Thursday, 22 February 2018

Kutu Loncat, Harapan, dan Naungan



Sebagai seorang yang pernah dijuluki kutu loncat, sudah wajar bagi saya untuk melompat dari suatu naungan ke naungan lain. Bukan hanya dalam pergaulan, komunitas, organisasi saja, bahkan dalam pekerjaan pun suka berpindah-pindah. Alasannya tentu sederhana: saya mencari tempat yang nyaman. Nyaman dalam hal ini tentunya berhubungan dengan kualitas lingkungan tersebut. Sepadankah antara apa yang saya berikan dan yang saya dapatkan dari lingkungan tersebut. Sepadankah dengan apa yang saya harapkan?

Dengan pengalaman yang suka melompat dari satu tempat ke tempat lain, sudah wajar bagi saya untuk langsung bisa membaca satu gerak-gerika manusia, membaca sifat dan ambisi mereka. Di mana setiap rata-rata orang yang dibutuhkan hanyalah “apresiasi” dan “pengakuan”. Mudahnya, mereka membutuhkan perhatian. Itu yang dulu juga sering saya tuntut dari tempat-tempat yang dulu saya tinggalkan. Bergitu merasa tak diapreasi atau tak diperhatikan, maka saya akan pergi mencari tempat baru untuk memulai sesuatu yang baru yang mana bisa membuat saya lebih fokus untuk membangun citra diri.

Namun, dari segala pengalaman lompat-melompat itu, saya tak mendapati diri saya yang tak berkembang. Justru saya seperti berhenti di tempat. Menjadi tukang tuntut yang hanya semata terperangkap pada ego sendiri. Begitu tak puas, maka saya pergi.