Carl’s Jr. Single Awareness


Ini adalah pertama kalinya saya ke Surabaya untuk merasakan burger dari Carl. Dan sejujurnya, saya juga baru kali ini mendengar nama resto yang khusus menyediakan menu burger ini – walaupun ada beberapa menu lainnya juga, tetapi hanya sebagian kecil dari sebagian besar menu burger yang ada. Hal ini juga yang membuat saya teringat dengan Krusty Crab XD.

Kesempatan saya mencicipi burger buatan Carl’s ini ternyata bertepatan dengan satu periode promo yang dikampanyekan oleh Carl’s. Yap! Promo ini masih terkait dengan bulan Februari yang identik dengan Hari Valentine – Single Awareness. Promo ini diberikan bagi Anda yang masih jomblo dengan menunjukkan status pernikahan di KTP Anda. Jadi, di sini jelas bahwa definisi “jomblo” menurut Carl’s adalah “belum menikah”, bukan “belum punya pacar”, ya. Promo ini terbatas waktu. Jadi, sepertinya sudah berakhir sekarang. T.T




Karena itu adalah pertama kalinya saya mendengar nama “Carl’s,” otomatis ini juga pertama kalinya saya menginjakkan kaki di resto “Carl’s” yang agak berbeda dari perkiraan saya. Kalau biasanya kita masuk pintu langsung disambut pemandangan orang makan dan kasir, maka di sini saya melihat eskalator yang mengantar kami – ya, saya makan dengan teman saya seperti biasanya – menuju lantai dua. Nah, di situlah kami melihat kasir dan banyak sekali tempat duduk dengan beberapa suasana.

Di bagian kasir, ada banyak pilihan menu yang bisa dipilih. Namun, karena kami datang untuk Single Awareness, maka kami memutuskan untuk memesan menu promo itu – Classic Burger. Dari harga asli Rp40.000,- kami hanya perlu membayar Rp30.000,-.

Kami memilih tempat duduk di teras luar dengan pemandangan keramaian Surabaya pukul 3 sore. Walaupun Surabaya terkenal dengan kepadatannya, polusi udara di sana tidak menjangkau kami yang berada di lantai atas dan berjarak lumayan jauh dari jalan raya.

Tidak sampai 15 menit, burger pun datang. Burger itu berdiameter sekitar 15 cm. Ukuran yang lumayan  besar bagi saya dibandingkan dengan BigMac yang ukurannya hanya separuh ukuran Carl’s Classic Burger dengan harga yang sama.  Namun, kata teman saya ukurannya masih lebih kecil daripada burger buatan resto lain. Walaupun teman saya berpendapat demikian, saya masih merasa burger ini lebih baik karena rasanya juga jauh lebih enak daripada BigMac.

Burger itu terdiri dari roti, bawang bombay, selada, patty dan keju. Roti yang berbentuk bulat dengan belahan di tengah itu terasa sedikit manis, tetapi tidak sampai eneg. Patty-nya gurih, tetapi tidak terlalu gurih sampai terasa seperti kebanyakan micin dan garam. Intinya, rasanya pas. Kalau saya penggemar burger, mungkin saya akan datang lagi dan lagi ke Carl’s Jr. Sayang, saya tidak terlalu menggemari burger.

Dari beberapa kali mencoba burger, burger buatan Carl’s Jr. bisa dikatakan yang terbaik dari yang sebelum-sebelumnya. Kenapa? Karena burger pertama yang saya makan rasanya eneg karena roti yang terlalu manis sehingga rasanya tidak menyatu dengan keju dan daging yang gurih. Burger kedua rasanya terlalu asin karena kebanyakan micin dan garam sehingga hampir merusak indera pengecap saya dan merusak pendapat saya akan semua sajian menu di restoran cepat saji itu.

Untuk minumannya, kami sama-sama puas. Rasanya hampir sama dengan milkshake walaupun namanya adalah Ice Cream Shakes. Saya memilih Chocolate Ice Cream Shakes dan teman saya memilih Vanilla Ice Cream Shakes. Milkshake itu dimasukkan ke dalam wadah plastik ukurang sedang dan disemprot Ice Cream, tentunya yang belum beku. Setelah sebelumnya sempat ragu, akhirnya pendapat kami mengenai minuman di resto seperti itu membaik setelah peristiwa pink dawet di ulasan sebelumnya.

Overall, berada di Carl’s Jr. seperti berada di rumah sendiri dan menyantap makanan buatan Spongebob yang dimasak dengan penuh cinta XD.

Gambar diambil dari 3.bp dan Instagram
0

Kutu Loncat, Harapan, dan Naungan



Sebagai seorang yang pernah dijuluki kutu loncat, sudah wajar bagi saya untuk melompat dari suatu naungan ke naungan lain. Bukan hanya dalam pergaulan, komunitas, organisasi saja, bahkan dalam pekerjaan pun suka berpindah-pindah. Alasannya tentu sederhana: saya mencari tempat yang nyaman. Nyaman dalam hal ini tentunya berhubungan dengan kualitas lingkungan tersebut. Sepadankah antara apa yang saya berikan dan yang saya dapatkan dari lingkungan tersebut. Sepadankah dengan apa yang saya harapkan?

Dengan pengalaman yang suka melompat dari satu tempat ke tempat lain, sudah wajar bagi saya untuk langsung bisa membaca satu gerak-gerika manusia, membaca sifat dan ambisi mereka. Di mana setiap rata-rata orang yang dibutuhkan hanyalah “apresiasi” dan “pengakuan”. Mudahnya, mereka membutuhkan perhatian. Itu yang dulu juga sering saya tuntut dari tempat-tempat yang dulu saya tinggalkan. Bergitu merasa tak diapreasi atau tak diperhatikan, maka saya akan pergi mencari tempat baru untuk memulai sesuatu yang baru yang mana bisa membuat saya lebih fokus untuk membangun citra diri.

Namun, dari segala pengalaman lompat-melompat itu, saya tak mendapati diri saya yang tak berkembang. Justru saya seperti berhenti di tempat. Menjadi tukang tuntut yang hanya semata terperangkap pada ego sendiri. Begitu tak puas, maka saya pergi.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com