki tingkat kesulitan tersendiri, terutama bagi pemula atau seseorang yang menginginkan kesempurnaan. Jika kita ingin menggambar pohon yang berdaun lebat, awalnya kita harus paham bahwa yang kita gambar adalah bentuk utuh yang terangkai atas bangun-bangun kecil lainnya. Sehelai daun memiliki dimensi bila digambar per-helai, namun jika daun tersebut bertumpuk-tumpuk, maka akan menciptakan dimensi baru.

Dalam kartun daun yang lebat terkadang digambar secara bergelombang atau semacam kumpulan lingkaran. Dalam cara saya, Daun yang lebat saya gambarkan dengan bentuk dasar dari bangun yang terangkai atas daun tersebut, lalu saya memberi outline bergerigi untuk menggambarkan bahwa bangun tersebut berasal dari kumpulan dimensi-dimensi kecil. (Gambar 1)

Untuk penerapan pada latar belakang, saya membagi beberapa sudut pandang dari titik letak objek. (Gambar 2) Anggap sebatang pohon tertanam pada titik fokus pertama (sebagai latar belakang). Lalu pohon selanjutnya tertanam pada jarak sekian jauh. Area tempat pohon pertama saya sebut sebagai dasar garis depan (Base Front Line), yaitu titik terang (jelas) detil objek. Sedangkan pohon yang berada sekian jauh, saya sebut sebagai background 2, yang tentunya detilnya masih perlu diperhatikan. Setelah itu, jarak di luar dua area tadi adalah jarak kabur. Kita bisa meminimalkan detil pada bagian itu.

Catatan: Tingkatan jarak pada latar belakang sangat berfariatif, tergantung banyak letak objek.


Pada gambar 2 saya juga mencantumkan sedikit bentuk tanaman yang saya temukan. Bentuk pohon cemara, lalu bentuk tanaman hias yang hanya memiliki beberapa helai dedaunan.

Mungkin anda bisa menemukan berbagai bentuk tanaman di luar sana, dan cobalah untuk memahami bentuknya. Hal yang unik akan anda temukan dengan cara anda sendiri. -->A.F
0

Sketch to Digital Coloring


Tahap yang belum benar-benar saya kuasai dan sangat amat kurang adalah tahap pewarnaan.
Dalam setiap melakukan pewarnaan secara digital, saya menggunakan software GIMP. Biasanya pada sistem Linux akan tersedia seperangkat ketika kita menginstal OS Linux pada sistem kita. Sedangkan untuk Windows, kita bisa mengunduhnya di sini.

Pada Gambar di atas, anda juga bisa melihat kebiasaan saya ketika sedang berkarya dan juga trik yang saya gunakan untuk membuat karya. Saat ini saya sedang kesulitan untuk mencerna kecocokan dan sesatupaduan warna. Bisa disebut saya masih dalam fase "pencarian".

-->A.F
0

Test Speed Painting

Speed Painting?
I don't Think so...

Jujur maksud hati ingin sekali2 membuat speed painting.
Karya ini dikerjakan sekitar 1 jam. Dengan berbagai problem yang ada pada PC yang saya gunakan, mulai dari GIMP (program yang saya gunakan) menghilang tiba-tiba, sehingga karya ini tidak tersimpan. Lalu ada pula kejadian PC restart sendiri, yang mengharuskan saya mengulang lagi. Dan masalah ini tidak terjadi hanya sekali, namun berkali-kali.

Yah, lupakan masalah yang seharusnya tidak mengganggu anda ketika anda sedang kerkarya.

Ini adalah langkah2 saya dalam membuat "Speed Painting" sederhana.
Saya menggunakan program GIMP, (pada dasarnya OS yang saya gunakan adalah Linux). Satu layer.

Coretan pertama.
Sketsa.
Lalu, tahap selanjutnya, pembentukan.


Pendalaman coloring.




Pemberian shading pada objek,


Lalu terakhir, detailing,


Jujur saya tak kuat kalau haus menghadapai masalah seperti program yang tiba-tiba menghilang atau PC yang tiba-tiba restart sendiri. Dan saya pikir, kalau saya melakukan detailing lebih dari satu jam, itu bukanlah speed painting. Dan hasil ini pun saya ragu untuk menyebutnya speed painting.

Catatan: Saya menggunakan satu layer dan hanya menggunakan mode brush "darken only".

Mungkin ada masukan dari anda yang lebih mengerti media digital, saya benar-benar lemah dalam pengkaryaan digital. T^T

"Setiap karya tidak bisa dinilai secara pribadi jika karya itu memang ditujukan untuk khalayak ramai." -->A.F
1

Fauzt 2011


Fauzt versi normal.
Mencoba membuat goresan kasar sebagai hasil akhir. -->A.F
0

Coretan Pagi Ini Dan Seberkas Kisah Lama

Coretan pagi ini mengingatkan saya tentang kisah masa lalu. Menggores sebuah hal yang sudah lama saya lupakan. Tepatnya, saya tinggalkan.



(I) Lina, Lina, Lina... Kisah.

Pagi ini,
Sebelum lupa
Kamu sebut namaku lagi.
Aku heran.
Benar.
Selintas kenangan itu terbuka.
(15 Januari 2006)


(II) ~Omoi de wa itsumo kirei dakedo~

Sejenak untuk mengenang.
Meskipun aku sudah lupa paras senyummu.
Tapi,
Kenangan itu selalu indah.
Walau aku tak bahagia.

Cukup mengingat manjanya sosokmu,
Sudah membuatku puas.

Tapi aku tak dapat mengingatnya.

Kenapa aku bisa lupa?
(24 Januari 2006)


(III) Yang Lewat

Hati tenang saat mengenang
kisah romantis tentang kita.
Mungkin engkau tak pernah merasa,
Atau bahkan tak peduli.
Tapi...
Bolehlah sebagai kisahku.

Kan kuingat sapaan awal sosokmu
Yang lalu kita saling mengenal tanpa
berkenalan nama.

Mungkin 'kan terdengar egois
jika bilang, "aku paham kamu".
tapi, barang sebentar,
ijinkan aku 'tuk memandang sosokmu.

Kutukan waktu,
Melesat cepat bagai anak panah.
Dan kita berpisah langkah di pagi itu.
Mengikuti jalan masing-masing.

Aku rindu sapamu,
Meski senyum itu bukan untukku.
(23 Maret 2006)


Kupungut kembali sampah yang telah kau buang.
Berharap ada sisa-sisa dari pesonamu yang tertinggal.

Everything goes to The End...

Setiap manusia tumbuh. Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Sekali lagi saya berbagi sedikit kisah dari masa lalu. Kisah di saat kita masih hijau adalah untaian mutiara yang sangat berharga. Ada sebuah kepolosan di sana.-->A.F
0

New Year 2011


Waktu tak akan pernah kembali dan tak sedetikpun berjalan mundur. Kita tidak akan pernah diberi kesempatan untuk mengulang kejadian yang telah terlewati. Bahkan kejadian yang terjadi persekian detik yang lalu. Sifat waktu yang selalu berjalan maju membuat kita harus mampu bersikap. Tidak ada Penyesalan dan selalu memegang teguh tanggung jawab. Setiap dari kita berhak mengatur impian dan cita-cita kita. Kita berhak menggapainya. Kita tidak berhak MENGELUH atau MENANTI sesuatu yang kita impikan. Kita harus meraihnya. Disaat kita mengeluh dan menanti, seseorang di sana sedang mencoba menyatakan impiannya. Dia menuntut HAK-nya pada kehidupan. Sangat ironis jika kita hanya mampu bertopang dagu.

Bagi saya, devinisi keajaiban adalah hal yang menurut orang lain tidak mungkin terjadi, namun dapat terjadi. Keajaiban hanya mampu tercipta disaat kita mampu melakukan hal yang menurut orang lain itu mustahil. Dan itu membutuhkan tekad dan pikiran yang waras.

Pikiran yang waras, bahwa kita mampu memiliki apa yang kita inginkan!
Pikiran yang waras, bahwa Tuhan selalu mendampingi kita.

Hari pertama di tahun baru.
Dan waktu tak akan pernah berjalan mundur. -->A.F
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com