Header Ads

Header ADS

Tentang Iman

saya serius ketika bilang "agama kita boleh sama, tapi iman jangan disamakan."
ini bukan tentang kadar iman. jangan disalah pahami sebagai saya merasa lebih beriman dari anda.

namun ini adalah tentang apa yang saya imani dan apa yang anda imani.
tentang bagaimana kita beriman kepada apa yang kita imani.
mungkin saja kita memuja Tuhan yang sama, tapi cara kita berbeda.
mungkin kita berada dalam naungan agama yang sama, tapi cara kita berbeda.
bukan, ini bukan soal perbedaan atau penyesatan satu dengan lainnya. bukan soal tentang merasa benar atau tentang menyinggung yang lainnya. ini murni tentang cara kita beriman pada apa yang kita imani.

adakah kita benar-benar percaya pada Tuhan semesta alam, atau sekadar mengagumi bayang-Nya. adakah kita menerima sebagai manusia yang membutuhkan belas kasihnya dan pertolongannya, atau manusia yang merasa angkuh dengan mengatur bagaimana cara untuk mencapai-Nya.

saya percaya dan setuju pada suatu nasihat:
"agama ini, agama itu, ada berbagai jenis agama, tetapi pada tingkat terdalam, semua mencapai suatu kesimpulan."
(The Unfettered Mind - Takuan Soho)

bagi saya, setiap yang kita percayai, itu adalah jalan. bukan sekadar satu-satunya jalan mutlak kita untuk mencapai pencerahan. ketika kita memutuskan untuk memeluk suatu kepercayaan, bukankah kita akan bertanya, "apa yang kita inginkan dalam jalan ini? apa keuntungannya untuk kita?"

tentu saja dalam pemikiran yang terdalam, ini bukan hanya tentang harta duniawi. kepada kita yang pernah berpikir untuk mati, tanyakanlah, "apa pentingnya harta duniawi?"
TAK ADA.
maka percuma engkau bercerita tentang kenikmatan surgawi dan kekayaan duniawi. karena bahkan kami tak berharap dilahirkan.

jika kita adalah orang yang masih mengais dan percaya buta pada jalan warisan keluarga kita, maka rasanya terlalu lancang untuk membicarakan keyakinan orang lain. sedang kita sendiri pun tak pernah benar-benar memahami apa yang kita peluk selama ini. kecuali hanya sebatas meneruskan adat serupa berkembang biak sebagai makhluk hidup yang tak ingin populasinya punah.

memutuskan untuk mempercayai kuasa Tuhan, tak sekadar kita bersyahadat, lantas kita bisa percaya sepenuhnya. percaya ibarat sebuah keikhlasan. maka disiplin pertama yang harus kita lakukan adalah pasrah. dalam kepasrahan itu, barulah kita mampu melihat kuasanya.

saat kita merasa jala orang lain salah, lantas menegurnya, bukan berarti kemudian kita akan menjadi benar. terlebih ketika orang itu telah bercerita panjang lebar tentang tujuannya.

begitulah ketika saya memilih seorang guru spiritual.
saya tak bisa memilih sembarang guru yang akan mendiktekan keyakinannya pada saya. karena bagi saya, saya membutuhkan pembimbing, bukan penghakim. ketika sang guru memahami tujuan saya dan dengan rendah hati dan kasih sayangnya menuntunkan jalan pada saya, maka saya dengan senang hati mengikutinya.

sang guru paham, tak semua orang memiliki jalan yang sama. namun pada akhirnya, kami akan bertemu dan berjabat tangan di ujung anak tangga terginggi kelak.

namun ketika seorang guru merasa bahwa jalannya adalah yang paling benar dan memaksakan kita untuk berjalan di jalannya, maka yang terjadi adalah sebuah benturan keyakinan.
itu membuat kita tak akan berjalan ke mana-mana.

saya, ketika memutuskan untuk pasrah kedalam suatu naungan kepercayaan, saya melihat sesuatu yang sangat menentramkan di dalamnya. bukankah itu tujuan hadirnya suatu agama di muka bumi ini? untuk menentramkan hati kita yang gelisah. bukan malah membakar bara perselisihan dan permusuhan. merasa diserang dan diintimidasi.

sungguh, dalam perenungan dalam, kita tak menginginkan itu semua. kita hanya ingin tentang dan damai. tanpa pula terusik atau diusik.

1 comment:

  1. Hey There. I discovered your weblog using msn. That is a very smartly written article. I will make sure to bookmark it and return to learn more of your helpful information. Thanks for the post. I will certainly return. yahoo login

    ReplyDelete

Powered by Blogger.