Header Ads

Header ADS

Romantis


Betapa aku sayang kamu. Kita mungkin memiliki kadar romantis yang berbeda. Atau bahkan pengertian kita tentang romantis itu sendiri berbeda.

Aku bertanya pada temanku, apa aku tak romantis. Menurutnya memang tidak. Dan itu sama seperti pendapatmu, bukan? Katanya, romantis itu mampu meluluhkan hati wanita dewasa. Bukan gadis kecil. Gadis kecil sepertimu. Hei, apakah kamu masih kecil? Kamu hanya menjadi gadis kecil bagiku saja, kan?

Senja mulai tampak ketika aku masih memikirkan arti romantis. Kubaca di KBBI—untuk meyakinkan definisi romantis menurutku sendiri—di sana tertulis; a bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan. Ya, mana mungkin makhluk pendiam sepertiku bisa menjadi seperti itu.

Mungkin aku hanya akan menjadi romantis dengan hobi-hobiku. Dengan buku catatanku. Dengan buku sketsaku. Dengan semua alat tulis dan alat gambarku. Cerita tentang hubungan kami bahkan lebih seru dari roman-roman picisan yang paling romantis sekalipun. Hubungan tak direstui. Perjuangan diam-diam demi mencapai impian. Bertahan dengan ketidakpastian masa depan.  Tapi itu bukan romantis, kan?

Romantis itu jika bersama kamu.

Duduk bersama. Melahap waktu bersama. Menikmati sunyi. Bahkan bersahabat dengan kekosongan. Tapi kau pernah bilang, yang seperti itu bukan romantis. Kesunyian yang "krik... krik... krik..." itu bukan romantis.

Apa kau ingin kuambilkan gitar, lalu kunyanyikan satu lagu cinta untukmu yang kucipta dari sajak-sajakku? Atau kau ingin kulukis parasmu dan kuabadikan dalam buku sketsaku? Atau kubuatkan cerita tentangmu dengan gaya bahasa melambai agar terkesan lembut dan romantis? Oke. Aku baru saja mengatakan romantis. Mungkin dari tiga hal populer itu memang bisa menciptakan keromantisan. Setidaknya kekeraskepalaanku harus kuperhatikan.

Kadang memang ada keinginan muluk, seperti membawamu ke tempat bagus. Kita makan di restoran tepi pantai atau restoran mahal ala prancis. Tapi bukan itu kenyataannya.

Kita menikmati keheningan. Di ruang tamu rumahku. Membuat mie instan. Kau selalu ingin menggangguku dengan menambahkan cabai di mie gorengku. Aku protes—aku tak suka pedas. Kau tahu, makanan pedas itu makanan bagi para raksasa. Aku membaca itu di kitab Bhagawadgita! Lain kali kau harus membacanya!

Kita makan di ruang tamu dengan berbagi meja. Kau ingin disuapi, namun aku sibuk dengan makananku sendiri. Aku terlalu malu untuk itu. Hanya begitu saja, kita bisa menghabiskan waktu 3 jam.

Ketika mengantarmu pulang, sesungguhnya aku berharap bisa membuatmu nyaman dengan membawa sebuah mobil. Namun aku tak punya itu. Jadilah kita berdua naik motor butut yang kupinjam dari ayahku. Kau kehujanan. Basah kuyup. Dan kita ribut hanya karena masalah memakai jas hujan.

Langit makin gelap. Udara sangat dingin. Hujan begitu deras. Tapi kau tak kunjung juga mau mendengarkan perkataanku. Kusempatkan menepikan motor agar bisa membujukmu.

"Kamu saja yang pakai, aku tak apa basah begini."

"Sama. Kalau begitu, aku juga tak mau pakai," putusmu.

Jadilah kita berbasahan selama perjalanan mengantarmu pulang. Ingin rasanya kubawa kamu pulang, lalu kuikat dan kumasukkan karung biar tak bawel. Mungkin kau tak tahu betapa khawatirnya aku akan kesehatanmu. Kau bikin aku gemas.

Langit makin gelap. Aku masih memikirkan makna romantis itu. Aku tak cakap meniru adegan-adegan dalam kisah-kisah percintaan. Seharusnya KBBI punya definisi lebih mendetil tentang itu, sehingga aku tak perlu mencari pembelajarannya secara abstrak seperti ini. Kau tahu, kan, memaknakan karya abstrak itu sulit. Aku berharap kelak bisa memberikan apa yang kau mau.

Sayang, apakah makna romantis bagimu?
—Fauzt

1 comment:

Powered by Blogger.