Thursday, 9 June 2016

Delik Frustrasi




Malam ini aku hendak menjerit, jika saja tak kuingat bahwa aku sedang berada di dalam kamarku yang sempit di mana lingkungan kami adalah kampung dengan rumah-rumah yang saling berhimpit. Bagaimana tidak, di usia yang semakin matang, aku masih saja jauh dari tujuan—sebut saja impianku. Sudah lewat kiranya 2 minggu aku menganggur. Memutuskan untuk fokus pada pencapaianku. Tapi ternyata, dengan waktuku yang luang, isi kepalaku ikut kopong. Ada saja jenis rasa malas yang mampir. Awalnya sekadar “say hello”, kemudian menjalar hingga mengakar ke seluruh tubuh. Mengikat raga pada ranjang.

Ini tidak baik.

Aku mengenal banyak lelaki yang lebih muda dariku. Mereka memiliki impian yang sama denganku, namun untungnya, mereka telah masuk ke dalam dunia itu. Sedang aku masih menerka-nerka bagaimana rasanya berada di dalam sana. Adakah manusia diciptakan untuk saling menyimpan iri kepada yang lain? Sementara untuk memperbaiki diri sendiri rasanya sungguh berat?