Sejarah Bangsa Indonesia Dalam 'Anak Semua Bangsa'


Judul buku: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Maret 2018 (Cetakan ke-19)
Tebal buku: 547 halaman.

Novel "Anak Semua Bangsa" karya penulis ternama Pramoedya Ananta Toer ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1980 oleh Hasta Mitra. Dengan latar pemerintahan Hindia Belanda, "Anak Semua Bangsa," yang merupakan novel kedua dari novel tetralogi "Bumi Manusia" ini tidak hanya bercerita tentang sejarah, tetapi juga cinta, sosial, dan politik.

Cerita "Anak Semua Bangsa" dimulai dengan perjalanan kematian Annelies, istri Minke yang merupakan tokoh utama dalam novel tetralogi ini, ke Belanda. Berita kematian itu sendiri dikirim oleh Kommer, orang yang dipercaya Nyai Ontosoroh untuk menjaga Annelies selama perjalanan dan sekaligus sahabat Minke dan Nyai, dan bukan Ir. Maurits Mellema yang mengaku sebagai wali sah Annelies.

Setelah berita tersebut diterima, kehidupan Minke dan seluruh keluarga itu menjadi kelabu. Namun, mereka dapat menghadapinya dengan tabah walaupun Nyai Ontosoroh sangat gusar sehingga ia memutuskan untuk berlibur ke rumah kerabatnya bersama Minke. Liburannya ke Sidoarjo membuat mata Minke terbuka terhadap ketidakadilan yang menimpa pribumi. Pemilik lahan yang kini dijadikan ladang tebu pabrik gula Tulangan mengalami pengurangan pembayaran sewa dan masa sewa yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Hal ini membuka hatinya untuk membantu orang-orang yang tertindas tersebut melalui tulisan. Namun, bantuannya itu malah menempatkannya dalam bahaya.

Ketika bahaya itu masih membayangi, orang-orang Tulangan sudah membuat ulah. Mereka memulai perjuangan mereka melawan Belanda sebelum waktunya hingga seorang kyai yang menginisiasi perjuangan itu ditanggap dan dihukum mati, sementara semua pendukungnya menjadi buronan.

Masalah dengan pabrik gula masih belum selesai ketika seorang mata-mata yang dijuluki "si gendut" terlihat masuk ke rumah Minem dan lari ke pekarangan belakang rumah Nyai Ontosoroh. Peristiwa itu disusul dengan surat kematian Robert, anak sulungnya, dan pengakuan Minem bahwa bayinya adalah anak dari Robert. Surat tersebut masih belum dingin ketika Nyai Ontosoroh, Minke, Minem dan Darsam serta si gendut yang ternyata bernama Jan Tantang dan pemilik tempat pelacuran Ah Tjong diseret ke pengadilan.

Keputusan pengadilan selanjutnya menempatkan Mama atau Nyai Ontosoroh dalam situasi rumit yang tidak bisa ditampiknya karena posisinya yang hanya pribumi, bukan keturunan Belanda. Di situlah arti persahabatan dan perjuangan melawan kesewenangan Ir. Maurits Mellema melalui pesta "penjagalan" yang telah disiapkan Nyai Ontosoroh terkhusus untuk calon perampas perusahaan besar di Wonokromo.

Begitulah cerita itu berakhir. Setiap buku diakhiri dengan takdir Nyai Ontosoroh dan Minke yang menggantung yang mengharuskan setiap membacanya untuk memburu buku berikutnya dan berikutnya lagi.

Dari kisah di atas, pembaca bisa mengetahui bahwa Nyai Ontosoroh dan Minke dapat menghadapi setiap masalah dengan tegar. Bahwa masalah besar bukanlah alasan bagi siapapun untuk menyerah.

Dari "Anak Semua Bangsa," pembaca bisa belajar untuk memperjuangkan hak walaupun hukum tidak memihak, mengusahakan kebenaran walaupun kebenaran jarang meninggalkan jejak, dan tetap menjaga martabat dan kehormatan diri walaupun sedang berhadapan dengan orang yang tidak mengindahkan harga diri orang lain.

Setiap peristiwa yang dialami Minke membuatnya semakin dewasa. Pertemanannya dengan orang Eropa membuatnya membuka mata bahwa orang Eropa tidak perlu disanjung setinggi itu walaupun bangsa mereka terus maju di berbagai aspek kehidupan. Kenyataan mengajarinya untuk berhenti mengidolakan sosok yang menurutnya sempurna. Ketidakadilan membuatnya berhenti menggunakan bahasa penjajah yang tidak dipahami pribumi. Kemudian, ia pun mulai menulis dengan lebih jujur tentang semua peristiwa dalam bahasa Melayu.

Sudah adil kau bila menulis untuk pembaca berbahasa Belanda, padahal kau sedikit pun tak pernah berhutang budi pada mereka? - Anak Semua Bangsa, 275.

Berbicara soal "Anak Semua Bangsa," semakin dibaca pembaca akan semakin diyakinkan bahwa Minke adalah Pramoedya sendiri. Hal ini diperkuat dengan latar belakang Minke yang kebetulan hampir sama dengan Pramoedya yang seorang penulis.

Pengalamannya yang bergabung dengan "Lekra" membuatnya tahu berhagai hal, termasuk peristiwa keadilan yang mengitari pabik gula Tulangan, Sidoarjo. Berdasarkan isi novel, Pram menemukan kenyataan bahwa biaya sewa yang diberikan pada pemilik tanah dikurangi oleh pihak Belanda dan mereka juga menyalahi kesepakatan dalam surat perjanjian sewa. Pengetahuan ini seperti yang pernah dikatakan Gol A Gong bahwa menulis fiksi adalah cara lain untuk memberitakan fakta.

Pram sangat piawai menceritakan setiap detil sejarah karena mungkin ia sendiri mengalami semua peristiwa itu dan bukan hanya berdasarkan imajinasi atau cerita dari orang lain saja. Jika Ernest Hemingway suka menulis cerita secara jujur, maka mungkin Pram bisa dikatakan sebagai Ernest Hemingway-nya Indonesia.

Beliau suka memasukkan fakta sejarah dalam tulisannya sehingga semua orang bisa tetap mempelajari sejarah Indonesia yang terus tenggelam seiring berlarinya zaman. Di tengah zaman yang sudah penuh dengan hoax, Pram berusaha membuat semua pembacanya mempertanyakan yang berakhir menjadi yakin akan kebenaran kisahnya. Dengan cara itulah Pram telah menceritakan kembali sejarah Indonesia yang terlupakan, terlepas dari latar belakangnya yang seorang Komunis.

Namun, jika Anda adalah tipe orang yang suka bervisualisasi dengan narasi atau deskripsi, mungkin "Anak Semua Bangsa" bukan novel untuk Anda. Seperti novel sebelumnya, "Bumi Manusia," novel ini bisa dikatakan penuh dengan dialog yang bertele-tele. Namun, dialog-dialog itu sendiri terkadang berisi pemikiran, movitasi dan nasihat yang tidak akan mungkin Anda tinggalkan, seperti pada dua kutipan di bawah ini:
Apa yang diharapkan oleh Pribumi daripadaku? Tak ada. Tapi yang diharapkan dari Tuan Minke yang begitu berbakat, banyak, terlalu banyak... Aku telah anjurkan padanya untuk mulai mengenal bangsanya dan kehidupannya, sumber yang tak kering-keringnya. - Anak Semua Bangsa, 267.
Nyai, kalau Tuan Minke tak mampu melihat keceriaan kehidupan, bagaimana ia nanti akan dapat menunjukkan pada bangsanya: di sanalah kebahagiaan? - Anak Semua Bangsa, 267.
0

Tentang Hujan: Prolog

Hampir satu minggu genapnya aku selalu memikirkan tentang hujan. Bukan karena apa, pasalnya tema pekan ini adalah tentang hujan. Jika memikirkan hujan, maka aku selalu ingat malam. Ingat tentang bagaimana tanah basah dengan aroma khas yang membawa kenangan. Seperti menjebak dan memerangkap ingatan agar senantiasa mendekap nuansa tersebut. Nuansa yang sudah lama lewat.

Namun bagaimana jika kemudian nuansa-nuansa itu tak habis dalam sekali duduk saja?

Mengenangnya.

Begitu.
0

Tentang Cinta yang Tak Mengenal Waktu dalam Letters to Juliet

Dari ulasan film berjudul "Letters to Juliet" ini mungkin kita akan belajar tentang cinta yang tak mengenal waktu dan bahwa cinta itu perlu diperjuangkan dan bahwa cinta itu...

Ya. Bersiaplah karena kali ini kita akan berbicara sekaligus belajar tentang cinta.

Namun, kita tidak akan belajar cinta tentang pengorbanannya saja, tetapi belajar bagaimana memilih cinta yang sungguh buat kebaikan berdua atau hanya menguntungkan satu pihak saja. Kita akan benar-benar belajar menentukan apakah cinta yang sedang kita jalani benar-benar yang terbaik ataukah selama ini kita hanya mempertahankannya tanpa ada pandangan ke depannya.

Jika Anda mulai ragu, maka "Letters to Juliet" adalah penawar bagi gejala kebingungan tersebut. Bagaimana kisahnya?


Film yang didistribusikan oleh Summit Entertainment ini dimulai dengan scene di mana Sophie Hall yang diperankan oleh Amanda Seyfried sedang menelepon orang-orang bernama Robert Beal. Dia adalah pemeriksa fakta yang sedang bertugas mencari saksi ciuman paling sensasional setelah Perang Dunia Kedua di Time Square, New York.

Sophie telah bertunangan dengan seorang chef bernama Victor yang diperankan oleh Gael Garcia Bernal. Sophia dan Victor sedang merencanakan liburan sebelum pernikahan ke Verona.

Namun, sebagai seorang chef yang akan membuka sebuah restoran di mana ia juga berarti seorang pebisnis, perjalanan yang dibayangkan sebagai pra-bulan madu itu pun sedikit berubah. Perjalanan dan daftar panjang Sophie mengunjungi beberapa tempat harus berubah dengan kesibukan Victor mengunjungi lelang anggur.

Hal itu sudah dimulai sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di Verona. Victor langsung mendapatkan telepon dari Signor Morini untuk mengunjungi kebun anggurnya dan mencicipi minuman anggur di sana. Ia juga mengunjungi tempat pembuatan keju yang semuanya tidak ada di jadwal. Setelah itu Victor juga hendak mengunjungi suatu tempat untuk melihat truffle.

Berantakan, bukan? Apa yang Anda lakukan jika menjadi Sophie ketika perjalanan romantis Anda berubah menjadi kesibukan yang hanya berpihak pada pasangan Anda sejak di hari pertama? Marah?

Namun, bukan itu yang dilakukan Sophie karena Sophie sudah sangat memahami Victor yang begitu tenggelam dalam dunia masak-memasaknya. Selain itu, alasan kenapa Sophie masih mempertahankan kisah cintanya dengan Victor yang dikenal luas oleh teman-teman Sophie sebagai orang yang sangat sibuk dengan hapenya itu adalah karena Victor selalu mendukung keinginannya menjadi seorang penulis. Victor beralasan bahwa Sophie harus melakukan hal yang sangat disenanginya.

Sejak awal menonton film ini, mungkin Anda akan langsung merasa bahwa Victor amat sangat menyebalkan karena penulis cerita dengan pandai dan tanpa berlebihan berhasil menunjukkan sosok Victor yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu mendukung win-win solution ketika Victor ingin melakukan suatu hal dan Sophie ingin melakukan hal lain yang berarti semakin memisahkan mereka berdua.

Namun, kehadiran Charlie Wyman yang diperankan oleh Christopher Egan akan langsung membuat Anda berasumsi peran apa yang dimainkannya dalam kisah cinta Sophie dan Victor.

Anda harus ingat bahwa cinta ini bukan kisah cinta mengerikan yang berakhir tragis dengan kebencian dan pengkhianatan. Film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sehat tidak harus dilanjutkan seberapa lama pun hubungan itu telah berlangsung.

Dalam Letters to Juliet mungkin Anda juga akan belajar tentang "witting tresno jalaran soko kulino" yang berarti cinta tumbuh dari kedekatan yang sering. Di sini, Sophie dan Charlie mempelajari arti cinta dari nenek Charlie yang bernama Claire Smith-Wyman yang diperankan oleh Vanessa Redgrave yang mencari cinta sejatinya Lorenzo Bartollini (Franco Nero) yang ia kenal saat ia masih berusia 15 tahun. Pencarian itu sendiri dimulai dari surat yang dikirim Sophie padanya.

Bagaimana awalnya Sophie bisa mengirim surat pada orang yang baru saja ditemuinya? Itu adalah detail yang harus Anda cari tahu sendiri.

Kisah pencarian Lorenzo itu pun dibuat tidak mudah, tetapi juga tidak sulit. Pencarian itu pun diawali dengan kisah unik ketika Charlie sangat tidak setuju jika pencarian tersebut harus dibersamai oleh Sophie, "Splendid. Fantastic," katanya dengan sarkastik.

Saya sangat senang dengan pencarian yang tidak hanya penuh dengan pencarian, tetapi juga percakapan saat mereka menginap di hotel dan berjalan-jalan sebelum mereka melanjutkan pencarian. Itu membuat semuanya menjadi alami dan tidak terlalu dipaksakan dan merupakan alur cerita yang berbeda tentang bertemu dan berpisahkan pasangan.

Ups, mungkin terlalu banyak spoiler di sini, tapi percayalah, itu hanya sebagian kecil yang bisa Anda nikmati dari semua ini. Lagipula, ada berapa Lorenzo Bartollini dan kisah apa yang disimpan oleh setiap Lorenzo Bartollini tersebut?

Bagaimana dengan konflik? Mereka menggunakan konflik kecil, tetapi cukup serius sehingga bisa diselesaikan dengan cepat tanpa ada luka yang berlarut-larut. Lagipula, ini adalah kisah cinta yang sederhana, jadi no drama needed.

Unsur kebetulan dalam cerita ini masih ada walau tidak merusak cerita. Itup un tidak dipaksakan dan bukan tidak perlu. Kebetulan ini malah menambah kealamian dan menjadi awal mula dari konflik yang membuat kedua tokoh kita bertengkar.

Seperti yang terjadi pada setiap pencarian, maka cinta pertama Claire itu pun ditemukan. Ia telah berubah dari seorang yang mencintai ladang menjadi pemilik ladang anggur terkenal di seluruh Eropa.

Bertemunya Claire dengan Lorenzo sendiri juga bukan karena mengikuti peta yang mereka bahwa, tetapi karena sebuah kebetulan alami ketika Claire ingin mampir ke tempat pembuatan anggur terkenal dalam perjalanan pulang mereka. That's it dan undangan pernikahan pun disebar.

Walaupun cerita setelah pernikahan Claire dan Lorenzo sudah bisa ditebak, tetapi keunikan dan keindahan kisah ini amat sangat menghibur mata, terutama dengan bangunan-bangunan indah Eropa. Selain itu, hal bahagia yang akan Anda saksikan bukan hanya tentang perayaan cinta saja. Lalu, apa yang dipelajari Sophie dan dikatakan pada Victor yang menjadi awal dari akhir film ini?

Yang bisa saya katakan adalah seluruh kisah dalam Letters to Juliet ini dirajut dengan cinta. Seluruh konflik, percakapan, kejadian, pertamuan, perjalanan dan sebagainya dirangkai seromantis mungkin dan dibuat tidak berat.

Ini adalah film romantis yang ringan dengan konflik dan plot twist yang lembut. Jika film ini adalah benda, mungkin ia adalah pohon di siang hari di mana Anda akan terlelap di bawahnya. Dan percayalah, walaupun terlihat demikian, kisah ini bukan tentang pengkhianatan.

Gambar diambil dari Cinematographe
0

Mengejar Sunrise ke Putuk Lesung Kaki Gunung Arjuna

Gunung Bromo sudah dikenal banyak orang sebagai tempat untuk menikmati matahari terbit yang eksotis. Sudah banyak orang, bahkan banyak keluarga yang melakukan liburan sekolah maupun akhir pekan ke Gunung Bromo. Namun, sebenarnya masih banyak gunung atau bukit lain yang bisa menjadi spot terbaik untuk menikmati sunrise.

Pernah mendengar Putuk Lesung? Putuk Lesung terletak di Purwodadi kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Putuk lesung sendiri merupakan sebuah bukit yang berada di kaki Gunung Arjuna. Hal ini dapat Anda lihat begitu Anda sampai di pos kedua, di mana jika Anda mengambil jalur ke kiri, maka Anda akan mengambil jalur ke Gunung Arjuna sedangkan untuk ke Putuk Lesung sendiri, Anda harus mengambil jalur ke kanan.

Tema travelling kali ini memang lebih dekat dengan istilah hiking karena Anda harus membawa peralatan yang lengkap untuk bisa menikmati sunrise. Walaupun hanya bukit, perjalanan ke puncak putuk lesung bisa dibilang cukup melelahkan. Putuk Lesung sangat sesuai bagi para hikers pemula atau bagi mereka yang ingin menjajal bagaimana rasanya naik gunung.

Kami (saya, suami dan teman-teman suami) mempersiapkan jauh-jauh hari atas ajakan seorang hiker (Bang Umar) yang memastikan keamanan mendaki kami. Selain mempersiapkan fisik, kami juga mempersiapkan peralatan untuk berkemah karena menurut Bang Umar, kami akan berangkat malam hari. Yang bener aja menginap di bukit dingin malam hari nggak bikin tenda, kan?

Beberapa hari sebelum berangkat, ternyata Bang Umar membawa teman yang juga hiker ikut untuk menemani saya yang perempuan. Barang yang akan disewa antara lain: tenda, sleeping bag, tas carrier dan perlengkapan memasak. Kami membawa 3 carrier yang diangkut bergantian. Kami juga membawa bahan-bahan masakan, sendok, kertas bungkus (sebagai pengganti piring) baju ganti, senter, tisu basah dan kering serta air yang dimasukkan ke dalam carrier. Jangan lupa membawa plastik sampah besar. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab dengan sampahnya yaa.

Jadilah kami bersembilan berangkat sore hari dan sampai pukul 7 malam lebih di rumah warga yang sering dipakai parkir. Di situ, kami makan malam di warung warga tersebut dan menitipkan sepeda motor kami. Sebenarnya, sepeda motor bisa dititipkan di pos perizinan yang masih berada di depan. Namun, karena medan cukup curam dengan bebatuan yang cukup besar, pilihan itu tidak disarankan oleh Bang Umar. Kasihan motornya katanya walaupun ada beberapa rombongan pendaki yang menitipkan sepeda mereka di sana.

Kami mulai pendakian pukul 8 malam lewat. Jalur pertama menuju pos perizinan amat menghancurkan semangat, terutama karena saya belum pernah mendaki gunung.

Awalnya, jalan masih lurus sekitar 30 m, lalu langsung menanjak dengan kemiringan sekitar 25-35 derajat. Saya tidak menghitung berapa jaraknya karena jalannya terus menanjak dan baru sebentar lurus langsung menanjak dengan kemiringan yang cukup curam. Namun, melihat teman-teman saya yang semangat maka saya pun tidak boleh menyerah.

Bahkan saking semangatnya, salah satu teman kami yang bernama Gilang Ijonk mengatakan, "ah, ini enteng." Dengan semangat itu, dia menjadi berada agak jauh di depan kami. Itu membuat semangat kami semakin terpacu. Namun, tiba-tiba dia kesleo. Dia mengatakan tidak sengaja menginjak batu besar yang sebelumnya berada di sisi yang lain.

Tip 1:
Jangan meremehkan gunung atau apapun. Setiap tempat memiliki penunggu. Jika penunggu tersinggung, maka mereka akan "usil."

Karena kejadian itu, Gilang berjalan di belakang dan terus melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pos perizinan, kami melepas semua jaket, kecuali Bang Umar dan beberapa teman lainnya yang cukup sering menanjak karena dari awal mereka tidak memakai jaket. Di malam yang dingin itu, keringat kami bercucuran deras.

Tip 2:
Jangan memakai jaket saat menanjak jika tidak ingin dehidrasi. Pakai jaket saat sudah sampai di tempat dan tenda telah didirikan.

Setelah melakukan perizinan, kami melanjutkan perjalanan ke pos 1. Dari pos 1 jaraknya tidak terlalu jauh dari pos perizinan, tetapi hanya melelahkan. Walaupun jalan yang kami lalui tidak securam sebelumnya (sekitar 15-25 derajat), tapi jalanan terus menanjak dan terjal. Bebatuan sebesar genggaman tangan hingga kepala manusia sering kami gunakan sebagai pijakan agar tidak terperosok. Di sepanjang jalan, kami juga sering beristirahat di batu besar.

Sekitar 30 menit, kami sampai di pos 1. Di pos 1 ada kamar mandi yang cukup luas dan sumber air. Ada juga gua yang ditutup kelambu. Pendaki dilarang masuk tanpa juru kuncinya.

Perjalanan menuju pos 2 dari pos 1 sekitar 2 kali lipat jauhnya dibanding dengan perjalanan menuju pos 1 dari pos perizinan. Namun, jika sudah sampai pos 2 maka lokasi perkemahan sudah sangat dekat.

Karena saya perempuan dan belum pernah mendaki, saya sering berhenti untuk beristirahat. Hal ini membuat Bang Umar memutuskan untuk mendahului karena menurut penjaga pos perizinan, Putuk Lesung penuh karena jalan menuju Gunung Arjuna ditutup. Dikhawatirkan jika terlambat sampai, tempat perkemahan sudah penuh sehingga tidak ada tempat yang tersisa untuk kami. Bang Umar pun berangkat membawa carrier berisi perlengkapan mendirikan tenda ditemani dengan Tomex. Dengan kondisinya yang terlihat masih fit dan penuh semangat, ia dipilih untuk menemani Bang Umar yang juga masih dalam keadaan fisik yang prima.

Akhirnya, kami didampingi oleh teman perempuan Bang Umar yang juga seorang pendaki. Walaupun demikian, kami masih bersama seorang porter (Satria) yang juga cukup sering naik gunung. Dia yang membawakan barang bawaan saya dan suami karena saya lelah, sedangkan suami kakinya terkilir waktu itu, walaupun dia sendiri sudah bawa carrier. Dia juga teman dari kecil suamiku, jadi tidak apa-apalah walaupun saya merasa sangat berdosa.

Tip 3:
Jangan berhenti terlalu lama agar tidak cepat lelah. Berhentilah hanya untuk mengambil napas sebentar. Ketika berhenti, jangan menekuk lutut yang sudah kelelahan. Ini yang selalu digaungkan oleh Indrat yang pernah mengalami kaku lutut hingga tidak bisa berdiri karena menekuk lutut yang terlalu lelah.

Sesampainya di pos 2, kami berhenti agak lama karena di pos 2 terdapat warung. Kami duduk dan minum teh hangat manis dan melanjutkan perjalanan.

Tip 4:
Mengonsumsi minuman manis cukup penting, terutama bagi pemula, untuk mendapatkan asupan tenaga secara langsung. Masih ingat kan, kalau makanan dan minuman manis akan cepat memberikan tenaga?

Perjalanan dari pos 2 ke lokasi tidak terlalu susah. Jalur sudah jarang mendaki, malah mulai turun dan datar. Namun, jalanan mulai menakutkan karena tepat di sebelah jalan yang biasa dilalui adalah jurang. Selain itu, jalannya mulai menyempit dan hanya bisa dilalui 1 orang.

Sesampainya di atas, 2 tenda sudah berdiri. Kami melepas lelah sambil melihat Bang Umar dan Tomex memasang tenda dibantu dengan teman-teman lain yang juga baru datang.

Saya langsung rebahan karena terlalu lelah. Padahal, jika sesuai rencana, saya dan suami harusnya makan malam lagi.

Tip 5:
Gantilah baju sebelum tidur. Karena baju yang basah terkena keringat bisa membuat tubuh semakin dingin.

Di sana udara mulai dingin. Jaket kami kenakan dan saya tidur dalam sleeping bag. Beberapa teman di luar bercengkerama sambil memasak mie dan memakan camilan yang kami bawa.

Kemudian, mentari pun terbit.


Dari kiri ke kanan (Saya, Gilang Ijonk, Tomex, Indrat, Suami, Satria)


Dari kiri ke kanan (Saya, Raja Tadubi, Tomex, Indrat, Satria, Suami)


Dan inilah laki-laki keren yang bernama Bang Umar. Dengan tubuhnya itu, dia mendaki dengan membawa carrier yang tidak digilir ke siapapun sambil merokok ketika saya mulai ngos-ngosan. Teman perempuan Bang Umar tidak ikut berfoto karena belum bangun. Ketika sudah bangun, kami sudah mulai masak untuk sarapan dan bergegas turun.
Sekedar info, Raja Tadubi adalah chef kami di sini. Dia bertanggung jawab pada produksi makanan untuk sarapan dibantu dengan beberapa teman lainnya, termasuk saya. Sementara lainnya membereskan isi tenda agar "penghancuran" tenda berjalan lancar dan cepat.

Tip 6:
Kalau bisa, jangan memakai pakaian hitam ketika mendaki di siang hari. Panas euy. Jangan lupa bawa kacamata hitam. Selain terlihat keren, kacamata bisa sangat melindungi mata dari terik matahari di siang hari.

Walaupun hanya numpang tidur di Putuk Lesung, pengalaman ini cukup unik bagi kami. Selain bisa hiking dan masak bersama, naik gunung adalah hal yang berbeda daripada hanya melakukan wisata kuliner atau ngopi. Sekali-kali, kumpul bersama dengan suasana baru itu memang dibutuhkan.

Satu lagi hal yang penting: jangan lupa bawa tali! Seremeh apapun, kadang tali itu dibutuhkan.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com