Narkoba vs Coklat



Saya mencoba menyamakan antara coklat dan narkoba dan mungkin akan sedikit menyinggung beberapa pihak. Menurut saya, coklat dan narkoba memiliki fungsi yang sama: menenangkan. Selain itu, jika kita kebetulan menemukan sebatang atau segelas coklat panas yang amat sangat enak, efeknya juga membuat kita terasa fly high. Dalam beberapa waktu, coklat juga bisa membuat kita lupa pada masalah yang sedang kita hadapi, malah mungkin merubah cara pandang kita terhadap masalah dengan menambahkan pasokan kebahagiaan pada perasaan kita tanpa membuat organ-organ kita kesakitan. Malah, dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa coklat dapat memperkecil ukuran sel kanker yang sudah diujicobakan pada penderita kanker.

Saya ingin mencoba memahami alasan para pengguna narkoba mengonsumsinya. Pertama, mungkin hal itu didasari oleh masalah-masalah yang tidak dapat ditanggung dan diselesaikan sehingga dengan mengonsumsi narkoba, masalah mereka seakan hilang dan terlupakan. Padahal, masalah itu tidak pernah hilang dari ingatan apalagi kenyataan. Masalah tidak akan pernah terlupakan sebelum hilang dan tidak akan pernah hilang sebelum diselesaikan. Hal positif lainnya dalam menyelesaikan masalah adalah kita akan lebih dewasa dan akan menjadi pribadi yang lebih kuat dengan pemikiran yang cemerlang. Dengan mengetahui itu, coklat juga bisa menghasilkan efek yang sama pada otak kita dengan cara menimbun masalah dengan hormon-hormon kebahagiaan yang hanya lewat sebentar. Lalu, masalah akan kembali teringat. Namun, kita akan melihat masalah dengan sudut pandang baru dan mampu menghadapinya dengan tanggung tanpa meninggalkan rasa sakit maupun luka dalam tubuh.

Jika kita ingin terlihat keren, coklat panas juga bisa membuat kita keren. Berapa banyak orang yang mengonsumsi coklat panas? Tidak banyak. Jika menjadi keren adalah menjadi berbeda, maka mengonsumsi coklat panas sebagai pengganti narkoba adalah usaha untuk menjadi keren yang sebenarnya. Coklat asli sebenarnya memiliki rasa pahit, seperti kopi. Yang membuatnya manis adalah tambahan susu dan gula dalam pengolahannya. Jika masih ada pertanyaan dan keraguan, mungkin saya akan mengajukan pertanyaan: sejak kapan mengonsumsi narkoba dibilang keren? Tentu sejak ada sekelompok orang yang mengonsumsinya lalu merasakan sedikit perubahan dalam perasaannya dengan mengatakan bahwa masalahnya terasa hilang lalu menceritakannya pada orang-orang dan mengajak mereka untuk mencobanya dengan mengatakan bahwa mengonsumsinya membuktikan kekerenan seseorang; atau pembuat narkoba, yang belum pernah mencicipi barang yang dibuatnya itu, yang melakukan pemasaran agar produknya terjual dengan mengambil keuntungan dari paradigma “keren” yang selalu menjadi demam di antara para remaja.

Mengenai perasaan “terbang” ketika mengonsumsi obat, pertama, hal yang saya ingin tanyakan adalah: untuk apa? Kita tahu bahwa sudah menjadi kodrat manusia untuk berjalan dan berlari. Kita juga bisa belajar berenang, seperti ikan. Namun, struktur tubuh kita tidak memungkinkan untuk membantu kita terbang; dan makhluk yang bisa terbang hanya burung dan serangga terbang, sementara sejumlah besar spesies lain tidak. Semua itu sudah diatur untuk keseimbangan. Jika kita memaksa ingin terbang, maka kita bisa naik pesawat yang mengantarkan kita ke belahan daerah lain. Selain itu, jika manusia bisa terbang secara individu layaknya burung, apa yang akan terjadi di langit. Akan ada terlalu banyak orang di udara yang bisa mengakibatkan kekacauan karena tidak ada jalur pasti, pencurian akan lebih mudah dilakukan, sayap kita akan mudah patah jika kita memutuskan untuk berjalan karena terlalu bosan terbang, cabang-cabang pohon akan cepat patah ketika kita memutuskan untuk bersandar di atasnya demi menjaga keutuhan sayap, dan sebainya.

Menurut saya, coklat dan narkoba memiliki fungsi yang sama tapi dengan manfaat yang dimiliki lebih banyak oleh coklat. Selain itu, coklat juga murah, mudah didapat, sah sehingga tidak perlu ada pengejaran polisi, enak, pengobat kanker, dan sebagainya. Jika kita bosan makan coklat, kita bisa meminumnya, mengoleskannya pada roti, menjadikannya bubuk untuk menjadi pewarna dan perasa jelly, dan masih banyak lagi.


Saya menyadari bahwa tulisan ini sangat terkesan sepihak karena memang saya tidak mengerti apapun tentang narkoba dan penggunanya. Namun, di sini saya hanya mencoba memahami dan memberikan solusi akan kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi para pengguna sehingga mengonsumsinya dan belum bisa terlepas dari jeratannya.

***

Image Credit : Pixabay.com
0

Catatan Perjalanan Panjang: Bogor - Lumajang


Perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 jam ini kami lakukan di malam hari. Rute Jawa Barat-Jawa Timur tidak terlalu menyenangkan bagi orang yang tidak menyukai kemacetan. Tol Jagorawi pada hari Minggu malam cukup sesak. Dipenuhi kendaraan yang baru pulang dari Puncak menuju Jakarta, sepertinya. Pintu tol menuju luar Jakarta pun tak ubahnya seperti antrean sembako yang telah mengular, sangat panjang dan menyebalkan. Membuat siapa pun yang mengalaminya akan mengalami kelelahan yang tidak wajar. Kelelahan karena menunggu antrean yang merayap yang hanya mempersilahkan satu demi satu kendaraan untuk lewat. Itu akan menjadi lebih menyebalkan ketika ada masalah di bagian tol di mana sopir tidak membawa kartu tol.

Setelah keluar dari tol Jagorawi, keadaan sudah agak mendingan. Perjalanan lancar dengan kecepatan sekitar 100 km/jam. Lagi pula, tidak terlalu banyak orang yang melakukan perjalanan semalam itu ke luar Jakarta walaupun masih bisa dikatakan bahwa banyak kendaraan yang tercecer di sana sini.

Hal yang paling riskan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita berada di tengah tol dan bar bensin sudah menunjukkan indikator kekhawatiran, tapi kita masih belum melihat tanda-tanda adanya SPBU. Udara dingin dalam mobil seketika tidak mampu lagi mendinginkan hawa panas dalam tubuh walaupun kulit masih terasa dingin. Untungnya, indikator dalam bentuk garis tersebut masih menunjukkan jumlah bensin yang cukup banyak untuk mengantarkan kita menuju SPBU terdekat yang jaraknya cukup jauh.

Hal kedua yang cukup mengkhawatirkan adalah tidak adanya hiburan dalam mobil. Ketika permainan dalam gadget sudah begitu membosankan dan semua teman baru saja tertidur sehingga tidak ada teman untuk diajak mengobrol, rasa kantuk pasti tidak dapat ditahan lagi. Kita tidak bisa mengajak ngobrol sopir begitu saja ketika kita tidak memiliki ketertarikan atau pengetahuan yang sama dengan sopir karena itu akan mengganggu konsentrasinya jika dia terus-menerus mengobrol dengan kita, walaupun sebenarnya sopir adalah orang yang paling harus diajak mengobrol untuk mempertahankan keterjagaannya saat menyetir. Selain itu, bagi seseorang yang terbiasa tidur di nyaman di kasur empuk dan akan dengan mudah terbangun oleh sedikit goncangan saja, tidur di mobil dengan suspensi berlebihan akibat jalan yang tidak rata sungguh mustahil dilakukan. Sehingga tidur selama perjalanan kurang lebih 15 jam hanya mungkin dilakukan dalam keadaan kantuk dan lelah yang benar-benar tidak bisa ditahan. Karena cukup menyebalkan jika kita berkali-kali harus terbangun karena kolam-kolam kecil yang terbentuk secara alami akibat siang yang melelehkan aspal dan malam yang mengeraskannya.

Hal berikutnya yang cukup penting dalam sebuah perjalanan panjang dan masih berhubungan dengan hal sebelumnya adalah membawa bantal-bantal kecil. Walaupun bantal-bantal itu tidak cukup efektif untuk meredakan goncangan-goncangan kendaraan di atas aspal yang membuat kita melompat-lompat, itu cukup efektif untuk menambah rasa tenang dan kesabaran pada diri kita ketika tubuh kita menghantam benda keras seperti kerangka mobil maupun dudukan. Siapa yang tidak kesal dengan hantaman-hantaman itu?
Jika kita tergolong orang-orang yang suka mabuk darat, maka selalu sediakan plastik di dalam mobil untuk berjaga-jaga jika kita lupa meminum obat sebelum berangkat atau untuk bersiap-siap ketika kita harus melakukan perjalanan dadakan sehingga tidak sempat membeli obat, seperti yang saya lakukan. 

Masih terkait dengan orang yang suka mabuk, ada baiknya jika kita membeli banyak camilan yang bisa dibeli di toko-toko swalayan yang tercecer di sepanjang jalan. Perut orang yang suka mabuk akan mudah terisi angin yang membikin mual. Saran camilan terbaik saya adalah: jeruk dan cabai. Minuman jeruk dan camilan tahu goreng yang dimakan dengan cabai pedas bisa menjadi pilihan untuk menenangkan perut yang mulai bergejolak. Akan lebih baik lagi jika keduanya dimakan sebelum mulai mual. Jika tidak ada buah jeruk, kita bisa menggantinya dengan buah lain atau makanan lain yang sifatnya asam, seperti manisan mangga muda, asinan bogor, atau apapun. Namun, walaupun susu bersifat asam, jangan mengonsumsinya di tengah perjalaan karena itu hanya meningkatkan rasa mual. Sifat asam yang saya maksud di sini adalah yang langsung menimbulkan asam dalam perut. Tentunya ini berhasil jika kita tidak memiliki masalah dengan makanan asam dan pedas.

Hal selanjutnya terkait dengan sopir. Kita harus memperhatikan kesejahteraan sopir yang terus-menerus membuang energinya. Ada terdapat banyak tempat istirahat di sepanjang tol dan jalan. Walaupun merasa masih muda, sopir juga manusia yang membutuhkan istirahat dan makan. Tempat istirahat tidak dibangun sebagai tempat istirahat, makan, atau salat saja, tetapi juga untuk menjelaskan bahwa stamina sopir berpengaruh pada keselamatan berkendara. Jika sopir terlalu lelah dan mengantuk, siapa yang bisa tahu apakah sopir tidak lupa menyalakan lampu sein ketika akan menyalip atau berbelok, melihat rambu-rambu dengan jelas, menyadari ada kendaraan lain di sampingnya, dan sebagainya.

Masih banyak hal-hal lain yang perlu diperhatikan ketika akan memulai sebuah perjalanan darat yang panjang. Dari semua itu, tidak ada yang lebih penting daripada safe driving dan berdoa. Kita tidak bisa melepaskan peran Allah Yang Maha Melindungi dari keselamatan berkendara. Setiap hari kita terancam bahaya. Namun, ada Sang Perancang Yang mengatur segalanya agar tidak berantakan. Lalu, kenapa kita tidak berdoa pada-Nya untuk memberikan rancangan terbaik pada perjalanan kita?


Gambar diambil dari Pixabay
0

Aku dan Film: Ratatouille


Jika sebelumnya saya hanya membahas sedikit film ini di tulisan tentang kuliner karena masih berhubungan, kali ini saya akan membahasnya secara penuh sesuai kemampuan saya. Mungkin saya akan memasukkan sedikit resensi atau analisis berdasarkan pemikiran seseorang yang suka menonton film di mana alasan untuk itu mungkin tidak lebih dari cara belajar saya yang visual.

Saya masih belum begitu yakin tentang alasan pemilihan tikus sebagai karakter utama film animasi ini. Alasan terkuatnya menurut saya adalah karena “rat” (tikus) adalah tiga huruf pertama nama makanan itu dan secara tidak langsung merupakan musuh besar bagi rumah makan yang akan menciptakan konflik alami bagi tikus yang menjadi tokoh utama dalam film ini.

Film dimulai dengan menceritakan kehidupan seorang tikus bernama Remy yang memiliki kemampuan memasak dan penciuman yang tajam akan bahan masakan yang dipakai dalam suatu makanan. Petualangannya dimulai ketika dia terpisah dari koloni dan keluarganya di selokan yang membawanya hingga menemukan restoran terkenal di Paris di mana Chef favoritnya, Gusteau, dulu memasak. Dalam petualangannya, dia memiliki seorang teman bicara imajinasi dalam wujud Gusteau ketika dia sedang sendirian. Hasratnya yang mencintai dunia memasak pun tersalurkan lewat Linguini, anak Chef Gusteau, yang datang untuk meminta pekerjaan.

Semua berjalan baik hingga konflik dimulai dengan Skinner, pengganti Gusteau, yang akhirnya membaca surat wasiat yang menyatakan bahwa Linguini akan menjadi chef selanjutnya. Konflik berikutnya, yang menentukan masa depan restoran, dimulai ketika Anton Ego yang merupakan seorang kritikus makanan mengumumkan bahwa dirinya akan datang untuk melakukan penilaian. Tentunya dari semua konflik itu masih ada hal-hal menarik lain dari sebuah restoran yang mungkin sebagian besar belum kita ketahui.

Bisa dikatakan bahwa film ini berhasil menceritakan tentang kehidupan penuh konflik seorang chef dengan jujur. Di mana dia harus menghadapi seorang kritikus yang selalu bisa menuliskan kekurangan dalam makanannya untuk dibaca semua orang, selalu mencari celah untuk menjatuhkan reputasi yang intinya adalah seorang musuh sejati. Masih belum berhenti di situ, sebuah restoran dengan nama chef terkenal sebelumnya juga pasti akan cepat berada di ambang kehancuran jika memiliki penerus yang tidak kompeten, dalam film ini, contohnya adalah Chef Skinner yang mengubah restoran itu menjadi sebuah rumah makan semi pabrik makanan kaleng.

Menurut saya, eksekusi film ini luar biasa. Semua pihak yang memegang peran penting dalam pembuatan film ini saya rasa sangat kompeten. Mulai dari pemilihan pengisi suara karakter, naskah, dan animasinya sangat alami, rinci, dan pas. Warna-warna yang dipilih untuk mendukung cerita juga sesuai tempatnya: tidak berlebihan, tapi juga tidak biasa.

Dari segi nilai moral, mungkin selama ini kita menduga bahwa upaya-upaya pelengseran dan konflik kekuasaan hanya terjadi di pemerintahan dan sebagian kecil di dunia kerja. Namun, dalam film ini kita bisa mengerti bahwa hal-hal semacam itu juga bisa terjadi di dunia kuliner dengan menampilkan pemikiran Skinner dan usaha yang dilakukannya agar Linguini tidak merebut posisinya. Kita mungkin berpikir bahwa dunia memasak hanya berisi orang-orang yang mencintai kuliner dan ahli di bidangnya, tapi dalam film ini kita juga akan melihat bahwa ada orang-orang tertentu yang ingin mengambil kembali posisi yang telah direbut darinya seperti seorang pemberontak dalam suatu pemerintahan.

Mengenai kritikus makanan yang selalu menjadi musuh paling setia seorang chef, kualitas yang melekat dalam diri Anton Ego digambarkan dengan sempurna. Ruangan luas dengan bentuk seperti peti vampir tempat dia menulis kritik dalam kesendirian, tangan-tangan panjang yang menyerupai cakar burung pemakan daging, serta rambut lurus yang disisir ke belakang dipadu dengan jas dan celana hitam rapi mampu menggambarkan sosok Ego yang tegas dan menakutkan. Masih banyak lagi kualitas dalam diri karakter Ego dan karakter-karakter lain yang menurut saya membuat film ini amat sangat nyata.

Tentang Ego yang seharusnya mendapatkan peran kontra dengan karakter utama seperti yang diceritakan di awal, dalam film ini Ego akhirnya malah menjadi penyelamat dan pendukung restoran itu, terlepas dari kesentimenannya pada Gusteau. Ini adalah salah satu poin yang saya suka dari film yang berdurasi sekitar 1 jam 50 ini. Pembuat cerita mampu membawakan sisi paradoks yang ada dalam diri manusia dengan halus tanpa harus ada pengkhianatan atau pun teknik twist mendadak dalam cerita yang membuat kita akan berpikir “ternyata...” tanpa harus mengucapkannya.

Hanya itu yang bisa saya ceritakan dari sekian banyak hal yang bisa diulas dari film ini di samping gambar-gambar makanan yang sangat menggugah selera. Walaupun film ini sudah ditayangkan di bioskop bertahun-tahun lalu, saya tetap menganggap film ini sebagai sebuah karya yang menyegarkan di tengah-tengah film yang kental akan twist dan tidak dibawakan dengan alami.


Gambar diambil dari huggingthecoast
0

Pernik Kuliner Saat Ini






Jika kamu adalah penggemar kuliner, mungkin kamu ingat sebuah makanan bernama “Ratatouille” dari sebuah film animasi berjudul sama. Bagi yang belum tahu, itu adalah sebuah makanan yang biasa disajikan di meja makan sederhana di belahan Eropa yang berisi sayuran biasa, seperti kentang, tomat, timun, dan sebagainya. Demi memuaskan seorang kritikus makanan bernama Anton Ego, makanan itu disulap menjadi makanan dengan wajah berkelas, tapi dengan rasa yang sama oleh seorang tikus yang pandai memasak bernama Remy. Yah, itu adalah sedikit bocoran dari seluruh kisah petualangan di Tikus dan anak seorang chef terkenal di Paris. Namun, saat ini aku sedang tidak menceritakan tentang salah satu film yang kusukai, tetapi sesuatu yang sedikit berkaitan dengan itu.

Baca juga: Pos ketan cita rasa yang tak terlupakan.

Ketertarikan orang pada makanan berubah seiring berubahnya zaman. Jika dulu orang lebih mementingkan rasa, orang-orang di zaman ini lebih menyukai makanan dengan penampilan yang sedikit tidak biasa dan berwarna. Instagramable istilahnya. Hingga banyak rumah makan yang mempromosikan foto-foto makanannya dalam instagram untuk menarik minat orang-orang yang suka mengunggah foto makanan ke akun instagram mereka. Dengan cara itu, mereka mendapatkan keuntungan ganda: tambahan pengunjung dalam sekejap mata dan promosi tempat makan gratis (jika para pengguna instagram tidak lupa mencantumkan nama rumah makannya).

Baca juga: Carl's Jr. Single Awareness dan Carl's Jr. Friday is Freeday.

Perubahan itu sebenarnya sah-sah saja apalagi di dunia kuliner yang semakin banyak pemain. Persaingan yang sehat dan cerdas dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis agar tidak tergilas rumah kuliner lain maupun perkembangan teknologi yang mengiringi perubahan zaman. Bahkan, sekarang banyak rumah makan yang bekerja sama dengan perusahaan transportasi daring jarak dekat untuk mempermudah konsumen mendapatkan makanan yang diinginkan tanpa harus terjebak macet. Jika pemilik bisnis masih bersikeras dengan cara pemasaran yang lama, maka usahanya akan lebih cepat tersingkir dari jalur persaingan cepat. Maka, perubahan cara pemasaran perlu diubah bersama tuntutan konsumen yang sudah berubah.

Baca juga: Ayam saus coklat dan Pizza Combi sensasi menyantap pizza molor.


Dalam hal penampilan dan kreatifitas, orang sudah hampir berpuluh-puluh tahun memakan makanan yang sama dengan tampilan yang sama. Tentu dibutuhkan sebuah inovasi dalam hal tampilan atau cara penyajian makanan itu. Hal ini diperlukan agar makanan itu terus memiliki penikmat sehingga tidak hilang dari sejarah kuliner. Karena menurut saya, resep kuliner juga termasuk harta suatu peradaban. Bahkan kita bisa mengenal suatu bangsa hanya dari makanan khasnya. Dengan zaman yang terus berubah, mustahil mempertahankan keberadaan makanan tanpa sentuhan inovasi.

Baca juga: Waffle Many Pany dan Kebab Baba Rafi.

Kita tidak perlu muluk-muluk dengan inovasi. Cukup dengan mengubah sedikit tampilannya tanpa harus mengubah seluruh resep. Sekarang ini sudah banyak pemilik bisnis yang berinovasi dengan dagangan mereka. Ketan yang dulunya hanya diberi taburan parutan kelapa, kini terlahir kembali dengan berbagai varian rasa, seperti yang saya temui di sebuah warung di dekat alun-alun Malang. Ada juga piscok yang menurut saya adalah wajah baru pisang goreng yang dulunya hanya berupa pisang yang dicelup adonan tepung lalu digoreng. Begitu pula dengan surabi yang terlahir dengan ukuran lebih kecil yang diberi berbagai macam topping sesuai pilihan. Dalam hal minuman, ada juga pemain bisnis kuliner yang memberikan sentuhan inovasi pada kopi. Di mana minuman kopi sengaja dibekukan hingga menjadi es batu dan disajikan dalam bentuk es dengan siraman susu cair atau sesuai selera.

Baca juga: Makanan Jepang di Hayaku Resto.

Kini, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tampilan yang menggugah selera. Semakin menarik tampilan makanan itu, semakin banyak orang yang ingin menikmatinya. Jika semakin banyak orang yang ingin menikmatinya, maka makanan tersebut akan terus ada dari generasi hingga ke generasi selanjutnya.

0

Bicaralah, Selesaikan Bersama



Sekali lagi saya terjebak dalam masalah komunikasi yang saya alami dan sepertinya juga dialami oleh sebagian besar orang Indonesia. Entah ini hanya dialami oleh orang Indonesia saja atau semua orang yang sedang menginjak kedewasaaan. Karena setahu saya, sebagian orang dewasa lebih suka untuk diam daripada mengumbar pembicaraan atau perasaannya pada orang lain. Entah apakah diam adalah suatu proses kedewasaan atau hanya karena rasa tidak percaya pada orang lain yang sebenarnya bisa diajak bicara, ataukah ini semua tentang kebijaksanaan diri yang berarti semakin bijaksana orang itu, dia akan lebih memilih diam daripada berceloteh.

Setiap orang memiliki pemikirannya sendiri-sendiri akan suatu pengalaman yang dialaminya; entah baik atau buruk, entah berhubungan dengan pendapat akan sesuatu atau perasaan pada seseorang. Pemikiran itu kadang ingin diceritakan pada orang lain, kadang juga tidak. Menurut saya, itu tergantung kekuatan orang itu untuk menanggungnya. Namun, ada juga orang yang melupakan pendapatnya begitu saja tanpa perlu memikirkannya berlarut-larut.

Di sini, saya hanya akan membahas orang yang tidak bisa menanggung pemikirannya sendiri dan memilih untuk membicarakannya dengan orang lain yang mungkin mengalami hal yang sama karena berada dalam lingkup yang sama dengannya. Hal itu bisa terjadi karena beberapa hal berikut ini.

1.   Menurut saya, sebagai makhluk sosial, orang akan cenderung mencari dukungan atas apa yang dipikirkan dan dirasakan. Sehingga tidak kaget jika ada kelompok, komunitas, atau organisasi tertentu dengan ketertarikan tertentu. Ini juga berlaku jika ada satu orang yang memiliki pemikiran tertentu yang perlu diselesaikan. Dia akan mengajak orang-orang terdekatnya dan menjelaskan begini-begitu tentang yang dipikirkannya hingga semua orang terdekatnya itu memikirkan hal yang sama walaupun sebelumnya tidak.

2.    Menurut saya, manusia itu diciptakan untuk mengurus dan membawa kedamaian di muka bumi sehingga wajar jika sebagian besar orang akan memilih untuk menghindari perang terbuka, atau lebih sederhananya: bicara langsung, dengan seseorang yang bertanggung jawab atas pemikirannya. Namun, kita semua tahu bahwa sifat seperti ini akan menciptakan pribadi yang pengecut. Jika tidak ingin melakukan perang terbuka, setidaknya pemikirannya itu bisa disampaikan secara damai dan langsung dengan cara menanyakannya kenapa begini, kenapa begitu; atau jika dirasa masih terlalu kasar, maka setidaknya bisa diikuti kegiatan orang atau organisasi itu dengan harapan seluruh kegiatan itu nanti bisa membenarkan atau menyalahkan pemikirannya.

3.    Menurut saya, manusia lebih suka jika dirinya disebut orang baik karena bayangan akan “penghuni neraka” terlalu buruk untuk citra mereka. Karena hal ini pula, lantas sebagian besar orang akan bermuka dua. Bermuka manis ketika bertemu, tapi ketika sedang tidak bersama akan membicarakan keburukannya. Tentu tidak salah jika orang yang bermuka dua ini disebut orang munafik di mana tempatnya nanti juga sama saja.

Masalah seperti ini tentunya tidak akan terjadi di lingkungan keluarga, pertemanan, organisasi, maupun kantor jika kita mengedepankan komunikasi. Jika jalan komunikasi tidak dipilih karena itu dapat menimbulkan pertikaian dan sebagainya, itu karena kedua belah pihak tidak menggunakan cara komunikasi yang benar dan adil, di mana salah satunya adalah mendengarkan dan berbicara bergantian, bukan saling potong dan menyalahkan.

Solusi untuk hal ini sebenarnya bisa dilakukan secara empat mata dan bersama-sama. Pertemuan bersama-sama dilakukan untuk membuka kesempatan sharing/ diskusi untuk menciptakan keterbukaan, saling pengertian, saling memahami, membangun kepercayaan, dan menciptakan kedekatan. Hal ini tidak perlu dilakukan dengan formal seperti diskusi dan harus ada seseorang yang mencatat; cukup acara bersama atau ngopi bersama.

Yang kedua, kita bisa melakukan komunikasi empat mata. Hal ini bisa dilakukan setelah kepercayaan terbangun lewat komunikasi bersama. Ini dilakukan untuk mengurangi keengganan untuk bicara, menemukan pandangan dari setiap orang sehingga solusi dapat dirumuskan secara global. Dalam tahap ini, kita diharapkan bisa menjadi pendengar yang tidak terlalu banyak menanyakan kenapa dan bagaimana dan tidak perlu memberikan pandangan jika tidak diminta; biarkan orang itu sendiri yang menceritakannya atas kemauan dan kesadarannya sendiri; dan walaupun diminta sekali pun, kita tidak perlu memberikan pandangan yang memihak antara orang itu atau yang dibicarakan, berikan saja pandangan umum akan masalah yang diutarakan itu.


Akhirnya di sini kita tahu bahwa komunikasi bisa dijadikan alat untuk menyatukan dan memecah belah. Kita pun mengetahui bagaimana cara memanfaatkannya untuk kebaikan dan bagaimana keburukan akibatnya berawal. Semoga dengan mempelajarinya, kita bisa lebih mengerti cara menyelesaikannya dan menghindari perpecahan yang ditimbulkan olehnya.
0

Semua Ini Salah Kita



Entah sejak kapan tradisi menyalahkan orang lain ada dan dari mana asalnya di belahan Indonesia ini. Sebagai orang Jawa yang tidak mempelajari kebudayaan Indonesia, saya hanya tahu bahwa orang-orang tua kami sering menenangkan anak kecil yang jatuh dengan cara memukul lantai atau tanah di mana anak itu jatuh. Hal serupa juga dilakukan jika anak-anak tersandung atau terbentur. Orang-orang tua kami menyalahkan benda yang membuatnya tersandung atau benda diam yang dianggap “membenturkan” diri pada anak yang terbentur itu. Di sini, saya tidak tahu apakah masalah terletak pada cara pandang atau memang ada maksud tertentu yang ingin diajarkan.

Kita semua pasti setuju jika memang nilai itu adalah tentang cara pandang, maka itu adalah salah. Cara pandang seperti itu akan mengakibatkan anak lebih mudah menyalahkan orang lain ketika dia besar. Jika hal itu dilakukan terus-menerus maka akan mengakibatkan anak tersebut dibenci dan membenci. Itu juga mengakibatkan anak menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab karena dia sudah belajar untuk mengambinghitamkan sesuatu atau bahkan orang lain atas kesalahan atau ketidaknyamanannya. Namun, jika semua itu adalah tentang memberikan pengajaran, cara tersebut amat sangat implisit yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang pemikirannya sudah matang, bukan anak-anak.

Ada kalanya orang tua kami mengajarkan suatu hal secara halus dan tersirat. Dalam hal ini, secara tidak langsung, orang tua kami mengajarkan pada orang yang lebih tua bahwa anak kecil adalah makhluk yang masih bersih dan tidak mengerti apapun. Sehingga kesalahan atau kesedihan yang dia rasakan tidak bisa dipersalahkan padanya. Harus ada orang yang lebih tua yang bertanggung jawab untuk itu, dalam hal ini orang tua kami memilih benda. Namun demikian, orang tua kami pasti tidak mengerti dampaknya di masa mendatang. Yang mereka tahu hanyalah si anak sudah berhenti menangis.

Merupakan hal yang baik jika mereka mengajarkan agar kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mengajarkan bahwa kemalangan itu bukan sesuatu untuk ditangisi, melainkan sesuatu yang harus dicari penyelesaian masalahnya dan keluar darinya. Namun, harus dengan cara yang berbeda.

Cara yang paling ampuh menurut saya adalah dengan memberikan sentuhan langsung, memeluknya, ketika dia sedang menangis entah karena hal apa. Jika dia terluka, maka bisa segera diobati tanpa menanyakan siapa yang salah. Namun, akan lebih baik jika anak itu tahu bahwa dia jatuh dengan sendirinya sehingga tidak ada orang lain atau benda lain yang bisa disalahkan selain dirinya. Tentu tanpa mempersalahkan, tapi dengan memberikan pengertian bahwa tindakan atau gerakannya sendirilah yang membuatnya jatuh atau terbentur. Di sini, orangtua juga bisa mengajarkan cara bertindak atau bergerak agar tidak jatuh dengan cara yang sama.

Orangtua juga perlu memberikan penjelasan bahwa rasa sakit hanya berkunjung sementara, sehingga tidak perlu membesar-besarkannya dengan memperlama tangisan. Bahwa rasa sakit bisa mengajarkan mereka untuk menjadi lebih kuat.

Sedangkan untuk orang dewasa yang sudah terbiasa dengan menyalahkan orang lain dan tidak bertanggung jawab, saya kira cara yang paling ampuh adalah dengan selalu berusaha menyalahkan diri sendiri atas semua keburukan yang terjadi pada diri kita. Karena sebenarnya keburukan datang dari tindakan salah yang pernah dilakukan entah di waktu dekat maupun sudah amat lampau. Jika pun itu bukan merupakan kesalahan kita, pasti ada hikmah atau suatu pelajaran berharga yang bisa kita dapat dari itu. Selain mencari akar permasalahan dengan pikiran yang tenang, kita juga bisa mulai belajar mengakui kesalahan jika melakukannya masih terasa sulit. Mengakui kesalahan sulit karena dalam benak kita, kesalahan adalah perilaku kebohodohan tanpa menyadari bahwa manusia adalah tempatnya salah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah salah, bahkan Rasul yang paling suci dengan akhlak yang menyerupai malaikat pun pernah. Kita juga perlu mengingat bahwa mengakui kesalahan juga menunjukkan keberanian dan kekuatan dalam diri kita.


Tradisi yang salah bukan untuk dipermasalahkan. Namun sudah menjadi kewajiban bagi kita, generasi penerus, untuk memperbaikinya.
0

Mulutmu, Harimaumu




Kadang kita merasa bisa tanpa keterlibatan orang lain. Dengan hadirnya banyak kawan dan semua orang yang mendukung kita, rasanya kita tidak perlu bantuan lagi dari selainnya. Merasa bahwa semua akan baik-baik saja tanpa orang lain. Merasa bisa melakukan semua tanpa bantuan orang lain dengan pikiran bahwa orang lain hanya akan menambah beban pikiran karena tidak sesuai dengan idealisme kelompok.

Pada akhirnya mereka yang telah diusir dan dianggap tidak berguna lah yang menolong mereka ketika semua usaha yang dilakukannya gagal. Pada akhirnya dirinya sendirilah yang meminta mereka untuk kembali. Lalu ketika dia sudah berhasil nanti, dia akan lupa pada bantuan orang-orang yang dulu membangkitkannya ketika jatuh. Ketika diingatkan, dia malah dengan mudahnya berkata, “jadi, kalian pamrih?” Padahal, dikatakan bahwa orang yang mudah melupakan kebaikan orang dan mengingat keburukan orang adalah ciri-ciri orang yang... Ah, lupakan lah.

Saya miris ketika ada sekumpulan orang yang keluar dari organisasi karena masalah yang tidak jelas. Karena suatu sistem yang mendadak terasa membebani mereka sehingga menyalahkan orang yang menjalankan sistem itu, padahal sistem itu sudah ada jauh sejak organisasi itu pertama kali dibentuk. Setelah keluar, mereka pun dengan angkuhnya mengatakan tidak membutuhkan bantuan organisasi itu lagi. Namun, setelah lama tidak terdengar sejak kesibukan mereka dengan proyek “sendiri”, akhirnya mereka muncul lagi dengan tangan yang menengadah.

Sebenarnya hal itu tidak mengagetkan karena ketika seseorang mengatakan, “aku tidak butuh”, saat itu Allah juga langsung menjawab, “tunggu saja”; dan keadaan pun berbalik dengan begitu cepat. Sangat cepat hingga tidak perlu menunggu orang-orang itu diakui keberadaannya sebagai suatu komunitas baru. Hanya segelintir orang yang sedang melakukan hobi mereka saja kelihatannya. Lalu, ketika mereka ditanya tentang alasan mereka yang sebelumnya pergi, mereka akan mengutarakan alasan yang sebenarnya hanya dibuat-buat agar pihak yang telah berusaha membantunya itu berada di sudut yang salah dan dia bisa lepas tangan dari tanggung jawab untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Mungkin hal ini juga terkait suatu pelajaran yang didapat ketika kecil yang cenderung menyalahkan orang lain atau hal lain jika sesuatu yang buruk menimpa dirinya.

Masalah ini sepertinya juga berhubungan dengan komunikasi yang kurang sehat. Terlalu sering memendam dan kurang terbuka. Sehingga pasti ada pihak-pihak yang akan merasa dirugikan jika ada pihak yang dirasa sama sekali tidak membantu, dan malah membebani, menguasai mereka. Masalah seperti ini juga sulit diselidiki kecuali mungkin oleh para ahli, bahkan hingga mereka memutuskan untuk memecah diri pun, sehingga tercetuslah pernyataan tidak membutuhkan itu, masalah ini belum tentu bisa diketahui akarnya.

Dari masalah yang ada dan kemungkinan penyebabnya, kita bisa melihat bahwa pemecahannya adalah komunikasi bersama dan keterbukaan. Bertatap muka dengan orang-orang tersebut dan berbicara dengan dingin untuk mengetahui akar permasalahan sebenarnya adalah cara terbaik yang bisa dilakukan.

Orang yang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan orang lain sebenarnya tidak bermaksud demikian karena pada dasarnya semua orang itu saling membutuhkan uluran tangan dari satu sama lain, bahkan saling tergantung. Pernyataan itu hanyalah pernyataan sesaat yang nantinya pasti akan mereka sesali dan sebagai orang yang bijak, kita tidak perlu mempermasalahkan hal itu lebih lanjut dalam tatap muka.


Pepatah “mulutmu harimaumu” sepertinya relevan untuk keadaan ini. Kita sebenarnya juga diajarkan untuk tidak memutuskan sesuatu ketika marah. Karena jika kalimat yang tidak disertai pemikiran jernih, suatu saat kalimat itu sendiri yang akan memangsa pengucapnya.
0

Meluluhkan Hati CaMer




Batasan: Dalam hal ini, saya bukanlah pakar. Saya hanya mendapatkan ilmu dari sharing orang-orang yang peduli pada masa penantian jodoh saya ini. Maka dari itu, saya juga ingin berbagi beberapa tips disertai cerita seputar penantian jodoh pada pembaca semua dengan harapan sedikit meringankan beban di kepala. Paling tidak, saya bisa menemani kegundahan Anda semua.
Baik.
Saya tidak perlu memaparkan usia saya karena mungkin hal itu dapat memengaruhi persepsi dan penerimaan Anda terhadap tulisan ini. Marilah kita sepakati bahwa kita sama-sama berada di usia yang matang untuk menikah.
Bagi sepasang kekasih yang sudah menginjak usia dewasa, hubungan adalah suatu hal yang serius. Tidak lagi bisa bermain-main. Kita harus segera menentukan pasangan kita cocok menjadi pasangan hidup selamanya atau tidak. Jika cocok, maka harus segera dilanjutkan ke jenjang pernikahan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Jika tidak cocok, maka harus segera dihentikan secepat mungkin.
Jika kita merasa cocok dengan pasangan dan ingin segera melangsungkan pernikahan, biasanya masalah berikutnya ada pada calon mertua. Kecuali jika calon mertua sudah saling mengenal dan menerima hubungan kita. Masalah ini sering berhubungan dengan ketidaksesuaian kriteria pasangan kita dengan orangtua. Nah, apa yang harus kita lakukan?
Hal paling utama dan pertama yang harus kita lakukan adalah berusaha menerima bahwa kriteria yang ditentukan orangtua untuk pasangan kita berbeda. Biasanya, orangtua memasang kriteria yang lebih tinggi daripada kriteria yang kita terima dari pasangan kita. Setelah itu, barulah kita berusaha untuk mencari jalan keluar apabila memang pasangan kita layak diperjuangkan.
Berikut adalah jalan keluar yang berhasil saya kumpulkan berdasarkan sharing orang-orang yang saya kenal:
1. Menyogok. Tentu kata “menyogok” adalah kata yang kurang tepat untuk langkah ini berdasarkan definisinya di KBBI. Tapi, kurang lebih seperti itu. Menyogok ini bukan berarti kita “membeli” pasangan dari orangtuanya dengan uang. Bukan. Tujuan dari menyogok ini adalah melembutkan hati orangtua pasangan.
Jika orangtua dari pasangan perempuan adalah camer yang “susah” dan harus diluluhkan, maka si perempuan harus memberitahu si laki-laki sesuatu yang disukai orangtuanya. Hal yang disukai tidak perlu barang mahal, cukup barang atau hal sederhana saja. Jika ayah pasangan suka pergi ke pantai, ajaklah kedua orangtua pasangan ke pantai, tentu dengan pasangan. Jika ibu pasangan suka brownies, maka sisakanlah sedikit gaji untuk membelinya tiap bulan.
Langkah ini perlu karena kadang orangtua tidak merestui pasangan kita hanya karena takut pasangan kita tidak bisa membahagiakan atau memenuhi kebutuhan kita sehari-hari.
2. Diplomasi memutar. Sambil terus-menerus melakukan langkah pertama, kita juga perlu menjalankan langkah kedua ini. Menurut pencerita, diplomasi memutar adalah upaya memperoleh dukungan dari pihak saudara dari orangtua pasangan yang tidak merestui. Sebagai laki-laki, sebaiknya Anda sering-sering mengorek informasi dari pasangan untuk bisa menghubungi kakak dari orangtua pasangan atau saudara lain yang dipercaya pasangan. Hubungi mereka sesering mungkin seperti layaknya paman atau bibi sendiri. Bekerjasamalah dengan pasangan Anda.
Luangkan waktu untuk menunjukkan kedekatan. Pencerita mengatakan, ayahnya sampai menghadiri pernikahan keponakan ibunya untuk mendapatkan restu dari kakak ibu mertuanya. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan dukungan tambahan dan juga seseorang yang bisa memberikan keyakinan pada calon mertua untuk menerima kita.
3. Komunikasi khusus.  Jika kedua langkah tersebut telah dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan komunikasi khusus dan langsung dengan kedua orangtua pasangan. Entah bagaimana saya menjelaskan langkah ini. Intinya, kita harus bisa meyakinkan bahwa semua yang diberikan oleh orangtua pasangan kepada pasangan kita sejak dia lahir hingga dewasa juga bisa kita berikan kepada pasangan kita. Semua hal itu seperti: kebahagiaan, keperluan sehari-hari, kasih-sayang, perhatian, dsb.
Orangtua pasangan akan menilai keseriusan dan kesanggupan kita hidup bersama pasangan dari cara kita meyakinkan mereka dan kegigihan kita dalam melakukannya. Jangan masukkan kalimat yang melebih-lebihkan atau terlalu yakin pada kemampuan Anda dalam tahap ini. Berusahalah apa adanya. Karena orangtua pasti sudah memiliki penilaian dari kedua langkah yang Anda lakukan sebelumnya dan pasti sudah menarik kesimpulan tentang orang seperti apakah Anda.
Bersikaplah wajar dan berkharisma. Jika Anda seorang laki-laki, maka Anda harus menunjukkan bahwa Anda dapat menjadi pemimpin yang baik dan dapat mengayomi keluarga Anda kelak. Jika Anda seorang perempuan, maka Anda harus menunjukkan bahwa Anda dapat menjadi seorang ibu yang baik dan dapat mendidik cucu-cucu mereka kelak.
Kadang kriteria calon mertua terhadap kita terasa kurang masuk akal atau terlalu muluk-muluk. Tetapi semua itu dilakukan karena tidak ingin anak yang mereka sayangi jatuh ke tangan yang salah dan malah tidak bahagia setelah pernikahan. Tentu mereka tidak bisa meminta anaknya untuk bercerai begitu saja karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah, seperti rasa sakit dan rindu yang datang bersamaan. Apalagi jika anak mereka sudah memiliki momongan. Dan orangtua tidak bisa mengobati hal itu. Begitulah orangtua. Mungkin nanti kita juga akan melakukan hal yang sama.
Sebagai penutup, saya ingin berbagi hal yang dikatakan oleh dua orang laki-laki yang saya tahu:
“perkara diterima atau tidak, itu adalah perkara laki-laki yang akan memperjuangkanmu. Jika dia ditolak, tentu kamu akan sedih, tapi tidak perlu sampai merasa bersalah jika ia pun ikut sedih. Laki-laki diciptakan untuk menjadi tegar.”
dan
jika laki-laki ditolak oleh orangtua perempuan setelah melakukan segala cara, maka dia harus segera ‘move on’ dan tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan.”
0

Urban Horror: Commuter Line



Jika ada urban legend, menurut saya urban horror juga bisa ada. Jika urban legend berkisah tentang legenda, yang sebagian besar horor, yang sudah terjadi berpuluh-puluh tahun di kota, maka urban horror juga tidak jauh seperti itu. Hanya saja usianya tidak terlalu lama, alias masih baru.
Urban horror ini masih berhubungan dengan angkutan antarkota yang ekonomis di Ibukota. Yap, apalagi kalau bukan Commuter Line atau biasa disebut KRL. Angkutan ekonomis tapi kurang humanis ini bisa mengangkut ratusan ribu orang setiap harinya, terutama pada hari kerja; dan pada jam berangkat dan pulang kerja, angkutan ini hampir selalu penuh dengan manusia yang berhimpit-himpitan. Baik penuh karena jumlah penumpang yang melebihi kapasitas maupun penuh karena tas-tas penumpang yang tebal.
Terlepas dari semua itu, mungkin masih banyak dari kita yang belum menyadari kengerian di salah satu stasiun yang dilalui KRL ini, Stasiun Sudirman. Stasiun tempat menurunkan sekaligus mengangkut penumpang paling banyak; dan headline cerita ini mengambil lokasi di stasiun itu.
Waktu itu, langit baru saja menghitam. Tidak jelas pukul berapa saya naik KRL dari Stasiun Karet. Kereta masih cukup lengang ketika kereta mulai berlari. Tak lama, benda kotak itu sampai di tempat pemberhentian dengan kerumunan-kerumunan manusia yang baru pulang kerja, sepertinya.
Peristiwa dimulai ketika seorang ibu hendak turun di Stasiun Sudirman. Ibu itu sudah bersiap turun, berdiri di tengah-tengah pintu dengan harapan bisa turun segera. Begitu pintu dibuka dan ibu itu baru saja menginjakkan satu kakinya di stasiun, puluhan manusia menyembul masuk. Lalu… sesuatu itu terjadi…
Karena aksi tidak sesuai dengan reaksi, si ibu yang hendak keluar tadi terdorong masuk kembali ke dalam KRL hingga pintu hampir akan ditutup lagi. Hal itu tentu membawa kepanikan dan asumsi beberapa orang yang ada dalam KRL.
“Lho… saya kira ibu tadi sudah keluar,” ucap pegawai KRL.
“Belum, Mas. Saya kedorong lagi tadi,” jawab si Ibu.
Sementara beberapa penumpang ada yang menyalahkan ibu itu yang tidak sigap ketika akan turun. Sementara yang mengetahui kejadiannya mengatakan bahwa ibu itu terdorong oleh orang-orang yang hendak masuk.
Kengerian masih belum berhenti di situ. Begitu pintu ditutup, ada yang berteriak, “aaahh.. kakiku.” Sontak hal itu mengagetkan semua orang yang ada di sekitarnya. Bahkan ada yang sigap mencari tombol darurat untuk memberitahu bahwa ada yang terjepit kakinya di pintu. Tak lama, suara itu meng-klarifikasi, “tidak apa-apa, kaki saya keinjek.” Semuanya pun bernapas lega.
Siapa yang tidak mengira bahwa yang berteriak sedang terjepit kakinya. Kejadian sebelumnya saja sudah bisa menempatkan pikiran semua orang untuk waspada akan KRL yang penuh sesak.
Jika di abad ke-21 setan sudah tidak semenakutkan dulu, maka definisi “horor”-pun harusnya diubah. Bukankah kecelakaan angkutan umum masih menjadi momok yang menyeramkan?
0

Tentang Commuter Line



Suatu hari saya berada di dalam sebuah kereta Commuter Line. Berangkat pagi dan berharap mendapatkan tempat duduk walaupun hanya untuk 15 menit. Yah, siapapun tahu bahwa kereta antarstasiun di Jabodetabek itu selalu penuh penumpang, apalagi pada jam berangkat dan pulang kerja.

Ada yang menarik dengan peraturan duduk di dalam kereta. Kereta dengan panjang 8 hingga 12 gerbong itu memiliki 2 gerbong khusus untuk perempuan yang dipasang di kereta paling depan dan belakang. Dalam dua gerbong ini, jangan harap ada yang akan menawarkan Anda duduk. Tidak akan ada yang akan menawari Anda duduk kecuali bila orang itu akan turun di stasiun berikutnya atau Anda adalah orang tua, orang cacat, wanita hamil atau wanita yang membawa anak. Begitulah peraturannya. Kenapa? Karena semua orang di dalamnya adalah perempuan. Bahkan ada yang tidak menawarkan tempat duduk walaupun di depannya ada wanita tua.

Mengenai tatanan tempat berdiri dan tempat duduk, gerbong khusus untuk perempuan terkenal sangat rapi. Begitu rapi sampai semua orang di dalamnya terlihat seperti lipatan-lipatan baju yang dijejalkan dalam almari yang sudah sesak. Sedikit celah bisa digunakan untuk meletakkan baju yang baru disetrika hingga tidak ada ruang kosong untuk bernapas. Tentu gerbong itu akan menjadi gerbong kematian pascakolonial bagi para penderita asma. Saat itu, sampai pernah ada yang pingsan.

Hal ini berbeda jika kita masuk ke gerbong dengan penumpang campur. Dengan tatanan yang tidak beraturan, hal itu memungkinkan penumpang untuk bernapas dengan sedikit lega. Kenapa? Karena kereta tidak pernah terlalu penuh sesak. Hal itu seperti pakaian yang dimasukkan ke dalam lemari namun tidak dilipat. Hasilnya, masih akan ada banyak ruang kosong yang tersedia untuk bernapas walaupun lemari sudah tidak mungkin dimasuki lagi.

Mengenai peraturan duduk di gerbong ini, selama masih ada perempuan yang berdiri, pantang bagi laki-laki untuk duduk. Mereka akan dengan sigap memberikan tempat duduknya pada perempuan di depannya atau mempersilahkan perempuan di sebelahnya untuk duduk di bangku kosong di depannya. Well, sebenarnya tidak semua. Masih ada beberapa orang yang tidak melakukan hal itu. Ada yang pulas dengan tidurnya dan tidak mempedulikan ada orang tua di depannya dan ada pula yang sibuk bermain ponsel walaupun di depannya ada perempuan yang kelelahan setelah pulang kerja. Intinya sama saja.

Sesadis itukah para pengguna Commuter Line? Tidak juga. Kita tidak tahu pengalaman apa yang mengajari mereka untuk berbuat demikian. Kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya mereka alami. Bisa saja orang-orang yang duduk itu adalah mereka yang baru kehilangan pekerjaan, dicerai, kecopetan, atau baru pulang setelah dua hari lembur. Dengan keadaan itu, mereka mungkin juga sedang berperang dengan keegoisan mereka sendiri. Salah satu dari mereka mungkin ingin memberikan tempat duduk untuk perempuan tua yang sedang bersandar di sudut bangku, tapi kesedihan dan rasa letih begitu merajai hingga menempatkannya dalam dilema yang sulit di mana dilema itu membuatnya semakin pening hingga tidak tahu harus apa selain tetap diam dalam posisi itu.

Bisa jadi orang-orang yang berdiri adalah mereka yang tidak terbebani apapun. Mereka telah menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan baik di kantor dan membuat atasan mereka kagum. Sehingga mereka tidak perlu memikirkan apapun selama dalam perjalanan selain beristirahat. Yah, mungkin mereka hanya perlu meletakkan tangan mereka pada tali yang tergantung di kereta lalu membuka ponsel dan menikmati saluran kesukaan mereka, tanpa perlu memikirkan penderitaan orang lain karena yah, mereka sudah berada di posisi yang dianggap orang lain sebagai "menderita".
0

Tentang Berusaha dan Takdir



Saya masih belum paham hubungan antara usaha dan takdir. Menurut saya, kedua hal ini rumit. Karena takdir berasal dari Tuhan, sementara usaha dilakukan oleh manusia. Apakah keduanya tidak bisa dipertemukan?

Takdir berkata: rezeki sudah ada yang mengatur, sedangkan usaha berkata: besarnya usaha berbanding lurus dengan besarnya rezeki (dalam hal ini harta). Jadi, apakah keduanya bisa disalinghubungkan? Jika bisa, apakah hubungannya menjadi: semakin gigih seseorang untuk mencari harta, maka takdir mungkin akan berubah -atau- takdir itu mutlak, sebesar apapun usaha seseorang mencari harta, besarnya sudah ditentukan. Jika tidak, mana yang benar? Ini rumit.

Pertanyaan selanjutnya mungkin: apakah dengan berdiam diri saja seseorang bisa tetap hidup seperti layaknya Siti Maryam yang dikirim buah-buahan dari surga hanya dengan memohon saat kelaparan? Atau seperti seorang perempuan yang hanya menyembah dan melakukan semua yang Allah SWT perintahkan dan menjauhi larangan-Nya sepanjang hidupnya sehingga ketika dia membutuhkan, malaikat akan langsung turun memenuhi seruan Allah SWT untuk memenuhi kebutuhan perempuan itu? Ataukah hal itu hanya terjadi pada perempuan/orang istimewa saja?

Seingat saya, ada sebuah nama, sepertinya Lukman Hakim, yang berkata bahwa ia selalu bangun sebelum azan subuh berkumandang dan tidak tidur lagi setelahnya agar ia mendapatkan banyak rezeki hari itu? Tapi, bukankah rezeki sudah diatur? Dan sudah jelas bahwa manusia tidak akan mati sebelum seluruh rezekinya diterima?

Dari semua pertanyaan itu, saya hanya dapat menyimpulkan dengan mengambil dalil pertama dan terakhir bahwa: rezeki sudah diatur untuk setiap orang dan tidak akan diberikan sebelum orang tersebut meninggal. Karena banyak orang kaya yang sakit-sakitan dan berumur pendek. Dan banyak orang miskin tetap sehat dan berumur panjang. Dan, ya, sehat juga bagian dari rezeki yang dijanjikan itu.
0

Clash of Kids



Dengan membaca judulnya, mungkin kita akan teringat pada sebuah permainan yang beberapa tahun lalu dilarang di Indonesia. Ya, dari melihat kejadian yang akan saya ceritakan memang sedikit membuat saya teringat permainan itu. Begini ceritanya.

Dalam sebuah dunia, yang entah bulat atau datar, ini kita akan menemukan makhluk-makhluk ajaib dan suci yang suka bermain. Merkea adlah anak-anak yang masih berpegang pada hati peri yang dibawa sejak mereka masih berada dalam alam roh. Hati itu akan tetap setiap pada pemiliknya dalam waktu yang cukup lama jika si pemilik tahu cara menghindar dan menyadari kejamnya dunia. Namun demikian, bukan tidak mungkin mereka, kids, akan mengalami bentrokan, clash, dengan sesama mereka di usia yang masih sangat belia. 

Contohnya di tempat saya melakukan terapi hydro-tanning ini. Di tempat ini ada wahana kecil khusus untuk anak-anak seusia mereka. Wahana ini sepertinya dimaksudkan agar anak-anak bisa bersenang-senang tanpa mengganggu orangtuanya yang sedang melakukan terapi di air yang terlalu dalam untuk mereka, selain untuk alasan keselamatan juga.

Di wahana tersebut, anak-anak akan meluncur dari ketinggian surgawi (menurut mereka) ke tempat yang lebih rendah. Ini seperti penggambaran ketika mereka baru keluar dari dunia roh di nirwana menuju bumi. Ketika sudah tiba di lokasi pendaratan, ada kalanya beberapa dari mereka, yang sudah lebih dulu menetap di dataran rendah dan tak beranjak pergi dari dekat tempat pendaratan itu, kurang siaga. Sehingga tertabrak oleh roh suci yang baru meluncur itu. Kejadian tertabrak ini bisa berakibat fatal bagi hati yang masih belum mengenal kerasnya dunia sehingga mereka tidak tahu cara bertahan. Mereka bisa saja tenggelam sejenak dalam genangan sepaha orang dewasa, mengeluarkan butiran berlian dari mata yang tak berdosa, atau mengeluarkan kata-kata mutiara yang mereka curi dengar dari embusan calon penghuni tetap neraka. Namun, karena balutan surgawi, mereka hanya diam dan saling pandang. Sungguh menakjubkan.

Kejadian itu adalah sesuatu yang jarang ditemui di dunia orang-orang dewasa yang sebenarnya sudah lama hidup di dunia dan tahu cara menanggulangi kerasnya persaingan. Ketika mengalaminya, anak-anak itu malah menunjukkan cara menjadi dewasa yang sebenarnya, seolah mereka pernah mengalami masa itu. Sementara orang dewasa malah sering menunjukkan sifat kekanak-kanakan seolah mereka belum puas dengan masa yang sudah dilaluinya puluhan tahun sebelumnya. Seolah mereka masih belum pernah mengalami suatu kejadian yang menyadarkan mereka akan betapa kerasnya dunia sehingga membuat mereka belajar untuk menanggulanginya.
0

Casual Introduction 2



Hai…

Aku kembali lagi untuk membayar hutang tulisanku sebelumnya seputar hobi. Jujur, Nour sudah mulai menulis sejak kelas 6 SD bersama beberapa teman sekelas. Kami berempat memang tidak berencana membuat sebuah antologi bersama, yang mana pada waktu itu kami pun belum mengenal kata itu. Kami menulis hanya karena kami ingin mencurahkan imajinasi kami yang sudah mulai matang saja. Masing-masing dari kami pun membeli satu buku khusus untuk dibuat sebagai kumpulan cerpen kami. Tiap salah satu dari kami selesai membuat cerpen, kami bertiga akan bersama-sama atau bergantian membacanya. Mungkin motivasi menulis kami adalah karena kami sudah sering meminjam buku-buku yang disediakan di Perpustakaan sekolah. Buku cerita favorit kami adalah “Kecil-Kecil Cabe Rawit” di mana buku itu mengisahkan seorang perempuan yang diculik dan berhasil melarikan diri. Kebiasaan menulis kami berhenti ketika kami sudah kehabisan ide dan kegiatan pembelajaran mulai padat sejak hari-hari sekolah kami mendekati tanggal UAN.

Setelah itu, aku tidak pernah lagi menulis hingga saat aku baru menginjak kelas 2 SMP, kakakku lulus kuliah dan membawa satu novel berjudul “Supernova”. Yap, novel itu. Dari novel itu, aku mulai belajar membuat puisi-puisi. Hingga kelas 3 SMP aku berhasil memenangkan lomba cipta puisi di sekolah dengan tema lingkungan. Bersamaan dengan itu, aku mulai membaca beberapa novel lagi hingga aku terinspirasi membuat novel dan berhasil menyelesaikan satu. Sayang, novel itu kuanggap jelek sehingga kusingkirkan dari memori komputer. Aku pun mencoba membuat novel lain hingga aku SMA yang mana semuanya harus terbuang percuma karena komputerku rusak dan harus diperbaiki keseluruhannya. (Saat itu aku masih belum memiliki flashdisk).


Semangatku menulis hampir seluruhnya habis di situ. Hingga saat aku menginjakkan kaki di bangku kuliah, aku bergabung dengan sebuah organisasi kepenulisan bernama FLP. Di situ, aku mulai menulis cerpen lagi; dan dari situ pula aku mulai yakin kembali dengan hobiku: menulis; karena sebelum bergabung, di mana aku tidak punya teman untuk menulis, aku hampir tidak pernah menulis hingga aku menyangsikan menulis sebagai hobiku. Mungkin kalian akan menganggapku penulis yang manja, tapi jangan salah, begitu aku bahwa ada banyak kawan yang memperjuangkan hal yang serupa denganku dan membersamaiku, kekuatan dan motivasiku untuk menulis jadi sangat besar. 

Saat ini, aku sedang menggarap sebuah novel yang idenya sudah ada sejak aku masih SMP. Konon, ide itu kudapat dari film-film yang diputar di salah satu televisi swasta nasional saat itu, yaitu The Lord of The Rings dan Harry Potter. Dengan membaca kedua judul itu, pasti kalian tahu aliran novel yang kubuat. Yap, tidak lain adalah fantasi. Entah kenapa aku yakin Insya Allah novel ini akan bagus dan akan kuselesaikan dengan sebaik mungkin. Begitu pula dengan dua judul novel lain dengan aliran fantasi dan teenlit. Mohon doanya ^^
0

MANAJEMEN EGO

Ada sebuah paradoks tentang harga diri.

Harga diri seolah sesuatu yang harus dilindungi dan diperjuangkan—untuk meraih kebahagiaan. Sedangkan di sisi lain, memperjuangkan dan melindungi harga diri itu juga bisa menjadi sumber ketidakbahagiaan—karena pada akhirnya kita akan terjebak pada ego belaka.

Ego adalah wujud pengakuan. Pengakuan pada eksistensi dan keakuan yang individual agar kita senantiasa merasa dihargai dan diperhitungkan sebagai individu yang mumpuni. Sekilas hal seperti itu terdengar wajar sebagai manusia. Namun bila kemudian tujuan dari pengukuhan ego sendiri adalah untuk kebahagiaan, apakah tepat?


Pernah saya mendiskusikan hal ini kepada seorang Guru. Berbenturan dengan paradoks pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan. Kala itu saya bertanya, “Guru, mengapa engkau membiarkan orang-orang mengambil kata-katamu sedemikian rupa dan mereka sebarkan tanpa sedikitpun menyebut namamu?”
0

Casual Introduction 1

perkenalan
www.pixabay.com


Hai...
Selamat datang di blogku. Panggilanku, Nour (panggilan yang bukan dibuat olehku, tapi sangat keren. Jadi kupakai saja.). Tidak perlu menambah awalan "Mbak" atau "Bu". Santai saja. Ini dunia maya.

Aku lahir 25 tahun lalu di bulan September yang tidak bisa kusebutkan tanggalnya. Usiaku ini bisa dikatakan sudah sangat matang untuk memiliki pasangan hidup, tapi sayang aku masih lajang.

Aku sudah lulus dari Universitas Negeri Malang sebagai Sarjana Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris. Yap! Seharusnya aku menjadi seorang guru dan bekerja di sebuah institusi pendidikan. Namun, takdir mungkin mengatakan hal lain. Aku sama sekali belum tahu cara menjelaskan dengan baik sehingga aku takut akan menyesatkan murid-muridku. Sebenarnya, aku sudah beberapa kali melakukan latihan mengajar, mulai dari mengajar dengan siswa yang merupakan teman-temanku sendiri, ketika PPL di mana siswaku adalah anak SMP, dan ketika aku menjadi mentor belajar untuk persiapan UAN siswa SMK. Dari semua itu, aku tahu, aku kurang pandai dalam memberikan penjelasan atau mungkin aku kurang menguasai materi.

Setelah lulus, ternyata aku diterima di sebuah tempat penerjemahan. Dengan upah yang sangat kecil, tapi pekerjaan sangat besar, aku hanya bertahan 1 tahun sebagai in-house translator. Setelah itu, aku bekerja freelance di tempat yang sama setelah itu sampai sekarang. Sempat bekerja di sebuah perusahaan yang menjual obat-obatan secara online sebagai Telesales. Setelah itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan Transport lalu keluar karena tidak cocok dengan atasan.

Mengenai hobi, Nour tidak yakin dengan hobinya ini. Sebenarnya Nour suka menulis, tetapi harus ada teman. Selama tidak ada teman, dia seperti kehilangan motivasi untuk menulis dan tidak tahu pentingnya menulis, jadi beberapa novelnya sempat terbengkalai. Akhir-akhir ini, karena ada Writing Challenge di organisasi yang diikutinya (FLP), dia jadi semangat menulis dan berani memulai judul novel baru yang sudah dipikirkannya sejak SMA. Novel itu terbengkalai karena data novel yang ada di komputer hilang setelah CPU sempat diperbaiki yang membuatnya menyerah untuk menulis lagi. Selain itu, Nour juga suka membaca. Namun, mengenai hobinya yang satu ini dia sudah bosan. Dia pernah membaca sehari 2 novel selama 4 hari berturut-turut yang membuatnya pusing. Mungkin hal itu meninggalkan trauma mendalam di ingatannya sehingga dia agak phobia membaca. Ini akan diulas lebih rinci di terbitan berikutnya.

Perihal makanan, seperti kebanyakan orang, Nour suka coklat. Sebenarnya dia tidak terlalu rewel soal makanan asal bukan kupang (hewan kecil di laut, saking kecilnya bentuknya hampir mirip pasir besar). Untuk minuman, dia suka susu. Dia juga suka jus alpukat.

Mungkin itu saja sekilas tentang Nour. Jika ada pertanyaan kecil mengenai sosok Nour, silahkan bertanya di kolom komentar, ya ^^.

Sankyuu.. ^^
0

ENGGAN SUNGKAN DAN HIJRAH


Perubahan adalah suatu yang paling niscaya dalam kehidupan. Begitu pun keinginan kita untuk berpindah dari yang buruk ke yang baik.

Namun, ada kalanya kita merasa enggan untuk bergerak dari posisi aman kita. Selalu saja ada tanya, “Apakah itu benar baik?” Bahkan tak jarang kita memikirkan ”Bagaimanakah reaksi orang sekitar kita?”

Keengganan timbul ketika kita tak mampu mengendalikan kenyamanan dari tempat aman kita dan ketakutan akan perubahan serta kondisi baru. Namun setelah kita mampu mengatasi keengganan ini, timbulah masalah baru yang merupakan lanjutan dari pertanyaan yang pertama: bagaimanakah reaksi orang terhadap kita?


Perubahan selalu menuntut sudut pandang baru. Maka tak jarang dari itu kita akan dihantui perasaan sungkan dan tak enak hati ketika kawan-kawan kita yang sudah terbiasa melihat “diri kita yang lama” tiba-tiba menertawakan atau bahkan mengolok perubahan kita yang mungkin saja terlihat drastis di mata mereka.
2

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com